
Sedangkan dari arah kejauhan ada seseorang pria yang tengah menatap Adinda.
pria itu sedikit memperjelas pandangan nya.
Bukan kah itu Adinda, ya benar dia sebaiknya aku ke sana untuk menanyakan kabar nya, sepertinya aku sudah lama sekali tak bertemu dengan nya ucapnya.
Ya pria itu adalah Joe, pria yang pernah dekat dengan Adinda.
Joe kini mulai melangkah ke arah Adinda yang tengah sibuk memilih milih sesuatu dari arah kejauhan.
Di sisi lain Adinda dan Zahra kini tengah sibuk memilih baju bayi perempuan, yang terlihat sangat lucu lucu.
" nona yang ini lucu sekali pasti sangat pas jika di pakai baby Sheina "
" ah iya Din pilihan mu bagus, pilihkan lagi yang lain, aku akan melihat lihat kaos kaki bayi sebelah sini ya "
" baiklah nona " jawab Dinda dengan senang hati.
Zahra pun kini berpindah di sebelah kiri Adinda untuk memilih kaos kaki bayi untuk sang putri.
Sedangkan Adinda masih tetap di posisi nya.
" .. aaaa... lucunya baju baju ini, emm.....gemas sekali melihat nya " ucap Dinda sambil memegang beberapa baju baju bayi.
" A d i n d a " panggil seseorang yang tak begitu jauh posisinya dengan Dinda.
seketika Dinda menoleh ke arah yang punya suara.
" Joe " ucap Dinda sedikit terkejut.
" ya ini aku " jawab Joe yang mulai mendekat ke arah gadis bermata bulat tersebut.
Keduanya kini saling ngobrol.
" Dinda bagaimana kabar mu " tanya pria itu.
" kabar ku baik baik saja Joe, dan kau " tanya Dinda.
" kabar ku juga baik baik saja Din, aku boleh meminta nomor ponsel mu " ucap Joe.
" emm bagaimana ya " jawab Adinda yang merasa tak enak sendiri, karena ia tak mau terjadi masalah jika memberikan nomor ponsel pada pria lain.
" aku tak berharap lebih Din aku tau kau sudah bersuami, dan aku hanya ingin berteman saja " tutur Joe.
" tapi Joe begini " ucap Adinda yang kembali tak enak hati.
" aku hanya ingin kita saling memberi kabar itu saja Dinda, dan aku juga sudah mempunyai calon istri " jelas Joe
" hehehe.... benarkah Joe selamat ya, kau harus menyusul " ucap Adinda sedikit lega karena pria di hadapan nya itu sudah mempunyai calon istri.
" iya Din tunggu saja aku akan memberimu undangan nya "
" hehehe.... ya sudah ini nomor ku Joe cepat catat lah, waktuku tidak banyak " ucap Dinda.
" ya baiklah " jawab Joe
Joe pun kini mulai mencatat nomor ponsel yang di berikan Adinda kepadanya di ponsel milik nya.
" Sudah Din, baiklah kalau begitu aku duluan ya, tunggu undangan ku " pamit nya.
" ya baiklah aku tunggu hati hati " teriak Adinda karena posisi Joe sudah mulai menjauh dari arah nya.
__ADS_1
" ya kau juga da.. da.. " Joe pun segera pergi dari hadapan Adinda.
Dan kini tinggal lah Adinda sendirian, sedang kan Zahra entah dimana.
Adinda mulai menoleh ke arah kanan kiri mencari keberadaan sahabatnya.
itu nona sebaiknya aku kesana saja ucap nya.
Kemudian Adinda dengan segera menyusul Zahra yang posisi nya tak begitu jauh dari nya.
Dari arah lain.
Empat pengawal bertubuh gempal serta memakai pakaian serba hitam itu baru saja selesai mengirim laporan kepada sang atasan.
" bagaimana bos " tanya seorang pria dari salah satu ke empat nya.
" sudah aku kirim kan beberapa foto dan video posisi nona sekarang "
" baiklah bos kalau begitu "
*
*
*
Kantor.
Ponsel sekertaris Revan kini mulai berbunyi
tring.....
tring....
Sekertaris tampan itu kini mulai merogoh saku jas nya untuk mengambil ponsel pintar miliknya .
Oh mereka ucap nya.
setelah melihat pengirim pesan di layar ponsel miliknya.
Seketika sekertaris Revan mulai membuka nya untuk mengetahui bahwa istri sang atasan sedang baik baik saja.
Aku harus segera memberi tahu kepada tuan keadaan nona di mall, bahwa keadaan nya aman baik baik saja bersama istri ku di sana ucap nya lagi.
sambil menggeser beberapa foto istri dari atasan nya bersama istrinya sendiri yang sepertinya tengah mengobrol.
Sesaat kedua mata sekertaris Revan sedikit membulat ketika tangannya kembali menggeser beberapa foto dan Video kiriman bawahannya itu.
Dinda......, dan pria ini.,... SIAL...kelihatan mereka sangat senang sekali mengobrol, apa yang di lakukan pria itu mengeluarkan ponsel nya segala, bukanlah dia sudah tau aku Dinda telah menikah monolog nya.
Kini Revan mulai naik darah, melihat video pendek yang baru saja ia putar itu, pikirannya mulai kemana mana, dan kali ini dirinya benar benar sangat marah pada Adinda.
Ingin sekali pria itu segera pulang dan melampiaskan kekecewaan dan kemarahannya itu pada sang istri, tetapi bagaimana lagi ini masih jam kerja.
*
*
*
Di mansion keluarga Sinaga.
__ADS_1
Zahra dan Adinda baru saja sampai, keduanya seperti terlihat sangat bahagia sedari tadi.
" Nona saya pamit pulang dulu ya, dan terima kasih tadi kau sudah mengantarku ke apotik" ucap Adinda
" Kenapa kau cepat sekali ingin pulang Din, tadi kan kita satu jalur untuk apa berterimakasih, aku tau kau ingin segera mengetes nya di rumah iya kan heh " ucap Zahra.
" hehehe... iya nona, semoga saja hasil nya positif " sahut Dinda sambil tertawa kecil.
" semoga saja Din, apa kau sekarang tak merasa pusing atau mual misal nya " tanya Zahra gadis berparas ayu itu.
" tidak nona, saya merasa pusing dan mual saat mau sarapan pagi saja dan saya juga tidak memberi tahu suami nona "
" memang nya kenapa Din "
" saya takut dia kepikiran keadaan saya nona nanti dia tidak fokus pada pekerjaan nya "
Zahra tersenyum mendengar penjelasan Adinda.
" begitu ya hehehe...., yasudah hati hati ya Din "
" iya nona "
" Pak supir antar Adinda pulang ya pak " ucap Zahra pada supir yang kini tengah sibuk mengeluarkan semua barang belanjaan milik nya itu
" oh iya non " jawab pak supir sambil menundukkan kepalanya pelan.
" terimakasih nona, kalau begitu saya pulang dulu " ucap Adinda kemudian.
Zahra tersenyum.
Kemudian Adinda kembali masuk ke dalam mobil yang baru saja ia tumpangi itu, yang saat ini akan mengantar nya pulang.
Di sepanjang perjalanan Adinda terus senyum senyum sendiri membayangkan bagaimana kalau hasilnya positif, se senang apa nantinya sang suami nanti jika mendapat kejutan darinya begitu pikir Adinda.
*
*
*
Kediaman Rumah mewah milik Revan dan Adinda.
Di dalam kamar mandi Adinda mulai memasukkan alat tes kehamilan itu kedalam wadah kecil yang berisi urin nya.
Sepuluh menit kemudian ia menunggu.
Adinda mulai mengambil alat tes kehamilan itu dari dalam wadah kecil.
Perlahan ia membuka kedua matanya karena sedari tadi hati Adinda serasa dag dig dug tak karuan dengan hasilnya.
Kini kedua matanya membulat sempurna.
Ketika melihat tes kehamilan yang seperti berbentuk penggaris kecil itu, menampilkan dua garis merah yang terlihat jelas di sana.
Perlahan lelehan air matanya mulai merembes di kedua pipi mulus nya,
sedangkan tangan kirinya menutup mulut seolah tak percaya apa yang ia lihat, bibir nya tak bisa berkata apa apa karena saking bahagianya.
aku... aku hamil ucap nya sambil gemetaran.
Lelehan air mata yang sedari tadi membasahi kedua pipi nya itu kini perlahan ia usap nya, setelah itu segera membasuh tespek tersebut dan membawanya keluar kamar mandi.
__ADS_1
Karena ia akan memberi kejutan untuk sang suami nanti sepulang kerja.