
" sayang kenapa seperti nya kau berlebihan sekali hah, aku sudah cukup berterima kasih atas semua yang kau berikan selama ini kepada keluarga ku " jelas Zahra.
" sayang apa yang kau katakan, bumil bisa diam kan, kalau kau tidak diam aku akan meminta jatahku sekarang " ancam Bima agar istrinya itu tidak menceramahi dirinya saat ini
" ah ya baiklah aku akan diam, dasar suka mengancam, meminta jatah terus kau tidak lelah suamiku " tanya Zahra yang merasa sedikit kesal tersebut.
" tidak sayang untuk apa lelah, itu adalah hal yang wajib untukku hehehe.....seandainya kau sudah melahirkan nanti pasti aku akan sering sering memintanya darimu seperti dulu " jelas Bima dengan santainya.
sedangkan Zahra yang mendengarnya merasa malu sendiri saat ini.
" dasar kau ini ya memang benar benar, sayang sudah jangan bicarakan itu lagi, bahas yang lain saja " jelas Zahra setelah itu.
" bahas apa sayang hem " sahut mama Alisya sambil tersenyum.
Dengan dirinya yang baru saja turun dari anak tangga itu bersama suaminya papa Brandon yang kini tengah menuju ke arah ruang keluarga di mana sang anak dan menantu nya saling mengobrol sedari tadi itu.
" Eh.. mama, ini ma lagi bahas apa tadi kita sayang " ucap Bima kepada mama Alisya kemudian pandangannya teralihkan kepada sang istri, ya Bima sengaja mengerjai sang istri saat ini, dia penasaran alasan apa yang ingin di katakan oleh sang istri kepada ibu negaranya itu.
" ah, itu, emm, anu, ee..... anu ma apa ya tadi, oh iya bahas perusahaan iya kan sayang " jawab Zahra yang mulai kebingungan harus menjawab apa dirinya saat ini kepada mama Alisya, sedangkan dirinya tidak mungkin mengatakan tentang hal yang intim itu kepada mama mertuanya tersebut, dan zahra pun akhirnya seperti menemukan ide.
" oh perusahaan " jawab mama Alisya santai.
" oh iya Bim bagaimana persiapan sementara ini menjelang ulang tahun perusahaan " tanya Mama Alisya kemudian kepada sang anak.
yang kini telah sampai di ruang keluarga tersebut dan mulai duduk di sofa mewah bersama sang suami, sedangkan papa Brandon masih diam saat ini
masih menunggu istrinya yang sedang berbicara itu.
" saat ini persiapannya sampai tujuh puluh persen ma " jawab Bima dengan santai sedangkan papa Brandon masih menyimak.
" Oh iya Bima, kau tidak lupa membawa istri mu ke dalam acara perusahaan kan " tanya papa Brandon kemudian.
" iya pa Bima sudah bilang kepada Zahra akan mengajaknya ke sana,dan dia mau ya walaupun sedikit memaksa sih " jawab Bima sambil sedikit melirik ke arah sang istri.
" bagus lah kalau begitu, memangnya kenapa harus memaksa segala Bima " tanya papa Brandon lagi.
" papa seperti tidak tau Zahra saja, dia kan sangat pemalu jadi hal seperti ini saja aku harus sedikit merayunya pa " jelas Bima dengan santainya.
sedangkan papa Brandon dan mama Alisya saling pandang, kemudian saling tersenyum.
" sayang untuk apa malu,kan ada mama dan Hendra juga di sana " jelas mama Alisya kepada menantu kesayangannya itu.
" iya ma Zahra mau, karena Zahra sudah di kasih tau sama suami Zahra tadi hehehe..." jawab Zahra sedikit cengengesan karena merasa sedikit malu atas perkataan suaminya tersebut.
" ah....kau ini lucu sekali sayang, ya sudah tiga hari lagi kita fiting baju bersama ya sayang, mama akan langsung mendatangkan meraka para ahlinya ke mansion agar kau tidak lelah untuk keluar mansion dengan perut mu yang sudah membesar itu Zahra " jelas mama Alisya.
" ii.. iiya ma, oh iya ma Hendra jadi datang kan ke ulang tahun perusahaan " tanya Zahra kemudian.
__ADS_1
" jadi dong sayang, kamu kangen juga ya pada teman SMA kamu dulu " ucap mama Alisya sambil sedikit melirik ke arah anak pertamanya itu.
" ii.. iya ma, yang sekarang jadi adik itu ya ma hehehe.... " jawab Zahra sambil sedikit tertawa.
" iya kau benar sayang hehehe... mama gemas sekali melihat kamu Zahra " sahut mama alisya yang juga sedikit ikut tertawa tersebut.
" ekkhemm..... " deheman Bima.
" kamu kenapa Bima, tenggorokan kamu gatal ya, tidak usah seperti itu, mama sudah tau " ucap mama Alisya yang sudah tau arti deheman anaknya saat ini.
" alasan.... " ucap mama Alisya lagi kepada Bima.
" hah... " Bima membuang nafas kasar.
" ya sudah ma pa Bima mau ke atas dulu, sayang ayo kita ke atas, kau belum mandi bukan " jelas Bima yang mulai sedikit malas berada di sana karena alasan nya sudah bisa di tebak oleh mama Alisya.
" hehehe... maaf ya ma pa Zahra ke atas dulu, Zahra belum mandi soalnya " ucap Zahra kemudian yang merasa sedikit malu kepada kedua mertuanya tersebut.
" ya baiklah sayang, ikuti suami kamu yang seperti anak kecil itu, agar dia tidak cemberut " sahut mama Alisya yang sudah mengerti sifat anaknya itu.
" hehehe... iya ma, ya sudah Zahra ke atas dulu" ucap Zahra kemudian.
" iya sayang hati hati "jawab mama Alisya.
" iya ma "
sedangkan mama Alisya dan papa Brandon kembali saling pandang kemudian geleng geleng kepala sambil tersenyum, ya hanya mereka berdua yang tau apa arti gelengan kepalanya tersebut yaitu mengenai sifat anaknya yang masih seperti anak kecil itu.
" anak kamu yang posesif itu pa " ucap mama Alisya setelah tadi keduanya seperti memberi kode itu.
" anak mama juga kan " jawab papa Brandon yang tak mau di sudut kan oleh istri nya tersebut.
hahaha.. ... dan keduanya pun saling tertawa.
sedangkan Zahra.
" sayang tunggu " panggil Zahra.
" iya ayo, kau sih lama sekali " jawab Bima sedikit cemberut.
" maaf " sahut Zahra yang mengerti kalau suaminya itu mulia sedikit cemburuan meskipun tadi hanya membahas tentang adiknya sebentar.
" ya sudah ayo, Zahra aku gendong saja ya, agar kita cepat sampai di lantai atas " jelas bima.
" ah... tidak, tidak, tidak, aku malu sayang kau tidak melihat di sana ada mama dan papa " jawab Zahra yang memang dirinya merasa malu.
" biarkan saja mereka sibuk berbicara sendiri kan " ucap Bima.
__ADS_1
" tetap tidak, aku ingin berjalan sendiri sayang "
" terserah kau saja " jawab Bima sedikit kesal.
dan akhirnya Zahra pun bersih kuku untuk menaiki anak tangga tersebut menuju kamar pribadinya bersama sang suami.
sesaat kemudian sesampainya di depan pintu kamar.
JEG GLEK......
suara pintu yang dibuka oleh Bima.
" hah... kakiku rasanya lelah sekali ya " ucap Zahra setelah memasuki kamar nya dan kemudian dia langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang tersebut.
" ZAHRA...APA YANG KAU LAKUKAN " ucap Bima dengan nada tingginya itu.
" kau....kau memarahiku kan " jawab Zahra yang terbawa perasaan.
" ah.. tidak sayang maaf, tadi aku hanya reflek, aku ketakutan ketika kau menghempaskan tubuhmu itu ke ranjang dengan seenaknya seperti tadi " jelas Bima yang merasa takut jika istri nya bersedih karena nada suara nya yang tinggi tadi.
" iya kau tadi memarahiku dengan nada tinggi mu.... itu bukan reflek, buktinya kau sampai memelototiku tadi " rengek Zahra yang kini posisinya duduk di sisi ranjang, tepatnya duduk di sebelah sang suami yang kini juga duduk di sisi ranjang tersebut.
" ah... sayang bukan seperti itu " ucap Bima kemudian seperti meyakinkan sang istri.
" menjauh sana, aku kesal padamu, tega teganya kau memarahiku yang sedang mengandung besar seperti ini " jawab Zahra seperti merengek tetapi bibirnya manyun ke depan.
" iya sayang maaf, benar aku tadi hanya reflek, sayang jangan marah ya hem " rayu Bima.
" aku tidak boleh marah, sedangkan tadi kau meninggalkan aku di bawah karena kau sedikit kesal kan, karena aku dan mama membahas Hendra padahal dia adikmu sendiri " jelas Zahra yang mengingat ingat kejadian di lantai bawah tadi.
" sayang itu beda lagi " ucap Bima kemudian.
" hah.... alasan, hari ini dan tiga hari ke depan tidak ada jatah untukmu" ucap Zahra karena merasa sedikit kesal kepada sang suami yang seperti tidak mau mengalah.
" Zahra jangan mengancam ku seperti itu "
" siapa yang mengancam "
" ya sudah mulai hari ini kau mandi sendiri, mengambil pakaian sendiri, dan makan sendiri" jelas Bima yang kini juga merasa kesal pada istrinya.
" ya baiklah dari kemarin kemarin kan kau yang menginginkan nya bukan aku, aku bisa mandi sendiri " jawab Zahra yang seperti mengejek sang suami itu.
" ya sudah sana " ucap Bima seperti menyuruh sang istri untuk segera ke kamar mandi itu.
perlahan Zahra pun mulai melangkahkan kakinya ke kamar mandi, tanpa menoleh kepada sang suami.
sedangkan Bima sedikit kesal kepada sang istri saat ini dengan dirinya yang saat ini duduk di sisi ranjang tersebut.
__ADS_1