
Keduanya masih saling terdiam, Adinda yang sedari tadi diam itu kini memulai pembicaraan kepada sekertaris Revan yang masih membeku di tempatnya.
" kak " ucap Adinda yang kini mulai meraih lengan sekertaris Revan yang masih mematung di kursi kerja nya dan tak berniat menjawabnya sama sekali itu.
" kakak, hei.... kenapa wajahmu seperti itu nanti wajah tampan mu hilang bagaimana " goda Dinda
Tetapi tetap sekertaris Revan tak bergeming dan tak berniat menjawab nya, raut wajahnya masih terlihat dingin.
Kenapa susah sekali sih merayunya, aku harus bagaimana, dia juga dingin sekali jadi pria, apa aku harus bersandiwara lagi ah... tidak nanti aku takut dia marah lagi gumam nya.
Pikiran Dinda kini seperti buntu tak mendapat ide untuk meluluhkan pria di dekat nya itu, yang kini tengah di bakar api cemburu.
Kemudian Dinda berniat kembali ke meja kerjanya untuk mengambil bekal karena di lihatnya jam dinding besar di ruangan tersebut sudah menunjukkan jam istirahat kantor telah tiba.
Sesaat setelah mengambil kotak bekalnya, Dinda kembali menuju ke arah meja kerja milik sekertaris Revan.
" kak ayo makan ini kan sudah jam istirahat kantor nanti kau bisa sakit, emmm.... bagaimana kalau aku suapi saja ya, bilang saja iya kau malu ya hehehe.... "
ternyata kau bisa melucu juga ya Din, tapi sayang seperti nya saat ini aku memang benar benar kesal padamu, sebaiknya aku diam kan saja dirimu sebagai pelajaran gumam sekertaris Revan.
" kak ayo buka mulut mu aa...., ayo kenapa diam kak, aku minta maaf aku tau aku salah tadi padamu, kau tidak memaafkan aku ya heh, kenapa tetap diam atau kau sakit gigi hehehe..... "
pacar satu ini memang sedikit menyebalkan, Din kau bisa bisa nya masih tertawa di saat aku kesal padamu apa kau pikir ini lucu gumam sekertaris Revan lagi
sesekali menatap ke arah Adinda yang tengah menyendok makanan nya di dalam kotak bekal miliknya.
" kak, kenapa menatap ku kau lapar ya, sudah bilang saja iya aku akan menyuapimu " ucap Adinda dengan mulutnya yang kini sudah penuh itu
" kau pikir aku bercanda heh " ucap sekertaris Revan kemudian setelah sedari tadi dirinya terdiam membisu itu.
" tidak " jawab Adinda polos dengan dirinya yang baru saja menelan makanan yang berada di dalam mulutnya tadi.
" kakak... aku kan sudah minta maaf, kau tidak memaafkan aku "
Sekertaris Revan kembali terdiam tak berniat menjawabnya.
__ADS_1
Sedangkan Adinda kini mulai merasa kesal karena ucapan nya sedari tadi tak begitu di gubris oleh sang pacar.
" ya sudah kalau tidak mau makan di suapi tidak mau, aku juga berniat minta maaf tapi tak kau hiraukan " ucap Adinda
kemudian bergegas pergi dari hadapan sekertaris Revan dan kembali menuju ke meja kerja miliknya untuk melanjutkan acara makan siang nya tersebut tanpa menghiraukan sekertaris Revan lagi.
Berbeda dengan sekertaris tampan itu yang kini sedikit melirik ke arah Adinda yang tengah memunggunginya dengan kursi putar di meja kerjanya.
Kenapa kau tak berusaha sih Din, aku ini kesal padamu, dan aku sebenarnya lapar, tetapi kau tak memaksa tadi, ayo bujuk aku lagi Din gumamnya.
Seolah olah kini sekertaris Revan ingin menjerit untuk di suapi oleh Adinda tetapi karena ada acara kesal segala pada Adinda, akhirnya sekertaris tampan itu pun kini memendam gengsinya sendirian di dalam hati.
setengah jam kemudian.
istirahat kantor telah usai, tetapi berbeda dengan sekertaris Revan yang masih tetap berniat mendiamkan Adinda.
Sedangkan Adinda baru saja memasukkan kotak bekalnya yang sudah kosong ke dalam tas kerja milik nya.
Kini Adinda tak berniat sama sekali melirik ke arah sekertaris Revan, karena ia tahu saat ini sang pacar masih tak berniat memaafkan nya.
Maka dari itu Adinda kini langsung kembali fokus ke arah meja kerja miliknya, mulai mengotak atik benda pipih di hadapan nya itu.
sedangkan gadis dua puluh tiga tahun itu sesekali memijit kening nya yang terasa pening,
sambil memejamkan kedua matanya perlahan.
merasa ada sesuatu yang terasa basah di bawah hidungnya Dinda sedikit menempelkan punggung tangan nya di sana.
ternyata mimisan ku kumat lagi ucap nya tetapi dengan nada yang sangat pelan.
Kemudian Adinda perlahan berdiri dan segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan nya di sana.
Beberapa saat kemudian.
Adinda baru saja kembali dari kamar mandi kemudian segera menuju ke ruangan nya dan mulai kembali duduk di kursi kerjanya.
__ADS_1
sesaat darah di hidungnya kembali menetes.
Adinda mulai mencari tissu di atas meja kerja nya tapi sudah habis, Adinda beralih mengambil tas untuk mencarinya di dalam sana tapi tissu di tas kerja nya tersebut hanya tinggal beberapa biji saja.
Sedangkan darahnya terus menetes.
Adinda terus menahan nya dengan punggung tangan miliknya, sesekali menempelkan tissu di hidung agar darah tak keluar lagi dari dalam sana.
seperempat jam Adinda sibuk sendiri dengan hidunya yang tak kunjung mampet itu, sedangkan tissu di tangan nya sudah habis di penuhi noda darah, darah di hidungnya terus saja menetes.
sedangkan Adinda cuma bisa menahan nya dengan punggung tangan miliknya saat ini, ingin izin keluar membeli tissu dirinya tak berani apalagi dirinya kini saling diam dengan sekertaris Revan dan juga sekaligus calon suaminya itu.
Di sisi lain sekertaris Revan yang sedari tadi berniat mendiamkan sang pacar itu kini sedikit melirik ke arah Adinda, karena merasa sedari tadi terlalu berisik.
" kau niat bekerja apa tidak hah, sedari tadi kau berisik sekali tak bisa diam "
Adinda tak berniat menjawabnya.
kemudian gadis berparas ayu itu menundukkan kepalanya berpangku kedua tangan yang ia silangkan di meja kerjanya,
ya Adinda memang tak berniat menjawab perkataan atasan sekaligus pacar nya itu karena saat ini Adinda tengah menahan nafas agar darah di hidungnya tak begitu mengalir deras.
" DINDA KAU MENDENGAR KU " ucap sekertaris Revan dengan nada tinggi.
Sekertaris Revan memang sedikit merasa kesal karena merasa ucapan nya tadi di tak di gubris sama sekali oleh Adinda justru gadis di hadapan nya itu kini terlihat menyepelekan ucapan nya dengan adinda yang kini terlihat menundukkan kepala di atas meja kerjanya.
" Dinda " ucapnya lagi dengan penuh penekanan.
adinda lagi lagi tak menjawab nya.
" jika kau ingin membalas ku jangan seperti ini ini kantor jadi kau bisa profesional bukan " ucap sekertaris Revan lagi dengan rasa kesal nya.
Perlahan karena ucapan nya merasa tak di gubris sama sekali itu, sekertaris Revan berniat menuju ke meja kerja milik Adinda.
" bangun, ini waktunya kerja tidak usah pura pura " ucap sekertaris Revan lagi sambil menggoyang kan pelan bahu milik Adinda yang masih setia menundukkan kepala nya itu.
__ADS_1
" Din ini kantor bukan apartemen, bangun.... Dinda "
tetap tak ada sahutan.