
pagi begitu cerah suara burung saling bersahutan satu sama lain cahaya matahari pun mulai masuk menembus cela - cela, dan silaunya sinar matahari yang menembus tirai putih dengan jendela kecil yang sedikit terbuka, menyilaukan semua mata bagi siapa saja yang melihatnya.
Bima terbangun karena merasa silaunya sinar matahari yang tepat mengenai wajah tampannya.
Bima mulai menggeliat pelan supaya gadis yang ada di dekatnya itu tidak terbangun yang tak lain adalah Zahra.
sekilas Bima memandangi wajah istrinya dengan jarak yang sangat dekat.
aku tidak menyangka kalau aku menikahi seorang gadis belia seperti dirimu Zahra gumam Bima.
Bima bergumam sambil tersenyum kecil yang hampir tak terlihat.
" sayang kenapa kau memandangiku seperti itu " ucap Zahra tiba-tiba yang baru membuka kedua matanya.
" aku ingin saja, apa tidak boleh hah " ucap Bima ketus.
iya kan dia mulai lagi menyebalkan gumam Zahra dalam hati.
tiba - tiba Zahra mendekat kemudian mencium sekilas bibir Bima.
sedangkan Bima yang mendapat ciuman tiba - tiba dari istrinya itu merasa kaget dan juga langsung tersenyum karena tak biasanya istrinya seperti itu.
" sayang kau sudah berani ya menggodaku " ucap Bima sambil menunjuk Zahra dengan jari telunjuknya kemudian Bima langsung menggelitiki Zahra.
" sayang jangan seperti itu geli suamiku " rengek Zahra sesekali tertawa terbahak - bahak.
Bima yang melihat Zahra tertawa lepas seperti itu langsung mengembangkan senyumnya.
Bima merasa puas menggelitiki Zahra istrinya itu, karena jarang sekali dia melihatnya.
kemudian sejenak mereka saling terdiam dan keduanya saling memandang.
" aku mencintaimu " ucap Bima serius
" tapi aku tidak mencintaimu " setelah itu Zahra kembali tertawa terbahak - bahak.
" apa kau bilang tadi sayang " ucap Bima yang sedikit kesal dengan ucapan istrinya dan sekaligus gemas melihat istrinya tertawa terbahak - bahak itu.
" aku tidak mencintaimu " ucap Zahra lagi, kemudian dia berlari memasuki kamar mandi dengan tawanya yang menggema di dalam kamar itu untung saja kamar mereka kedap suara 😂😂.
sedangkan Bima berusaha mengejarnya tetapi Zahra lolos dari kejarannya itu. Karena Zahra telah memasuki kamar mandi, Bima pun kembali duduk di tepi ranjang setelah istrinya masuk kedalam sana, Bima menggeleng - geleng kan kepalanya melihat tingkah istrinya yang menggemaskan itu.
__ADS_1
Kemudian tak beberapa lama ponsel Bima berdering.
tring
tring
tring
" halo ada apa " ucap Bima ketus
" begini tuan pagi ini kita harus terbang ke Singapura tuan mengenai anak cabang perusahaan kita di sana ada sedikit masalah tuan, dan sebaiknya anda langsung yang turun ke sana " jawab sekertaris Revan dengan sangat jelas.
" baiklah kalau begitu " ucap Bima kemudian memutuskan panggilannya karena sepertinya sudah tidak ada lagi yang di bicarakan.
tak beberapa lama kemudian Zahra telah keluar dari dalam kamar mandi, kemudian melihat suaminya terdiam di samping ranjang king size nya itu.
" sayang kau kenapa, kau marah ya padaku " ucap Zahra pelan sambil duduk di sebelah suaminya itu.
" aku tidak marah padamu sayang, hanya saja aku akan berangkat ke Singapura pagi ini mungkin aku seminggu di sana karena ada urusan mendadak " ucap Bima lesu.
" Oh begitu ya, aku akan merindukanmu sayang " ucap Zahra kepada suaminya padahal di dalam hatinya ada rasa senang karena sedikit merasa bebas.
" aku juga akan merindukanmu sayang " ucap Bima kemudian menaruh kepala Zahra di pundaknya dan mencium pucuk kepala Zahra dari samping.
" ya sudah aku siap kan air hangatnya dulu sayang " ucap Zahra kemudian berdiri dan akan melangkahkan kakinya ke kamar mandi tiba - tiba Bima menarik tangan Zahra.
" Ada apa sayang " ucap Zahra lagi
" biarkan aku saja yang mengisi air hangatnya, kau tidak boleh terlalu lelah sayang, dan aku tidak ingin kau kenapa - kenapa "
" aku tidak lelah suami ku, itu adalah hal sepele dan tidak akan menguras tenaga ku sedikit pun " ucap Zahra mantap.
" ya sudah terserah kau saja, hanya untuk kali ini saja aku mengizinkan mu " jawab Bima dengan nada rada ketus.
Zahra membalasnya dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.
Kemudian Zahra pun melanjutkan langkahnya ke kamar mandi, mengisi bathub dengan air hangat dan menambahkan sedikit tetesan wewangian ke dalamnya, dan beberapa saat kemudian Zahra telah selesai menyiapkannya untuk suaminya itu.
" sayang sudah aku siapkan air hangatnya, sekarang mandilah " ucap Zahra kepada suaminya.
" iya sayang baiklah, terima kasih " jawab Bima dengan senyuman mengembang di bibirnya kemudian Bima melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
__ADS_1
sedangkan Zahra melangkahkan kakinya menuju ruang ganti mengambilkan suaminya baju ganti untuk di pakainya nanti.
yang mana ya ucap zahra, Zahra terus memilih baju dan memilih kan warna yang sesuai untuk suaminya.
sebaiknya yang ini saja, Zahra bermonolog sendiri sedari tadi, kemudian setelah mendapat kan yang pasZahra ingin memberikan kepada suaminya.
Dan lagi - lagi Bima mengagetkan istrinya itu, kini dia muncul di depan pintu ruang ganti, yang menampakkan dada bidang dengan roti sobeknya kemudian handuk sepinggangnya itu, serta rambut basah yang masih menetes dari ujung rambutnya, menambah kesan ketampanan dan kegagahannya semakin terlihat jelas meskipun tak memakai apapun.
sedangkan Zahra yang melihatnya pun langsung menundukkan kepalanya sambil memejamkan matanya, karena malu melihat suaminya yang hanya memakai handuk sampai pinggang itu.
kemudian Zahra berjalan menuju suaminya dan memberikan baju ganti yang di pegang nya itu.
" sayang cepat pakai ini " ucap Zahra sambil menutup matanya.
seperti biasa Bima hanya geleng - geleng melihat tingkah istrinya itu.
kemudian Bima menarik tangan istrinya itu, sehingga Zahra terhempas menatap tubuhnya kemudian Bima mendekapnya dengan erat, kini jarak mereka sangatlah dekat dan begitu intim.
Zahra bingung apa yang harus dia lakukan, meskipun dia sering berdekatan dengan suaminya, tetapi rasanya berbeda karena saat ini jarak mereka seperti tidak ada sedikitpun cela.
Zahra menelan ludahnya kasar karena merasa rada ketakutan sepertinya hawanya sedikit panas,
sedangkan Bima yang melihat Zahra terdiam dan sedikit menelan ludahnya itu langsung tersenyum,
" sayang kenapa kau diam hah " Bima sedikit melonggarkan pelukannya.
" aa. .. aku " belum selesai Zahra berbicara Bima sudah menyahut perkataan lagi.
" aku apa sayang, bicaralah yang jelas " goda Bima sambil menahan tawanya karena melihat wajah istrinya sudah memerah menahan malu.
" aa. . aku " Zahra tetap saja terbata - bata dengan kata - katanya.
" Oh aku tau kau pasti mau bilang, aku ingin memegang dada bidang mu serta roti sobek mu sayang, begitu kan "
ucap Bima kepada istrinya, yang semakin membuat pipi Zahra memerah karena tidak tahan menahan godaan suaminya itu.
" apa yang kau katakan sayang bukan seperti itu " sahut Zahra kemudian mencubit lengan suaminya itu.
" sudah kau jangan malu seperti itu sayang, ini milikmu Zahra hanya milikmu " ucap Bima sambil memegang tangan Zahra kemudian menaruhnya di dada bidang milik bima.
kemudian Zahra mendongakkan kepalanya menatap kedua mata Bima.
__ADS_1