
Pagi ini adalah ketiga harinya Sheina terlihat sudah sembuh dari demam nya.
Dan pagi ini pula keduanya akan bersiap siap untuk pergi ke kantor,
Barra yang baru saja keluar dari dalam kamar dengan setelan jas abu abu nya, kemudian melangkah ke arah ruang tamu untuk meminum sedikit kopi buatan Sheina di sana.
Sekilas tatapan tertuju pada sebuah pintu kamar Sheina yang mulai terbuka perlahan,
menampilkan seorang gadis berparas ayu yang juga baru saja keluar dari dalam kamarnya lengkap memakai pakaian kantor yang ia kenakan.
Tatapan Barra tak teralihkan dari wajah cantik Sheina yang sudah terlihat rapi itu.
Apa dia benar benar sudah sembuh, syukur lah gumam nya.
Senyuman tipis sedikit mengembang di bibir miliknya,
Setelah itu kembali memasang mimik wajah datar menatap gadis yang tak seberapa jauh dari hadapan nya saat ini.
" Keadaan mu benar benar sudah pulih, jangan memaksakan kerja " ucap Barra
" iya... kau bisa lihat sendiri bukan aku sudah berdiri di depan pintu kamar seperti ini" jawab Sheina.
" baguslah jadi kau tak menyusahkan aku lagi" ucap Barra lagi lagi memasang mimik wajah datar nya.
" kau tenang saja aku tak akan menyusahkan mu lagi sekertaris Barra " jawab Sheina dengan nada sedikit penekanan.
Barra langsung mengerutkan sedikit kening nya menatap ke arah Sheina seolah menanti maksud perkataan sang istri.
Dan Sheina juga tahu bahwa tatapan itu sebenarnya menanti jawaban dari nya.
Sheina tersenyum kecut melihat tatapan yang di tunjukkan oleh Barra.
" pagi ini, seterusnya , dan kemana saja kau tak perlu mengantarkan aku "
" maksud mu "
" apa semuanya kurang jelas, mulai sekarang aku bisa berangkat sendiri, aku tidak akan menyusahkan mu lagi "
" kau sudah gila apa, sedangkan anak buah Papa mu terus memantau kita di mana mana apa kau lupa hah "
" aku tidak perduli " jawab Sheina kemudian melangkahkan kaki nya untuk segera berangkat meninggalkan Barra yang masih setia duduk di sofa ruang tamu.
" Sheina tunggu...berhenti aku bilang " sahut Barra tapi sudah tak di pedulikan oleh Sheina.
Dengan sigap Barra langsung mengejar langkah Sheina, kemudian segera meraih tangan putih mulus milik gadis yang sudah berstatus istri nya itu.
" lepaskan " ucap Sheina sambil mencoba melepas genggaman nya dari tangan Barra.
" tidak akan " sahut Barra, tatapan kedua matanya terus tertuju ke arah Sheina yang terus berusaha melepas genggaman tangannya.
kenapa dia bisa terlihat menggemaskan begini gumam Barra.
" lepaskan aku bilang " ucap Sheina lagi yang langsung membuyarkan tatapan Barra yang sedari tadi menatap nya tanpa berkedip sedikit pun.
" aku tidak mau melepas nya " sahut Barra enteng.
Sheina yang sudah di selimuti rasa kesal kini langsung mencoba menggigit pergelangan tangan Barra,
Tetapi seketika Barra langsung melilitkan tangan nya yang masih menggenggam tangan Sheina kuat, untuk melilit tubuh Sheina dalam dekapan nya, setelah itu Barra sedikit mendorong tubuh Sheina hingga terbentur tembok di sebelah pintu keluar apartemen, mengunci pergerakan Sheina seolah membuat gadis itu tak berkutik sama sekali bahkan sampai tak bisa bergerak sedikitpun dalam kungkungan Barra.
__ADS_1
Tatapan keduanya kini bertemu,
membuat degup jantung Sheina dan Barra seolah berdetak bersamaan dengan sangat kencang,
Sheina sedikit menelan ludah nya kasar hal yang tak pernah ia lakukan sebelum nya, berdekatan dengan seorang pria dengan jarak yang begitu sangat dekat.
Beberapa saat.
Tring....
tring....
tring....
Nada sebuah ponsel menyadarkan keduanya.
Dengan segera Sheina dan Barra langsung membenarkan posisinya seperti semula.
Sedangkan Barra langsung mengambil ponsel miliknya di dalam saku jas.
" Papa " ucap nya sambil menatap layar tipis di ponsel yang baru saja ia ambil nya.
Dengan segera Barra langsung menggeser bulatan hijau di sana, dan panggilan pun terhubung.
" halo Pa " ucap Barra
" ya halo... Barra apa tuan Bima belum menghubungi mu " tanya Papa Revan di sebrang telepon.
" memang nya ada apa Pa "
" tuan Bima akan mengirim kalian berdua ke Bali untuk bulan madu "
" A P A ...eh maksud ku aku sangat bahagia "
" ah... ya aku akan menyampaikan nya pasti dia senang " jawab Barra sambil mengembangkan senyum.
Dan panggilan pun terputus.
Barra kembali memasukkan ponsel nya ke dalam saku kemudian menatap Sheina.
" Kata Papa tadi, emm... tuan Bima " jelas Barra dengan sedikit bingung.
" yang benar kalau bicara " jawab Sheina yang mulai penasaran.
" Papa mertua emmm..... " ucap nya sedikit terhenti.
Hahaha......Papa mertua dia bilang, tidak pantas sekali wajahmu menyebutnya mertua gumam Sheina.
kemudian Barra kembali melanjutkan perkataan nya yang sempat terhenti tadi.
" dia bilang akan mengirim kita ke Bali untuk bulan madu "
" Ap.. ap... A P A, bulan madu " jawab Sheina sedikit terbata bata seolah tak percaya.
" iya, lalu Mama titip salam padamu "
" Benarkah, kenapa kau tak bilang salam balik saja "
" mana aku tau kau ingin menitip pesan juga pada nya "
__ADS_1
" Dasar pria yang tidak pernah peka " ucap Sheina merasa kesal sendiri pada pria di hadapan nya itu.
" Peka " jawab Barra memperjelas.
" iya Peka, ah sudahlah jangan bicarakan itu, yang kita pikir kan sekarang adalah kemauan Papa "
Barra mengangguk angguk kan kepala, seolah mencari cara akan rencana untuk ke depan nya.
Sesaat bunyi ponsel kembali berdering, kali ini adalah ponsel milik Sheina.
Tring....
tring....
tring.....
Sheina sedikit menarik nafas beratnya ketika tengah mengambil ponsel dan langsung menatap layar tipis nya disana.
" Siapa " tanya Barra
" Seperti ucapan mu tadi "
" tuan Bima em maksud ku Papa mertua "
" iya " jawab Sheina
Setelah itu mulai mengangkat sambungan telepon nya.
" halo " ucap Sheina
" halo sayang, masalah kemarin Papa minta maaf Papa merasa sangat bersalah atas semua yang Papa lakukan, kau memaafkan Papa kan Shei " ucap Bima dari sebrang telepon.
" Lupakan saja Pa, Sheina sudah memaafkan Papa " sahut Sheina begitu tulus pada sang Papa kesayangan.
" Shei Papa sungguh-sungguh, Papa sangat menyesal, dan sebagai ganti nya pagi ini kalian tidak usah kekantor biar Papa dan Sekertaris Revan sementara yang menghendel perusahaan, di parkiran bawah apartemen kalian sudah Papa kirim supir pribadi untuk mengantar keberangkatan kalian ke pulau Bali dan Papa sudah menyiapkan vila untuk kalian berdua untuk bulan madu di sana "
" tapi Pa " raut wajah Sheina sudah terlihat sangat lesu.
" Sayang tidak ada tapi tapian, cepatlah turun bersama Barra suami kamu tidak ada penolakan Sheina titik " kekeh Bima.
tut... tut... tut....
Panggilan terputus sepihak.
Sheina tertunduk lesu sambil memanyunkan bibir nya ke depan, ia sebenarnya sangat menyukai pulau Bali tapi keberangkatan nya kali ini berbeda.
" Shei bagaimana, apa kata Papa mertua "
" kita berangkat sekarang Bar, Papa sudah mengirim supir pribadi di parkiran bawah untuk mengantar keberangkatan kita "
" Secepat itu "
Sheina kembali mengangguk lesu mengiyakan perkataan Barra.
" terus masalah perusahaan "
" Papa bilang dia bersama Papa mu akan menghendel semua nya untuk sementara "
Barra kini juga di buat lesu oleh penuturan Sheina.
__ADS_1
Beberapa saat keduanya saling tersenyum kemudian saling pandang, seolah mendapatkan ide di pikiran nya masing masing.
Kemudian dengan segera Barra dan Sheina langsung bergegas keluar apartemen untuk berangkat ke pulau Bali sesuai keinginan Bima.