Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
episode 118


__ADS_3

sedangkan dari arah kejauhan Bima melihat istrinya sedang mengobrol dengan lelaki lain apalagi duduk di dekat Zahra, dan keduanya saling tersenyum bahkan tertawa entah apa yang di bicarakan pikir Bima, yang membuat darah di otaknya seperti mendidih saat ini.


Dan lelaki tampan itu mulai mengeraskan rahangnya, dirinya mulai di selimuti api cemburu, karena merasa wanita miliknya saat ini di pandangi oleh lelaki lain, apalagi dengan jarak yang sangat dekat seperti itu.


Bima langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah sang istri.


sedangkan Zahra, melihat suaminya yang tiba tiba berada di dekatnya itu, mulai panik dan tubuhnya terasa panas dingin saat ini, karena takut kaejadiann dulu terulang lagi.


" sayang ayo pulang, kenapa kau disini hem "


ucap Bima lembut tak tau di dalam hatinya bagaimana saat ini.


" iya sayang, Zaki aku duluan ya " ucap Zahra sambil berbicara kepada lelaki di sampingnya yang tak lain adalah Zaki.


" ah iya Za, hati hati " jawab Zaki sambil tersenyum dan juga Zaki tersenyum ke arah suami Zahra yaitu Bima.


" iya Zak " sahut Zahra.


kemudian Zahra pun mulai berdiri, dengan kakinya yang mulai hilang rasa kesemutan dan kram nya itu.


perlahan keduanya berjalan dengan tangan Zahra yang saat ini di genggam erat oleh Bima.


hanya ada keheningan di antara keduanya.


" sayang, apa kau tidak ingin membeli sesuatu yang couplean lagi bersamaku, gelang misalnya " ucap Zahra


" tidak, aku sudah tidak menginginkannya saat ini " jawab Bima sedikit menekankan kata katanya itu.


iya kan dia marah, aku harus bagaimana sekarang,sebaiknya aku jelaskan di dalam mobil saja gumam Zahra.


" sayang "


" sayang aku memanggilmu "


tetapi Bima tetap saja terdiam tak berniat menjawab perkataan istrinya saat ini.


kenapa dia jadi menakutkan lagi sih, padahal aku sudah lama tak melihatnya seperti ini gumam Zahra.


beberapa saat kemudian.

__ADS_1


kini keduanya sudah memasuki mobil sport hitam milik Bima.


suasana hening.


" sayang dengar aku, tadi aku... " ucap Zahra yang tiba tiba berhenti, karena Bima langsung menyahut nya.


" cukup Zahra, bukankah aku sudah bilang padamu jangan sekali kali dengan dengan pria lain selain diriku " ucap Bima yang mengeluarkan emosinya.


" tapi tadi aku... " ucap Zahra yang mau menjelaskan tetapi lagi lagi Bima menghentikan penjelasan yang akan dia sampaikan itu.


" CUKUP.... " ucap Bima tegas dengan nana tinggi sontak membuat ibu hamil itu sedikit kaget.


Zahra terdiam


kini kedua matanya sudah menggenang air mata di sana, yang berusaha dia tahan dalam diam sesekali gadis cantik itu menundukkan kepalanya, sambil mengusap kasar air mata yang sudah meleleh ke pipi mulusnya saat ini.


sedangkan Bima tak berniat menoleh ke arah sang istri, tetap fokus mengendarai mobil sport mewahnya menghadap ke depan agar segera sampai menuju ke mansion.


Suasana di dalam mobil tetap hening,


Zahra juga menghadap ke arah luar jendela dengan dirinya yang masih saja mengeluarkan air mata dan sampai sesenggukan.


sedangkan Bima saat ini sedikit melirik ke arah istrinya yang sedari tadi hanya menghadap keluar jendela itu.


tetapi Zahra tak berniat menjawabnya bahkan menutupnya.


" Zahra " ucap Bima pelan tetapi seperti penuh penekan.


" iii... iya " jawab Zahra dengan dirinya yang saat ini masih saja sesenggukan itu membuat suaranya menjadi terbata bata dengan sendirinya.


" menghadap ke padaku " ucap Bima yang sesekali melirik ke arah istrinya tersebut


Zahra hanya diam tak berniat menghadap kepada sang suami.


" Zahra " ucap Bima lagi yang masih menggunakan nada pelan tetapi seperti penuh penekanan seperti tadi.


karena merasa tak mendapat jawaban dari istrinya, Bima kemudian menepikan mobil sport nya itu di jalan yang sedikit sepi.


" Zahra menghadap ke padaku, apa yang kau lihat di sana "

__ADS_1


dan karena lagi lagi tak mendapatkan jawaban dari istrinya itu, kemudian Bima sedikit menarik tubuh Zahra untuk menghadapnya, karena mengingat keadaan istrinya yang sedang hamil itu, dirinya tak mau terus marah kepada wanita kesayangannya tersebut.


sekilas Zahra menatap wajah sang suami kemudian berniat menundukkan kepala tetapi tubuhnya tambah di tarik oleh Bima ke dalam pelukannya dengan begitu eratnya.


" Zahra kau menangis hem, sayang maafkan aku, Zahra berhentilah menangis sayang, hey... tatap aku Zahra " ucapnya kepada gadis yang masih menyembunyikan wajahnya itu di pelukannya sambil menangis sejadi jadinya.


" hiks.... hikss... hiks... kau jahat padaku,.. hhhawa... hiks.. hikss.. " jawab Zahra yang terus menangis sesenggukan karena dirinya masih merasa sangat kesal dengan perkataan suaminya yang menggunakan nada tinggi tadi.


" sayang maafkan aku, tatap kedua mataku sekarang, berhentilah menangis " ucap Bima lagi yang mulai melembut dan juga merasa sangat bersalah pada sang istri.


Zahra mengangguk kemudian perlahan menatap kedua mata suaminya dan sesekali mengusap air matanya kasar.


" hey... hey tatap mataku, jelaskan sekarang, bukankah kau tadi ingin berbicara sesuatu padaku " jelas Bima


" untuk apa lagi bicara.... bukannya kau tak menginginkan aku untuk menjelaskannya tadi, kau hanya menyuruhku terus saja diam, seolah olah aku ini ketahuan selingkuh di depan mu " jawab Zahra yang masih sangat merasa kesal kepada lelaki di hadapannya saat ini.


" sayang bukan seperti itu " ucap Bima sambil memegang kedua tangan sang istri.


" terus apa, aku kira kau memang benar benar sudah berubah, tetapi tetap saja " jawab Zahra


" sayang sekarang aku akan mendengar penjelasan mu, dan sekarang aku percaya dan juga aku tidak akan lagi marah, maaf tadi aku terbawa emosi "


" aku sudah tak berniat menjelaskannya, sebaiknya jalankan mobilnya aku ingin segera sampai dan tidur aku lelah " jelas Zahra yang masih merasa kesal.


" iya aku akan menjalankan mobilnya, tetapi jelaskan dulu sayang, supaya aku lega mendengarnya " ucap Bima.


" aku bilang sudah tak ingin menjelaskannya, aku lelah, terserah kau saja memikirkan aku bagaimana " jawab Zahra yang keduanya kini mulai bersih kuku dengan perkataan nya masing masing.


" Zahra, aku tanya baik baik kenapa jawabanmu seperti itu hah " ucap Bima yang mulai lagi tersulut emosi.


" ya memang aku merasa lelah sayang , dan ingin segera pulang, di jelaskan di kamar kan sama saja " jawab Zahra yang memang sudah lelah untuk membicarakan hal itu, karena menurutnya itu adalah hal sepele.


" dasar wanita memang sama saja " sahut Bima yang lagi lagi tersulut emosi, padahal istrinya mengatakan dengan nada bicara biasa biasa saja.


" apa tadi yang kau katakan "


" wanita memang sama saja, apa kau sudah puas "


" ya aku sudah puas, dan ini semua aku kembalikan padamu, sepertinya aku tak pantas bersama lelaki seperti mu " ucap Zahra yang merasa sakit hatinya oleh perkataan sang suami,

__ADS_1


Dan kemudian perlahan Zahra mulai mengumpulkan barang barang pemberian suaminya yaitu ponsel, kalung, tas,gula kapas, dan yang terakhir yang ia pegang yaitu baju tidur couplean nya tersebut dan memberikan nya semua kepada Bima, setelah itu bergegas membuka pintu mobil untuk keluar dari sana dari dalam mobil sport milik suaminya itu.


" Zahra apa maksudmu, hey.... tunggu " ucap Bima melihat kelakuan istrinya saat ini, Bima tidak menyangka kalau istrinya sampai punya pemikiran yang seperti ini.


__ADS_2