
kemudian Bima menjelaskan semua mulai dari bertemu dengan teman SMP nya Zahra dahulu yang dia marah marah dan cemburu kepada Zahra, kemudian sampai dia bertemu dengan Hanna dan berpelukan sebagai tanda persahabatannya dulu di luar negri meskipun itu hal biasa di sana, dengan teman lamanya itu, sampai dia melupakan Zahra yang sedari tadi menunggunya dan memandangi dirinya dari arah kejauhan yang sedang asyik berbincang dengan teman lamanya itu, dan juga menjelaskan kalau Zahra akan pulang sendiri tanpa bantuan darinya dan terjadi hal yang tak di inginkan itu lah.
" pantas saja Zahra kesal padamu kak karena kau yang memulainya, kau tau kak Zahra itu adalah gadis yang sangat polos, dia tidak pernah yang namanya berpacaran, dia berbeda dengan gadis yang lain kak setahuku, dan kau tau kak setiap hari di sekolah dia selalu mendapat kiriman bunga,surat cinta,boneka dan bahkan masih banyak lagi dari laki-laki yang mengaguminya di sana.
Tetapi dia sama sekali tidak pernah memperdulikannya, dia selalu serius dalam sekolahnya dan dia tidak ingin menyia nyiakan kesempatan sekolahnya di sana, dan Zahra juga di sana suka di bully kak karena dia anak seorang yang miskin, dan banyak juga yang menyangka nya bersekolah di sana hanya ingin mendapatkan laki-laki yang kaya dan membawa mobil mobil mewah karena kecantikannya yang tak pernah terbukti kebenarannya sama sekali, karena memang dia adalah gadis baik baik kak dia sangatlah polos, jangan kau lukai dia kak "
jelas Hendra panjang lebar yang juga di dengar oleh sekertaris Revan dan juga pak Tejo di sana.
" terimakasih kau sudah menjelaskan semua tentang istri ku, dan memang sebenarnya aku tidak berniat melukai hatinya kau tau, karena aku memang sangat mencintainya, aku sangat sangat mencintainya, itu hanya salah faham saja, dan aku akan menjelaskan kepadanya setelah dia sadar " ucap Bima memang dengan tulus tulus dari hatinya.
" bagus lah kak jika kau memang benar-benar mencintai Zahra, aku sangat lega kak karena dulu dia adalah teman dekatku dan aku hanya ingin dia bahagia itu saja, ya memang dulu aku juga pernah menyukainya sih,tetapi sekarang sudah tidak kak, karena dia telah menjadi milikmu "
jelas Hendra lagi kepada Bima dan juga pengakuan nya kepada kakaknya itu.
" APA, jadi kau pernah suka kepada istriku hah " ucap Bima sedikit kesal kepada adiknya itu.
" iya kak tetapi itu kan dulu kau ini, hihihi... ampun " ucap Hendra sambil cengengesan kepada kakaknya.
sedangkan sekertaris Revan dan pak Tejo ikut tersenyum bahkan ingin terbahak bahak, melihat tingkah kedua kakak adik atasannya yang saling beradu mulut itu.
dan beberapa saat kemudian
Zahra mulai membuka matanya perlahan.
'' sayang kau sudah sadar ''
Zahra masih diam tak menjawabnya.
" sayang ini aku suamimu Zahra " Zahra tetap diam saja, hanya mengedipkan mata sesekali.
Zahra mulai memegangi kepalanya.
" sayang bicaralah, aku suamimu sayang "
__ADS_1
" kepalaku sakit "
" mana yang sakit sayang hah, bilang padaku aku akan memecat semua dokter yang menangani mu tidak becus itu "
" Aww... sakit "
seperti nya aku harus sedikit mengerjai nya, aku tau dia saat ini sedang bingung, sekali kali aku kerjain kan tidak apa apa hahaha... gumam Zahra dalam hati.
Zahra bergumam dalam hati karena memang dirinya masih merasa kesal kepada suaminya itu.
" kau siapa hah " tanya nya kepada Bima.
" sayang aku suamimu "
" tidak tidak, tidak mungkin suami ku menyebalkan seperti dirimu "
" apa kau bilang, sayang kau kenapa aku suami Zahra "
" tidak, kau bukan suamiku "
" sekertaris Revan, ada apa dengan Zahra ku hah, bukankah kau tadi juga mendengarnya kalau dia gegar otak ringan, dan bukan amnesia iya kan " ucap Bima sambil membalik tubuhnya ke arah sekertaris Revan memastikan dugaannya benar.
sedangkan Zahra yang melihat suaminya membalikkan tubuhnya ke arah sekertaris Revan itu, kini Zahra langsung mengedipkan mata ke arah sekertaris Revan yang sedang menghadap ke arah suaminya itu tetapi masih terlihat Zahra yang mengedipkan matanya di belakang untuk ikut ke dalam rencananya mengerjai suaminya itu.
" iya tuan, mungkin juga nona Zahra mengalami amnesia tuan itu bisa jadi tuan "
sebaiknya aku ikut rencana nona Zahra, jarang sekali bahkan tidak pernah bisa aku mengerjai tuan muda yang sedikit menyebalkan itu yang sering menakuti memotong gaji itu gumam sekertaris Revan dalam hati.
sedangkan Hendra dan pak Tejo juga sudah dapat kode dari Zahra dan mereka setuju mengerjai lelaki dingin itu, karena mereka tau jika ada nona mudanya tuan mudanya itu tidak akan bisa berani marah di depannya, itulah kira - kira yang berada di otak ke tiga lelaki itu.
" iya kak jangan jangan Zahra amnesia, bahkan dia tidak mengenalmu kak "
" tidak, itu tidak mungkin " kemudian berbalik lagi menghadap Zahra yang berada di ranjang pasien itu.
__ADS_1
" sayang apa kau ingat aku suami mu Zahra, aku mencintaimu dan kau juga mencintaiku "
" tidak kau bukan suamiku " ucap Zahra kemudian menunjuk ke arah Hendra.
" ya kau sini, dia adalah suamiku, sayang apa kau tidak ingin memelukku "
kemudian Hendra mendekat ke arah ranjang, dan Zahra mencoba membalas dendam kepada suaminya saat ini yaitu dengan memeluk Hendra sedikit lama, sontak membuat Bima yang berada di depan matanya itu murka.
melihat istrinya berpelukan dengan Hendra.
" minggir kau " ucapnya kepada Hendra.
" sayang dengar aku " ucap Bima yang mulai ketakutan melihat istrinya yang takut melupakan dirinya itu.
" sayang, Zahra ku, lihat kedua mataku baik baik, aku suamimu sayang, suami yang setiap hari selalu menggoda mu agar kau tersenyum, kau ingat padaku sayang "
ucap Bima menjelaskan kepada Zahra dengan menangkup kedua pipi Zahra dan memandang intens kedua bola mata indah milik Zahra, sekilas buliran air mata Bima jatuh membasahi pipinya.
apa, dia sampai meneteskan air matanya karena dia sangat takutnya melihat aku yang melupakan nya, sebaiknya aku segera mengakhiri sandiwara ini aku kasihan melihatnya seperti ini hatiku terasa teriris gumam Zahra dalam hati.
kemudian Bima langsung melepaskan kedua tangannya dari pipi mulus Zahra.
setelah itu Bima langsung berbalik dan melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar pasien yang di tempati Zahra itu tanpa sepata kata pun, sambil menghapus sisa air mata yang membasahi pipinya itu.
sedangkan kan sekertaris Revan, Hendra, dan pak Tejo tak menyangka melihat lelaki dingin yang selama ini tak pernah mengeluarkan air mata itu kini menangis karena begitu takutnya istri kesayangannya melupakan dirinya gara gara amnesia, amnesia ya itu adalah rencana mereka tadi dan tak menyangka tuan mudanya sampai meresponnya sampai seperti itu.
" sebaiknya kita akhiri saja semua ini, aku merasa bersalah kepada suami ku, kalian mengerti kan " ucap Zahra setelah Bima keluar dari ruangannya.
" iya kami mengerti " jawab ke tiga laki-laki itu
" ya sudah kalian sekarang hanya diam, seterusnya adalah urusanku, dan kalian tenang saja, suamiku tidak akan memarahi kalian okey "
" baik nona " ucap sekertaris Revan dan pak Tejo bersamaan
__ADS_1
" baik Za " jawab Hendra sangat takut sekali di marahi kakaknya itu karena Zahra memeluknya karena sandiwara itu.