Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
perasaan tak enak


__ADS_3

Pagi menjelang.


Barra mulai terbangun dari tidur nya dengan tangan nya yang masih memeluk perut rata milik Sheina.


Ia tersenyum ketika mendapati Sheina masih tertidur pulas di dekatnya dengan keadaan kancing kemeja bagian atas yang sedikit terbuka karena ulah nya tadi malam.


" Maafkan aku, gara gara ulahku leher milik mu jadi banyak tanda merah seperti ini " ucap Barra merasa bersalah akan kelakuan nya.


Setelah itu pandangan nya beralih menatap sekilas bibir Sheina yang sedikit bengkak di bagian bawah karena ulah nya juga tadi malam.


Kemudian jari telunjuknya terulur untuk mengusap bibir pink alami itu.


" maaf Shei " ucap nya lagi di penuhi rasa bersalah.


dan langsung mengecup dalam kening Sheina.


Setelah itu ia bergegas bangun dari ranjang untuk membersihkan dirinya di dalam kamar mandi, tepat nya di dalam kamar mandi kamar pribadinya sendiri bukan di kamar Sheina.


Setengah jam berlalu.


Barra baru saja keluar dari dalam kamar dengan pakaian lengkap jas kantor nya,


pandangan nya tertuju ke arah kamar Sheina dimana pintu kamar nya masih terbuka lebar seperti tadi sewaktu dirinya keluar.


Dan mendapati Sheina yang masih tetap tertidur pulas seperti tak ada perubahan sedikitpun pada posisi nya yang tetap terlentang.


Pria tampan itu kembali masuk ke dalam kamar itu, kamar yang tadi malam ia tiduri bersama sang istri alias Sheina.


Tangan berotot nya terulur untuk mengusap lembut kening Sheina agar tak terbangun.


" Aku berangkat Shei, maaf tadi malam " pamit nya setelah itu mengecup singkat kening sang istri.


Dengan segera ia melenggang pergi untuk berangkat ke kantor.


Ya pagi ini memang sedikit berbeda ini kali pertama Barra berangkat ke kantor sendirian tanpa Sheina yang selalu bersama dengan dirinya sebagai CEO sekaligus istri untuk nya.


*


*


Pukul 09.00 siang.


Sheina perlahan mulai membuka kedua mata nya, pandangan nya menyapu seluruh ruang kamar yang sedikit terlihat berantakan akibat pemaksaan tadi malam, meskipun keduanya tak sampai melakukan hal intim itu.


Perlahan gadis itu bangun dan menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang bagian belakang kepala.


Kepalanya sedikit menunduk melihat area kemeja bagian atas dengan kancing yang terbuka.


Ia terdiam sambil mengingat ingat kejadian semalam saat Barra dengan brutal nya menyusuri bibir dan area lehernya sampai dirinya terkulai lemas kemudian tak sadarkan diri alias tertidur.


Tapi kenapa kancing kemeja bagian atas nya terbuka pikir Sheina.


Pikiran Sheina mulai kemana mana ia segera bangun dari ranjang kemudian berlari ke arah kamar mandi.


*


Di kamar mandi.

__ADS_1


Sheina berdiri di depan wastafel sambil melihat pantulan dirinya di cermin sana,


Ia benar benar syok melihat keadaan bagian leher nya yang di penuhi dengan tanda merah di sana sini bahkan tak terhitung jumlah nya, serta bibir bagian bawah milik nya yang terlihat bengkak akibat kelakuan seorang pria tampan yang pemaksa.


Kini lelehan air mata mulai meleleh deras membasahi kedua pipinya, mengingat kebrutalan Barra pada dirinya tadi malam.


Sungguh pemaksaan yang membuat Sheina sangat ketakutan seperti trauma.


Gadis itu kemudian membuang seluruh pakaian nya tak bersisa dan mulai menghidupkan saluran air di atas kepala.


Ia menangis histeris dengan lelehan air matanya yang mengalir deras bersama derasnya air shower yang mengguyur seluruh tubuh nya.


Tangis nya seolah pecah, ia tak menyangka bahwa Barra akan menggilai seperti itu.


Kini perlahan tubuh polos itu luruh ke bawah menangis sejadi jadi nya di bawah deras nya air yang membasahi tubuhnya.


*


Sedangkan di perusahaan.


Barra seperti pria yang kebingungan di ruangan nya, pikiran nya tak fokus pada pekerjaan hanya terus memikirkan Sheina di apartemen.


Ruangan nya yang biasa di tempati Sheina dan dirinya kini juga terasa sepi.


Ia hanya memutar mutar sebuah pulpen di atas meja seperti seseorang tak ada pekerjaan.


" Apa yang dia lakukan sekarang, apa dia akan sangat marah padaku tentang tadi malam yang telah aku lakukan padanya, ya meskipun dia istri ku sendiri " ucap nya.


Barra sedikit melirik jam tangan di pergelangan tangan nya sebelah kiri jarum jam menunjukkan pukul sebelas siang.


Baru saja ia menghubungi nomor itu tetapi tak ada jawaban, Barra kembali mengulanginya sampai empat kali panggilan tetapi tetap saja tak satupun panggilan itu di angkat oleh Sheina.


Pikiran Barra mulai melayang kemana mana, ia mulai berdiri sambil mengacak pinggang berjalan mondar mandir tak jelas di depan meja kerja.


" apa dia sudah makan jam segini " ucap nya.


Pikiran nya tambah tak enak Barra memutuskan untuk kembali ke apartemen, masalah perusahaan ia akan kerjakan nanti pikir nya dan mengutamakan Sheina yang terpenting saat ini.


Di perjalanan hatinya tambah merasa tak enak ia segera menambah kecepatan mobil nya.


CHITTTT.......


bunyi rem mendadak di area parkir apartemen mewah nya.


Barra segera keluar dari dalam mobil mewah yang ia kendarai dan mulai berlari kecil untuk segera sampai ke apartemen yang ia tinggali bersama Sheina.


Sepuluh menit kemudian.


Barra sampai di depan pintu apartemen nya, dengan cepat ia meraih handel pintu apartemen yang masih terkunci rapat seperti tadi pagi ia berangkat kerja.


JEG... GLEK....


Pintu apartemen pun terbuka, ia langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan apartemen luas nya itu tetapi kedua mata nya tak mendapati keberadaan Sheina.


Pandangannya beralih pada pintu kamar Sheina yang masih terbuka lebar seperti tadi sebelum ia berangkat ke kantor.


" Pintu kamar nya terbuka, apa dia masih tidur tapi tunggu... " ucap Barra terhenti tatkala kedua telinga nya mendengar gemercik air dari dalam kamar gadis nya itu.

__ADS_1


" oh dia sedang mandi tapi kenapa pintu kamar nya tak di kunci ceroboh sekali kau Shei " ucap nya lagi.


Barra melanjutkan langkahnya untuk menutup kamar wanita kesayangan itu.


Tapi lagi lagi perasaan nya kembali tak enak.


Ada apa dengan perasaan ini, kenapa tak seperti biasanya ucap nya.


Barra tak ingin di buat penasaran, ia sedikit mengintip ke dalam kamar Sheina yang baru saja ia tutup itu.


Dan akhirnya ia kembali membukanya kemudian masuk ke sana.


apa aku harus mengetuk pintu kamar mandi nya untuk memastikan Sheina baik baik saja gumam Barra.


ketika sudah berada di depan pintu kamar mandi Sheina.


Akhirnya tangan berotot itu mulai mengetuk pintu kamar mandi tersebut.


TOK.... TOK.. TOK....


" Shei apa kau mandi di dalam " ucap nya.


Tak ada sahutan dari dalam sana.


Apa dia tak mendengar gumam Barra.


Barra kembali mengetuknya tapi kali ini sedikit keras.


TOK.... TOK..... TOK..


" Shei aku tidak bercanda, kau sedang mandi kan di dalam " jelas nya lagi.


Kembali tak ada sahutan.


Ke khawatiran nya kini tambah menyeruak di dalam pikiran nya.


Barra berniat membuka handel pintu kamar mandi tersebut, tapi sayang pintu itu kunci dari dalam.


Barra mulai frustasi memikirkan keadaan Sheina, tak ada cara lain Barra langsung mendobrak pintu kamar mandi.


BRAKK......


pintu kamar mandi terbuka lebar.


Seketika kedua matanya terbelalak seolah tak percaya melihat seseorang gadis tergeletak lemas tak berdaya dengan tubuh polos nya di bawah guyuran shower kamar mandi.


" S H E I N A " teriaknya.


Dengan segera Barra langsung masuk ke dalam dan meraih tubuh polos Sheina ke dalam pelukan nya begitu erat.


" Shei kau akan baik baik saja " ucap nya di sela sela pelukan itu, hatinya sungguh terenyuh melihat keadaan Sheina gadis yang sangat ia sayangi nya.


" Shei tubuh mu sangat dingin " ucap nya lagi.


Tanpa banyak kata lagi Barra segera menggendong tubuh polos Sheina menuju ranjang.


Setelah itu mulai membalut tubuh yang sudah memutih itu dengan selimut tebal, tak cukup satu Barra mulai mengambil beberapa selimut tebal lain nya di dalam lemari dan membalutnya pada tubuh Sheina yang memang sangat pucat pasih.

__ADS_1


__ADS_2