
Di sebuah kamar.
Sheina masih setia duduk merengkuh kedua lututnya di depan dada, duduk bersandar di balik pintu kamar dan berharap pria yang telah mengunci nya di dalam kamar nya itu alias Barra segera datang untuk membukakan pintu untuk dirinya.
Sheina terus memegangi perutnya yang sedari tadi siang sudah berbunyi untuk kesekian kalinya karena menahan lapar,
wajah nya terlihat sangat lemas dan pucat, sesekali tangan nya mencoba mengetuk pintu kamar berharap ada seseorang di luar sana.
tok.... tok.... tok....
" Buka pintu nya aku sangat lapar " ucap nya dengan nada suara yang sangat pelan.
Beberapa saat penglihatan nya mulai tak jelas, kedua matanya terlihat sayu seakan ingin tertutup.
Seketika dengan tiba tiba terdengar sedikit bunyi langkah yang mulai mendekat ke arah pintu kamar dan mencoba membuka kunci nya di sana.
Sheina berusaha menggeser sedikit posisi duduk nya agar pintu kamar mudah di dorong seseorang itu dari luar.
JEG... GLEK....
pintu kamar terbuka lebar.
Seseorang pria tampan yang mengunci dirinya tadi pagi langsung memanggil Sheina begitu pelan.
" Sheina " panggil nya, dengan rasa yang teramat sangat bersalah mendapati Sheina yang tengah terduduk di lantai sambil menunduk kan kepala bertopang pada kedua lutut miliknya.
Barra langsung berjongkok memeluk tubuh itu dengan sangat erat nya.
" Sheina maafkan aku " ucap nya dari dalam hati.
Kemudian perlahan melepaskan pelukan itu, mendongakkan sedikit kepala Sheina ke atas agar menatap ke arah nya.
" maafkan aku " ucap nya lagi, menatap wajah cantik Sheina yang terlihat lemas di hadapan nya.
" sudah puas heh " ucap Sheina dengan sisa sisa tenaga yang ia punya saat ini.
__ADS_1
" Shei aku sungguh sungguh, tadi aku berniat... "
" aku tidak butuh penjelasan mu, keluar aku bilang, keluar " kekeh Sheina.
" tidak aku tidak mau, aku membawakan makanan untuk mu "
" pergi " teriak nya.
Barra tak menghiraukan teriakan Sheina yang berniat mengusirnya, justru ia kembali meraih tubuh Sheina ke dalam dekapan nya.
" maaf kan aku, aku tak berniat jahat padamu Shei tadi ada sesuatu hal yang harus aku selesai kan di luar sana sampai membuatku lupa waktu, Sheina kau memaafkan aku kan, aku membawakan makanan untukmu aku tau kau sangat lapar "
jelas Barra panjang lebar di sela sela pelukan erat nya sesekali ia mencium pucuk kepala gadis yang ia cintai itu.
Sheina yang berada dalam pelukan Barra tak berniat sedikit pun menjawab penjelasan yang Barra utarakan, ia seolah hanya diam seribu bahasa.
" Sheina kau memaafkan aku kan " ucap Barra lagi sambil sedikit menggoyang goyang kan bahu Sheina.
" jawab aku Shei " lagi lagi Sheina tak berniat menjawab perkataan nya.
setelah itu ia meletakkan separuh tubuh Sheina di lengan sebelah kirinya, dan mendapati Sheina sudah pingsan serta tubuh nya yang terkulai lemas.
" Sheina " ucapnya syok.
Dengan cepat Barra langsung menggendong tubuh Sheina dan menaruhnya di atas ranjang.
'' Sheina bangun Shei " ucap nya sambil menepuk pelan pipi mulus milik Sheina.
Gadis itu tak kunjung bangun, Barra mulai di selimuti kekhawatiran ia mulai mencari kotak obat mencari sesuatu agar bisa membuat Sheina terbangun untuk sementara.
Sesaat Barra sudah menemukan sesuatu yang ia butuhkan.
kemudian sedikit mengoleskan minyak di bagian bawah hidung Sheina.
" Shei bangunlah, jangan membuatku khawatir " ucap nya.
__ADS_1
Sambil menunggu Sheina sadar Barra segera mengambil makanan serta piring di lantai bawah.
*
Kembalinya dari lantai bawah, Barra membawa sepiring makanan beserta segelas susu untuk Sheina dan menaruh nya di atas nakas.
setelah itu kembali duduk di sisi ranjang sambil memandangi wajah pucat sangat istri.
Sedangkan perlahan kedua mata Sheina mulai terbuka, Barra tersenyum melihat nya.
" Kau sudah sadar " ucap nya begitu lembut serta raut wajah yang terlihat bahagia..
Sheina masih terdiam tak ingin berucap apapun.
" aku tau kau masih kesal padaku, tapi sungguh aku tak berniat apapun padamu Sheina, aku hanya tidak ingin kau pergi keluar bersama kekasihmu " jelas Barra kemudian sedikit tertunduk merasa dirinya sangat bersalah dalam hal ini.
Sheina tetap diam.
Sepertinya dia memang tak berniat begitu padaku, dari ucapan nya saja dia terlihat serius dan merasa bersalah padaku gumam Sheina.
" Sheina kau memaafkan aku kan, ayo aku suapi kau pasti lapar sekali "
" iya aku memang sangat lapar dan semua itu gara gara dirimu " ucap Sheina dengan raut wajah kesalnya.
" iya maaf aku tau aku salah, akhirnya kau mau bicara juga hehehe..."
" kau pikir aku sudah memaafkan mu " ucap Sheina dingin.
" memang nya tidak ya " jawab Barra sambil memasang wajah melas nya.
" suapi aku sekarang " ucap Sheina sambil menatap wajah Barra tetapi ia tak berniat menampilkan senyum nya.
" hehehe.... ya ya ya baiklah aku akan menyuapi mu " jawab Barra dengan sedikit senyuman karena Sheina meminta dirinya untuk menyuapi.
Malam ini Barra begitu sangat bahagia walaupun ada rasa bersalah dalam dalam hal ini, ia merasa bahagia walaupun bisa di bilang ini adalah hal sepele.
__ADS_1