Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
episode 62


__ADS_3

" sayang ayo pelan pelan aku akan menggendong mu untuk duduk di kursi roda " ucap Bima kepada istrinya.


" sayang aku akan mencoba sendiri " jawab Zahra


" Zahra bisakah kau diam " ucap Bima tegas


" iya, iya maaf " jawab Zahra dengan nada sedikit lesu.


setelah mendengar perkataan suami nya itu kini Zahra mulai menciut nyalinya, dan memilih diam dan mengikuti semua perkataan suami dinginnya itu.


dan saat ini Zahra telah duduk di atas kursi roda, dan Bima pun mulai mendorong pelan kursi roda tersebut.


sedangkan sekertaris Revan siap siaga di depan atasannya itu, kemudian membukakan handel pintu kamar untuk tuan dan nona mudanya keluar dari ruang itu.


" silahkan tuan " ucap sekertaris Revan


" Terima kasih sekertaris Revan " jawab Zahra dengan tulus,


sedangkan Bima hanya diam seperti biasa tak berniat membalas ucapan bawahannya itu.


kemudian Bima melanjutkan untuk mendorong kursi roda yang di duduki istrinya itu secara perlahan,


dan sesampainya Bima di lantai bawah rumah sakit, kini semua para dokter yang sudah berada di sana itu berjejer sangat rapi menyambut kepulangan dari istri pemilik rumah sakit terbesar itu dan juga istri dari pengusaha muda tersukses sekaligus menantu dari konglomerat terkaya di negaranya sendiri.


kini suara riuh mulai terdengar di telinga Zahra Bima sekertaris Revan setelah sampainya di sana, karena juga para dokter banyak yang masih penasaran tentang sosok istri yang masih di rahasiakan di depan public itu.


sedangkan sekertaris Revan sudah berada di g garis depan supaya tuan dan nona mudanya bisa berjalan tanpa ada hambatan.


" semoga lekas sembuh nona Zahra " ucap salah satu dokter perempuan.


" istri tuan Bima sangat cantik ya " ucap dokter satunya lagi.


" nona Zahra ternyata sangat cantik " ucap dokter perempuan yang sedikit gendut.


" iya ternyata masih muda " ucap dokter laki-laki yang suka kepo.


" lekas sembuh nona Zahra " ucap dokter perempuan yang bernama dokter Rani sahabat dokter Toni.


" iya terima kasih semuanya " ucap Zahra sambil mengumbar senyuman yang seperti tak bisa hilang dari wajah cantiknya.


sedangkan Bima tetap saja terlihat angkuh,berjalan lurus tanpa menghiraukan seluruh dokter yang memberi ucapan kepada istrinya, dan sekertaris Revan biasa biasa saja bahkan terkesan cuek kepada seluruh bawahannya karena itu adalah biasa menurutnya.


dan yang terakhir ada dokter Toni


" nona selamat atas kesembuhan anda, ingat lelaki di dekat anda ini sangat membutuhkan anda "


" ehemmmmm "


bima sedikit berdehem seolah mengingatkan teman lelaki nya itu untuk segera menyingkir.

__ADS_1


" saya hanya bercanda tuan, tuan Bima jangan lupa ya dua kali lipat nya "


" hem " jawab singkat bima.


Zahra langsung tersenyum mendengar kedua lelaki di sampingnya itu seperti bercanda tetapi berniat mengejek satu sama lain.


sedangkan sekertaris Revan kini sudah berjalan ke arah mobil mewah hitam itu dan sudah siap membuka pintu mobil untuk kedua atasannya itu.


sedangkan Bima dan Zahra melanjutkan langkahnya menuju arah mobil yang sudah terparkir rapi dengan pintu mobil yang sudah di buka oleh sekertaris Revan, yang berada di depan pintu besar rumah sakit milik Bima sendiri.


setelah sampainya di depan mobil


" silahkan tuan muda " ucap sekertaris Revan.


" hem " jawab singkat Bima.


" Terima kasih sekertaris Revan "


ucap Zahra kepada sekertaris Revan dengan senyum manisnya.


" ayo sayang aku akan menggendong mu " ucap Bima kepada istri kesayangannya itu.


" ya terserah kau saja "


ucap Zahra yang malas berdebat dengan suaminya itu, padahal dirinya ingin sekali duduk sendiri di dalam mobil, dan mencoba merenggangkan kakinya ya tetapi apa mau di kata kalau titah sang raja sudah tidak bisa di ganggu gugat, Zahra hanya bisa mengiyakan saja kemauan suaminya.


kemudian Bima mulai masuk ke dalam mobil dengan menggendong tubuh Zahra ke dalam pelukannya kemudian perlahan mendudukkan bokongnya di kursi belakang bagian penumpang.


di dalam perjalanan pulang hanya ada keheningan.


sesekali Bima mencium bibir istrinya itu.


cup


cup


" sayang apa yang kau lakukan " tanya Zahra yang kaget dengan perlakuan Bima yang tiba tiba itu.


" memangnya tidak boleh hah.. hah " ucap Bima kepada istrinya.


" bukan beg... "


belum selesai Zahra melanjutkan perkataannya tiba tiba Bima kembali menciumnya lagi.


cup


cup


" sayang jangan seperti itu, kau tidak malu ada sekertaris Revan " bisik Zahra kepada suaminya.

__ADS_1


" biarkan saja sayang, anggap saja sekertaris Revan tidak ada " jawab Bima yang seperti biasa biasa saja itu.


" iya kan Van " ucapnya kepada sekertaris Revan.


" iya tuan " jawab sekertaris Revan santai.


sedangkan Zahra tak berniat sama sekali membalas perkataan suaminya itu.


dan kini Zahra merasa urat malunya benar benar putus gara gara ucapan kedua lelaki di dekatnya itu yang sangat santai menanggapinya.


" sayang aku ingin duduk sendiri "


" tidak, aku tidak ingin menurunkan mu "


" terserah kau saja "


Bima tersenyum mendengar jawaban istrinya itu, dan Bima juga tau kalau istrinya itu sebenarnya sedikit merasa kesal, tetapi Bima mendiamkan saja, karena Bima tidak ingin berniat sama sekali memindahkan tubuh istrinya itu dari gendongannya.


kini mobil mewah yang mereka naiki mulai membela keramaian kota, banyak kendaraan yang lalu lalang di sana dan juga banyak orang-orang berjalan kaki kesan kemari dengan segudang aktifitas nya.


dan beberapa saat kemudian


mobil yang mereka tumpangi telah masuk ke area pekarangan mansion.


dan mobil mulai berhenti tepat di depan pintu besar mansion bak di negeri dongeng itu, sekertaris Revan sudah siap membukakan pintu mobil untuk kedua atasannya itu dan perlahan Bima keluar dari dalam mobil mewah itu sambil menggendong istri kesayangannya.


kemudian keduanya di sambut hangat oleh kepala pelayan yang tak lain adalah pak Tejo dan seluruh pelayan perempuan yang berada di dalam mansion, mereka semua telah ber baris rapi di sana menyambut tuan dan nona mudanya yang baru pulang dari rumah sakit itu.


" selamat datang kembali nona Zahra "


ucap seluruh pelayan di mansion dan juga sekertaris Revan.


" iya Terima kasih semuanya "


sedangkan Bima seperti biasa hanya cuek saja dan tetap terlihat angkuh di hadapan para pelayannya.


Karena menurut mereka semua itu adalah hal yang sudah biasa, tetapi di sisi lain tuan mudanya itu sangat sangatlah baik kepada seluruh pelayan pelayannya yang berada di mansion itu.


Bima melanjutkan langkahnya menuju lantai atas dan kini dirinya mulai menaiki anak tangga


beberapa saat kemudian mereka telah sampai di lantai atas tepat nya di depan pintu kamar mereka berdua saat ini.


" sayang buka pintunya, tanganku sibuk menggendong tubuhmu "


" iya baiklah "


cek klek


suara handel pintu yang di buka oleh Zahra.

__ADS_1


kemudian Bima melangkahkan kakinya menuju ranjang king size nya itu, dan mulai menaruh tubuh Zahra perlahan di atas.


__ADS_2