Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
episode 70


__ADS_3

" aku akan segara menemuinya Van "


" benar tuan, cepat anda temui nona sekarang, semangat tuan "


" hem "


kemudian Bima melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerjanya kemudian menuju arah kamarnya bersama Zahra, sedangkan sekertaris Revan mengekori tuan mudanya dari belakang dan berhenti di depan kamar pribadi tuan mudanya.


dan Bima mulai membuka handel pintu kamar perlahan dan langkahnya terhenti sejenak Bima terdiam,


Bima tak mendapati sosok istrinya di sana, kamarnya sudah kosong dan hanya ada kucing kecil peliharaan Zahra di dalam kandang kecilnya Bima pergi ke arah kamar mandi, dan juga ruang ganti tapi tak menemukan sama sekali keberadaan istrinya.


Zahra kau dimana, sayang maafkan aku, aku akan mendengarkan penjelasan mu Zahra, aku akan mendengarkan, ucapnya dengan mengacak acak rambutnya kasar dengan matanya yang mulai mengeluarkan cairan bening itu.


kemudian Bima duduk di sisi ranjang king size nya itu, yang sudah tak berbentuk akibat permasalahan tadi.


Bima melirik ke arah nakas ada sebuah secarik kertas dan dia atasnya masih ada pulpen yang tidak tertutup rapat di sana.


kemudian Bima mengambilnya perlahan dan mulai membacanya.


maafkan aku sebelum nya, aku tau aku salah kepadamu dan kesalahan ku ini sangatlah fatal, meskipun kau tak pernah mendengarkan penjelasan ku, aku tau kau tidak akan pernah memaafkan kesalahan ku. Dan bukalah lemari kecil itu dan di dalam nya ada buku nikah antara kita berdua jika kau akan mengajukan perceraian kepadaku, aku akan menerimanya.


Dan juga sampaikanlah permintaan maaf ku kepada mama Alisya dan papa Brandon karena aku tidak bisa menjadi menantu yang mereka harapkan. Dan maaf sebelumnya aku akan berusaha dengan keras untuk mengganti semua pembiayaan pengobatan ayah kepada mama Alisya setelah aku mendapatkan pekerjaan nanti, dan tolong jangan limpahkan semua ini kepada ayah ibuku... Zahra...


begitulah kira kira isi surat yang di tulis Zahra kepada suaminya.


sedangkan Bima yang membaca surat itu, kini dirinya mulai meneteskan lagi air matanya yang sudah kering sedari tadi dan sekarang sudah luluh kembali mengalir di pipinya.


kini dirinya menyesali semuanya, sangat menyesal telah memarahi istrinya sampai mencengkram dagu Zahra, bahkan sampai Zahra meneteskan air matanya karena kesakitan atas apa yang di lakukan nya tadi.


Dan dirinya menyesal tanpa mendengarkan penjelasannya Zahra terlebih dahulu, dan terus menekan dagu Zahra sampai kebiru biruan.


ZAHRA


ucapnya seperti sudah lemas karena kehilangan seseorang gadis yang sangat ia cinta.


kau di mana sekarang sayang, kau dimana, ini semua memang salahku, salahku, salahku ucapnya seperti sudah putus asa.


sebaiknya aku segera mencarinya sekarang, Zahra tidak boleh meninggalkan aku, dia hanya milikku ucapnya lagi lagi kemudian mengusap kedua pipinya yang telah basah dengan air matanya.


kemudian Bima berlari keluar kamar dan mendapati sekertaris Revan berada di depan pintu kamarnya yang sangat luas itu.


" Van ayo cari istriku "


" baik tuan "


kemudian keduanya pun berlari kecil menuruni anak tangga dan setelahnya di lantai bawah mereka langsung melangkah keluar menuju arah mobil yang masih terparkir rapi di depan pintu besar mansion miliknya.


kini Bima langsung masuk ke dalam mobil tanpa perlu di bukakan sekertaris Revan, kemudian sekertaris Revan langsung membuka pintu mobil di bagian kemudi.


dan sekertaris Revan mulai menancapkan pedal gasnya dengan kecepatan tinggi.


sedangkan para pengawal yang enak enak bermain catur sedari tadi di sana di buat kaget, dengan kedua atasannya itu yang sangat cepat mengendarai mobil mewahnya melewati gerbang.

__ADS_1


awas saja kalian tunggu saja aku akan memecat kalian semua gumam sekertaris Revan.


sekertaris Revan bergumam sambil merasa kesal kepada para penjaga yang merasa tidak becus menjaga mansion milik tuan mudanya itu.


kini mobil yang mereka kendari mulai menyusuri tepian jalan,


" Van aku yakin Zahra pasti pergi ke arah rumah ibunya "


" apa mungkin tuan "


" percayalah padaku, kau tau kan Zahra adalah gadis yang sangat polos, di tidak akan pergi jauh dari keluarga nya Van


" benar juga tuan, baik tuan saya akan sedikit mempercepat kendaraan nya "


dan kini mobil yang mereka naiki melaju sangat pesat menyusuri sepanjang jalan ke arah rumah ibu Zahra


dan beberapa saat kemudian.


" tuan tuan coba anda lihat bukankah itu nona Zahra tuan "


" iya Van kau benar cepat pinggirkan mobilnya "


" baik tuan "


dan mobil mewah yang mereka tumpangi pun berhenti di depan Zahra.


bukankah itu mobil.. . gumam Zahra


gumam Zahra setelah melihat di depan nya ada mobil mewah yang berhenti mendadak yang menghalangi langkahnya.


kemudian Zahra berbalik arah dan melangkahkan kakinya kembali dan baru beberapa langkah tangannya di tarik oleh seseorang dari belakangnya.


" Zahra '' ucap lelaki itu yang tak lain adalah Bima


Zahra tetap tak menoleh kebelakang.


" Zahra pulanglah bersamaku, kita jelaskan semua persoalan ini di mansion "


kemudian Zahra menoleh ke arah Bima yang sedari tadi memegang tangan satunya itu.


" apa sebaiknya kita pilih jalan kita masing-masing saat ini, mungkin itu akan membuatmu bahagia "


jawab zahra dengan nada yang lelah.


*dagunya, ap.. apa itu kelakuanku, gumamnya gagap.


apa yang aku lakukan kan, dagunya sampai membiru, Zahra maaf kan aku, maafkan aku sayang gumam Bima lagi dalam hatinya yang begitu sangat merasa bersalah*.


Bima bergumam ketika Zahra telah menoleh ke arahnya yang sesekali menundukkan kepala itu.


" sayang apa yang kau katakan, aku bahagia hanya dengan mu Zahra "


ucapnya begitu sangat tulus kepada sang istri.

__ADS_1


Zahra hanya diam, karena juga merasa nyeri di belakang kepalanya yang tak hilang - hilang.


dan tanpa babibubebo bima langsung menggendong tubuh istrinya masuk ke dalam mobil hitam mewah itu, tanpa menghiraukan kanan kiri yang banyak pasang mata melihat ke arah mereka berdua.


" akkkkkhh.. apa yang kau lakukan "


kalau begini wajah yang menakutkan itu hilang, dasar suami menyebalkan, aku tau sampai mansion pun dia pasti akan tetap memarahiku, tanpa mendengar penjelasanku, gumam Zahra dalam hati.


" diamlah "


" jalan Van "


" baik tuan "


Zahra hanya diam dan tak ingin bicara sama sekali, karena dirinya saat ini mencoba menahan rasa nyeri di belakang kepalanya yang terus berdenyut, dan di dalam mobil hitam mewah itu hanya ada keheningan selama perjalanan pulang.


lima belas menit kemudian


mobil mewah yang di kendari sekertaris Revan telah sampai di pekarangan mansion dan sekarang sekertaris Revan telah siap membukakan pitu mobil untuk tuan dan nona mudanya.


cek klek


" silahkan tuan " ucap sekertaris Revan


" hem "


kemudian Bima keluar sambil menggendong tubuh istrinya perlahan.


Zahra hanya memejamkan matanya sesekali.


" sayang kau kenapa hem "


Zahra tak berniat membalasnya hanya diam saja.


" Zahra jawab aku "


" Zahra jangan membuatku khawatir sayang "


" tuan "


panggil sekertaris Revan di belakangnya yang masih mengekor di belakang Bima sedari tadi.


" DIAMLAH "


" tuan lihat di belakang anda, darah terus saja menetes "


kemudian Bima melihat ke belakang memang benar banyak tetesan darah di belakang langkahnya.


kemudian Bima melihat ke arah Zahra.


" sayang ada apa denganmu hah,sayang bangunlah Zahra, jangan diam seperti ini "


" tuan jangan jangan jahitan di kepala nona "

__ADS_1


Bima kembali melihat ke arah sekertaris Revan.


setelah itu pandangannya kembali melihat melihat mata Zahra sudah terpejam dan tak berniat membuka nya sama sekali.


__ADS_2