
Perusahaan pencakar langit Sinaga. group.
Jam kini telah menunjukkan pukul 11.30 wib.
Waktu dimana jam istirahat kantor telah tiba, para pegawai mulai berhambur keluar untuk segera mengisi perutnya,
Berbeda dengan gadis yang kini masih berada di ruang berpendingin milik atasannya tersebut.
Siapa lagi kalau bukan Adinda, gadis itu masih saja mengerjakan pekerjaannya yang masih menumpuk, karena sang pacar barunya yaitu sekertaris Revan masih belum kembali bersama sangat pemilik perusahaan.
Adinda memilih melanjutkan pekerjaan nya, dia kasihan jika sang pacar alias sekertaris Revan itu kewalahan mengerjakan pekerjaan setelah ia datang dari urusan nya bersama sang atasan, maka dari itu Adinda berniat membantu separuh pekerjaannya.
sesaat kemudian jam istirahat tinggal separuh Adinda baru selesai dengan pekerjaan milik sang pacar tersebut,
Kini dirinya mulai memijit sedikit pelipis nya yang sedikit merasa pusing itu, mungkin otak nya di dalam sana ingin sedikit beristirahat karena merasa kelelahan karena terlalu lama bekerja.
Sebaiknya aku istirahat sebentar jam istirahat kan masih tinggal separuh monolog nya.
Kemudian Adinda berniat memejamkan kedua matanya dengan posisi dirinya yang masih duduk di kursi kerja miliknya, perlahan Adinda mulai menaruh kepalanya di atas meja beralaskan kedua tangannya yang memangku kepala milik nya saat ini.
Kedua matanya kini mulai terpejam.
sesaat kemudian.
sekertaris Revan datang dan mulai masuk ke dalam ruangan tersebut, dan kedua matanya langsung tertuju pada sosok gadis cantik yang kini tengah tertidur di meja kerjanya yang terlihat seperti kelelahan.
sekertaris tampan itu sedikit mengembangkan senyumnya dan juga dirinya merasa kasihan melihat gadis yang baru saja menjadi kekasih barunya itu.
Perlahan sekertaris Revan melangkah menuju meja kerja milik Adinda, dan perlahan pula sekertaris Revan mulai membangunkan Adinda sang kekasih barunya tersebut.
" Din... dinda... hei bangun " ucap sekertaris Revan mencoba membangunkan Adinda sambil tangan nya sedikit menggoyang goyangkan lengan milik gadis berparas ayu tersebut.
" emmm.... " Adinda sedikit menggeliat kedua matanya masih terpejam.
" hei pacar baruku " ucap sekertaris Revan lagi yang kini tengah mengelus pipi mulus milik Dinda.
" heh.... " jawab Adinda yang masih enggan untuk membuka kedua matanya.
Kemudian perlahan Adinda sedikit mengangkat kepalanya menatap sosok pria tampan di hadapan nya saat ini.
Dinda sedikit tersenyum sambil pandangan nya sedikit tak begitu jelas, di kiranya mimpi.
" Dinda hei.... bangun sayang " ucap sekertaris Revan yang kembali mencoba membangunkan sang kekasih.
" hem. ...iya apa " jawab Adinda yang sedikit kaget ternyata itu bukan lah sebuah mimpi.
astaga ternyata bukan mimpi ternyata di benar benar sekertaris Revan pacar tampan ku, apa tadi dia bilang pacar baruku, sayang, astaga dia benar benar membuat hati ku serasa kembang kincup di dalam sana, apa memang begini rasanya punya pacar selalu ingin membuatku ingin berteriak dan guling guling di atas ranjang gumam Adinda dalam hati.
dengan pipinya yang kini sedikit terlihat bersemu merah.
sekertaris Revan kembali tersenyum menatap wajah Adinda yang di pandang nya sedikit lucu itu.
__ADS_1
" Kau sudah makan " tanya sekertaris Revan.
Adinda menggeleng geleng kan kepalanya polos.
Ais.... kenapa dia terlihat sangat menggemaskan seperti ini sih batin sekertaris Revan bergumam.
" kau bawa bekal " tanya sekertaris Revan lagi.
Adinda mengangguk polos seperti tadi yang ia lakukan.
kenapa dia bisa membuatku gemas seperti ini sih, Dinda aku tahan jika kau begini gumam sekertaris Revan lagi.
" ya sudah ayo kita makan bersama " ajak sekertaris Revan.
Tanpa babibubbebo Adinda mulai mengeluarkan kotak bekalnya dan kemudian langsung mengikuti langkah sekertaris Revan menuju sofa mewah di hadapan nya, yang saling berhadapan tersebut.
perlahan keduanya mulai duduk berhadapan.
keduanya mulai membuka kotak bekal, karena Adinda membawa dua kotak bekal saat ini sejak dirinya menjadi kekasih sekertaris tampan itu.
sekertaris Revan dan Adinda mulai memakan bekal nya masing masing, di lihatnya Adinda tak seperti biasa.
" Din " panggil sekertaris Revan.
" iya " jawab Adinda.
" kenapa kau hanya diam saja " tanya sekertaris Revan yang mulai memasukkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya.
" jangan bohong " tanya pria yang baru saja menjadi kekasih barunya tersebut.
" aku hanya merasa sedikit pusing saja tuan " jawab dinda.
" jangan memanggilku dengan sebutan itu jika kita sedang berdua " ucapnya.
" lalu aku panggil apa " tanya gadis bermata bulat itu.
" sayang " jawab sekertaris Revan santai
" uhukk... uhukk... " Dinda pun langsung terbatuk batuk mendengarnya.
" pelan pelan sayang " ucap sekertaris tampan itu yang justru membuat Adinda tambah terbatuk batuk tak karuan.
" uhukk.... uhukk.... uhukk..... "
" kenapa kau bertambah batuk Din, ini minumlah " ucap sekertaris Revan sambil menyodorkan satu botol air mineral kepada Dinda
sedangkan Adinda langsung mengambil nya dan kemudian meminumnya hingga air di dalam nya tinggal separuh.
" bagaimana sudah enakan "
Adinda langsung mengangguk polos.
__ADS_1
menggemaskan gumam Revan.
" aku panggil kakak saja "
" ya sudah terserah kau saja kalau begitu, ayo lanjutkan makan nya "
" aku malas makan, kepalaku serasa pusing "
" kenapa bisa pusing,sayang "
" jangan memanggilku sayang, aku malu "
" hehehe.... bagaimana bisa kau malu di panggil sayang oleh pacarmu sendiri heh "
" aku tidak biasa dengan panggilan seperti itu "
" maka dari itu biasakan mulai sekarang mengerti " ucap sekertaris Revan
" menyebalkan '' ucap Dinda yang sedikit kesal.
" apa kau bilang " jawab sekertaris Revan yang kini posisinya sudah berada di dekat Adinda, keduanya kini berada di satu sofa yang sama.
" menyebalkan " ulang Dinda.
" ulangi lagi " ucap sekertaris Revan.
" dasar menyebalkan " ulang Dinda untuk yang ke tiga kalinya
Tanpa babibubebo sekertaris Revan yang sedari tadi merasa semakin gemas itu akhirnya menyalurkan nya lewat ciuman lembut kepada bibir sang kekasih yaitu Dinda.
cup
Bibir keduanya akhirnya menempel juga, sekertaris Revan sedikit tersenyum, karena Adinda menerima ciuman nya, tanpa adanya penolakan sama sekali dari sang pacar.
Kedua pasang kekasih itu sepertinya saling menikmati ciuman lembut tersebut, dengan bibir yang saling bertautan satu sama lain.
Ya Dinda mulai lihai berciuman saat ini gara gara sekertaris Revan yang mengajarinya selama beberapa hari menjadi kekasihnya itu.
sesaat ciuman itu terhenti karena sekertaris Revan merasa Adinda mulai kehabisan nafas.
kemudian Adinda sedikit menunduk dengan area bibir tipisnya yang masih terlihat sangat basah karena ciuman lembut tadi.
" Din tatap aku " ucap sekertaris tampan tersebut.
perlahan Dinda mendongakkan kepalanya menatap kedua mata sekertaris Revan.
pria itu tersenyum, lalu ibu jarinya perlahan mengusap lembut ujung bibir tipis milik Adinda yang masih sedikit basah karena kelakuannya tadi.
" aku mencintaimu Dinda " ucap sekertaris Revan serius sambil menatap kedua mata bulat Adinda.
" iii... iya " jawab Adinda sedikit terbata bata karena dirinya merasa bingung dengan keadaan untuk kesekian kalinya dirinya di hadapkan dengan situasi yang seperti ini bersama sekertaris Revan pria yang selama ini ia sayangi itu.
__ADS_1
Dengan dirinya yang masih merasa sedikit canggung tersebut.