Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
merasa sangat bersalah


__ADS_3

Mobil sport merah baru saja terparkir sempurna tepat di depan pintu besar mansion, Barra segera keluar dengan langkah lebar nya ia segera masuk ke dalam mansion.


Pandangan nya menyapu seluruh isi ruangan yang berukuran sangat luas itu, mencari keberadaan sosok wanita yang sangat ia cintai tetapi tak sedikitpun ia mendapati keberadaan Sheina di sana, kebetulan juga keadaan mansion kini juga tengah sepi entah kemana seluruh para pelayan nya.


Kemudian segera Barra berlari menaiki anak tangga untuk sampai di kamar pribadi nya bersama sang istri.


Beberapa saat


sampailah ia di lantai atas tepatnya di depan pintu kamar.


JEG... GLEK....


Pintu kamar ia buka perlahan.


" S A Y A N G " teriaknya


Tak ada sahutan.


Tatapan nya langsung tertuju ke arah ranjang yang kini ternyata sudah kosong tak mendapati Sheina di atas nya.


kemudian kakinya mulai melangkah masuk ke dalam mencari keberadaan Sheina di sana.


" Sayang apa kau sedang mandi " teriaknya lagi.


Setelah itu mencoba meraih gagang pintu yang ternyata tak di kunci.


Barra kembali mengedarkan pandangan nya di dalam kamar mandi luas nya, tetapi nyata nya kosong.


Ia segera keluar menuju ruang ganti lagi dan lagi Sheina tak ia temukan.


Barra mulai gusar seolah frustasi sendiri.


" Sayang kau kemana " sambil mengacak acak rambutnya sebal.


Barra perlahan duduk di samping ranjang, kemudian kedua matanya sedikit melirik kearah laci nakas yang sedikit terbuka di sana.


Berarti laci itu baru saja di buka pikir nya.

__ADS_1


Barra segera meraih pengait laci dan menarik nya.


Ia terdiam sesaat.


Buku deary, kaset, apa ini... apa semua ini milik Sheina, dan ini kenapa banyak sekali obat... berarti yang mereka katakan memang benar-benar sebuah kebenaran gumam nya.


Setelah itu Barra kembali meraih sesuatu di dalam sana.


Sebuah secarik kertas putih yang bertuliskan bahwa Sheina benar-benar di nyatakan mengidap penyakit leukemia stadium lanjut.


DEG....


Hatinya berdetak kencang, kali ini ia benar-benar tidak lah mimpi melainkan sebuah kenyataan bahwa Sheina wanita yang ia cintai tengah mempertaruhkan nyawa nya.


Yang selama ini ia tak pernah mengetahui nya.


Perlahan lelehan air matanya mulai menganak sungai membasahi kedua pipinya, meremas kuat kertas putih itu dengan kuat.


Hatinya begitu terenyuh hancur seolah berkeping keping tak karuan, mengingat selama ini dirinya sering tak menganggap keberadaan Sheina di dekat nya yang selalu ingin bermanja manja pada dirinya,


sampai sampai membuat Sheina tak kuat lagi menopang tubuh nya untuk turun dari ranjang.


Setelah cukup lama ia berdiam dan menyesali perbuatan nya, Barra perlahan mengusap kasar air mata kemudian mulai berdiri.


kemudian ia juga mencari sebuah tas kecil yang Sheina maksud kan kemarin saat kedua nya tengah sibuk bertengkar.


Barra kembali menuju ruang ganti di lihat nya di sana ada sebuah tas kecil yang tengah tergeletak.


Ia mengambil nya dan mencari sesuatu di dalam nya.


" Ini....ya ini sebuah undangan pernikahan Earth, kenapa kemarin tak mempercayai nya, Sheina kau dimana sekarang " ucap nya dengan penuh penyesalan.


Kemudian Barra segera keluar mencari keberadaan sang istri.


*


Di lantai bawah.

__ADS_1


Barra mulai berteriak teriak tak karuan mencari seluruh keberadaan para pelayan.


" P E L A Y A N " teriak nya dengan suara yang sangat lantang.


" Kemana kalian, aku menggaji kalian untuk bekerja bukan untuk menghilang seperti ini " lagi lagi nada perkataan nya seolah membuat bulu kuduk merinding.


Beberapa pelayan berhamburan mulai masuk kedalam mendengar teriakan itu dari arah taman belakang mansion.


" ii.. i... iya tuan " ucap seluruh para pelayan perempuan termasuk Bi Ana.


" Kemana istri ku " tanya Barra dengan raut wajah yanng tak bisa di artikan.


" ka... ka... kami tak tau tuan, te... te... tetapi nona tadi menyuruh kami semua untuk membersihkan taman belakang mansion, dan kami disuruh untuk memetik semua bunga yang sudah bermekaran di sana " jelas beberapa pelayan.


Bi Ana masih menundukkan kepala, ia merasa ketar ketir untuk mencoba mendongakkan kepala menatap sang majikan yang tengah marah di hadapan nya kali ini.


" Bi Ana, Pak Anto bukankah kalian berdua yang aku tugaskan menjaga istri ku di mansion "


Keduanya langsung mendonggakkan kepala seketika.


" ii.. ii... iya tuan begini sebenarnya, nona tadi meminta saya untuk membelikan nya sepeda mini berwarna putih, kata nona ia ingin bersepeda nona bilang dia ingin mencari udara segar dan setelah saya membelikan yang nona suruh, nona tersenyum tuan setelah itu nona segera mengendarai sepeda dan menyuruh saya ikut bersih bersih di taman belakang " jelas Pak Anto panjang lebar.


" kenapa kau tak memberitahuku heh " Emosi nya sudah meluap meluap.


Bi Ana kembali menundukkan kepala.


" nona melarang saya tuan dan tidak memberi tahu saya pergi kemana, saya tadi sudah memohon pada nona agar tidak pergi, tetapi nona tidak mendengarkan saya " dengan kepala yang menunduk ketakutan.


" AKKHHH... sial " teriak Barra sambil mengacak kasar rambut nya mondar mandor tak karuan di depan para pelayan.


" Ingat jika istri sudah kembali hubungi aku sekarang aku akan mencarinya, kalian bubar semuanya, tidak bisa di andalkan percuma aku membayar kalian mahal mahal tetapi menjaga istri ku saja tidak becus " dengan nada suara yang terdengar menyeramkan, kedua mata seperti melotot hampir keluar.


" ba.. ba.. baik tuan "


Seluruh pelayan dan dan sopir pun kemudian bubar dengan tubuh gemetaran mendengar amarah dari sang tuan membuat mereka jadi merasa tak enak sendiri,


yang ada di pikiran mereka kali ini seolah bertanya tanya ada apa dengan kedua atasan nya itu karena akhir akhir ini keduanya sering terjadi konflik rumah tangga yang tak biasa.

__ADS_1


__ADS_2