Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
episode 57


__ADS_3

kini jam dinding yang berada di ruangan pasien yang di tempati Zahra telah menunjukkan pukul empat sore.


Zahra perlahan menggeliat pelan, dan melihat sisi kanan kirinya dan kedua bola matanya tertuju kepada Bima yang sibuk dengan layar tipis di depannya.


" sayang " ucap Zahra dengan suara khas orang yang baru bangun tidur.


" kau sudah bangun sayang " jawab Bima yang mulai melangkahkan kakinya ke arah Zahra yang berada di ranjang pasien itu.


" iya sayang " sahut Zahra sambil mengembangkan senyumnya.


" apa istirahat mu begitu nyaman sayang "


" nyaman sekali, sayang tubuhku sangat lengket, aku ingin membersihkan tubuhku di kamar mandi sayang "


" sayang kau tidak boleh banyak bergerak dulu kata dokter, bagaimana kalau aku elap saja tubuh mu dengan memakai handuk kecil yang sudah aku basahi air dingin, sayang supaya kau tidak repot repot ke kamar mandi "


" ta.. ta..tapi sayang "


" tapi apa hah, tapi aku malu begitu kan maksud mu Zahra "


" iya hehehe.. " jawab Zahra sambil cengengesan


" terus saja seperti itu, terserah kau saja mulai sekarang, urus dirimu sendiri "


" sayang kenapa kau begitu "


" kau yang memulainya Zahra, tidak bisakah kau diam sedikit saja, aku hanya ingin memperhatikan wanita yang aku sayangi apa itu salah menurutmu "


" iya kau benar, sayang maaf "


Bima tetap tak menjawabnya.


kemudian Bima memilih kembali ke arah sofa, dan tidak menghiraukan Zahra sama sekali karena merasa kesal pada istrinya yang sangat pemalu itu.


iya kan pasti dia kesal padaku, aku harus melakukan sesuatu gumam Zahra dalam hati.


Zahra bergumam dan sedang memikirkan sesuatu tiba tiba di otaknya muncul ide untuk melunakkan hati Bima.


" awww.. kepalaku sayang tolong aku " ucap Zahra


kenapa dia tetap tidak merespon ya, aku harus mencobanya lagi gumam Zahra lagi.


Bima tetap saja mencoba tak menghiraukannya .


" sayang, aww....ini sungguh sakit sekali "


sedangkan Bima yang sedari tadi mencoba tak menghiraukan istrinya itu, kini Bima langsung menoleh ke arah Zahra yang sedang memegangi kepalanya yang berbalut perban putih itu.

__ADS_1


kemudian melangkahkan kakinya ke arah ranjang yang di tempati oleh Zahra.


" sayang kau kenapa hem, dimana yang sakit, bilang padaku Zahra, hey sayang dengar aku " tanya Bima bingung sambil sesekali memegangi kepala istrinya itu.


" di sini sayang yang sakit "


Zahra mengambil tangan suaminya yang masih memegangi kepalanya itu kemudian mengarahkan tangan Bima ke dadanya.


" Zahra kau jangan bercanda " tanya Bima


" aku tidak bercanda sayang, di sini sakit jika kau marah padaku dan tidak menghiraukan aku seperti tadi "


ucap Zahra yang tulus dari hatinya.


" sayang kenapa kau sekarang pintar sekali menggoda ku hah, dengan kata kata mu itu "


ucap Bima langsung tersenyum mendengar perkataan istrinya itu, karena jarang sekali Zahra seperti itu bahkan tidak pernah.


" aku tidak menggoda mu sayang " rengek Zahra.


" apakah yang aku dengar sebuah kebenaran "


" sayang kau tidak percaya padaku " ucapnya ketus


" iya aku percaya padamu sayang "


" sayang jika kau memelukku terus, kau kapan akan mengelap tubuhku "


ucap Zahra membuat Bima yang mendengar perkataannya istrinya itu langsung tersenyum sumringah.


kemudian Bima langsung melepaskan pelukannya setelah mendengar kan perkataan Zahra itu.


" kau benar mau aku elap tubuhmu Zahra, "


Zahra menganggukkan kepalanya dan di buat seimut mungkin olehnya supaya suaminya terlihat senang, karena di perbolehkannya untuk mengelap tubuhnya yang begitu lengket saat ini.


" istriku kau pintar sekali sayang, sebentar aku akan mengambilkan handuk kecil di dalam laci sana "


" baiklah sayang "


dia sangat senang sekali padahal hanya mengelap tubuhku saja, sebegitu nya kah dia mencintaiku gumam Zahra dalam hati.


tak lama kemudian


Bima kembali dengan membawa handuk kecil dan ember kecil yang berisi air dingin untuk mengelap tubuh istrinya, karena memang di dalam ruangan itu sudah di sediakan sangat lengkap, maklumlah keluarga konglomerat.


" sayang sekarang kau diam lah, aku akan mengelap tubuhmu perlahan "

__ADS_1


" iya sayang aku akan siam, dan menurut padamu apa kau sudah puas suamiku "


" kau ini "


kemudian Bima mencium bibir Zahra sekilas.


setelah itu Bima mulai mengelap tubuh Zahra bagian atas sangat pelan mengusap punggung, leher dan tangan Zahra dengan handuk kecil yang telah di basahi oleh air dan melakukannya dengan lembut.


sedangkan Zahra hanya terdiam dan hanya menurut saja kepada suaminya.


dan sekarang Bima mengelap bagian depan dada Zahra.


perlahan Bima mengelap perut rata Zahra dengan lembut, kemudian Bima mengelap semakin ke atas ke arah dua gundukan Zahra, dan Bima sedikit menjahili istrinya itu, yaitu dengan meremas sedikit dua gundukan milik Zahra.


" ahhh... sayang apa yang kau lakukan " ucap Zahra sedikit mengeluarkan suara ******* kerena kelakuan suaminya.


" sayang kau jangan menggoda ku seperti itu " ucap Bima santai


" siapa yang menggoda mu sayang, kau duluan yang mer....... " jawab Zahra yang tidak melanjutkan perkataan nya itu karena merasa malu sendiri mengatakannya pada suaminya.


" mer... apa sayang, hem, katakan yang jelas " goda Bima.


" sayang kenapa kau suka sekali sih menggoda ku, ah sudahlah lupakan saja "


" hahaha... sayang kenapa kau kesal seperti itu, maksudmu meremas bukan, iya aku sudah tau, aku memang sengaja melakukanya karena aku ingin sedikit saja mencicipinya " ucap Bima sambil sedikit melirik ke arah istrinya.


" sayang apa yang kau katakan sih, kau tidak tau di sini rumah sakit, bukan di mansion kamar kita "


" iya maaf, tapi kan di sini hanya kita berdua sayang, dan ini juga rumah sakit milikku, kan tidak apa apa sedikit saja "


Zahra langsung tepuk jidat, mendengar perkataan suaminya itu.


" tidak, aku tidak mau, dalam keadaan ku yang seperti ini saja kau tidak kasihan padaku, kau selalu mengutamakan kemauan mu sayang " ucap Zahra merengek dan sedikit kesal.


" iya baiklah, tidak jadi sayang, jika kau tidak mengizinkannya sebaiknya aku melanjutkan pekerjaanku saja di sana " jawab Bima lesu dan sedikit cemberut.


" iya iya baik lah, tetapi sebentar saja " sahut Zahra yang merasa bersalah kepada suami posesif nya itu.


" dasar pelit " ucap Bima yang merasa kalau istrinya sangat pelit padahal itu juga haknya sebagai seorang suami yang meminta kepada istrinya.


" apa kau bilang sayang pelit, ah sudahlah tidak jadi " jawab Zahra merasa sedikit kesal juga di kata pelit oleh suaminya sendiri.


" ah iya, iya sayang jadi " ucap Bima yang tidak melewatkan kesempatannya itu meskipun hanya sebentar.


kemudian Zahra melepaskan dua kancing baju atasannya yang berwarna biru itu, sedangkan Bima langsung tersenyum sumringah seperti mendapat sebuah hadiah yang begitu sangat berharga ketika kedua kancing milik istrinya itu telah terbuka.


dan Bima langsung menjalankan aksinya, bermain dengan kedua gundukan milik Zahra yang begitu ia rindukan itu.

__ADS_1


__ADS_2