
sedangkan di tempat lain, kini Zahra sedang bahagia karena bisa mengunjungi kedua orang tuanya dan adiknya.
meskipun sudah tak seperti dulu lagi karena sekarang dia telah berkeluarga dan sekarang tengah bercengkrama dengan kedua orang tuanya di ruang tamu.
"ayah bagaimana keadaan mu Zahra sangat merindukan ayah " ucap Zahra sambil memeluk lelaki kesayangan itu.
"keadaan ayah sekarang lebih baik nak, sesekali pak anwar mengelus rambut Zahra.
" nak ayah lihat nak Bima sayang sekali sama kamu" ucap pak Anwar tetap mengelus rambut putri satu - satunya.
" iya yah dia sangat menyayangi Zahra bahkan seluruh keluarganya sangat menyayangi Zahra yah " jawab Zahra yang masih enggan melepas pelukan ke tubuh ayahnya.
" iya ayah,ibu juga melihat seperti nya nak Bima tulus sekali sama kamu Za " sahut bu Fatma
" iya bu kedua mertua Zahra menganggap Zahra sebagai anaknya sendiri bu'' ucap Zahra sambil menerbitkan senyum manisnya.
" alhamdulillah kalau begitu ya yah, ibu turut senang sayang kalau kamu di sana bahagia " kemudian bu Fatma ikut berpelukan bersama suami dan anaknya itu
kring
kring
bunyi bel rumah berbunyi menandakan ada seorang tamu di luar sana.
" sebentar nak ibu ke depan dulu seperti nya ada tamu di depan " kemudian bu Fatma pun melangkah kan kakinya ke depan untuk membuka pintu
cek klek
suara pintu yang di buka oleh bu Fatma
"maaf apa ini benar rumahnya bu Fatma" ucap lelaki yang tak diketahui namanya itu kepada sang pemilik rumah
" iya benar, ada apa ya? " jawab bu Fatma yang tidak merasa kenal dengan lelaki itu
" Saya dari pengiriman barang bu atas nama tuan Bima Sinaga dan di sana barang-barangnya biar orang saya yang mengangkat nya ke sini"ucap lelaki dari pengiriman barang itu.
__ADS_1
bu Fatma hanya mengiya - iya kan saja karena juga sedikit bingung apa yang dikirimkan menantu tampan serta kaya rayanya itu.
"Zahra sini keluar sebentar" panggil bu Fatma kepada Zahra karena bu Fatma seperti syok melihat banyaknya barang yang dikirimkan menantunya itu.
" iya bu Zahra ke sana " jawab Zahra yang masih bercengkrama di dalam bersama ayahnya,kemudian Zahra melangkahkan kakinya keluar dan di ikuti ayahnya di belakang.
"ada apa bu,Astaga ini barang-barang siapa bu kenapa banyak sekali" ucap Zahra juga merasa kaget setelah sampai di teras depan rumah, melihat barang barang elektronik mungkin barang itu satu truk besar sampai memenuhi pekarangan rumah ibunya itu.
"astaga kenapa banyak sekali" ucap pak Anwar yang ikut kaget melihat bungkusan kardus besar-besar yang berwarna coklat memenuhi pekarangan rumahnya.
tak beberapa lama kemudian sekertaris Revan muncul dengan tiba-tiba.
" maaf saya menganggu sebentar" ucap sekertaris Revan kepada kedua orang tua Zahra, dan di angguki kepala oleh bu Fatma dan pak Anwar
" iya silahkan tidak apa-apa " ucap keduanya
"maaf nona semua barang-barang ini dari tuan muda, dan ini handphone pengeluaran terbaru yang di belikan tuan muda untuk anda" ucap sekertaris Revan sambil mengulurkan sebuah kotak berwarna abu-abu
"oh iya,tetapi saya sudah mempunyai handphone sekertaris Revan" jawab Zahra sambil mengambil sebuah kotak berwarna abu-abu yang diulurkan sekertaris Revan kepadanya.
" ya baiklah kalau begitu,terima kasih sekertaris Revan" jawab Zahra kepada sekertaris Revan
" kalau begitu saya pamit undur diri nona" ucap sekertaris Revan sambil melihat ke arah kedua orang tua Zahra, kemudian menganggukkan kepalanya dan melangkah kan kakinya untuk pergi dari kediaman orang tua nona mudanya dan bergegas kembali ke perusahaan.
setelah kepergian sekertaris Revan
zahra beserta kedua orang tuanya senang sekaligus bingung,karena barang elektronik sebanyak itu seperti nya terlalu banyak di masukkan ke dalam rumah dan berlebihan.
" nak suami kamu sangat menyayangi keluarga kita sepertinya buktinya nak Bima sampai mengirimkan semua ini, bukan karena materi saja ibu melihat dari cara bicara kepada ayah kamu sepertinya dia sangat tulus sekali sama kamu Za " ucap bu Fatma sambil memegang pundak Zahra.
" semoga saja seperti itu ya bu, doakan Zahra langgeng bu sama suami Zahra '' ucap Zahra yang kemudian bersandar di bahu ibunya.
tak beberapa lama kemudian Zahra teringat handphone yang dibelikan suaminya itu
" oh ya bu sebentar Zahra mau melihat handphone Zahra yang dibelikan suami Zahra dulu bu " ucap Zahra kepada ibunya kemudian Zahra mengambil sebuah kotak benbentuk persegi panjang dengan warna abu-abu yaitu handphone pengeluaran terbaru.
__ADS_1
" ibu senang melihat kamu bahagia Za" ucap bu Fatma kepada Zahra sambil melihat kotak abu-abu milik Zahra yang di belikan suaminya itu. " bagus sekali Za headphone nya '' ucap bu Fatma lagi.
" iya bu bagus sekali, oh iya bu Zahra telfon suami Zahra dulu ya Zahra mau ke kamar dulu " ucap Zahra sambil meninggalkan ibu dan ayahnya di teras depan, kemudian Zahra melangkah kan kakinya menuju kamarnya yang selama ini ia rindukan.
setelah sampai di kamarnya Zahra mulai melihat daftar nomer dikontak handphone barunya itu,
dan ternyata disana hanya ada satu nomor yang telah tersimpan dan di beri nama "suamiku tercinta" zahra sedikit mengeryitkan alisnya, zahra yang membacanya pun ingin tertawa sekaligus geli karena zahra merasa nama di kontaknya itu terlalu berlebihan dan seperti orang yang lagi BUCIN kalau kata anak - anak sekarang sih.
mungkin ini nomor yang di maksud sekertaris Revan gumam zahra.
zahra pun mulai memencet tombol warna hijau di layar ponselnya itu kemudian tak beberapa lama panggilan pun terhubung.
" Halo sayang kenapa kau baru menghubungiku sekarang zahra " ucap seseorang di balik telfon yang tak lain adalah tuan muda Bima Sinaga yaitu suami zahra sendiri.
" iya halo sayang maaf baru menghubungi mu karena tadi aku masih di teras rumah" jawab zahra yang merasa suaminya berlebihan padahal sekertaris revan baru saja pulang sehabis mengantar handphone baru yang ia belikannya itu.
"untuk apa kau di teras rumah sayang" sahut Bima dari sebrang sana.
"aku sedang bingung sayang karena kau terlalu banyak mengirimkan barang-barang ke rumah ibu" jawab zahra kepada suami posesif nya itu.
"Oh begitu" ucap Bima seperti seolah tidak terjadi apa - apa.
sedangkan zahra terdiam sejenak mendengar jawaban suaminya yang begitu santai
kenapa dia seolah - olah tidak ada apa apa sih, tuan mudaku yang dingin kau tau ini sangat berlebihan sekali, mungkin ini yang dinamakan Sultan dalam segala hal berlebih-lebihan gumam zahra dalam hatinya .
"sayang kenapa kau diam saja" ucap Bima lagi di sebrang telfon.
"ya sayang maaf aku terdiam karena aku sedang melamun kan dirimu"
astaga kenapa bibirku seperti tidak sinkron begini sih, pasti dia menyangka aku yang menggodanya duluan gumam zahra dalam hati yang terus merutuki kebodohannya itu.
Bima yang mendengarnya pun tersenyum kegirangan si sebrang sana.
" apa sayang kau melamunkan ku, kau sekarang sudah mulai pintar menggodaku ya " sahut Bima yang merasa sangat gemas sekali dengan kata-kata istrinya itu.
__ADS_1