Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
episode 110


__ADS_3

sesampainya di ruang keluarga, terlihat papa mertuanya di sana yang tak lain adalah papa Brandon, dan di samping nya yaitu Bima yang baru saja muncul, sontak Zahra yang melihat sang suami pun kembali.....


" uuuu.... uuuu... ma Zahra sebaiknya ke kamar dulu uuuu....uuuuu...." ucap Zahra sambil memegang perutnya yang mulai mual mual kemudian segera berlari menuju lantai atas kamarnya


" ya sayang, hati hati Zahra " jawab mama Alisya


yang saat ini sedikit khawatir melihat kenyataan nya langsung di hadapannya, karena memang benar menantunya itu akan mual dan muntah jika melihat suaminya sendiri yang tak lain putra nya sendiri yaitu Bima.


" sayang tunggu aku " sahut Bima yang mulai berdiri dan akan menyusul istrinya ke lantai atas.


" Bima kamu di sini saja " ucap mama Alisya yang menghentikan langkah putranya tiba tiba.


" tapi ma, Bima cuma ingin membantu Zahra tidak lebih " jelas Bima yang mulai bersih kuku.


" iya sayang mama tau, tapi Zahra kalau melihat mu bisa bertambah mual lagi dan muntah muntah, jadi kamu di sini saja biar mama saja yang menyusulnya ke sana kau mengerti " jelas mama Alisya


" hah.... ya baiklah kalau begitu " jawab Bima yang merasa lesu.


mama Alisya kemudian tersenyum dan setelah itu bergegas meninggalkan kedua laki laki yang berbeda usia tersebut antara ayah dan anak itu di ruang keluarga.


sedangkan mama Alisya sekarang sudah menaiki anak tangga menuju lantai atas tepatnya di kamar yang saat ini di tempati menantunya itu.


berbeda dengan Bima yang saat ini tengah kembali gusar itu, dan mulai bermonolog sendiri saat ini.


" sampai kapan Zahra seperti ini terus, mama saja tidak bisa menghentikannya hah... "


ucap Bima sambil berjalan mondar mandir di depan papa Brandon yang saat ini sibuk menghubungi orang kepercayaan nya tersebut.


" Bim duduklah sebentar, istri kamu itu wajar seperti itu dia kan sedang hamil, papa tau kamu sangat menyayangi istri kamu " jelas papa Brandon yang melihat tingkah anaknya kelewat posesif seperti dirinya dulu itu kepada sang istri.


" iya pa, terimakasih kalau papa tau, tapi Bima tidak tenang pa " sahut Bima yang kembali mondar mandir di hadapan papa Brandon tersebut


papa Brandon hanya geleng-geleng kepala, melihat tingkah anaknya yang dulu sangat dingin itu, kini mulai menghangat semenjak menikah dengan gadis pilihan istrinya tersebut.


benar benar anak satu ini, kenapa keras kepala sekali,ya sebenarnya sedikit seperti diriku dulu sih gumam Brandon dalam hati.


sedangkan mama Alisya sesampainya di kamar yang Fara tempati, mama Alisya segera menuju kamar mandi, tepatnya saat ini menantu kesayangannya itu yang tak lain adalah Fara yang tengah memuntahkan isi perutnya tersebut di sana.


" sayang bagaimana keadaan mu " ucap mama Alisya yang berada di depan pintu kamar mandi saat ini.


" uuuuu.... uuuuu.... uekkkkk... hah,hah,hah... ma perut Zahra mulai mual lagi " ucap Zahra yang mulai terlihat lemas


uuuu.... uuuu... uueekkkkk

__ADS_1


" sayang apa sudah baikan " tanya mama Alisya kembali.


sesaat kemudian


" iya ma, sekarang perut Zahra mulai mendingan " ucap Zahra dengan keningnya saat ini di penuhi keringat.


" sayang sebaiknya kamu istirahat saja ya, maafin mama tadi ngajak kamu ke ruang tamu " jawab mama Alisya uang merasa sedikit bersalah itu.


" ya ma tidak apa apa, ma tolong sampaikan pada papa Zahra tidak bisa menemui papa di lantai bawah sekarang " jelas Zahra yang merasa tidak enak sendiri itu


" ya sayang papa pasti mengerti kok, ya sudah kamu istirahat sekarang ya " jawab mama Alisya sambil tersenyum manis kepada sang menantu.


" iya ma "


" ya sudah mama keluar dulu sayang " ucap mama Alisya lagi.


jawab Zahra sambil menganggukkan kepalanya pelan, dengan kedua matanya yang terlihat sangat sayu.


setelah itu mama Alisya mengusap kening Zahra yang sedikit berkeringat itu.


kemudian menyelimuti menantu kesayangan nya tersebut.


setelah itu mama alisya segera keluar dari dalam kamar pribadi milik pasangan suami istri itu, dan kembali melangkah ke arah lantai bawah tepatnya ke ruang keluarga.


sesampainya di ruang keluarga


" Zahra sekarang mama suruh istirahat sayang "


" ah.. iya kan pasti dia sudah terkulai lemas di sana "


sebaiknya kamu ke kantor saja Bima, biar kamu tidak kepikiran istri kamu terus, di sini kan ada mama sama papa, iya kan pa "


" iya ma, sebaiknya kamu ke perusahaan sana, papa jadi bingung sendiri kalau kamu terlalu berlebihan kepada menantu papa, iya kan ma "


" iya benar pa, mama jadi pusing sendiri, persis kayak papa dulu posesif nya "


" mama... "


" iya, iya maaf pa "


" sudah sudah jangan berdebat, sebaiknya aku memang harus ke kantor saja sekarang, ma ingat ya jaga Zahra dan calon cucu mama baik baik "


" iya sayang mama akan menjaganya, Zahra kan menantu kesayangan mama, mana mungkin mama menyia nyiakan nya iya kan pa "

__ADS_1


" iya mama benar tuh, sudah sana "


" iya iya, yasudah Bima suruh pak Tejo ambilkan pakaian ganti Bima di kamar "


" tidak usah biar mama saja "


" tidak ma, mama pasti masih lelah iya kan "


" tidak sayang, anggap saja mama mengambil akan pakaian kerja kamu sebagian ganti kamu sudah berhasil memberikan cucu buat mama bagaimana "


" ya terserah mama saja kalau begitu "


" ya sudah sebentar mama akan ambilkan pakaian kantor kamu "


" iya Bima akan tunggu di sini "


beberapa saat kemudian


kini lelaki tampan berkharisma itu, telah memakai pakaian kantornya, kemudian bergegas berangkat menuju perusahaan pencakar langitnya tersebut.


yang saat ini supir keluarga Sinaga itu, sudah siap di luar sana dengan pintu mobil mewah hitam yang terbuka menunggu sang atasan untuk masuk ke dalamnya.


ya memang pagi tadi dirinya sudah menghubungi sekertaris Revan untuk tidak berangkat ke kantor dan menyuruh sekertaris itu menggantikannya di sana.


tetapi berbeda dengan sekarang, diri nya merasa ingin cepat sampai di perusahaan untuk sedikit melupakan istrinya yang tak bisa ia dekati itu.


setelah Bima masuk ke dalam mobil mewah hitam tersebut, kini mobil yang ia naiki itu mulai menancapkan pedal gasnya meninggalkan area mansion.


di tengah perjalanan


Bima hanya terdiam sambil memandang ke arah jendela mobil yang sedikit terbuka kacanya yang berada di samping nya itu.


dirinya kembali mengingat Zahra yang biasa terlihat menggemaskan itu.


ya benar apa kata mama, mungkin itu memang bawaan anakku yang berada di dalam rahim Zahra saat ini dan tidak di buat buat, tapi sampai kapan aku betah seperti ini monolog Bima.


kemudian sambil melirik ke arah sopir


" percepat mobilnya " ucap Bima memberi perintah.


" baik tuan " jawab sopir tersebut


setelah itu sopir pun sedikit menarik pedal gasnya meninggalkan area mansion.

__ADS_1


__ADS_2