
kini pagi pun menjelang setelah malam panjang begitu terlewatkan, Dan di pagi yang begitu dingin ini Zahra masih belum membuka matanya karena merasa malas, tetap dengan balutan selimut tebalnya dan tak sedikit pun bergerak di dalam sana.
bunyi ponselnya yang berada di atas nakas kemudian berdering mengagetkan tidur nyamannya.
tring
tring
tring
kemudian Zahra mengambil ponselnya perlahan karena matanya belum sepenuhnya terbuka dari tidur panjangnya itu, dan mulai mengangkat panggilan tersebut.
" ya halo ini siapa " ucap Zahra si sambungan telfon
" apa kau bilang " jawab di seberang yang tak lain adalah Bima suaminya sendiri.
" Oh maaf tadi aku tidak melihat jelas nama panggilan masuk di ponselku " jawab Zahra lemas
" kau baik - baik saja sayang, kenapa suaramu lemas seperti itu " tanya Bima
" iya aku baik - baik saja, aku hanya baru bangun tidur "
" Oh seperti itu, sayang maafkan aku kemarin membuatmu seperti orang asing "
" sudahlah lupakan saja itu sudah hal yang sudah biasa " ucap Zahra yang masih merasa kesal pada suaminya itu.
" sayang bukan seperti itu " ucap Bima lagi
" sudahlah lupakan aku mau mandi " ucap Zahra ketus.
" sayang dengarkan aku, aku tau kau marah kan padaku aku minta maaf " Bima bersi keras ingin meminta maaf kepada istrinya.
" iya aku sudah memaafkan mu, sekarang aku mau mandi " kemudian Zahra langsung mematikan telfonnya sepihak karena merasa masih kesal pada suaminya yang dingin itu.
kemudian ponsel Zahra kembali berbunyi lagi dan ternyata itu adalah panggilan dari suami dinginnya lagi.
tring
tring
tring
Zahra pun membiarkan telfon nya tetap berbunyi dan tidak berniat mengangkatnya dan ponselnya pun terus berbunyi tetapi tetap saja tak diangkat nya.
tring
tring
__ADS_1
bunyi pesan masuk di ponsel Zahra kemudian Zahra mengintip sedikit layar ponselnya dan tertera di sama dari * suami tercinta *.
kemudian Zahra mengambil ponselnya dan membuka isi pesan dari suami tercintanya itu alias Bima.
*jaga batasan mu sebagai seorang istri Zahra*
begitulah kira - kira isi pesan Bima kepada Zahra.
kau selalu saja mengancam ku ucap Zahra sambil membaca pesan dari suaminya itu yang membuatnya merasa ketakutan.
kemudian ponsel Zahra berbunyi untuk yang kesekian kali.
tring
tring
tring
" ya halo, maaf sayang tadi aku ke kamar mandi sebentar "
" apakah benar seperti itu, atau kau memang sengaja membohongi ku "
" aku tidak membohongi mu suamiku "
kenapa dia bisa tau ya kalau aku membohonginya, apa dia bisa membaca pikiran ku gumam Zahra dalam hatinya.
apa, dia sampai menyebut namaku berarti dia sangat marah karena di bohongi, sebaiknya aku jujur saja sebelum dia bertambah marah, aku harus bagaimana ya gumamnya lagi.
Zahra mulai menangis sesenggukan entah itu adalah sandiwara atau apa, karena saking merasa takutnya kepada suami dinginnya itu akan memarahinya.
" sayang maaf kan aku, aku terpaksa berbohong padamu, aku merasa sedih karena kau menganggap ku sebagai seseorang yang begitu asing, kau tau hatiku sesakit apa saat ini "
sedangkan Bima yang mendengar istrinya menangis dari seberang sana, yang awalnya ingin memarahi Zahra kini hatinya merasa terenyuh mendengarkan perkataan istrinya itu sampai menangis sesenggukan, Bima merasa bersalah dan kasihan kepada Zahra karena sampai membuat hatinya sesakit itu.
aku sudah menduganya hatinya akan sesakit ini karena dia begitu polos, dan dia memendamnya sendiri jika aku sedikit saja menyakiti hatinya seperti ini, Zahra maafkan aku gumam.
" sayang maaf kan aku kalau aku telah menyakitimu Zahra, itu salahku karena aku terlalu mencintaimu sampai aku cemburu pada adikku sendiri melihatmu di meja makan bersama Hendra, yah meski itu hanya hal sepele aku sangat cemburu kau tau "
yes rencana ku berhasil, jarang - jarang kan aku mengerjainya, dia juga sering mengerjai ku ya anggap saja impas,
oh jadi dia bersikap seperti itu karena hal sepele itu saja,seperti tidak akal saja kenapa dia berlebihan sekali sih gumam Zahra.
" sayang kau memaafkan aku " ucap Bima lagi
" iya aku sudah memaafkan mu " jawab Zahra polos
" sayang kenapa kau baik sekali "
__ADS_1
" iya sayang "
ya iyalah aku baik kau saja yang sering menjengkelkan gumam Zahra sambil mendengar perkataan suaminya dari sebrang sana.
" sayang aku sangat merindukanmu, apa kau tidak merindukan aku juga hah " tanya Bima
" iya sayang aku juga merindukanmu, kau kapan pulang suamiku " ucap Zahra memang dia sedikit merindukan suaminya itu meskipun terkadang sangat menyebalkan.
" kau sangat merindukanku ya " goda Bima
" memangnya aku tidak boleh menanyakannya ya, kau kan suamiku apa itu salah " ucap Zahra.
aku tau kau sebenarnya ingin menjebak ku dengan perkataan mu dan ingin menggodaku bukan, seolah olah aku yang sangat merindukanmu padahal kau yang sangat merindukanku, dan sekarang kau pasti tersenyum bahagia karena aku menjawabnya seperti itu, dan sekarang kau terjebak dengan perkataan mu sendiri gumam Zahra.
Zahra merasa menang karena mengetahui kelemahan suaminya itu sekarang.
sedangkan Bima yang awalnya mendengar perkataan istrinya itu sedikit kesal karena menurutnya sedikit kaku.
Dan setelah Zahra meneruskan perkataannya itu Bima langsung tersenyum begitu sangat - sangat bahagia sekali seolah - olah tak ingin luntur dari bibirnya.
" iya sayang aku tau aku ini hanya milikmu, dan tidak ada yang lainnya selain dirimu kau puas "
jawab Bima dengan hati yang sangat bahagia, tetapi balasannya tetap saja seolah olah istrinya yang sangat posesif terhadapnya.
" iya sayang aku sangat puas sekali " jawab Zahra seolah ingin muntah dengan kata-kata nya sendiri menjawab perkataan suaminya yang menurutnya menyebalkan itu.
kenapa jadi aku lagi sih yang seolah-olah memujanya, tadi sudah mempan kenapa sekarang dia mulai lagi seperti ini gumam Zahra.
" sayang sekarang mandilah kenapa kau bicara kepada ku terus, katanya kau mau mandi kenapa kau tidak mematikan telfonnya, apa kau masih merindukanku " ucap Bima yang lagi - lagi menggoda Zahra yang tidak ada puasnya.
" iya suamiku TERCINTA aku akan mandi " jawab Zahra lagi - lagi merasa kesal dengan perkataan suaminya yang selalu ingin menggodanya.
" sayang tunggu sebentar " ucap Bima
" iya apa lagi " jawab Zahra sudah lemas karena merasa lelah meladeni suaminya itu
" aku mencintaimu " ucapnya serius
" tetapi aku tidak mencintaimu " ucap Zahra sambil tertawa terbahak - bahak karena berhasil membalas suaminya.
" awas kau ya " ucap Bima merasa gemas kepada istrinya karena merasa berhasil mengerjainya.
kemudian panggilan pun terputus.
kini Bima di seberang sana tersenyum sendiri sambil memutar - mutar ponsel yang berada di tangannya mengingat perkataan istrinya di balik telfon yang baru saja terputus itu.
Zahra kenapa kau menggemaskan sekali sayang, gara-gara dirimu aku menjadi seperti orang yang tidak waras seperti ini, kau sekarang sudah mulai berani menggodaku karena aku tidak ada di sana, awas saja kau ya jika aku sudah pulang . Kemudian Bima tersenyum jahat mengingat lingerie merah yang di hadiahkan mama Alisya.
__ADS_1
sedangkan sekertaris Revan sedari tadi yang berada di samping tuan mudanya itu tersenyum melihat tuan mudanya yang begitu bahagia.