
Setelah selesai mencuci peralatan dapur nya Adinda berniat untuk segera masuk ke dalam kamar.
Setengah jam dia berada di dalam sana.
Sedang kan sekertaris Revan masih setia di sofa tamu sambil mengerjakan tugas kantor yang belum selesai dengan dirinya yang kini tengah fokus menatap benda layar tipis milik nya sambil di temani segelas susu yang di buat kan Adinda tadi.
JEG GLEK........
Suara handel pintu kamar milik Adinda yang baru saja terbuka.
Menampilkan Adinda dengan penampilan casual nya celana jeans dengan hoodie over size warna putih, tas selempang kecil yang mengalung di bahunya, dengan rambut yang ia kuncir kuda, membuat siapa pun yang melihatnya akan mengiranya anak sekolahan,
Apalagi dirinya polos tak memakai make up sama sekali, memperlihatkan kecantikan naturalnya.
kemudian Adinda berniat melangkahkan kakinya mendekati sekertaris Revan untuk memberi tahu, bahwa ia hendak keluar.
" Kak " panggil Dinda.
" hem "
" aku mau keluar " ucap Dinda lagi.
" kemana " tanya sekertaris Revan yang mulai menatap ke arah sang pacar.
" kepo ya " jawab Dinda
" Dinda " sahut sekertaris Revan dengan penekanan.
dan Adinda sudah tau kalau perkataan pacar nya yang sedikit mempunyai watak dingin itu menginginkan sebuah jawaban bukan malah bertele-tele.
" iya..iya... aku mau ke toko buku " ucap Adinda kemudian
" untuk apa kau ke sana "
" ingin menanyakan sesuatu, novel ku kan sudah di terbitkan jadi aku ingin ke sana, sekalian aku mau mencari sesuatu "
" benar kah, ternyata kekasih ku seorang penulis pintar ya, aku jadi penasaran ingin membaca karya milik mu Dinda "
" apa kau pengangguran, kau kan sekertaris super sibuk mana sempat baca yang seperti itu"
" besok besok aku usahakan untuk membacanya "
" benarkah "
" he'em "
" jadi aku boleh keluar ke toko buku " tanya Adinda pada pria tampan di hadapan nya yang masih setia berada di depan benda layar tipus nya saat ini.
" Sebentar sebentar sepertinya ada yang lupa " ucap Dinda tiba tiba.
Dinda langsung kembali masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil sesuatu, entah itu apa.
Sesaat Adinda keluar dari kamar dengan memasukkan sesuatu ke dalam tas kecil miliknya, ya itu adalah dompet dan satu lagi yang masih berada di tangan nya.
Sedangkan sekertaris Revan hanya memandangi apa yang di lakukan kekasih nya saat ini yang masih berada di depan pintu kamar miliknya itu.
Adinda mulai membuka tutup liptint di tangan nya kemudian tangan satunya lagi yang memegang liptint perlahan mulai mengoleskan
di bibir tipis nya miliknya tersebut.
setelah selesai ia menutupnya kembali, sesekali dinda menempel nempel kan bibir bagian atas dan bawahnya karena dirasa sudah rata di bibirnya.
Dan kini di bibir tipisnya terlihat lembab dan sedikit basah serta berwarna ke pink pink an tetapi tetap terlihat alami.
" Hei... hei... hei... Dinda "
" iya " jawab nya polos.
" apa yang kau pakai itu " tanya sekertaris Revan pada sang kekasih dengan nada posesif nya.
Kenapa di selalu menggemaskan sih hah aku seperti tidak tahan gumam nya.
" liptint " jawab Adinda lagi yang masih berdiri di depan pintu kamar.
" kemari kau "
Apalagi yang dia pakai, untuk apa memang nya memakai liptint segala, apa dia mau terlihat wah di luar sana agar pria pria memandangi nya, akhh.... menyebalkan sekali jika membayangkan seperti itu gumam nya.
__ADS_1
" untuk apa, aku kan mau ke toko buku "
" sudah cepat jangan banyak bicara "
" iya iya "
apalagi sih mau nya pacar satu ini gumam Adinda dalam hati.
yang merasa dirinya masih sedikit malu jika berdekatan dengan sang pacar barunya tersebut.
Perlahan dinda mulai mendekat ke arah Sekertaris Revan.
" ada apa kak cepat katakan "
" mendekat lah "
" Di sini kan sama saja kak, sama sama di sofa"
" tidak ada penolakan "
" iya bawel " ucap Dinda dengan sedikit memajukan bibirnya cemberut.
" bagus "
Sedangkan sekertaris Revan tersenyum dalam hatinya, karena gadis pujaan nya itu menuruti perkataan nya dengan tingkah polos nya saat ini.
" aku tanya untuk apa pacarku memakai liptint segala "
" agar terlihat lembab kak, supaya tidak terasa kering di bibir "
" apa hanya itu saja "
" iya "
" apa tidak ada lagi " ucap sekertaris Revan seperti yang seperti mengingatkan.
Adinda menggeleng seperti anak kecil.
" kau tau Dinda, kau itu melakukan kesalahan,dan kau harus dihukum "
" sini naiklah kepangkuan ku "
" aaa.... tidak tidak, kau mau apa memangnya, tidak aku tidak mau " tolak Dinda kemudian gadis cantik bermata bulat itu segera berdiri untuk bergegas meninggalkan sekertaris Revan sendirian di sofa.
sedangkan Adinda menuju pintu apartemen untuk dirinya segera berangkat menuju toko buku.
Tak sampai tiga langkah tangan putih mulus nya itu di gapai oleh sekertaris Revan kemudian di tariknya dan akhirnya tubuh Dinda tak seimbang sehingga dirinya terjatuh di pangkuan pria tampan itu.
" apa yang kau lakukan lep......" ucap Dinda terhenti.
Ketika kedua mata milik sekertaris Revan kini tengah memandang ke arah kedua mata miliknya.
Pandangan keduanya pun kini bertemu, seolah saling mengatakan sesuatu dari tatapan keduanya.
Perlahan sekertaris Revan menahan tengkuk leher milik Adinda, dan perlahan juga sekertaris tampan tersebut mulai mencium bibir tipis milik gadis pujaan nya itu, dengan penuh kelembutan di rasa saat ini keduanya seperti menikmati ciuman lembut dengan bibir yang saling menyatu, kedua matanya saling terpejam.
Sesaat Adinda menggigit kecil bibir milik sekertaris Revan.
" Akhh...... " pekik sekertaris Revan sedikit meringis merasakan sensasi sedikit ngilu di bibir bagian bawah miliknya.
" Dinda kenapa kau menggigit bibirku "
" aku sedikit kesal padamu, kau selalu seenaknya sendiri padaku "
" itu karena kau nakal Dinda "
" nakal bagaimana "
" kenapa kau memakai liptint segala, bukan kah aku pernah bilang dulu, kau lebih pantas tidak memakai make up apapun "
" apa karena kau takut aku terlihat bertambah jelek memakai make up karena aku tak pandai dalam hal itu, dan akhirnya kau takut aku akan membuat mu malu di depan semua orang bukan "
" bukan seperti itu Din "
" lalu apa kau tidak bisa menjelaskan nya bukan hiks... hiks... hiks... kau selalu menyebalkan, menyebalkan, menyebalkan " ucap Adinda yang sedari tadi merasa sedikit lega telah mengeluarkan unek unek itu.
Kemudian Adinda segera bangkit dari pangkuan sekertaris Revan.
__ADS_1
setelah itu Dinda berniat kembali menuju kamarnya dengan langkah lebar.
" kau mau kemana Din berhenti, berhenti aku bilang, bukankah kau mau tau alasannya " ucap sekertaris Revan yang kini sudah berdiri dari sofa.
begitu juga dengan Adinda yang kini menghentikan langkahnya tetapi tetap membelakangi pacar nya tersebut.
" kau ingin tau bukan kenapa aku sedari dulu melarang mu memakai make up, sejak kau aku terima menjadi rekan kerja ku di perusahaan tuan Bima "
Dinda tetap terdiam tetapi kedua telinganya masih merekam jelas penjelasan sekertaris Revan.
" itu semua aku lakukan karena aku tidak mau kecantikan mu di lihat semua orang Din, dan hanya aku yang boleh melihatnya tidak untuk pria lain, karena aku menyukaimu yang apa adanya Dinda, apa kau sudah puas dengan semua penjelasan ku "
" ya aku puas "
Kemudian Adinda melanjutkan langkahnya memasuki kamar.
Sedangkan sekertaris Revan kembali menghentikan langkah pacar nya itu.
" bukan kah kau akan ke toko buku, aku akan mengantarmu "
" tidak, tidak jadi aku mau tidur lelah " ucap Dinda kembali melanjutkan langkahnya lagi memasuki kamar yang ia tempati kemudian menutup pintunya perlahan membiarkan sekertaris Revan sendirian di ruang tamu tanpa menoleh nya sama sekali.
Setelah pintu kamar tertutup, Adinda mulai berguling guling di kasur empuknya, setelah itu meloncat loncat di atas nya seperti gadis kecil kegirangan mendapat balon, sesekali bibir nya yang sudah bersih tanpa polesan liptint tipis akibat ciuman nya tadi itu, sekarang mulai cekikikan di dalam sana.
Sedangkan sekertaris Revan kini mulai berniat menuju kamar Adinda yang sudah tertutup itu.
Sekertaris tampan itu mulai mengetuk pintu kamar milik kekasih nya.
tok.....
tok.....
tok.....
" Din....Dinda kau masih marah padaku " ucap sekertaris Revan dari luar kamar sambil mengetuk pintu kamar Adinda.
" tidak sayang, sebaiknya kau tidak saja kau pasti lelah bukan " sahut Adinda dari dalam kamar.
sesekali gadis itu menahan senyum dan tawanya di sana.
Sedangkan sekertaris Revan yang mendengar nya langsung tersenyum bahagia, mendengarkan jawaban dari Adinda yang berada di kamarnya tersebut.
" hehehe... dasar gadis menyebalkan " ucap sekertaris Revan dengan senyuman yang tak pernah pudar dari bibirnya.
ingin sekali aku menggigit mu saat ini Din gumam sekertaris Revan.
dengan dirinya yang kini merasa sangat gemas sekali kepada Adinda.
" kau juga menyebalkan sekertaris Revan, sudah sana pergilah sayang tidurlah "
" hehehe..... ya... ya... baiklah, aku mencintaimu"
aku memang sudah gila karena dirimu Din, benar benar gila gumam sekertaris Revan.
sekertaris Revan bergumam sambil dirinya yang kembali senyam senyum tak jelas seperti Adinda saat ini yang berada di dalam kamar.
" aku juga mencintai mu " jawab Dinda.
" selamat malam sayang " ucap Adinda dari dalam kamar dengan dirinya yang sedari tadi senyam senyum tak jelas itu.
Dan lagi Adinda kembali berguling-guling di atas ranjang atas perkataan yang ia lontarkan kepada sekertaris Revan yang kembali membuatnya berbunga bunga tak karuan.
" selamat malam juga pacarku " jawab sekertaris Revan yang kini sudah senyam senyum tak jelas di luar kamar kemudian bergegas melangkahkan kakinya menuju kamar miliknya dan melupakan sisa pekerjaan nya yang belum selesai di ruang tamu.
PERHATIAN.
BAB BAB SELANJUTNYA AUTHOR BUAT KHUSUS SEKERTARIS REVAN DAN ADINDA YA, KERENA BIMA DAN ZAHRA SUDAH MEMPUNYAI ANAK JADI ZAHRA DAN BIMA UDAH JARANG KELUARNYA DI BAB BAB SELANJUTNYA.
KARENA NANTI AUTHOR MAU BIKIN JUDUL BARU ANTARA ANAK TUAN BIMA DAN SEKERTARIS REVAN OKπππ
JANGAN LUPA BACA NOVEL AKU LAINYA KAK :
- PERBUDAKAN KU BERAKHIR DI PELAMINAN ( on going)
- DUNIAKU TAK SELEBAR DAUN KELOR ( karya masih baru banget, on going )
KAK JANGAN LUPA LIKE, VOTE, SAMA KOMENTAR NYA βΊβΊππππ, πππ
__ADS_1