
" tenang kan hati anda tuan, saya yakin nona Zahra pasti akan baik - baik saja "
" semoga saja Van "
kemudian sekertaris Revan mulai mengambil benda tipisnya di dalam saku jasnya.
" tuan, saya akan menghubungi orang-orang yang ada di dalam mansion, dan menyuruh pak Tejo membawakan keperluan anda kesini "
" terserah kau saja, tetapi untuk sementara jangan kau hubungi kedua orang tuaku dan kedua orang tua Zahra, aku tidak ingin mereka syok mendengar kabar ini, tunggu keadaan istriku sampai membaik agar mereka tidak terlalu kepikiran "
" baik tuan "
sekertaris Revan pun mulai menghubungi orang-orang yang berada di mansion, untuk segera pergi ke rumah sakit milik keluarganya sendiri.
beberapa saat kemudian panggilan pun terhubung.
" halo tuan " ucap Pak Tejo di sebrang telfon.
" bawa keperluan tuan muda ke rumah sakit milik keluarga Sinaga dan sekalian ajak tuan muda Hendra kesini kau mengerti " tanya sekertaris Revan.
" baik tuan " jawab singkat Pak Tejo dengan pikirannya yang penasaran dan kemana - mana.
dan panggilan pun terputus.
sebenarnya untuk apa membawa perlengkapan tuan mudanya ke rumah sakit, itulah kira kira yang saat ini ada di pikiran pak Tejo kepada atasannya itu, setelah telfon terputus.
sedangkan di tempat lain tepatnya di ruang panas dingin yaitu ruang ICU, dimana seluruh dokter yang menangani Zahra alias istri dari pemilik rumah sakit terbesar tersebut kini merasa sedikit ketakutan, karena takut terjadi apa apa pada istri atasannya itu.
satu jam kemudian
Zahra telah keluar dari ruang ICU itu dengan keadaan mata yang masih terpejam, dengan balutan perban putih yang melingkar di keningnya, serta infus yang masih penuh, dengan selangnya yang menempel di tangan kanan kemudian tak lupa juga menampilkan wajah cantik yang masih terlihat sangat pucat nya saat ini.
Para dokter serta perawat itu mulai mendorong pelan brankar yang mulai keluar dari ruang ICU, ruang yang membuat hati seluruh para dokter yang menangani Zahra dag dig dug, dan brankar yang berisi tubuh Zahra di atas itu kini mulai di pindahkan ke ruang inap pasien.
Bima yang melihat ruang ICU yang telah terbuka itu, kini langsung berlari menuju ke sana untuk melihat dan menanyakan langsung keadaan istri kesayangannya itu.
" Ton bagaimana istriku, bagaimana keadaanya sekarang, dia baik baik saja kan "
tanyanya kepada dokter Toni dengan keadaanya yang terlihat kacau tetapi tidak melunturkan ketampanannya sama sekali.
" kami akan memindahkan istri anda ke ruang inap pasien, dan saya akan menjelaskan semuanya di sana "
" jangan banyak bertele-tele kau Ton " ucap Bima kepada dokter Toni yang mulai tak sabaran.
" iya bersabarlah sebentar "
Dan sesampainya di ruang inap pasien, ruang yang begitu luas dan sangat mewah yang diperuntukkan untuk para keluarga nya sendiri itu, kini para dokter dan perawat pun mulai mengangkat tubuh Zahra ke atas ranjang pasien tersebut yang berada di kamar pasien yang terlihat mewah itu.
" hey apa yang kalian lakukan " ucap Bima dengan nada tinggi.
__ADS_1
" mereka hanya ingin memindahkan nona Zahra ke ranjang pasien tuan " jawab sekertaris Revan yang mencoba menenangkan atasannya, yang mulai melakukan hal bodoh jika menyangkut istri tercinta nya itu.
Revan kini mulai merutuki kebodohan tuan mudanya itu di dalam hatinya.
tuan berhentilah melakukan hal bodoh seperti itu, apalagi ini di depan bawahan bawahan anda gumam sekertaris Revan dalam hati.
" jangan menyentuh istriku, biar aku saja yang memindahkan tubuhnya ke ranjang pasien " ucapnya dingin.
" baik tuan muda " jawab para dokter dan rekan - rekannya itu sambil menunduk.
astaga sangking begitu posesif nya tuan muda Bima kepada istri nya mengangkat tubuh istrinya saja tidak ia perbolehkan meskipun keadaan mendesak seperti ini gumam para dokter dalam hatinya.
begitulah kira - kira gumam para dokter yang berada di ruang pasien VIP itu.
Dan setelah itu Bima langsung mengangkat tubuh istrinya itu ke atas ranjang pasien dengan sangat pelan, karena mengingat keadaan Zahra yang masih sangat lemah.
setelah selesai menaruh tubuh istrinya di ranjang milik pasien itu, kini Bima mulai menanyakan keadaan istrinya kepada dokter yang telah menangani istrinya itu.
sedangkan para dokter yang ikut menangani istri pemilik rumah sakit itu , kini mulai merasa ketakutan lagi karena mereka takut sampai salah bicara kepada atasannya itu.
dan saat ini pula jumlah dokter yang menangani istri tuan muda Bima itu berjumlah tujuh orang, karena memang mereka tidak ingin ada kesalahan sedikitpun untuk menangani istri orang terkaya no satu itu.
" cepat katakan bagaimana keadaan Zahra ku heh " ucapnya dingin sambil memegang tangan kanan Zahra yang masih tertancap selang infus di sana, dan melihat satu persatu wajah para dokter yang ia tanyai itu.
" nona Zahra mengalami gegar otak ringan tuan " ucap dokter laki-laki ke 1
" Dan ada sedikit luka yang robek di kepalannya
" dan keningnya juga ada sedikit jahitan karena tergores aspal sedikit parah tuan tetapi bekas jahitan nya tidak akan membekas " ucap dokter laki-laki ke 3
" karena kami menyuruh dokter ahli untuk melakukan nya tuan " ucap dokter laki-laki ke 4
" dan masalah goresan di lutut istri anda yang sedikit dalam ini, akan segera menutup asal jangan terlalu banyak gerak dulu tuan " ucap dokter laki-laki ke 5
" begitulah penjelasan seluruh dokter tuan, istri anda akan segera pulih asalkan anda harus memprioritaskan gizi makanannya setiap hari " ucap dokter perempuan ke 6
" itulah seluruh penjelasan para dokter tuan muda " jelas dokter laki-laki ke 7 yang tak lain adalah dokter Toni, teman akrabnya sendiri.
" kerja kalian bagus, baiklah kalau begitu kalian keluar sekarang, karena aku hanya ingin berdua dengan istriku di sini "
" baik tuan muda "
ucap seluruh para dokter termasuk juga dokter Toni yang menepuk bahu teman akrabnya itu, kemudian keluar dari kamar pasien VIP yang sangat mewah itu.
karena memang keluarga Sinaga menyiapkan khusus ruang pasien mewah bakal apartemen mewah itu,untuk keluarga sendiri jika ada salah satu anggota keluarga mereka ada yang sakit.
" tuan saya akan menjaga di luar, dan juga saya akan menghubungi orang kepercayaan perusahaan "
" baiklah kalau begitu Van "
__ADS_1
kemudian sekertaris Revan berjalan ke arah luar kamar pasien istri tuan mudanya itu.
dan kini di kamar pasien mewah itu, tinggal Bima dan Zahra di sana yang masih belum sadarkan diri itu sampai sekarang.
Sayang aku disini, bagaimana keadaanmu, kapan kau membuka matamu sayang, aku ingin meminta maaf padamu dan menjelaskan semuanya kepadamu kejadian di mall itu, tidak seperti yang kau pikirkan Zahra, Bima bermonolog sendiri sambil memegang tangan istrinya yang terkulai lemas itu.
sayang ayo bangun lagi lagi Bima bermonolog. tetapi tak ada sedikitpun pergerakan yang menunjukkan kalau istrinya itu Sudah siuman.
beberapa saat kemudian
sekertaris Revan kemudian membuka pintu, dan masuk ke dalam ruangan pasien yang begitu mewah itu.
" tuan bagaimana keadaan nona Zahra "
" dia belum sadar Van, sampai kapan dia bangun Bangun kenapa lama sekali "
" mungkin sebentar lagi tuan, bersabarlah "
" sabar bagaimana sedari tadi aku menunggunya Van, atau jangan jangan mereka yang tidak becus menangani istriku, kenapa saat ini belum sadar juga "
" anda harus sedikit lagi bersabar tuan, nona Zahra kan baru saja dari ruang ICU, tidak mungkin langsung secepat itu membuka mata, semua itu butuh proses tuan "
" iya kau benar juga Van "
beberapa saat kemudian
pintu kamar pasien mewah itu di buka oleh seseorang dari luar.
cek klek
dan teryata yang membuka pintu adalah Hendra dan pak Tejo.
dengan rasa syok nya Hendra memasuki ruang pasien itu memandang ke arah ranjang pasien dari arah kejauhan dan terlihat jelas di sana, tubuh Zahra yang begitu lemah dengan bantuan selang infus yang menempel di tangan sebelah kanannya, serta memperlihatkan wajah cantik yang biasa terlihat ceria itu kini sangat pucat pasih, dan tak menunjukkan pergerakan sama sekali.
kemudian Hendra dengan hatinya yang syok, langsung menanyakan langsung kepada kakak dan juga sekaligus suami Zahra yang dulu teman sekolahnya itu.
" kak ada apa dengan Zahra, kenapa dia bisa seperti ini " tanya Hendra kepada kakaknya.
" nona Zahra kecelakaan tuan muda " jawab sekertaris Revan
" bagaimana bisa, dia kan tadi bersamamu kak " tanya Hendra lagi
" kejadiannya mendadak tuan Hendra " jawab sekertaris Revan.
" aku tidak berbicara padamu sekertaris Revan, tetapi aku berbicara kepada kakakku " jawab Hendra karena memang sedari tadi kakaknya tidak berniat menjawab pertanyaan adiknya itu.
" ayo kak jawab kenapa bisa Zahra seperti ini, apa kau tidak bisa menjaganya hah " tanya Hendra lagi kepada kakaknya untuk kesekian kalinya, tetap saja Bima tidak menjawabnya karena sedari tadi Bima seperti orang linglung, karena menyesali kesalahan nya itu.
" kakak jangan bisa hanya diam kau lelaki macam apa hah, di pasti semua gara - gara dirimu iyakan buktinya kau tetap diam saja "
__ADS_1
" ya memang semua ini salahku "
ucapnya kepada Hendra tanpa ada penolakan karena memang dirinya merasa bersalah kepada istrinya itu.