
kini sudah satu bulan semenjak kejadian itu, dan semenjak kesembuhan Zahra, Bima tak lagi suka membuat istrinya kesal, karena lantaran selalu menggodanya berlebihan.
Di pagi cerah ini, keduanya mulai membuka mata perlahan.
" istriku apakah kau sudah bangun sayang " ucap Bima kepada istrinya.
" iya sayang, dan badanku rasanya remuk semua " jawab Zahra lesu.
" sayang itu semua gara gara aku tadi malam terlalu menikmatinya, sehingga membuatmu sangat lelah pagi ini " ucapnya lagi karena merasa itu semua karena ulahnya.
" iya tidak apa apa, lagian itu sudah tugasku sebagai istri sayang " sahut Zahra lembut dengan senyuman.
" sayang, apa jahitan di belakang kepalamu tidak pernah terasa nyeri lagi hem " tanya Bima.
" sudah tidak sayang, "
" baguslah kalau begitu "
" sayang kau tidak bekerja " tanya Zahra.
" memangnya kenapa, apa kau mau aku temani lagi hem " tanya Bima lagi
" tidak, bukan seperti itu, kau kan sudah lama sekali tidak ke kantor sayang " jelas Zahra.
" iya juga, tetapi jika kau menginginkan aku disini aku rela tidak berangkat ke kantor sayang"
Bima seperti tidak ikhlas dirinya akan pergi ke kantor hari ini, karena merasa berat meninggalkan istrinya.
" ah itu alasanmu saja kan, sudahlah sayang kau ke kantor saja kan kau sudah lama tidak ke kantor "
" kau bosan ya aku di mansion terus menemanimu hah " ucap Bima melirik ke arah Zahra.
" astaga, bukan seperti itu suami ku, sayang apa kau tidak merasa kasihan kepada sekertaris Revan sudah satu bulan dia mengambil alih semua tentang perusahaan, di pasti sangat lelah sayang " jelas Zahra kepada suami posesif itu.
" benar juga apa yang kau katakan sayang, ya sebaiknya aku ke kantor hari ini "
lega nya dia hari ini ke kantor, hampir saja aku membuatnya marah untung saja alasanku tepat gumam Zahra dalam hati.
" ya sudah aku akan membersihkan diriku dulu"
kemudian Bima turun dari ranjangnya dan melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi dan setelah beberapa saat melangkah, langkahnya terhenti.
" sayang kau juga belum mandi kan, bagaimana kalau kita mandi bersama saja " ucap Bima berniat mengajak istrinya yang masih tiduran di ranjang king size itu.
" aku masih lelah sayang, sebaiknya kau mandi duluan saja "
" aku akan menggendong mu sayang, dan aku janji tidak akan melakukan yang aneh aneh lagi di kamar mandi "
" kau tidak membohongiku kan suamiku "
" iya sayang aku berjanji "
" baiklah "
Bima tersenyum mendengarkan persetujuan istrinya itu.
Dan perlahan Bima mulai mengangkat tubuh Zahra, kemudian menggendongnya perlahan ke arah kamar mandi.
" sayang tubuhmu kenapa ringan sekali "
" ah sayang, bagaimana tidak ringan umurku saja masih delapan belas tahun "
" padahal tubuhmu menggiurkan sekali "
" sayang apa yang kau katakan " ucap Zahra
" kau malu kan "
" tidak "
" bilang saja iya, dasar "
Dan sampailah mereka di dalam kamar mandi, kemudian Bima menaruh tubuh Zahra di dalam bath up bersama dirinya.
__ADS_1
setelah itu Bima mulai mengisinya dengan air hangat dan menambahkan sedikit wewangian di sana.
" sayang kau janji ya tidak akan melakukan apa apa padaku "
" iya sayang tidak akan, kenapa kau takut sekali Zahra "
" bukan begitu sayang, tubuhku memang benar benar sangat lelah, dan sepertinya tenaga ku tidak ada sama sekali "
" Zahra maafkan aku "
" tidak apa apa suami ku, asal kau sekarang jangan lakukan apa apa lagi ya aku mohon "
" iya sayang tidak akan "
cup
cup
" sayang apa yang lakukan, kau mulai lagi kan, kau tidak kasihan padaku "
" tidak sayang aku hanya ingin mencium mu saja tidak lebih "
" ya sudah kalau begitu "
Berlanjut lah acara mandi memandikan itu, keduanya kini tengah mandi dengan di selingi canda tawa di sana.
Dan mereka seperti tidak ada ujungnya merendam tubuhnya berlama lama, karena sedari tadi mereka bermain busa di dalam buth up seperti anak kecil yang baru dapat mainan.
beberapa saat setelah kemudian acara mandi memandikan itu telah selesai, dan Bima mulai mengangkat tubuh istrinya yang sama polosnya itu dari dalam buth up.
kemudian menggendong tubuh istrinya keluar dari sana dan menuju ke ruang ganti.
dan di dalam ruang ganti Bima menaruh tubuh istrinya perlahan di atas meja kaca putih bening dan tebal itu, yang berisikan di dalamnya koleksi jam tangan mahal milik suaminya.
" sayang diam sebentar aku akan mengambilkan baju gantimu "
" iya baiklah "
kemudian beberapa saat Bima memberikan baju ganti serta ********** kepada Zahra.
" Terima kasih suamiku, aku bisa sayang, sebaiknya sekarang kau ambil lah baju gantimu sendiri dan cepat pakailah ini sudah siang kau akan ketelatan "
" itu tidak masalah buatku Zahra, yang terpenting dirimu sayang "
" sayang hati adek meleleh " ucapnya dengan nada seperti di buat buat.
" sayang aku geli mendengar kata katamu itu "
" hahaha... aku juga merasa geli, apa yang aku ucapkan sayang "
" sayang maafkan aku yang membuatmu kelelahan seperti ini sampai melakukannya enam kali "
" iya tidak apa apa suamiku " ucapnya lembut di iringi dengan senyuman manisnya.
" ya sudah cepatlah, sana "
" iya, iya, sayang "
dan keduanya kini tengah sibuk dengan dirinya masing - masing, memakai pakaian yang baru di ambil dari lemari kaca putih uang menjulang tinggi dan sangat mewah itu.
beberapa saat kemudian
kini keduanya telah selesai,
dan Bima mulai menggendong tubuh istrinya menuju ranjang king size nya itu.
" sayang aku sarapan di kamar saja ya "
" iya baiklah sayang "
setelah itu Bima mengambil gagang telfon yang berada di atas lemari kecil itu. Kemudian menghubungi pak Tejo.
" halo "
__ADS_1
" halo tuan "
" segara antar kan sarapan pagi ku ke kamar bersama Zahra "
" baik tuan "
dan Bima pun menaruh kembali gagang telfon iti di tempatnya.
" sayang kenapa kau tidak sarapan di lantai bawah saja, biarkan aku sendiri saja sarapan di sini "
" aku akan menemanimu sarapan di sini sayang"
" manisnya suamiku " ucap Zahra dengan raut wajah yang di buat se imut mungkin.
" jangan menggoda ku dengan wajah yang kau imut imut kan itu sayang, kau tidak mau kan kalau aku meminta jatahku lagi yang kesekian kali hem "
" iya maaf "
padahal hanya begitu saja, masak sudah meminta jatah lagi dasar suami mesum gerutu Zahra tetapi masih terdengar di telinga suaminya
" hey... kau mengatai suamimu ini mesum ya "
" tidak, tidak "
" aku mendengar nya sayang "
Bima mulai menggelitiki perut rata Zahra, dan perlahan Zahra tertawa karena merasa kegelian karena kelakuan suaminya itu
tok
tok
tok
" sayang itu pasti pak tejo "
ucap Zahra kepada suaminya.
" tuan saya mengantarkan sarapan anda bersama nona " ucap pak tejo di balik pintu.
" iyakan benar " ucap Zahra
" masuk " ucap Bima kepada pak tejo di lur pintu kamar itu.
cek klek
pak Tejo berjalan ke arah ke dua atasannya itu dengan membawa nampan berisi makanan dan dua gelas susu.
" ini sarapan nya tuan "
" taruh saja di situ "
" ya tuan, apa tidak ada lagi yang diperlukan tuan "
" tidak ada, pergilah "
" baik tuan saya permisi "
" hem "
dan keduanya kini saling memakan sarapannya masing masing dalam keheningan, sesekali bima melempar senyum kepada Zahra.
Zahra juga ikut tersenyum, dan sesekali Zahra mengedipkan sebelah matanya kepada Bima.
sedangkan Bima yang mendapat kedipan mata dari istrinya itu membuat pikirannya travelling kemana - mana.
" istri kecilku sekarang sudah mulai nakal ya " ucap Bima dengan tersenyum
" biarkan saja, kau kan suamiku " ucap Zahra
" dasar kau ini, sayang aku jadi malas untuk ke kantor "
" mana bisa seperti itu sayang, tadi kau bilang kasihan pada sekertaris Revan dan sekarang bilang malas "
__ADS_1
" aku tidak tahan, dengan kau mengedipkan mata padaku hahaha... "
Zahra hanya geleng gelang mendengar ucapan suaminya itu.