
Di sebuah mall.
Keduanya mulai memasuki mall, ya seperti biasa mall itu adalah milik sang papa Bima, sedangkan di bagian sudut sudut mall terlihat ada beberapa orang berpakaian serba hitam yang arah pandangan nya tertuju pada pasangan pengantin baru itu yaitu Sheina dan Barra.
Barra yang memiliki kepintaran di atas rata rata itu sudah menyadari bahwa ia berada di bawah pengawasan pria berpakaian serba hitam tersebut.
Dengan segera Barra langsung menggenggam tangan Sheina begitu erat.
" Diam, tak ada penolakan kau tau pria di sudut sudut sana pria berpakaian serba hitam itu, mereka adalah bawahan papa Bima jadi usaha kan kau bisa di ajak sandiwara dengan sempurna " ucap Barra seketika
" iii... iiya " jawab Sheina terbatas bata sambil pandangannya melirik ke arah beberapa pria bertubuh kekar dengan pakaian serba hitam nya itu.
" kenapa suaramu menjadi terbatas bata seperti itu "
" ak.. ak.. aku tidak biasa berpegangan tangan dengan pria seperti ini "
" apa... berpegangan tangan saja tidak pernah"
" sok polos sekali "
DUGH.....
" aww... kenapa kau menginjak kaki ku heh "
" salah siapa menuduh ku sok polos, itu balasan nya, sudah ayo jangan merintih kau ini pria atau wanita sih "
" awas kau ya "
gadis ini ternyata menyebalkan sekali lebih dari dugaan ku gumam Barra.
Keduanya kembali berjalan beriringan entah apa yang mereka beli di dalam sana.
dua jam berlalu....
Barra dan Sheina baru selesai dengan acara berbelanja nya, sudah banyak membawa paperbag putih di kedua tangan nya hingga penuh.
" aku sudah puas berbelanja, ayo kita pergi mencari makan aku sangat lapar "
" aku juga lelah mengikuti mu, ternyata boros sekali ya "
" memang iya, sepertinya biasa saja sudah ayo cepat jangan banyak bicara "
Keduanya melanjutkan langkah untuk segera pergi dari area mall tak lupa mereka kembali bersandiwara di depan pria berpakaian serba hitam suruhan sang papa Bima, agar mereka menyangka hubungan kedua nya terlihat harmonis.
Sepuluh menit kemudian.
Mobil sport hitam kini sudah terparkir sempurna tak jauh dari tempat warung warung kaki lima yang berjejer rapi di sana.
Ya mobil sport hitam itu adalah hadiah pernikahan dari Bima untuk kedua nya.
Barra sedikit mengernyit kan dahinya, seolah tak percaya putri manja dari pemilik Sinaga. group ini memiliki selera makan di pinggir pinggir jalan yang menurutnya tak higenis itu.
" Kau yakin akan makan di sini "
" iya.. memang nya kenapa, ada masalah kau tau rasa masakan di sini lebih enak dari pada di resto resto mewah milik papa, sudah ayo cepat "
" ya baiklah "
dia sampai membandingkan resto milik papa nya dengan warung kaki lima, apa iya se enak itu gumam Barra.
__ADS_1
Setelah sedikit obrolan di dalam mobil , Barra dan Sheina segera turun kemudian berjalan mendekat ke arah warung khas kaki lima yang terlihat berjejer rapi di pinggiran trotoar, tak lupa keduanya kembali bergandengan tangan karena pria berpakaian serba hitam suruhan sang papa Bima masih mengikuti kedua nya.
" papa benar-benar, kenapa dia posesif sekali sih padaku "
" itu karena dia sangat menyayangi mu "
" iya tapi apa harus berlebihan "
" sudah diam lah ayo cepat "
Sheina mengerucutkan bibir nya tak berniat menjawab kini pandangan nya tertuju pada menu menu yang bertengker di depan gerobak.
" aa... sebaiknya itu saja, bebek ungkep " ucap nya sambil menunjuk sebuah gerobak berwarna biru kiri jalan.
Berbeda dengan Barra yang hanya mengikuti arah pandang Sheina.
Keduanya kemudian segera masuk ke tenda pemilik warung.
" bang bebek ungkep dua es jeruk nya dua terus di bungkus dua puluh biji " Sheina memesan.
" iya mbak di tunggu " jawab sang abang abang.
sedangkan Barra sedari tadi hanya terdiam seperti orang bisu, pikiran nya kini mulai travelling kemana mana, memikirkan gadis di samping nya itu saat ini.
" kau yakin makan di sini " ucap Barra sambil kedua matanya berkeliling melihat sudut sudut warung kaki lima.
" diam, nanti orang nya tersinggung kau bisa diam kan " sahut Sheina dengan nada suara pelan agar tak terdengar oleh sang pemilik warung.
Barra langsung terdiam seolah terhipnotis oleh ucapan Sheina, gadis yang di cap nya sebagai gadis manja itu selama ini .
ternyata dia memikirkan hati orang juga, apa penilaian ku selama ini sedikit salah padanya gumam Barra.
Beberapa saat
" sudah ayo makan, sok tampan sekali "
Barra hanya melirik ke arah Sheina kemudian dengan segera Barra memasukkan sesuap makanan ke dalam mulut nya tanpa memakai sendok.
benar juga memang rasanya enak, pantas saja dia membandingkan resto papa Bima dengan warung kaki lima ini gumam Barra.
" bagaimana enak tidak, kau pasti ketagihan besok besok " ucap Sheina tiba tiba.
" lumayan " sahut Barra enteng
" heh... bilang saja enak susah sekali, kau tau ini lebih enakan dari restoran papa "
" Hai itu orang tuamu sendiri "
" iya aku tau, bahkan kata mama memang enakan di sini " ucap Sheina sambil mengaduk aduk segelas es jeruknya dengan sedotan.
" benar kah " ucap Barra seolah tak percaya.
Sheina menganggukkan kepala seolah mengiyakan perkataan Barra.
Tak sampai lima belas menit keduanya telah selesai makan.
Dengan segera Barra dan Sheina berdiri kemudian mengambil bungkusan dua puluh biji yang ia pesan tadi dan membayar nya.
" bang ini uang nya " ucap Sheina sbil menyodorkan beberapa lembaran merah apda abang penjual.
__ADS_1
" iya mbak, sebentar ini kembalian nya "
" tidak usah ambil saja "
" Terima kasih banyak mbak, saya doain mbak dan mas nya segera dapat momongan " ucap abang abang itu tiba tiba.
" mas nya tau kita suami istri " sahut Barra
" kelihatan dari aura nya mbak pengantin baru kan " tebak abang penjual
" hehehe.... iya mas bisa saja " jawab Sheina sambil cengar cengir begitu juga Barra.
kenapa dia bisa tau pikir Barra.
Keduanya kembali berjalan ke arah mobil, kemudian segera masuk ke dalam nya dengan segera Barra menancapkan pedal gas nya meninggalkan area warung kaki lima.
*
*
Di perjalanan.
Barra memulai obrolan.
" hei kenapa kau pesan banyak sekali, apa makan mu sangat banyak "
" sudah diamlah, jangan banyak tanya ikuti arahan ku belok kiri terus perempatan belok kiri lagi "
" kemana "
" sudah ikuti saja "
" hei ini sudah malam "
" iya aku sudah tau siapa bilang ini pagi "
Lima belas menit, mobil telah sampai di tempat yang Sheina tuju.
" Panti asuhan " ucap Barra
" ya.. kau diam di sini, biar aku sendirian saja, itu mereka sudah menunggu ku di depan gerbang "
" ya... ya... baiklah "
Sheina mulai turun dari mobil sambil mengeluarkan separuh paperbag yang ia beli tadi di mall, kemudian mengambil bungkusan makanan yang sudah ia beli tadi di warung kaki lima yang akan ia bagikan kepada anak anak yatim di sana.
" Shei kau butuh bantuan ku, seperti nya kau sangat kesusahan " ucap Barra menawarkan pertolongan.
" tidak usah aku bisa " tolak Sheina.
" benar kau tak perlu bantuan ku yakin "
" yakin "
Dengan langkah sedikit kesusahan Sheina segera menghampiri seorang mbak mbak dan beberapa anak kecil yang berkumpul di dekat gerbang.
separuh dari anak anak kecil itu terlihat kegirangan melihat kedatangan Sheina dan mulai mengerumuni Sheina dan berlomba memeluk nya.
Sedang kan Barra menatap di balik kaca mobil yang tak tembus pandang.
__ADS_1
Tak terasa tiba tiba seutas senyuman terbit dari kedua sudut bibir nya.
pemikiran ku selama ini pada nya memang sedikit salah gumam nya.