
" Dasar pria pemaksa, kenapa kau selalu menciumku se enakmu hah " ucap Sheina sebal masih dengan kedua pipinya yang bersemu merah.
" hehehe......." Barra tertawa.
Sempat sempatnya tertawa lagi, dia juga tak merasa bersalah sedikitpun padaku gumam Sheina.
" kau tau Sheina aku berani menciumku karena kau milik ku dan hanya milikku "
Sheina tak berniat menjawab hanya segera melepaskan tangan Barra yang masih mengunci pergerakan nya itu.
" singkirkan tangan mu aku mau keluar " ucap Sheina sambil mencoba menyingkirkan tangan berotot di samping nya.
" asal kau berjanji padaku " sahut Barra
Membuat Sheina kembali menatapnya dengan jarak keduanya yang sangat dekat.
" berjanji apa " tanya Sheina seolah di buat penasaran.
" berjanji padaku kita akan memulai nya dari awal " jelas Barra sambil mengembangkan senyum dengan tatapan serius nya.
" Bar kenapa kau... " jawab Sheina terhenti ketika jari telunjuk milik Barra tertempel di bibir nya.
" Shtttttt..... aku tidak butuh penolakan dan kau cukup mengiyakan saja bagaimana, kalau kau tidak setuju sebaiknya kita bilang saja sejujurnya pada keluarga kita masing masing kalau kita ingin berpisah kau pasti tau kan kekecewaan mereka, dan kau juga tidak mau melihat mereka kecewa kan Shei, jadi pertimbangkan ucapan ku ini " jelas Barra.
Sheina terdiam sesaat seolah memikirkan hal yang Barra bicarakan.
Apa yang harus aku lakukan, perjanjian itu apa aku harus mengiyakan perkataan Barra memulai sesungguhnya bersama dia, sedangkan Earth bagaimana gumam nya.
" Hei cepat jawab jangan membuat ku menunggu " ucap Barra yang langsung membuyarkan lamunan Sheina.
" ah iya... baiklah aku setuju " ucapnya seolah sangat berat keluar dari bibir nya.
" hehehe... bagus, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, dan aku akan menjadi suami terbaik untukmu " ucap Barra sambil menoel hidung Sheina gemas dengan ucapan nya yang begitu tulus dari dalam hatinya.
" oh iya ini ponsel mu " ucap Barra lagi sambil mengulurkan sebuah ponsel yang baru saja ia ambil dari dalam saku celana pendek nya.
Sheina mengambilnya kemudian tersenyum.
Hahaha.... caraku berhasil, akhirnya ponsel ini kembali padaku dan aku bisa menghubungi Eart gumam Sheina kegirangan.
" Ets... satu lagi nomor ponsel mu sudah aku ganti yang baru, jadi kau tidak perlu untuk menghubungi Earth lagi untuk memutuskan hubungan mu dengan nya, karena aku sudah menghubungi nya dan mengakhiri hubungan di antara kalian "
Sheina hanya menatap sebal pada Barra yang dengan seenaknya sendiri memutuskan hubungan seseorang yang Sheina cintai saat ini dengan gampang nya.
Kau benar-benar menyebalkan Barra sangat menyebalkan gumam nya.
Berbeda dengan Barra yang kini tengah tersenyum bahagia di sana sini atas penderitaan Sheina atas semua hal yang ia lakukan tanpa persetujuan gadis di hadapan nya itu.
CUP....
__ADS_1
Satu kecupan singkat mendarat di kening Sheina.
Gadis itu tetap diam menahan kekesalan dalam hatinya.
" Hei kau jangan bengong saja, ayo keluar Sheina kita jalan jalan atau kau ingin ku buatkan suatu masakan "
Sheina masih saja diam, lagi lagi ia tak berniat menjawab nya.
" ya baiklah karena kau diam jadi aku anggap iya, dan aku akan memasakkan sesuatu untuk mu di dapur ayo " ucap Barra kemudian menggenggam tangan Sheina untuk keluar kamar.
Untung dia tidak melakukan hal lebih padaku hah.. gumam Sheina sambil membuang nafas beratnya.
*
*
Di dapur.
Sheina duduk di kursi meja makan, sedangkan Barra mulai memakai celemek masak nya, ia sedikit melirik ke arah Sheina yang tengah menatap nya dari kejauhan itu.
" Ternyata kau mulai suka menatap ku ya heh"
goda Barra.
" tidak siapa bilang, sudah masak sana cepat aku sudah lapar awas saja jika tidak enak "
" ya cepatlah "
Sheina hanya memutar kedua bola mata nya malas seolah enggan mendengarkan perkataan Barra.
Lima belas menit berlalu.
Kini sebuah nasi goreng sudah tersaji sempurna di depan Sheina dengan segelas susu hangat.
Sheina menatap nasi goreng di hadapan itu yang sepertinya dengan bau nya saja sudah menggoda indra penciuman nya.
" ayo makan "
" aku tidak yakin dengan masakan mu "
" begini saja kalau masakan ku enak kau harus mencium ku duluan, dan kalau tidak enak aku akan mencium mu seperti tadi bagaimana "
" ah... tidak tidak aku tidak mau, ya sudah aku akan segera memakan nya tanpa permainan bodoh mu itu "
" hehehe... ya baiklah ayo makan kau pasti suka "
" semoga saja " jawab Sheina seperti menyepelekan.
Satu suapan mulai masuk ke dalam mulut nya ia terdiam.
__ADS_1
Ternyata memang benar nasi goreng yang dia buat sangat enak tapi kenapa dia bisa memasak, sebelum nya dia tidak pernah bahkan tidak bisa sama sekali kan gumam nya.
" Bagaimana enak kan " tanya Barra.
" lumayan "
" sudah bilang saja enak susah sekali "
" iya enak, sejak kapan kau bisa memasak " tanya Sheina.
" sejak aku ingin menjadi seorang suami siaga untuk mu "
" Uhuk... uhuk... uhuk... " Sheina terbatuk batuk mendengar jawaban Barra.
" pelan pelan Shei, kau sebenarnya ingin menertawakan aku kan "
" HAHAHAHA..... HAHAHAHA.....kau... kau.. benar sekali " jawab Sheina dengan tawa nya yang menggema di ruang makan.
Barra terus menatap Sheina yang tengah tertawa lepas karena perkataan nya itu, kemudian pria itu tersenyum sesekali menundukkan kepalanya kemudian mengangkatnya kembali menatap Sheina.
Baru kali ini aku melihatmu tertawa begitu lepas Shei di hadapan ku gumam nya.
dengan hati yang begitu bahagia melihat tawa gadis di hadapan nya itu saat ini.
Tawa Sheina terhenti kemudian kembali berucap.
" kau bilang tadi suami siaga heh, kau pikir aku ibu ibu yang akan melahirkan apa membutuhkan suami siaga segala hehehe... " ucap Sheina yang lagi lagi kembali tertawa tetapi tak sekeras tadi.
" iya melahirkan anak anak ku kelak " Sahut Barra yang membuat Sheina langsung terdiam.
Kemudian ia kembali melanjutkan menyiapkan nasi goreng kedalam mulutnya.
Sesaat hening.
" Sheina " panggil Barra tiba tiba di sela keheningan.
" iya "
" aku sungguh-sungguh dalam hubungan ini "
" iya aku tau "
" lalu kau bersedia kan menjalani kehidupan rumah tangga kita, melupakan perjanjian itu dan memulai semuanya dari awal bersama ku"
" akan aku berusaha " jawab Sheina sambil memaksakan senyuman untuk keluar dari kedua sudut bibir nya.
apa yang aku katakan apa aku benar benar harus menerima takdir perjodohan ini, lalu bagaimana dengan Earth gumam nya.
Sedangkan Barra tersenyum atas jawaban yang di berikan Sheina untuknya, meskipun jawaban itu tak begitu memuaskan untuknya tapi ia cukup lega mendengar itu semua dari mulut Sheina.
__ADS_1