Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
episode 95


__ADS_3

Dua minggu kemudian


07.15 wib


" Sayang bisakah nanti sepulang dari kantor membelikan ku rujak buah, aku sangat menginginkannya seperti nya enak sekali " Ucap Zahra yang kini sedang memasangkan dasi milik suaminya itu.


" Sayang kalau beli di pinggir jalan itu tidak higenis, aku akan menyuruh pelayan saja untuk membuatkan nya untukmu bagaimana hem " Jawab Bima sambil mengelus rambut istri nya tersebut.


" Tidak aku tidak mau, aku maunya yang di pinggir jalan " Ucap Zahra lagi yang bersih kuku.


" Sayang di pinggir jalan itu tidak higenis nanti kau bisa sakit " Jawab Bima yang memang mengkhawatirkan kesehatan istrinya.


" Ya sudah aku beli sendiri saja, kalau kau tidak mau membelikannya untukku"


Sahut Zahra kemudian


" Zahra.. Itu tidak higenis sayang percayalah padaku " Jelas Bima lagi.


" Sayang tetapi aku sangat menginginkan nya " Rengek Zahra


" Zahra " Ucap Bima tegas karena merasa istrinya tidak mendengarkan perkataan nya tersebut,


yang saat ini tetap berada di hadapannya itu, dan baru saja selesai memakaikan dasi Bima.


Sedangkan air mata Zahra kini sudah mulai menganak sungai di kedua pelupuk matanya.


" Padahal aku hanya meminta rujak buah saja kau mulai emosi, bahkan aku tidak meminta sesuatu yang mahal padamu " Ucap Zahra sambil menangis dan mengusap kasar air matanya yang mulai membasahi pipi mulusnya itu.


" Sayang maafkan aku, aku tidak berniat seperti itu sayang, aku hanya takut kau sakit perut nanti jika membelinya sembarangan " Jawab Bima, yang seperti tidak menyangka respon istrinya sampai seperti itu.


" Aku juga tidak tau kenapa aku menginginkannya, kau pelit sekali padaku " Jawab Zahra yang kini sampai sesenggukan.


Kemudian berlari ke arah ranjang king size nya setelah itu membaringkan tubuhnya di ranjang empuk tersebut dan langsung menutup semua tubuhnya dengan selimut putih tebal.


" Sayang, jangan seperti itu, Zahra ini demi kebaikanmu, bukan karena aku pelit padamu sayang "


Ucap Bima yang kini juga melangkah ke arah ranjang king size itu dan mulai duduk di sisi ranjang sambil mencoba membuka selimut yang menutupi tubuh Zahra.


Ah susah sekali jika dia seperti ini, aku harus bagaimana sekarang gumam Bima dalam hati.


" Sayang " Panggil Bima setelah mencoba membuka selimut tebal itu, tetapi tidak berhasil karena istrinya begitu erat memegang nya dan juga masih cemberut di dalam sana.


" Iya, iya baiklah aku akan membelikan mu rujak buah nanti sepulang dari kantor "

__ADS_1


Ucap Bima lagi yang berniat menuruti keinginan sang istri, karena Bima paling tidak bisa jika dirinya di diamkan nya seperti itu oleh Zahra.


Sedangkan Zahra yang mendengarkan perkataan suaminya itu dari dalam selimut tebal tersebut, sekejap langsung membuka selimut nya dan langsung menggapai lengan suaminya dengan tersenyum.


" Suamiku terima kasih, kau janji ya akan membelikannya untukku"


" Iya sayang aku berjanji, tetapi satu porsi saja "


" Iya, iya "


" yasudah kalau begitu aku berangkat dulu "


ucap Bima kepada Zahra.


dan Zahra menganggukkan kepalanya sebagai balasan perkataan suami nya itu.


" aku mencintaimu "


" aku juga mencintaimu suamiku "


cup


cium Bima di kening istrinya.


kemudian segera berdiri dari sana dan melangkahkan kakinya untuk pergi ke kantor.


Bima telah sampai di depan mansion, sedangkan sekertaris Revan sudah siap membukakan pintu mobil untuk atasannya tersebut.


" silahkan tuan "


" hem "


dan seperti biasa jawaban Bima hanya hem saja kepada sekertaris nya.


kemudian sekertaris Revan segera mengitari mobil mewah hitam tersebut, dan mulai membuka pintu mobil bagian kemudi setelah itu mulai menancapkan pedal gasnya meninggalkan area mansion.


di tengah perjalanan.


sedari tadi hanya ada keheningan,


sedangkan sekertaris Revan yang sedari tadi melihat bos nya dari kaca kecil di dalam mobil mewahnya itu, seperti melihat tuan mudanya sedang memikirkan sesuatu.


" tuan maaf jika saya lancang, sepertinya ada sesuatu yang anda pikirkan saat ini " tanya sekertaris Revan kepada atasannya itu.

__ADS_1


" iya Van kau benar aku memang sedang memikirkan sesuatu "


" tuan ceritakan saja , mungkin saya bisa membantu anda tuan "


" baiklah Van, begini, sewaktu aku mau berangkat kerja tadi Zahra meminta rujak buah padaku untuk membelikannya sewaktu aku pulang kerja nanti, kemudian aku tidak memperbolehkannya karena rujak buah itu biasanya di beli di pinggiran jalan, itu pasti tidak higenis bukan "


" ya tuan anda benar juga "


" dan kau tau Zahra langsung menangis sampai sesenggukan Van karena aku melarang nya, kemudian aku akan menyuruh pelayan di mansion membuatkan untuk dirinya, tetapi dia tidak mau, maunya yang di pinggir jalan dan kemudian dia tak menghiraukan aku, dia meninggalkan aku sendirian. Sedangkan Zahra yang merasa kesal kepadaku itu menenggelamkan tubuhnya di dalam selimut, dan setelah aku bilang akan membelikan dia rujak buah, kau tau reaksinya bagaimana "


" memangnya bagaimana tuan "


" dia langsung kegirangan Van seperti anak kecil yang baru saja mendapat hadiah, aku merasakan Zahra pagi ini seperti sedikit sensitif Van, ada apa dengan dirinya sebenarnya "


" tuan mungkin nona Zahra hamil tuan " ucap sekertaris Revan yang seolah membuat hati atasannya itu tiba tiba dag dig dug.


" apa kau bilang Van, ah yang benar saja, apa iya Van, aku ingin segera pulang kalau seperti ini " jawab Bima seperti tak sabaran dan merasa penasaran dengan apa yang di katakan oleh sekertaris Revan.


" Oh iya tuan, apa nona Zahra muntah muntah atau mual contohnya "


" sepertinya tidak Van, tadi pagi dia makan seperti biasanya " jawab Bima yang mengingat dirinya tadi sarapan pagi bersama Zahra.


" begini saja tuan, anda lihat tiga hari ke depan, apakah nona baik baik saja atau bagaimana "


" iya Van kau benar, kau memang bisa di andalkan "


" iya tuan "


" jika dugaan mu benar aku akan menaikkan gaji mu empat kali lipat " ucap Bima yang membuat hati sekertaris Revan kegirangan


" iya tuan terimakasih "


semoga saja benar dugaan ku kalau nona Zahra benar-benar hamil gumam sekertaris Revan dalam hati.


" semoga saja Zahra memang benar hamil, kau tau Van aku sangat menginginkan hadirnya seorang bayi dari rahimnya, karena aku sangat mencintai nya apa pun akan aku lakukan demi dirinya Van, termasuk nyawaku sendiri " jelas Bima yang memang sangat mencintai istri belianya yaitu Zahra.


" ya tuan saya tau anda memang sangat mencintai nona Zahra, saya ikut senang mendengarnya, dan anda tidak seperti dulu lagi yang jarang bicara bahkan tersenyum, astaga maaf tuan saya keceplosan "


jawab sekertaris Revan yang kemudian di akhir perkataannya baru sadar karena merasa keceplosan dan membungkam mulutnya sendiri.


" ah tidak apa apa Van, memang iya dan itu semua karena kehadiran Zahra yang membuat hidup ku selalu berwarna Van, mungkin jika aku mempunyai anak dari Zahra pasti dia sangat menggemaskan seperti Zahra " ucap Bima yang merasa bahagia membayangkan kelak


" iya tuan semoga saja " jawab sekertaris Revan kemudian kembali fokus ke depan setelah obrolan panjangnya bersama tuan nya itu.

__ADS_1


lima belas menit kemudian


mobil mewah hitam yang mereka naiki telah kini telah sampai di area gedung pencakar langit milik Bima.


__ADS_2