
Kini sudah dua hari Bima tak masuk ke dalam perusahaan pencakar langitnya tersebut.
Karena memang Bima akan fokus kepada istrinya saat ini, dengan keadaan perut sang istri yang semakin membesar dengan bertambahnya hari.
Dan Siang ini Bima akan segera menghubungi sekertaris nya itu, untuk segera mengurus semuanya, bahwa ia beberapa bulan ke depan akan terus fokus untuk sang istri yang sebentar lagi melahirkan tersebut.
Perlahan lelaki bertubuh atletis tersebut mulai mengotak atik ponsel pintarnya itu dan kemudian ia segera menghubungi sekertaris Revan di sebrang sana.
sesaat kemudian.
panggilan pun terhubung.
" halo " ucap Bima.
" halo tuan " jawab sekertaris Revan dari sebrang sana.
" Van mulai sekarang dan untuk beberapa bulan mendatang mungkin aku tidak akan mengurus perusahaan, aku akan fokus pada kandungan istri ku yang sudah semakin membesar dan juga sebentar lagi dia akan melahirkan, sekarang aku perintah kan kau untuk mengurus semua perusahaan milikku beserta anak cabangnya, aku percaya padamu Van, dan satu lagi kau tidak akan bekerja sendiri Van, buka lowongan khusus wanita yang mempunyai keahlian dan kepintaran dalam segala hal seperti dirimu, kemudian setelah kau menemukan pekerja wanita yang sudah lulus tesnya kau taruh di satu ruangan dengan mu, kau mengerti " jelas Bima panjang kali lebar.
" baik tuan... oh iya tuan maaf, kenapa tidak laki laki saja kita mencari partner untuk menemani saya dalam menyelesaikan urusan perusahaan anda " tanya sekertaris Revan kepada atasannya tersebut.
" biar kau bertambah semangat mengerjakan urusan kantor Van, mungkin saja bisa membuatmu tertarik, kau tidak lelah menjadi jomblo hah, sedangkan aku sebagai atasanmu sebentar lagi akan mempunyai seorang anak " jelas Bima lagi yang memang juga berniat agar sekertaris nya itu segera mempunyai pasangan.
" ta... ta.. tapi tuan saya mas..... " jelas sekertaris Revan sedikit terbata bata,
karena dia memang masih ingin fokus pada pekerjaan nya, dan menurut sekertaris Revan dia tidak ingin segera jatuh cinta karena cinta menurutnya bisa membuat orang seperti orang bodoh ya contoh nya seperti atasannya itu, ya kira kira begitulah pemikiran sekertaris Revan saat ini tentang yang namanya cinta.
" Diam dan tidak ada penolakan tut..... tut.... " ucap Bima padahal di dalam hatinya ingin sekali menertawakan sekertaris nya itu yang sedikit terdengar kebingungan sepertinya dari perkataan nya di sebrang telepon sana.
dan panggilan pun terputus.
Bima langsung tersenyum dan sedikit tertawa kecil setelah mematikan telepon nya tersebut dengan dirinya yang saat ini tengah duduk di sofa mewah tepatnya di depan televisi, tetapi masih di dalam area kamar pribadi milik pasangan suami istri tersebut.
sedangkan Zahra saat ini sedang memandangi suaminya dari arah ranjang yang jaraknya sedikit jauh darinya.
ada hal apa yang membuat suaminya tersenyum sambil sedikit tertawa itu pikir Zahra saat ini, kemudian Zahra berniat untuk menanyakan langsung kepada sang suami.
" sayang kau kenapa tertawa sendiri sedari tadi" ucap Zahra sambil memandang ke arah sang suami.
__ADS_1
kemudian Bima langsung menoleh ke arah sang istri.
" hehehe... iya sayang, aku menyuruh sekertaris Revan untuk segera mencari rekan untuk bisa membantu dia di perusahaan karena aku mulai sekarang akan di mansion terus menemanimu sampai anak kita lahir "jelas Bima sambil tersenyum kemudian melangkah ke arah Zahra yang saat ini tengah berada di atas ranjang king sizenya tersebut.
" terus... "
" nah setelah itu aku menyuruh sekertaris Revan untuk mencari rekan baru untuknya, tetapi aku menyuruhnya mencari seorang wanita sayang, agar sekertaris Revan berinteraksi dengan rekan barunya itu dalam segala pekerjaan "
" memangnya selama ini sekertaris Revan kenapa sayang, kenapa seperti nya kau berniat mendekatkan dia dengannya seorang wanita "
" hehehe... kau tau sekertaris Revan itu adalah satu-satunya orang kepercayaan ku dari dulu, dan dia akan mengutamakan kepentingan ku dari pada kepentingannya sendiri sayang, apalagi masalah wanita dia akan men nomer dua kan nya dan memilih men nomer satu kan aku sebagai atasannya, apa kau sudah mengerti maksudnya "
" oh... begitu ya, ya... ya... ya jadi kau berniat supaya sekertaris Revan bisa dekat dengan pegawai baru yang sebentar lagi akan di jadikan rekannya itu dalam mengurus masalah perusahaan begitu kan maksud mu sayang "
" yups.... pintar sekali bumil ku ini "
" sayang memang dari dulu aku juga terlalu bodoh "
" iya iya aku tau sayang, dan mulai saat ini aku terus berada di dekatmu sampai kau melahirkan anak kita di dalam sini " ucap Bima sambil tersenyum, kemudian di balas Zahra dengan tersenyum ketika mendengar nya.
" sayang ternyata kau perhatian juga ya dengan sekertaris Revan " tanya Zahra kemudian.
" ow.. begitu, sayang semoga saja sekertaris Revan nanti bisa segera mempunyai pasangan dan menikah seperti kita " kawan Zahra
" memangnya kenapa kau bilang seperti itu " tanya Bima.
" ya supaya dia tidak kesepian lagi sayang kan kasihan " jelas Zahra sambil memandang kedua manik Bima.
" iya kau benar sayang, istri ku pintar sekali, kesini mendekat lah aku akan memelukmu " sahut Bima.
" sayang kenapa tidak kau saja yang mendekat, aku sangat kesusahan dengan perutku yang sudah membesar seperti sekarang ini sayang " jelas Zahra saat ini sambil mencoba menggeser tubuhnya.
" ah iya maaf sayang aku hampir lupa, baiklah sekarang sekarang aku akan memelukmu, apa sudah terasa hangat sayang " jawab Bima yang kemudian langsung merubah posisi duduknya yang saat ini menjadi berada di belakang sang istri kemudian memeluknya dari belakang.
" tidak biasa saja " jawab Zahra dengan polosnya.
" oh... berarti kau menginginkan lebih dari sekedar pelukan ya " ucap Bima yang juga berniat menggoda istri nya saat ini.
__ADS_1
" hiii... siapa yang meminta memangnya " jawab Zahra dengan raut wajah sedikit menyebalkan di lihatnya.
" tadi kau bilang biasa saja, waktu aku tanya " sahut Bima.
" ya kan memang biasa saja sayang, memangnya aku harus menjawab apa " jelas Zahra
" nah kan kau ucapkan lagi, berarti kau menginginkan Zahra "
" hemm... selalu aku padahal yang menginginkannya kau, benar benar " jawab Zahra yang saat ini mulai kesal.
" apa maksud mu sayang " sahut Bima.
" ah sudah lah aku mau tidur siang saja " ucap Zahra lagi yang hendak mengalihkan tubuhnya dari pelukan sang suami tersebut,yang sedari tadi memeluk tubuh nya dari belakang itu.
" ah iya, iya,.... aku yang menginginkannya duluan apa kau puas, apa sekarang aku boleh mencium bibir ini " ucapnya kemudian merasa kalah dari Zahra.
" hah... padahal biasanya kau tidak pernah meminta izin, dan langsung mencium ku, dan sekarang berpura-pura meminta izin segala " ejek Zahra dengan raut wajah yang lagi lagi terlihat menyebalkan itu.
Zahra, kau memang benar-benar menyebalkan ya semenjak mengandung, kenapa bisa ya setiap kata katanya seperti mengejek ku dan membuat ku seperti nya selalu kalah sekarang, apa ini memang benar benar balasan untukku karena dulu aku sangat menyebalkan menurut nya, tetapi di satu sisi aku sangat menyayanginya ahh... membingungkan gumam Bima dalam hati.
Bima bergumam sambil memandang sang istri dengan senyuman nya sedikit di paksakan.
" sayang kau menggumami aku ya di dalam hatimu iya kan " ucap Zahra tiba tiba seperti bisa membaca isi hati sang suami yang saat ini berada di hadapannya tersebut.
" tidak... untuk apa menggumami mu sayang " jawab Bima seperti menyangkal isi hatinya itu.
kenapa Zahra seperti bisa membaca isi hatiku ya apa ini juga termasuk bawaan anakku di dalam sana, apa jangan jangan calon anakku akan menjadi dukun akhhh... apa lagi yang kau pikirkan Bima gumam Bima lagi dalam hati.
" sayang katanya kau ingin mencium ku kenapa masih bengong hah, kau masih menggumami diriku ya " ucap Zahra lagi seperti menerka nerka.
" ah... iya kau ini ada ada saja hehehe... " jawab Bima sambil sedikit tertawa karena merasa seperti ketahuan lagi dan lagi sedang menggumami Zahra di dalam hatinya saat ini.
dan kemudian.
cupppp..
lelaki tampan itu mulai mencium sang istri penuh dengan rasa cinta yang menggelora, meskipun tadi dirinya sempat merasa sedikit kesal sekilas kepada sang istri.
__ADS_1
ciuman itu berdurasi sangat lama, kemudian Bima berganti posisi dengan dirinya yang saat ini berada di belakang sang istri dengan dirinya memeluk tubuh Zahra dari belakang yang kedua tangannya mengelus perut Zahra yang semakin membesar itu.