Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
episode 84


__ADS_3

kini mobil sport hitam itu melaju begitu pesat menuju arah mall miliknya itu siapa lagi kalau bukan Bima.


" sayang kau kenapa kau diam "


" tidak apa apa sayang "


" apa kau memikirkan yang tadi di rumah sakit "


" tidak sayang, aku memikirkan apa yang harus aku beli setiba nya di mall sana "


" hahaha... astaga istriku, apa yang kau pikirkan Zahra, uangku tidak akan habis sayang meskipun kau menguras semua black card yang kemarin aku berikan kepadamu "


" iya aku tau, tetapi aku tidak tau apa yang harus aku beli sayang "


" terserah apa saja yang kau inginkan Zahra "


" ah, aku pusing memikirkan itu semua "


" sayang bagaimana kalau kita beli perlengkapan bayi "


" sayang tapi kita kan tidak tau bayi kita laki laki atau perempuan, dan juga itu masih lama "


" bagaimana kalau kita beli semua nya "


" maksudnya "


" ya kita beli semua nya sayang, perlengkapan bayi laki-laki ataupun perempuan kalau perlu kita borong semua nya "


" yang benar saja, sayang aku tidak suka yang berlebih lebihan "


" iya baiklah tidak jadi, apa kau sudah puas istri ku "


Zahra tersenyum sambil melirik ke arah suaminya itu, karena kemauannya tak di sukai oleh istrinya.


" sayang " rengek Zahra.


" hem " jawab Bima, yang sedikit merasa kesal itu.


dia kumat lagi kan, aku harus memakai cara apa lagi ini gumam Zahra


kemudian Zahra seperti mendapat ide di pikirannya saat ini.


" aww... sayang kepalaku sakit "


chiittttttttttt...


Bima langsung menepikan mobilnya dan langsung mengerem mobil sport miliknya itu secara mendadak ketika mendengar istrinya merasa kesakitan.


" Zahra kau kenapa sayang, mana yang sakit ayo katakan padaku " ucap Bima yang mulai kebingungan.


" kepala ku yang sakit " ucapnya seperti merengek.

__ADS_1


" sebelah mana tunjukkan padaku, apa bekas jahitannya masih ngilu " ucapnya lagi


dengan sigap kemudian bima langsung memegang kepala belakang milik istrinya itu.


" sayang sebenarnya ini yang sakit " tunjuk Zahra ke arah dadanya.


" sayang jangan bercanda " ucap Bima yang bertambah kebingungan takut istrinya mempunyai penyakit lain saat Zahra memegang dadanya.


" kita ke rumah sakit sekarang ya "


ucap Bima lagi yang kini beralih memegang kedua lengan istrinya itu dan menghadapkan ke arahnya dari samping.


kenapa jadi serumit ini sih, aku kasihan sekali melihatnya bertambah kebingungan seperti ini guna Zahra d alam hati.


kemudian Zahra mengambil tangan suaminya yang sedari tadi memegang kedua lengannya itu kemudian Zahra menaruhnya di dada nya tersebut.


" sayang dadaku sakit bukan karena aku sakit, tetapi disini sakit jika kau merasa marah dan kesal padaku " jelasnya penuh keyakinan kepada Bima.


" sayang kenapa kau tidak bilang sedari tadi, aku sangat menghawatirkan mu Zahra aku takut kau kenapa kenapa "


" aku tidak apa apa sayang "


" iya maaf kan aku sayang "


ucapnya sambil menciumi seluruh wajah istrinya dengan kedua tangannya yang mendekap pipi Zahra.


dan setelah itu langsung ber hambur memeluk Zahra, seperti ketakutan kehilangan istrinya itu.


" sayang maaf jika membuatmu kesal "


Bima tersenyum bahagia, mendengar penjelasan istrinya itu, yang begitu bangganya dirinya saat ini bisa memiliki istri sebaik Zahra yang tak tergila gila dengan uangnya meskipun kekayaannya nya sampai tak habis tujuh turunan itu.


" sayang bagaimana kalau kita ke apotik sebentar "


" memangnya apa yang ingin kau beli di sana sayang " ucap Bima yang beralih lagi memegang kedua tangan Zahra saat ini.


" aku ingin membeli testpack sayang, apa tidak boleh " tanya Zahra pelan


" siapa yang tidak memperbolehkannya sayang, justru aku sangat senang mendengar nya di bibir tipis ini "


ucap Bima sambil mencolek bibir tipis milik Zahra itu.


" baiklah sekarang kita ke apotik "


Zahra tersenyum kepada lelaki tampan di sampingnya itu yang tak lain adalah Bima suaminya.


dan mobil sport yang mereka kendarai itu akhirnya menaiki jalan aspal, setelah tadi sedikit lama menepi,


dengan segera Bima langsung menancapkan pedal gasnya menuju apotik bersama istrinya.


beberapa saat kemudian.

__ADS_1


mobil yang mereka naiki sekarang telah berhenti tepatnya di depan apotik.


" sayang kau tunggu sebentar di sini aku akan membelinya "


" sebaiknya aku saja yang membelinya "


" memangnya kenapa sayang, tidak apa apa sebaiknya aku saja ''


" Zahra apa kau tidak lihat pegawainya laki laki semua "


" astaga... suamiku, baiklah kau saja yang membelinya, kau puas " ucap Zahra sambil tersenyum serta menggeleng geleng kan kepala nya pelan, karena Zahra merasa suaminya itu memang benar-benar terlalu berlebihan, jika menyangkut dirinya.


" puas sekali " jawab Bima sambil melempar senyuman manisnya itu kepada Zahra.


kemudian Bima langsung membuka pintu mobil sport hitam di sampingnya itu, setelah itu melangkah ke arah apotik tersebut, dan mulai membelinya di sana.


sedangkan di dalam mobil, Zahra tersenyum memandangi suaminya dari dalam kaca mobil mewahnya itu.


memang benar-benar suami satu ini gumam Zahra


kemudian Zahra kembali tersenyum dengan pandangannya masih tetap tertuju pada suami posesif nya itu.


setelah membeli sesuatu yang di perlukan, Bima langsung menuju ke arah mobil sport nya yang terparkir sempurna di depan apotik tersebut.


" sayang ini testpack nya " ucap Bima sambil menyodorkan kantong plastik berwarna putih kepada Zahra.


" Terima kasih suami ku " ucapnya


sambil mengambil kantong plastik tersebut dari tangan suaminya, kemudian Zahra membuka kantong plastik tersebut dan melihat isinya di dalam.


" Apa yang kau lakukan sayang, kenapa kau membelinya sampai satu box begini "


" aku juga tidak tau, dan mana mungkin juga aku membelinya hanya dua biji sayang, ya sudah biarkan saja "


" ya sudah kalau begitu tidak apa apa " jawab Zahra yang merasa suaminya memang tak mengerti masalah seperti itu sebelum nya, jadi Zahra membiarkan.


" ya sudah ayo kita mau kemana sekarang sayang " ucap Bima yang mulai menghidupkan mesin mobil sport nya saat ini.


" emm... bagaimana kalau kita ke pantai pinggiran kota sayang, sepertinya aku sudah lama sekali tidak ke sana "


" baiklah, ayo kita ke sana " ucap Bima .


yang mulai menancapkan pedal gasnya perlahan dan melanjutkan perjalanan nya itu.


Zahra tersenyum mendengar perkataan suaminya itu.


" kau tau sayang baru kali ini aku bisa menikmati waktu apalagi bersamamu, setiap hari hidupku di sibukkan pekerjaan, pekerjaan dan pekerjaan, karena aku pewaris pertama keluarga "


" sayang apa sampai seperti itu, "


" ya...hari hari ku selalu seperti itu, bahkan berkumpul bersama keluarga pun jarang " ucap Bima sambil terus fokus ke arah depan jalan.

__ADS_1


" sayang " ucap Zahra yang merasa sedikit kasihan pada suaminya yang seperti nya selalu kesepian meskipun banyak orang-orang di sekitarnya.


" baiklah hari ini kita seharian di sana bagaimana sayang, pasti seru " ucap Zahra yang berniat memberikan waktunya full bersama sang suami sesampainya di pantai nanti.


__ADS_2