
Di dapur.
Adinda mulai mengeluarkan semua alat tempur nya di dalam dapur mewahnya, dengan semua bahan bahan masakan yang sudah ia siapkan sedari tadi.
Seperti biasa gadis berparas ayu itu dengan lihai nya berperang dengan peralatan dapur yang sudah menjadi teman nya sehari hari.
entah apa saja yang ia olah saat ini, sepertinya penuh dengan keseriusan membuat masakan untuk pria yang kini telah berstatus suami nya tersebut.
Setengah jam berlalu....
Masakan Adinda satu persatu mulai matang, senyumnya mulai merekah di kala rasa lelah nya serasa terbayar dengan melihat masakan yang kini satu per satu sudah mulai ia taruh di atas meja makan yang serba berwarna putih dan terlihat mewah itu.
semoga saja dia menyukainya menolong nya.
Bibir nya mengembang kesamping menciptakan senyuman manis di bibir tipis nya.
Kemudian Adinda kembali menuju dapur untuk menyelesaikan masakan yang sudah hampir selesai di sana.
Dirinya seperti tengah asik sedari tadi mengolah aneka masakan, tanpa ia sadari tiba tiba sebuah tangan melingkar di tubuh nya saat ini.
Ya tangan itu milik siapa lagi kalau bukan milik sekertaris Revan.
Seketika Adinda sedikit di buat kaget akan kelakuan Revan yang selalu memeluknya tiba tiba jika dirinya sibuk memasak di dapur.
" akkhh... sayang kau mengagetkan ku " ucap Dinda terdengar manja di telinga sekertaris Revan.
" benarkah... maaf, kau masak apa sore ini " tanya Revan dengan posisinya tengah memeluk tubuh Adinda dari belakang kemudian dagunya ia taruh di pundak sang istri.
" banyak sekali " jawab Dinda sambil terus mengaduk aduk masaknya di atas wajan panas nya.
" Dinda kau baru saja sembuh untuk apa masak banyak banyak "
" aku rindu sekali memasak seperti apartemen mu dulu " ucap Dinda.
Kemudian dengan perlahan Revan membalikkan tubuh Adinda untuk menghadap nya keduanya pun kini saling berhadapan, sedangkan Adinda melupakan kompor yang masih menyala di belakang tubuh nya tanpa mematikan nya tadi.
" Dinda dengar aku, aku tak ingin melihatmu kelelahan karena mulai besok aku sudah masuk kerja, aku tak bisa menjagamu " ucap Revan dengan menatap kedua mata milik Adinda saat ini.
" hehehe.... astaga kak kau pikir aku anak kecil apa, aku memang benar-benar sembuh tenanglah kau fokus saja pada pekerjaan mu "
" tapi ingat jangan terlalu kelelahan, dan aku juga sudah membuat surat pengunduran dirimu dari perusahaan "
" ya aku tau, dan aku akan menjadi istri yang selalu menunggumu sepulang kerja "
" kau pintar sekali " ucap Revan dengan sedikit mengelus pipi mulus Adinda.
" apa sih " ucap Adinda yang merasa tersipu malu karena ucapan sekertaris Revan.
__ADS_1
Sekertaris Revan pun kini juga ikut tersenyum di saat melihat kedua pipi milik sang istri sedikit memerah seperti tomat karena menahan malu.
Beberapa saat kemudian wajah tampan yang sedari tadi tersenyum itu kini mulai berubah, ketika indra penciuman nya mulai di masuki bau bau familiar yang menerobos ke dalam nya.
" Din.. Dinda... bau apa ini " ucap Revan sambil meringis merasakan bau gosong yang menusuk hidung mancung nya.
" AKKHH...... masakan ku gosong kak ini semua gara gara dirimu "
" hahahaha.... astaga maaf, ya sudah biarkan saja kita makan yang sudah kau siapkan di meja makan saja ayo "
" heh... padahal aku ingin mempersiapkan semuanya dengan baik malah jadi begini '' ucap Dinda dengan sedikit kesal.
" sudah tidak apa apa " jawab Revan pelan.
Kemudian Revan langsung meraih tangan Adinda untuk menuju ke arah meja makan berada.
Keduanya mulai makan malam bersama, sesekali keduanya saling pandang kemudian senyum senyum tak jelas.
Entah apa yang ada di pikiran sepasang suami istri itu saat ini.
" Din "
" iya "
" mulai besok aku sudah masuk kerja, dan ini ambilah "
" ponsel "
" jangan norak Din " ucap Revan santai tetapi sedikit membuat Adinda sebal terhadap ucapan sang suami.
" bagaimana aku tidak norak, aku dari kalangan orang biasa dan setelah itu aku menikah dengan pria seperti mu "
" maksudmu "
" kalangan atas astaga begitu saja tidak mengerti " jelas Dinda yang justru berbalik membuat sang suami sedikit sebal.
" ya.. ya... ya " jawab Revan yang terdengar seperti malas menjawab.
kau memang sedikit menyebalkan Dinda, tapi bagaimana lagi aku sangat mencintai nya, apalagi sekarang setelah menikah kau tambah membuatku seperti seseorang yang selalu ketagihan Dinda, otak ku sudah gila sekarang gumam Revan dalam hati.
" kak kau mengatai ku di dalam hati ya hah "
" tidak... untuk apa, aku kan bisa bicara secara langsung padamu "
kenapa dia bisa tau aku mengatai nya dalam hati ya gumam Revan lagi.
Sedangkan Dinda mengangguk anggukkan kepalanya pelan.
__ADS_1
" Dinda jika kau di rumah dan mau kemana mana seandainya kau bosan, kau harus menghubungi ku jangan se enaknya sendiri, dan di ponsel itu sudah ada kasih nomor nona dan aku nomor ku suamimu R E V A N" jelas Revan panjang lebar.
" iya.. iya..astaga memang harus serinci itu ya " jawab Dinda sedikit menganga.
" iya.... dan ingat satu lagi " ucap Revan lagi.
" apa " tanya Dinda polos.
" jika kau keluar rumah jangan memakai pakaian kurang bahan, contohnya seperti yang kau pakai saat ini, aku tidak ingin kau memakai pakaian terbuka yang memperlihatkan bagian tubuhmu " jelas Revan lagi yang seolah olah dirinya tak rela bagian bagian tubuh sang istri di lihat pria lain.
" iya kak iya... memang aku gila apa memakai pakaian seperti itu " jawab Adinda dengan sedikit bergumam.
Oh sekertaris Revan ternyata kau posesif sekali hehehe.... sepertinya sangat seru memiliki suami sepertimu, aku akan sering sering melanggar peraturan nya sepertinya akan lebih seru si di langgar hahaha.... gumam Adinda sambil senyum senyum sendiri.
" bagus " jawab Revan yang sesekali pandangan nya tertuju pada gadis yang tengah tersenyum itu di hadapan nya saat ini yang tengah menyuapkan kembali sesuap nasi beserta lauk kedalam mulutnya.
Sedangkan dirinya yang melihat sang istri tersenyum, kini sekertaris tampan itu juga ikut tersenyum di kira Adinda tersenyum karena dirinya merasa di perhatikan padahal pemikiran Adinda mengarah ke jalur yang lain. 😂😂
Beberapa saat kemudian acara ritual makan pun malam telah selesai.
" kak bagaimana masakan ku enak kan hem.. " tanya Dinda kemudian setelah menghabiskan satu gelas air putih.
" sangat enak kau pintar sekali memasak, sebagai tanda terima kasih ku aku akan memberikan mu hadiah " jawab Revan dengan kedua tangannya ia taruh di atas meja sambil menatap wajah sang istri yang terlihat bahagia saat ia puji.
" benarkah... hadiah apa " ucap Dinda dengan kedua mata berbinar binar.
" sepertinya aku lihat kau sedikit penasaran Din" ucap Revan dengan sedikit memiringkan kepalanya serta bibir yang sedikit mengembang ke samping.
" hehehe... " Dinda tertawa mendengar ucapan sang suami.
" aku lihat dari wajahmu seperti nya kau sangat menyukai hadiah dariku, sampai sampai kau bisa mengeluarkan nada suara yang begitu indah saat memberinya Din "
" apa sih, kau jangan membuat ku penasaran kak, tadi kau memberiku ponsel pengeluaran terbaru sekarang apalagi cepat katakan "
" kau tau hadiahku " ucap Revan dengan senyuman yang sepertinya tak bisa hilang dari bibirnya.
" apa " tanya Dinda yang semakin penasaran.
" sekarang berdiri dari kursi, dan setelah itu kau harus mau aku gendong " perintah Revan.
Sedangkan Adinda seperti sedikit berfikir setelah mendengarkan perintah dari sang suami.
" HAHAHA...... tidak tidak aku tau sekarang, hadiah mu pasti itu kan " ucap Adinda dengan sedikit menunjuk ke arah bawah milik sang suami.
Kemudian dengan segera gadis bermata bulat itu berlari menuju lantai atas meninggal kan sekertaris Revan sendirian di meja makan.
" HEHEHE....... Dinda tunggu jangan kabur, dasar pikiran mu mesum sekali ya ternyata hei... tunggu aku Din " ucap Revan sambil tertawa.
__ADS_1
tebakan nya benar sekali, biasanya dia sedikit bodoh dalam hal seperti ini gumam Revan.
Dengan segera Revan berlari kecil untuk menyusul sang istri ke kamar pribadinya dengan tawa kecil yang seperti nya tak henti dari bibir nya.