
" Zahra kau sekarang memang sudah berani nakal ya kepada suamimu ini hah "
ucap Bima yang memang saat ini benar-benar tergoda oleh kelakuan istrinya yang dulu sangatlah polos itu, dan sekarang sudah mulai berani menggoda sangat suami yaitu Bima.
" sayang aku hanya bercanda " jawab Zahra dengan senyuman manis, dirinya tidak menyangka kalau suaminya benar-benar tergoda dengan niat nya bercanda itu
" bercanda bagaimana, sekarang kau harus tanggung jawab sayang " sahut Bima tak sabaran.
" benar aku memang bercanda tadi, ini kan masih jam tujuh malam, aku tidak mengantuk sayang "
" alasan, sudah kau ikut aku saja, ayo sayang "
" iya, iya,.. "
dasar suami mesum, masak begitu saja langsung tergoda ahh.. aku tau itu hanya alasannya saja, supaya aku segera memakai lingerie dari mama, ah aku sangat malu memakai baju haram di depannya gumam Zahra dalam hati.
kemudian Bima berdiri terlebih dahulu dari kursi meja makan tersebut dan di susul Zahra kemudian, setelah itu Bima langsung menggandeng tangan istrinya itu untuk menuju lantai atas.
" ayo sayang "
" iya "
ucapnya berdua kemudian melangkahkan kakinya beriringan mulai menaiki anak tangga satu persatu.
keduanya hanya diam, tambah Zahra saat ini yang pikirannya sedang campur aduk itu, di saat dirinya harus menepati janji yang terpaksa itu kepada sang suami, karena suatu hal di pantai tadi siang.
" sayang " rengek Zahra.
" hem, ada apa sayang "
" aa.. aku "
sesampainya di depan pintu kamar pribadi milik kedua pasangan suami istri itu.
cek klek
suara handel pintu yang dibuka oleh Bima.
dan keduanya kini masuk perlahan.
" sayang aaa.. aku malu " ucap Zahra yang melanjutkan perkataannya sedari tadi.
kemudian Bima langsung menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya kemudian menyandarkan tubuh istrinya di tembok yang berada di dekat pintu masuk kamarnya itu.
Dan saat ini keadaan Zahra tengah berada di himpitan Bima dari depan dan Bima juga mengunci pergerakan Zahra istrinya.
keduanya saling berhadapan, membuat Zahra bertambah dag dig dug, meskipun dirinya melakukan itu setiap malam bersama suaminya, tetapi tidak untuk malam ini seperti nya sedikit berbeda.
" malu apa lagi sayang hah " tanya Bima yang kini menatapnya intens.
__ADS_1
" ma.. ma.. malu memakai lingerie nya suamiku" jawab Zahra yang sedikit terbata bata karena saking bingungnya.
Bima terkekeh
kemudian sesaat kemudian Bima tersenyum.
" dengar aku, aku suami mu sayang, kita bahkan melakukan itu setiap malam bukan, dan aku sudah mengetahui semua yang ada di tubuh mu Zahra, terus sekarang kau malu hanya karena lingerie, apa kau tidak ingin membahagiakan aku hem "
" ta.. ta.. tapi aku tidak biasa memakainya sayang makan dari itu aku malu "
" maka dari itu biasakan mulai sekarang sayang, dan seterusnya setiap malam kau harus memakai lingerie " jelas Bima
" APA " ucap Zahra yang merasa kaget itu dengan perkataan suaminya saat ini.
" Zahra kecilkan suaramu " ucap Bima yang merasa suara istrinya itu seperti menembus gendang telinganya karena terlalu keras.
" ah.. iya maaf suami ku " jawab Zahra yang sedikit cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" ta.. ta.. tapi "
" tidak ada tapi tapian, dan tidak ada penolakan kau mengerti "
" iya,iya baiklah " jawabnya sedikit cemberut sambil menundukkan kepalanya.
Bima tersenyum
kemudian Bima mendongakkan kepala Zahra yang tertunduk itu agar menatapnya, setelah itu perlahan kedua bola mata mereka saling bertemu, lagi lagi Bima tersenyum kepada istrinya. Zahra pun juga ikut tersenyum kepada suaminya kemudian perlahan Bima bertambah mendekat sambil memandangi bibir tipis milik istrinya itu dan langsung....
kini kedua pasang suami istri itu tengah berciuman sangat lembut begitu menikmati, dan seperti nya penuh dengan gairah ketika Zahra kini mulai memeluk tubuh Bima, sedangkan Bima juga kini menarik pinggang Zahra secara posesif.
lima belas menit kemudian
setelah keduanya puas berciuman kemudian Bima langsung menggendong tubuh Zahra seperti anak koala yang berada di depannya itu, dengan bibir Bima yang kembali menempel kepada bibir istrinya itu untuk menuju ke ruang ganti.
sesampainya di ruang ganti Bima menaruh tubuh istrinya di atas meja yang terbuat dari kaca tebal dan bening yang di dalamnya berisi koleksi jam tangan mahalnya itu.
tanpa banyak bicara Bima langsung melepas pangutan bibirnya dari bibir Zahra, kemudian kini beralih membuka lemari yang menjulang tinggi itu untuk mengambilkan lingerie merah pemberian dari ibu negaranya untuk ia berikan kepada Zahra.
" sayang ini lingerie nya, pakailah aku menghadap ke sana, dan aku tidak akan melihatnya dulu agar kau tidak malu "
" iya sayang terimakasih "
ah.. padahal aku sering mengambilkan nya pakaian ganti kemudian membantunya memakaikannya di tubuh nya, tetapi kenapa sekarang sepertinya ribet sekali hanya karena sebuah lingerie gumam Bima dalam hati.
beberapa saat kemudian
" sayang sudah selesai "
" ya baiklah "
__ADS_1
kemudian Bima perlahan menoleh ke arah istrinya yang saat ini tengah memakai lingerie merah pemberian ibu negaranya itu.
" sayang kau... "
ucap Bima yang tak melanjutkan perkataan nya itu, karena begitu terpesona dan begitu bergairahnya melihat istrinya yang kini terlihat begitu menggoda di mata nya dengan lingerie merahnya yang saat ini menempel di tubuh Zahra,
dan juga terlihat di sana dua butiran kedelai yang menghiasi di bagian depan lingerie yang kini ter ekspos jelas di mata Bima, lelaki tampan itu sedikit menelan ludahnya kasar.
setelah itu Bima segera menggendong tubuh istrinya seperti anak koala yang tadi ia lakukan kepada Zahra.
sambil bibir keduanya yang saling berpangutan kemudian Bima membawa tubuh istrinya ke arah ranjang king size itu.
setelah itu Bima menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang empuk nan mewahnya itu, dengan posisi dirinya yang saat ini berada di bawah tubuh istrinya.
keduanya kini melepaskan pangutan bibirnya.
Bima tersenyum menatap wajah Zahra yang kini berada di atasnya itu.
" aku mencintaimu Zahra "
" aku juga mencintai mu suamiku "
keduanya saling tersenyum.
" sayang kau terlihat sangat sexy malam ini "
" sayang jangan ucapkan itu lagi aku malu mendengarnya " rengek Zahra.
" iya iya baiklah istri ku, apakah kau malam ini bersedia melayani suami mu yang tampan ini hah "
" sayang aku geli sekali mendengar perkataan mu itu, seolah olah diriku ini wanita nakal yang sekarang ini sedang menggilaimu dengan pakaian ku yang kurang bahan ini "
" hahaha.... kau memang wanita nakal ku sayang, hanya milik ku, dan tak ada satu orang pun yang boleh menyentuhmu walau seujung kuku sekalipun "
" ehmmm... sayang " rengak Zahra yang merasa terharu dengan kata kata suaminya itu dan sedikit malu juga sebenarnya.
" bisa kita mulai sayang, kau yang memimpin dan aku akan mengajarinya "
" sayang cukup... aku tidak tahan mendengar kata katamu sedari tadi aku sangat malu "
" ya baiklah aku akan diam saja "
" sayang tutup matamu, aku malu jika kau memandang i aku terus "
" bagaimana bisa, melakukan itu sambil menutup mata "
" iya baiklah kalau begitu "
perlahan Zahra melepaskan lingerie merah tipisnya itu, kemudian segera melemparnya kesembarang arah dan kini dirinya sudah polos tanpa sehelai benang pun, karena memang sedari tadi Zahra sewaktu ganti baju di ruang ganti yang di ambilkan suaminya itu, dirinya memang berniat tak memakai ********** toh kemudian di lepasnya nya juga.
__ADS_1
dan kini Bima juga sudah polos, keduanya pun mulai bercocok tanam di malam yang begitu sangat indah itu dengan di laluinya penuh dengan rasa cinta yang saling menyatu satu sama lain.