Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
pernyataan cinta


__ADS_3

perjalanan pulang


Fara dan sekertaris Revan hanya saling diam, tak ada percakapan sama sekali,


sedangkan Fara hanya senyam senyum sendiri tak jelas, sekilas sekretaris Revan menoleh ke arah Adinda yang tengah senyam senyum tak jelas itu.


" Din kenapa kamu senyam senyum sendiri " tanya sekertaris Revan.


" tidak apa apa, saya hanya membayangkan sesuatu saja " jawab Adinda sambil pandangannya yang masih tetap fokus ke depan terapi pikirannya travelling ke mana mana.


" membayangkan apa, kau mesum ya "


" tuan jangan ngawur, saya hanya membayangkan jika nanti saya sudah menikah dengan Joe, apa anak saya nanti bisa lucu seperti anak nona Zahra ya " jelas Adinda


yang sontak membuat sekertaris Revan merasa ada sesuatu di dalam hatinya yang tak terima atas perkataan tekan barunya tersebut.


chhhhhiiiittttttt........


bunyi rem mobil mendadak yang di injak sekertaris Revan.


JEDUK.........


bunyi kening Adinda yang kini terbentur depan mobil.


" aw... tuan apa yang kau lakukan..... aw... kening ku sakit " ucap Adinda sambil mengusap sedikit keningnya yang mulai memerah itu.


" maaf Din..... tadi aku reflek dan keliru menginjak rem " jelas sekertaris Revan yang merasa bersalah kepada Adinda.


" tuan bagaimana sih " jawab Adinda dengan satu tangannya yang terus mengelus keningnya saat ini.


" maaf Din.... boleh aku lihat "


" nih lihat, jangan di pegang sakit "


" iya "


perlahan sekertaris Revan pun melihat ke arah dimana Adinda duduk di dekat kemudi,sekertaris tampan itu juga sedikit membengkok kan tubuhnya menghadap Adinda, melihat kening Adinda yang memang sedikit memerah di sana.


sekertaris Revan perlahan meniup niup pelan kening gadis dua puluh tiga tahun tersebut, sesaat kemudian pandangan keduanya saling bertemu.


keduanya saling pandang satu sama lain.


sesaat kemudian


dengan tiba tiba ponsel milik Adinda berbunyi membuat pandangan keduanya buyar seketika.


tring


tring


bunyi ponsel milik Adinda.


keduanya saling diam, sedangkan Dinda langsung mengambil ponselnya di dalam tas, melihat pemberitahuan masuk di dalam ponselnya tersebut.


dan memang benar ada sebuah pesan masuk di dalam ponselnya dari teman dekatnya itu yaitu Joe.


Fara mulai membaca pesan itu yang membuatnya senyum senyum sendiri.


sedangkan mobil masih tetap berhenti di tengah jalan.


" akkhhhh.... aku senang sekali " ucap Fara sedikit berteriak kegirangan.


berbeda dengan sekertaris Revan yang mulai menancapkan pedal gas nya kembali, dan mulai menyahuti perkataan Adinda.


" senang apa Din " tanya sekertaris Revan setelah itu.


" kepo ya hahaha...... kau tau tuan besok dia akan mengantarku bekerja dan pulang nya dia juga menjemput ku, setelah itu dia mengajak saya mencari cincin " jelas Adinda dengan senyuman mengembang.


Chhhhhiiitttttttttt.......


bunyi rem yang kembali di injak oleh sekertaris Revan.


JEDUK.........


" aw..... ini benar benar sakit '' ucap Dinda yang kembali mengusap keningnya.


" maaf Din... sini aku lihat "


" tidak usah, kau berniat mengerjaiku kan, kau sengaja mengerem terus agar keningku kembali terbentur " jawab Adinda yang mulai merasa kesal kepada atasan nya itu.


" bukan seperti itu Din, kau juga kenapa tidak pakai sitbel nya " ucap sekertaris Revan yang sedikit menyalahkan Adinda.


" hah... alasan, lebih baik aku turun dan berjalan kaki "

__ADS_1


" Din tunggu, ini masih jauh, jalan sedikit sepi apalagi ini sudah petang Din "


" biarkan saja kau meragukan ku, berjalan apartemen ke kantor saja aku kuat "


" bukan begitu Din, ini mulai gerimis jangan membantah perintah ku Adinda, nanti kau sakit" ucap sekertaris Revan yang memang mengkhawatirkan kesehatan gadis yang ia cintai di sampingnya saat ini.


" aku tidak peduli " jawab Adinda.


kini Adinda mulai membuka pintu mobil yang tengah berhenti itu, kemudian berjalan kaki di pinggiran jalan beraspal.


Sesekali gadis dua puluh tiga tahun tersebut mengusap kening nya yang kini mulai membiru itu.


Dasar menyebalkan selalu menyebalkan, gerimis nya bertambah deras lagi gumam Adinda dalam hati.


sedangkan sekertaris Revan terus mengikuti Adinda dari belakang dengan mobilnya sesekali meng klakson mobilnya, agar Adinda masuk ke mobil.


Saat ini hujan semakin lebat, Dinda mulai basah kuyup dan juga mulai kedinginan, tapi gadis berparas cantik itu tak menghiraukan nya.


Berbeda dengan sekertaris Revan yang mulai kepikiran pada gadis di hadapan nya itu.


Mobil pun ia berhenti kan dan sekertaris Revan mulai keluar dari dalam mobil tersebut, dan langsung mengejar Adinda dengan dirinya yang juga mulai basah kuyup itu.


" Din tunggu " panggil sekertaris Revan dari belakang.


karena hujan sangat deras Dinda sampai tak mendengar panggilan sekertaris Revan.


sedangkan sekertaris Revan langsung berlari dan menarik tangan Adinda, dan sontak saja langkah Adinda terhenti.


" Masuk mobil " ucap sekertaris Revan sambil mengikuti langkah Adinda yang tak berniat berhenti itu.


" aku tidak mau, aku bisa pulang sendiri lepaskan " jawab Adinda


sambil mencoba melepaskan tangan sekertaris Revan yang mulai memegangi pergelangan tangan nya.


" aku tidak mau melepaskannya, ayo masuk ke dalam mobil sekarang aku bilang " ucap sekertaris Revan yang kini juga mulai merasa kesal atas kelakuan Adinda yang tak memperdulikan ucapan nya itu.


" tuan ini di luar jam kerja, jadi anda tidak berhak menyuruh nyuruh saya terus " jelas Adinda.


" DINDA " ucap sekertaris Revan dengan nada tinggi.


tanpa babibubebo sekertaris Revan langsung memikul tubuh Adinda bak karung beras, kemudian membawanya masuk ke arah mobil.


Tuan turunkan aku, aku bisa pulang sendiri tanpa tumpangan mu monolog Adinda.


sedangkan Adinda memukul mukul punggung sekertaris Revan tapi tak di hiraukan oleh sekertaris tampan tersebut, sesekali karena tak di hiraukan Adinda menjewer i telinga sekertaris tampan tersebut.


gadis ini memang ada ada saja kelakuannya, untuk apa dia menjewer ku segala, tetap saja aku tidak akan menurunkan nya gumam sekertaris Revan.


sesekali sekertaris tampan tersebut tersenyum simpul di tengah derasnya hujan yang mengguyur dirinya dan Adinda itu.


sesampainya di dekat mobil sekertaris Revan membuka pintu mobil bagian depan di samping kemudi, setelah itu menurunkan tubuh Adinda dan menyuruhnya masuk ke dalam, Adinda pun masuk.


jangan berani berani keluar lagi, kalau kau tidak ingin aku bertindak lebih ucap nya kepada Adinda.


Adinda tak berniat menjawab nya.


kemudian sekertaris Revan kembali menutup pintu mobilnya, meskipun tak mendapat jawaban dari Adinda.


setelah itu sekertaris Revan mengitari mobil dan mulai masuk kedalam, perlahan mulai menginjak pedal gas nya untuk segera sampai di mansion miliknya.


hening....


**********


sesampainya di area parkir apartemen elit milik sekertaris Revan.


sekilas sekertaris Revan menoleh ke arah Adinda yang saat ini sudah tertidur pulas itu, serta bibirnya terlihat agak pucat mungkin karena kedinginan dan satu lagi kening Adinda memang sedikit membiru di sana.


Maafkan aku Din, aku tak berniat seperti itu padamu monolog sekertaris Revan.


sesekali tangan nya menyentuh kening Adinda yang sedikit membiru karena kelakuan nya tersebut.


Din bangun sudah sampai,


dia pasti tidak akan bangun apalagi tubuhnya dingin sekali seperti ini aku tau kau kedinginan Din,


baiklah aku akan menggendongnya monolog sekertaris Revan.


sekertaris tampan itu pun mulai menggendong tubuh Adinda menuju apartemen miliknya.


Beberapa saat kemudian.


sekertaris Revan telah sampai di depan pintu apartemen miliknya sekertaris Revan mulai membuka pintu tersebut meskipun sedikit kesusahan,

__ADS_1


dan setelah itu menggendong tubuh Adinda menuju kamarnya.


perlahan sekertaris Revan menaruh tubuh Adinda yang sudah basah kuyup itu di atas ranjang empuknya tersebut.


sekertaris Revan perlahan kembali berniat membangunkan Adinda supaya mengganti bajunya yang sudah basah kuyup itu untuk segera menggantinya.


" Dinda bangun Dinda, ganti bajumu agar kau tidak sakit " ucap sekertaris Revan sambil menoel noel lengan Adinda yang tengah asyik terlelap itu


Dinda... astaga gadis ini memang benar-benar,


apa sebaiknya aku yang menggantinya, ah tidak mungkin... tapi kalau di sakit bagaimana, emm....sebaiknya aku mencari baju gantinya dulu, setelah itu aku akan menggantinya dengan mata terpejam ya.. ya... ya.. monolog sekertaris Revan.


perlahan sekertaris Revan mencarikan baju ganti milik Adinda, dan setelah mendapatkan nya sekertaris Revan menaruhnya di ujung ranjang,


dan kini berniat membuka kancing kemeja Adinda bagian atas sambil memejamkan kedua matanya perlahan.


maaf Din, aku hanya berniat membantumu, tak ada niat lain monolognya.


kemudian perlahan satu kancing Adinda bagian atas mulai terlepas, dan sekertaris Revan melanjutkan ke kancing yang keduanya, ketiganya,


baru saja sekertaris Revan akan membuka kancing ke tiganya Adinda perlahan membuka kedua matanya,


dan


" Akhh.... tuan apa yang lakukan, dasar pria brengsek.... hiks.... hiks..... kau ternyata....aku benci padamu " ucap Dinda sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang.


sambil sedikit berteriak dan juga mulai menangis memikirkan hal aneh dengan melihat kelakuan atasnya tersebut kepada dirinya saat ini.


" Din tunggu penjelasan ku dulu " jawab sekertaris Revan yang ingin menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada Adinda.


" penjelasan apa hah " ucap Adinda.


" Dinda " panggil sekertaris Revan dengan nada pelan.


" tidak perlu, sebaiknya aku pergi dari sini " ucap Adinda yang kemudian dirinya mulai turun dari atas ranjang dan berniat memasukkan seluruh pakaiannya ke dalam tas miliknya.


" Dinda aku tak berniat melakukan hal aneh aneh padamu, aku hanya berniat ingin membantumu mengganti pakaian milikmu yang sudah basah kuyup itu, aku takut kau sakit Din " jelas sekertaris Revan.


" apa buktinya kalau kau tak berniat melakukan hal aneh padaku " tanya Dinda.


" kau lihat di tepi ranjang mu, itu pakaian ganti yang ku ambil dari lemari mu, dan aku berniat menggantinya dengan itu, karena aku merasa tidak tega melihat keadaan mu yang basah kuyup kedinginan bibirmu sudah pucat " jelas sekertaris Revan yang memang mengatakan yang sebenarnya.


Dinda seperti sedikit memikirkan sesuatu.


" meskipun kau berniat menolongku untuk apa kau susah susah menolongku tuan, kita hanya sebatas atasan dan bawahan dan sekarang juga aku akan keluar dari apartemen ini " jelas Adinda yang mengeluarkan seluruh unek unek di dalam hati.


sambil tangan nya satunya yang mulai menutup tas yang kini sudah penuh dengan pakaian miliknya itu.


" untuk apa kau keluar dari apartemen ku Dinda, aku tak pernah menyuruhmu keluar dari sini bukan " jawab sekertaris Revan.


" karena aku.. aku akan menikah dan Joe " jelas Adinda.


" tidak, tidak mungkin "


" apanya tidak mungkin, besok aku akan mencari cincin bersamanya, minggir tuan Revan aku mau lewat, dan terima kasih untuk semua kebaikan yang kau berikan kepada ku selama ini "


" tidak aku tidak akan mengizinkan mu keluar dari sini "


" beri aku satu alasan kenapa aku tidak boleh pergi dari sini, apa aku harus melihat kelakuan bejatmu hah "


" Dinda hentikan ucapan mu "


" ap...... " jawab Adinda terhenti.


karena tiba tiba sekertaris Revan menarik tubuhnya ke dalam pelukan nya saat ini.


" jangan tinggalkan aku Din, aku mencintai dirimu " ucap sekertaris Revan di sela sela pelukan nya


Deg


hati Adinda seperti membeku, seperti tak percaya dengan apa yang di katakan sekertaris tampan itu katakan kepada dirinya.


KAKAK TAMBAHIN DONG LIKE, KOMENTAR DAN VOTE NYA πŸ™πŸ™πŸ™.


BIAR AUTHOR NYA SEMANGAT TERUS, PEMBACANYA RIBUAN LIKE NYA SEGITU AJA KASIAN DIKIT NAPA SAMA AUTHOR πŸ˜‚πŸ˜‚


JANGAN LUPA BACA NOVEL AKU LAINYA :


- PERBUDAKAN KU BERAKHIR DI PELAMINAN.


- DUNIAKU TAK SELEBAR DAUN KELOR.


KAK JANGAN LUPA LIKE, VOTE, SAMA KOMENTAR NYA ☺☺😊😘😍😍

__ADS_1


__ADS_2