Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
menjadi ibu dari anak anak ku


__ADS_3

Barra memeluk tubuh itu dengan begitu erat dengan selimut yang sudah berlapis lapis di sana pada tubuh yang sudah mulai memutih itu.


Di rasa tak cukup pria tampan tersebut kembali mencari beberapa selimut tebal di kamar milik nya.


Setelah mengambilnya Barra tak lupa membawa minyak penghangat untuk menghangatkan tubuh Sheina, mungkin itu bisa membuat tubuh Sheina lebih hangat dan segera sadar pikir nya.


Setelah nya Barra kembali membuka selimut tebal satu persatu di tubuh Sheina sampai memperlihatkan jelas tubuh polos milik istri nya yang putih mulus.


Barra sedikit menelan ludah nya kasar melihat pemandangan indah yang tak biasa milik Sheina,


setelah itu pandangannya beralih menatap leher jenjang yang penuh tanda merah karena ulah nya tadi malam.


Maaf batin nya.


Sejenak Barra memejamkan kedua matanya saat rasa bersalah itu kembali memenuhi pikiran nya,


" Kesembuhan mu yang terpenting saat ini " ucap nya dari dalam hati.


Tanpa basa basi lagi Barra langsung mengolesi seluruh tubuh Sheina dengan minyak penghangat itu.


Degub jantung nya seolah bertambah cepat saat tangan nya mulai mengolesi bagian area area sensitif milik Sheina.


Perasaan apalagi ini pikir nya.


Barra terus mengolesi tubuh itu sampai ujung kaki milik Sheina,


dah beberapa saat akhirnya pun selesai.


Beberapa selimut tebal juga kembali Barra balut kan di tubuh indah Sheina.


Kini tubuh itu seperti gundukan tanah diam dan tak bergerak sedikitpun.


Sedangkan Barra langsung membaringkan tubuh nya di samping Sheina sambil memeluknya dengan begitu erat.


Cepatlah sadar Shei jangan membuatku khawatir ucap nya sambil menatap lekat wajah cantik yang masih pucat itu.


Dan perlahan Barra pun mulai ikut memejamkan kedua matanya di samping Sheina.


*


*


jam sudah menunjukkan pukul 02.00 siang.


Kedua mata Sheina mulai terbuka perlahan, ia sedikit melirik ke arah samping di mana tubuh nya yang sedikit terasa berat.


Ke-dua mata nya membulat sempurna ketika mendapati Barra tengah memeluk tubuhnya yang berbalut selimut tebal.


Sheina mulai meringsut ketakutan tatkala mengingat ingat tentang apa yang telah Barra lakukan tadi malam pada dirinya.


Dia... kenapa dia ada di sini gumamnya.


Ia mulai menggeser tubuh nya kebelakang bersama selimut tebal yang masih melekat di sana.


Barra menyadari pergerakan yang Sheina lakukan.


Dengan segera ia membuka kedua matanya dan bangun sambil menatap ke arah Sheina yang ketakutan.


" Sheina kau sudah sadar " ucap Barra yang mulai mendekat ke arah yang meringkuk di ujung ranjang.

__ADS_1


" ja... ja... jangan mendekat " jawab Sheina terbata bata di penuhi rasa takut yang kembali menjalar di pikiran nya.


" Sheina aku hanya ingin tahu keadaan mu "


" ak.. ak... aku baik baik saja pergi dari kamar ku "


" Shei " ucap Barra lagi yang kembali mendekati Sheina.


" Berhenti... aku mohon pergi lah hiks... hiks...hiks.. " jawab nya sambil menangis histeris ketakutan.


Barra tak lagi mendengar perkataan itu, ia langsung menarik tubuh Sheina ke dalam pelukan nya.


" Maafkan aku, aku tau kau seperti ini karena ulah ku, sekali lagi maafkan aku Shei "


Sheina tak menjawab hanya saja ia terus menangis dalam pelukan erat itu.


Barra sedikit merenggangkan pelukan nya kemudian menatap kedua mata bulat yang kini terlihat sembab di hadapan nya.


Tangan nya terulur untuk mengusap lembut sisa sisa lelehan air mata di pipi Sheina.


" maafkan aku... aku berjanji tak akan mengulangi nya lagi kau harus percaya padaku " ucap Barra meyakinkan.


Sheina tetap diam tak berniat menatap balik kedua mata Barra.


" Shei jawablah sedikit saja aku ingin mendengar dari bibir mu "


Sesaat Sheina tiba tiba menganggukkan kepalanya pelan dan perlahan mencoba memberanikan diri menatap kedua mata milik Barra yang sedari tadi menatap nya itu.


Barra kembali memeluknya dengan penuh kebahagiaan.


" pegang lah semua kata kata ku, aku tak akan mengingkari nya " ucapnya di sela sela pelukan.


Semoga saja gumam Sheina.


Sedangkan Sheina hanya menatap nya melihat apa yang di lakukan pria tampan di hadapan nya itu.


dia mau kemana, kenapa berputar putar di kamar ku apa yang dia lakukan gumam Sheina lagi.


" ini baju ganti mu " ucap Barra tiba tiba


membuyarkan lamunan Sheina.


" baju ganti, Terima kasih " jawab nya pelan seperti sedang berfikir.


Dia bilang baju ganti maksud nya... AKKHH... dia... dia.. dia telah melihat tubuh polos ku tidak, tidak mungkin gumam Sheina seolah berteriak.


serasa urat malu nya sudah putus mengingat dirinya yang memang tengah polos sewaktu di kamar mandi.


Sedangkan Barra langsung melenggang pergi setelah memberikan baju ganti untuk Sheina.


" tunggu " ucap Sheina yang langsung menghentikan langkah Barra.


Barra sedikit membalikkan tubuh menghadap ke arah Sheina.


" iya "


" kemari lah sebentar "


Barra segera mendekat dan duduk di samping ranjang di dekat Sheina.

__ADS_1


" ada apa Shei "


" ada yang ingin ku tanyakan,emm....apa kau melihat em... em.... anu... emm " ucap Sheina terbata bata seolah bibir tak sampai untuk untuk mengucapkan sebuah pertanyaan itu.


" maksud mu melihat apa, melihat tubuh polos mu " jelas Barra.


Sheina langsung terkejut serasa tak kuat menahan malu atas jawaban yang Barra lontarkan padanya, ia hanya mengangguk pelan sesekali menundukkan kepalanya.


" hehehe.... aku sudah melihat semua nya " dengan sedikit tawa.


" apa " urat malu Sheina memang benar-benar putus kali ini.


" kau malu ya hem " tanya Barra.


" ya.. ya.. tentulah "


AKKHH... benar kan dia sudah melihat semuanya gumam nya.


" aku suami mu Sheina untuk apa kau malu padaku "


" ya aku tau tapi tak segampang itu, tapi... tapi sebelum nya terimakasih kau sudah menolong ku "


" untuk apa kau berterima kasih aku tau yang terjadi padamu pasti karena ulah ku Shei "


Sheina hanya diam, dan memang benar ia pingsan karena merasa frustasi sendiri mengingat pemaksaan yang Barra lakukan pada dirinya.


" Shei " panggil Barra tiba tiba yang kini posisinya sudah berhadapan dengan Sheina di atas ranjang.


" iya " jawab Sheina sambil menatap tangan nya yang mulai di genggam oleh Barra.


" Aku serius dengan hubungan ini, bisakah perasaan mu hanya untukku Sheina bukan pria lain selain diriku " jelas Barra dengan wajah serius nya.


Sesaat Sheina memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela ia tak tau harus menjawab apa.


" Sheina beri aku kesempatan untuk membuat mu jatuh cinta padaku dan semua perhatian ku padamu, aku mencintaimu dan aku ingin kau menjadi ibu dari anak anak ku kelak Shei " jelas nya lagi penuh keseriusan.


Seketika kata kata itu membuat hati Sheina tersentuh dan pandangan nya langsung menatap dalam kedua mata Barra.


" kau benar benar serius dengan semua yang kau katakan padaku, Barra kita baru beberapa minggu menikah secepat itukah kau memiliki perasaan padaku "


" Shei aku mencintaimu, dan perasaan itu datang sejak kapan aku juga tak mengetahuinya, aku merasa cemburu jika kau bersama pria lain "


Dia terlihat sangat serius sekali dengan semua perkataan nya, apakah aku egois selama ini sehingga membuat nya sering bertingkah gila kepadaku, apa aku harus benar benar mulai membuka hati untuknya tapi semua itu tak gampang gumam Sheina.


Seolah menimbang nimbang keputusan.


Beberapa saat bibir itu mulai berucap memberikan sebuah jawaban.


" ya aku mau menjadi ibu dari anak anakmu kelak " jawab Sheina dengan keseriusan.


" Shei benar kah yang ku dengar ini hem, kau sungguh sungguh dengan perkataan mu " dengan raut wajah penuh kebahagiaan.


Sheina mengangguk sambil mengembangkan senyum ke arah Barra.


" terimakasih " ucap nya


Seketika pria tampan itu langsung menarik tubuh Sheina ke dalam pelukan nya begitu erat penuh kasih sayang.


" aku mencintaimu " ucap nya di sela sela pelukan sambil mencium dalam pucuk kepala sang istri.

__ADS_1


Sedangkan Sheina yang berada di pelukan itu juga ikut tersenyum mendengar ungkapan cinta dari bibir Barra.


Terlihat seolah hubungan diantara keduanya mulai membaik.


__ADS_2