Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
Dinda kritis


__ADS_3

Sedangkan di lantai atas Revan yang tengah berada di dalam kamar sebelah itu, kini mulai duduk di sisi ranjang dengan perasaan nya yang masih kesal pada sang istri.


Tetapi perasaan nya kini seolah olah tak enak seperti ada sesuatu yang mengganjal.


Kenapa Adinda tak menyusul ku sih padahal aku berharap dia datang dan merajuk padaku minta maaf dan memelukku, apa dia sedang kesal juga padaku.... emmm... apa aku lihat saja di kamar, apa dia berniat memilih tidur sendiri karena kekesalan nya padaku.. akh sebaiknya aku melihat nya saja, bagaimana kalau mimisan nya kumat lagi dan aku tak ada di sana monolog Revan.


Kemudian sekertaris tampan tersebut berniat untuk segera menuju kamar utama kamar dimana tempat nya dirinya tidur bersama sang istri.


JEG GLEK..........


suara handel pintu yang baru saja dibuka Revan.


Kini pandangan Revan mulai menyapu seluruh ruangan kamar luas nya tersebut.


" Adinda.... kau dimana sayang, Din Dinda " ucapnya.


dengan hati yang kini mulai panik, karena sekertaris Revan sangat takut jika sudah tak menemukan keberadaan Adinda karena pasti ada saja yang terjadi pada gadis yang kini sudah berstatus istrinya itu.


Seperti waktu itu dirinya di sergap oleh kepanikan yang sangat teramat, menemukan tubuh Adinda yang sudah tergeletak tak berdaya di lantai kamar mandi karena mimisan nya.


Langkah nya kini mulai menuju ke ruang ganti dan kamar mandi tapi menemukan keberadaan sang istri.


" Dinda ini sudah malam jangan membuat ku khawatir, jika kau marah padaku aku minta maaf Din..." ucap nya lagi.


Karena tak mendapati keberadaan Adinda, sekertaris Revan segera turun ke lantai bawah mencari keberadaan istri.


Revan mulai mencari di teras teras depan, di lihatnya gerbang masih tertutup rapat,


Dinda kau dimana sih, plis.....jangan membuat seperti pria gila karena dirimu Din, apa dia sengaja bersembunyi untuk mengerjai aku baiklah aku akan mencari mu sampai ketemu monolog nya.


Kemudian Revan bergegas masuk ke dalam, ia mulai mencari di di area dapur mewah nya yang serba berwarna putih tersebut.


Tetapi tetap saja tak menemukan keberadaan sang istri.

__ADS_1


Pria itu kembali lagi ke lantai atas membuka satu persatu kamar untuk menemukan keberadaan Adinda yang menurutnya saat ini tengah mengajaknya petak umpet itu.


Dia kemana sih sebenernya, aku mencari nya di sana sini tapi tak ada, kau benar-benar mengetes kesabaran ku Dinda lihat saja kalau kau sudah ketemu nanti aku akan memberimu hukuman sampai kau tak sanggup bangun dari ranjang, akhh... sepertinya itu terlalu jahat juga, kemana lagi ini aku mencarinya awas kau ya Din monolog Revan panjang lebar.


Revan mulai berfikir di bagian mana lagi belum ia cari keberadaan Adinda, sejenak ia terdiam kemudian mengembangkan senyumnya.


Dengan segera ia pergi ke taman samping rumah mewah nya tersebut yang di tumbuhi banyak penghijauan di sana.


Revan mulai menoleh kanan kiri tetapi tak mendapati sang istri, Revan terus melangkah di lihatnya ada sepasang sandal jepit putih berwarna putih di dekat kolam yang sedikit jauh dari dirinya berada saat ini.


hehehe... benar kan dia sedang bersembunyi di sini, kau kurang pintar Dinda meninggalkan sendal mu di sini hehehe... batin Revan sambil sedikit tertawa.


Revan mulai melangkah mendekati sisi kolam renang.


Karena lampu taman sudah di matikan mungkin karena sudah tengah malam, Revan tak begitu jelas melihat tubuh Adinda di dalam sana.


Perlahan ia mendekati arah ke kolam renang berniat untuk mengambil sandal milik Adinda, kini pandangannya yang tak begitu jelas tadi langsung tertuju pada kolam renang yang seperti ada sebuah sesuatu di dalam sana yang mulai membuat nya khawatir.


" D I N D A "


Ya pria itu langsung menceburkan tubuhnya kedalam kolam renang yang sedikit dalam itu.


Perlahan sekertaris Revan mulai mengangkat sesuatu dari sana, dan memang benar itu tubuh Adinda gadis yang sangat ia cintai selama ini.


Dinda bangun Dinda, sayang bangun lah hei...Din jangan buat aku khawatir sayang ucap Revan sambil menepuk pelan pipi milik Dinda.


Setelah itu pria tampan tersebut mulai memberi nafas buatan kepada mulut Adinda, Revan terus melakukan nya berulang kali tetapi tetap tak ada respon kemudian ia berniat memeriksa denyut nadi sang istri yang kini seluruh tubuh nya sudah memucat pasih.


Denyut nadi nya tidak... tidak... tidak mungkin Dinda bangun sayang, kau tidak boleh meninggalkan aku ucap nya lagi sambil menepuk pelan pipi Adinda kemudian mendekap tubuh Adinda ke dalam pelukan nya.


Dengan segera Revan yang melihat keadaan Dinda yang kini sudah sangat mengkhawatirkan itu, langsung menggendong tubuh sang istri untuk membawanya ke rumah sakit


Dinda bertahan lah ucap Revan terdengar pilu.

__ADS_1


*


*


Di rumah sakit.


Seluruh dokter sudah mulai berhamburan untuk pulang, sedangkan Revan baru saja tiba di depan rumah sakit milik sang atasan nya tersebut dengan menggendong tubuh Adinda yang sudah kritis saat ini.


Revan berlari kecil menuju ke dalam rumah sakit membawa tubuh Adinda agar nyawanya cepat terselamatkan.


" Revan " panggil Toni yang tengah berada di lorong rumah sakit.


" Dokter Toni cepat tolong istri ku dia sedang kritis " ucap Revan dengan keadaan dirinya yang sudah acak acakan.


" Suster brankar nya cepat " ucap dokter Toni


" ba.. ba.. baik dok " jawab seorang suster.


Dengan segera dokter Toni dan beberapa dokter lain nya yang juga akan pulang tadi kini kembali mengambil tugas untuk segera mendorong brankar yang berisi tubuh Adinda untuk segera menuju ruangan yang serba putih tersebut .


Untuk menyelamatkan suatu nyawa seseorang gadis berparas ayu yang kini keadaan nya terlihat sudah pucat pasih bahkan seperti mulai membiru.


Ya kini ruangan itu sudah mulai tertutup rapat.


Sedangkan sekertaris Revan berada di luar ruangan sambil mondar mandir tak karuan, dengan keadaannya yang masih basah seluruh dan terlihat sangat kacau.


Dinda bertahan lah aku yakin kau akan baik baik saja Dinda monolog Revan yang kini perlahan mulai duduk di kursi tunggu.


sesekali pandangan nya menatap ke atas langit langit rumah sakit dan tak terasa lelehan air matanya mulai merembes ke bawah lewati rahang tegas nya.


Ya Tuhan jangan biarkan di pergi dariku, Dinda jika terjadi sesuatu padamu orang pertama yang harus di salahkan itu aku.....dia satu satunya wanita yang aku cintai jadi biarkan dia bersama ku aku mohon ucap nya terdengar begitu pilu dengan lelehan air matanya yang kembali merembes ke mana mana.


Sesekali sekertaris tampan itu mengusap kasar wajah tampan nya.

__ADS_1


Sedangkan di dalam ruang serba putih itu, ketiga dokter mulai kembali memancing detak jantung Adinda yang mulai melemah dengan alat medis nya


Sesekali dokter Toni kembali menggosok gosokkan kedua alat medis di tangan nya yang seperti setrika, ketiga dokter tersebut kembali saling pandang dan kembali menggeleng kan kepalanya sambil memejamkan kedua matanya.


__ADS_2