Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
selesai acara


__ADS_3

sedangkan dari arah kejauhan sekertaris Revan dan Adinda kini tengah berbincang sebentar entah apa yang mereka bicarakan saat ini.


" Din " panggil sekertaris Revan


" iya sekertaris Revan " jawab Adinda.


" ayo ikut aku, dan kau harus memperkenalkan dirimu kepada tuan muda Bima kalau kau adalah rekan baruku " jelas sekertaris Revan.


" iii... oiya baiklah ayo " jawab Adinda yang sedikit gugup, karena dirinya masih merasa malu.


" bagus "


dan kemudian sekarang Adinda mengikuti langkah sekertaris Revan untuk menuju ke arah atasannya tersebut.


sedangkan Zahra dan Bima yang sedari tadi mencari arah pandang tentang keberadaan sekertaris nya itu, kini keduanya tengah melihat sekertaris Revan yang tengah berdampingan dengan seorang gadis yang sepertinya akan menuju ke arah nya saat ini.


" sayang itu sekertaris Revan, seperti nya menuju ke arah kita " ucap Bima kepada sang istri.


" iya, mungkin gadis di sampingnya itu rekan barunya suamiku " jawab Zahra seperti penasaran.


" ya mungkin saja " sahut Bima santai


" sayang sekertaris Revan pintar sekali memilih rekan barunya, dia cantik " ucap Zahra yang melihat dari kejauhan, wanita yang saat ini tengah bersama sekertaris suaminya tersebut.


" iya benar, tetapi masih cantikan dirimu Zahra " jawab Bima yang seperti kecantikan istrinya itu tiada yang menandinginya.


" emm.. kau ini "


" memang Iya kan " ucap Bima yang seperti sedikit nge gas.


" iya iya suamiku " jawab Zahra kemudian karena melihat suaminya yang seperti tak bisa di kalahkan.


Dan sepasang rekan kerja yang tak lain sekertaris Revan dan Adinda itu kini sampailah di hadapan pemilik perusahaan pencakar langit tersebut.


" Dari mana saja kau sekertaris Revan, sedari tadi aku mencari mu " tanya Bima kepada sekertaris Revan.


" Maaf tuan sebelum nya saya masih menunggu nya bercengkrama dengan kolega kolega bisnis anda tadi, perkenalkan tuan ini Adinda rekan kerja baru saya " jelas sekertaris Revan.


" ya tuan, nona perkenalkan nama saya Adinda rekan baru sekertaris Revan " sahut Adinda kemudian memperkenalkan dirinya kepada sepasang atasannya tersebut.


" ya.. ya... ya.. jadi ini rekan baru yang kau bilang cantik itu ya Van " ucap Bima setelah itu.


" tuan, apa yang anda katakan " jawab sekertaris Revan yang seperti di buat malu oleh perkataan atasannya saat ini.


" hehehe.... sekertaris Revan seperti nya kalian sangat cocok iya kan sayang "


ucap Zahra yang baru saja berdiri dari kursi dan setelah itu mensejajarkan dirinya di samping sang suami yang sedari tadi berdiri itu, dan setelah mengetahui sang istri berdiri Bima langsung memeluk pinggang Zahra secara posesif.


" iya kau benar sayang " jawab Bima.


" tuan dan nona bisa saja, mana mungkin saya dan sekertaris Revan cocok, kami tidak ada kecocokan sama sekali nona " jelas Adinda dengan santainya seperti sudah akrab dengan kedua atasannya itu.


" iya nona Zahra, benar apa yang di katakan Dinda, kami tidak ada kecocokan sama sekali iya kan Din " jelas sekertaris Revan juga kemudian pandangannya tertuju pada Adinda.


" iii... iya benar " jawab Adinda sedikit terbata sambil dirinya yang sedikit cengengesan.


" justru saya yang melihat anda begitu sangat cocok dengan tuan Bima, anda begitu sangat cantik nona " ucap Adinda setelah itu, sambil memuji kecantikan Zahra.


" hehehe... Terima kasih kau juga sangat cantik Dinda " jawab Zahra sedikit tertawa kemudian sambil memuji kecantikan Adinda.


" bagaimana kalau mulai sekarang kita berteman nona " ucap Adinda yang merasa seperti sudah akrab itu.


" Din " panggil sekertaris Revan seperti mengingatkan.


" apa sih sekertaris Revan kau menyenggol nyenggol lenganku saja " ucap Adinda kepada sekertaris Revan tetapi pandangan nya masih tertuju kepada Zahra.


" tidak apa apa sekertaris Revan, justru aku senang mempunyai teman baru iya kan sayang" jawab Zahra sambil menoleh ke arah sang suami.


" iya sayang, jika kau senang aku juga akan senang " sahut Bima dengan senyuman manisnya.


" terimakasih suami ku kau sangat baik " ucap Zahra kemudian.

__ADS_1


" nona,.. nona.. seperti nya tuan Bima begitu mencintai anda ya " ucap Adinda


yang memang sedari tadi dia mendekat ke arah sepasang atasannya itu Dinda sudah mengetahui bahwa tuanya itu memang sangat mencintai sang istri dengan cara yang sedikit posesif nya terhadap istrinya yang tengah hamil besar itu.


" aw..... tuan Revan apa sih yang kau lakukan menginjak kakiku segala " ucap Adinda kemudian yang merasa sedari tadi tak mengerti kode dari sekertaris Revan.


sedangkan sekertaris Revan sedikit kesal kepada bawahan nya tersebut.


" maaf tuan, nona kita masih banyak pekerjaan nanti kami akan kesini lagi, ayo Din " ucap sekertaris Revan kepada sepasang atasannya itu, dan kemudian sambil menarik tangan Adinda untuk segera menjauh dari sepasang atasannya saat ini.


" sekertaris Revan, aku masih ingin mengobrol dengan nona Zahra " jawab Adinda yang masih bersih kekeh itu.


" DIN " panggil sekertaris Revan dengan nada suara sedikit penekanan.


" heh... iya iya " jawab Adinda sambil sedikit mengeluarkan nafas beratnya.


" nona Zahra, tuan Bima saya ke sana sebentar ya, salam kenal nona, saya senang berbincang bincang dengan anda " ucap Adinda kemudian mengikuti arah sekertaris Revan dari belakang yang berniat pergi dari kedua sepasang suami istri itu.


" iya Din aku juga " jawab Zahra


kemudian kedua rekan kerja yang tak lain Adinda dan sekertaris Revan pun kini mulai menjauh dari keduanya entah kemana.


kini tinggal lah Zahra dan Bima.


" hehehe... sayang aku merasa mereka sangat cocok ya " ucap Zahra kepada sang suami.


" iya Zahra, dan aku menjanjikan liburan untuk sekertaris Revan jika dia menikah dengan Dinda rekan barunya itu "


" kau ternyata baik sekali ya " ucap Zahra setelah nya dengan senyuman manis ia berikan kepada sang suami.


" tentu saja, kau seperti tidak tau suami mu saja " jawab Bima yang mulai dengan sifat sombong ya itu.


" hehehe.... iya iya sayang aku tau " jawab Zahra kemudian Bima sedikit menyentil hidung sang istri.


**********


setelah selesai nya acara perayaan ulang tahun perusahaan.


" tuan " panggil Dinda yang saat ini tengah berada di dalam mobil bersama sekertaris Revan.


" apalagi " jawab sekertaris Revan dingin.


" aku tau kau sedikit kesal padaku, aku kan sudah minta maaf tuan masalah tadi di pesta perusahaan "


" hem "


" tuan, tuan, sepertinya tuan Bima sangat menyayangi nona Zahra ya, seperti nya tuan Bima sangat posesif kepada nona "


" dari mana kau tahu heh "


" saya sudah tahu dari cara tuan Bima menarik pinggang nona Zahra tadi, saat kita mendekat ke mereka "


" ya kau benar, tuan Bima memang sangat posesif kepada nona Zahra karena tuan sangat mencintai nya "


"ah.. senang nya jadi nona, aku jadi iri mendengarnya, hah.. kapan aku bisa memiliki pasangan yang sangat mencintaiku seperti tuan Bima ya, pacaran saja cuma satu kali tapi itu dulu "


" apa... sampai umur dua puluh tiga tahun kau hanya pacaran satu kali "


" iya...pernah dulu tuan sekali waktu saya SMA "


" terus "


" saya tinggal kan dia, karena dia akan mencoba mencium saya, saya takut jika bersentuhan tuan membuat saya kebingungan dan takut "


" untung saja " jawab sekertaris Revan spontan.


" apanya yang untung tuan "


" ah tidak ada, jadi kau tidak pernah berciuman sampai sekarang "


" tidak "

__ADS_1


" syukur lah "


" apanya yang bersyukur tuan, oh....aku tau kau bersyukur karena aku tidak pernah berciuman dan kau akan mengajakku berpacaran begitu kan "


" hahaha.... kau PD sekali, hei.. asal kau tau, kau bukan tipe ku "


" heh tuan... memang siapa yang ke PDan, saya tadi hanya bercanda, tuan saja yang ke GRan "


" memangnya aku tidak ada pekerjaan apa "


" ya sudah "


dan keduanya pun kini saling diam di dalam mobil, sedangkan adinda menoleh ke arah luar jendela sambil menyandarkan kepalanya di kursi mobil.


sesaat kemudian.


mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai di parkiran apartemen.


Din bangun, sudah sampai, heii.....


Din, bangun, Akkhh... seperti nya dia benar benar tertidur, kenapa susah sekali membangunkan gadis menyebalkan ini monolog sekertaris Revan.


karena susah untuk di bangunkan akhirnya sekertaris Revan memutuskan untuk menggendong tubuh Adinda ke dalam apartemen miliknya.


beberapa saat kemudian.


Akkhh.....tubuhnya berat sekali, apa yang dia makan sih, sepertinya sama saja yang aku makan monolog sekertaris Revan setelah dirinya mulai memasuki ke dalam apartemen nya tersebut.


dan saat ini sekertaris Revan tengah menuju kamar yang di tempati oleh Adinda selama ini.


perlahan sekertaris Revan melangkah menuju ranjang empuknya itu, dan kemudian karena kakinya tersandung sesuatu entah apa itu dan akhirnya....


BRUGHHH......


bunyi tubuh Adinda yang terhempas di atas ranjang empuk yang kini tertindih oleh tubuh sekertaris Revan.


sedangkan Adinda tetap tak membuka kedua matanya, mungkin dirinya saat ini karena sangking nyenyak nya sampai hal seperti ini saja dirinya masih tetap setia menutup kedua matanya.


sedangkan sekertaris Revan tak berkedip dengan wajahnya yang saat ini berada pas di atas wajah Adinda yang kini sedang ia tindih tubuhnya itu.


Dia benar-benar cantik, bibirnya terlihat menggoda, dan satu lagi apa ini di dadaku seperti merasa ada sesuatu yang empuk menempel di sana rasanya seperti nyaman untuk sandaran tidur gumam sekertaris Revan.


yang masih tak bangun dari atas tubuh Adinda saat ini.


sejenak ia sadar dari lamunan nya.


dan sontak saja sekertaris Revan langsung bangun dari tubuh Adinda.


Astaga apa yang tadi terjadi, Revan sadar sadar sadar monolognya.


oh jadi benda kenyal tadi itu... mi.. mi.. milik Adinda, oh Revan kau sungguh-sungguh gila, tapi kan aku tak berniat menindihnya, sebaiknya aku menyelimuti tubuh Dinda gumam sekertaris Revan.


dan perlahan sekertaris Revan pun membenarkan posisi tidur Adinda dan kemudian menyelimuti dengan selimut tebal.


setelah selesai menyelimuti tubuh Adinda sekertaris Revan kembali memandang wajah cantik itu.


Seperti nya aku benar-benar mencintaimu Dinda monolognya lagi.


seutas senyuman terbit dari bibir sekertaris Revan.


kemudian lelaki tampan itu bergegas meninggalkan kamar Adinda dan dilihatnya di lantai ada sepatu Adinda tergeletak.


oh jadi ini yang membuatku tersandung tadi hahaha... tidak apa apa lah monolog sekertaris Revan.


kemudian sekertaris Revan tersenyum seperti kegirangan mendapat rejeki nomplok.


KAKAK JANGAN LUPA VOTE, LIKE, KOMENNYA


DARI SEKIAN RIBU PEMBACA KARYA AUTHOR MASAK LIKE NYA CUMA SEGITU GITU AJA KAK , PLISS KAK


BIAR AUTHOR SEMANGAT NAMBAH BAB NYA SELANJUTNYA β˜Ίβ˜ΊπŸ™πŸ™

__ADS_1



__ADS_2