Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
episode 106


__ADS_3

sesampainya di depan pintu kamar pribadi nya bersama Zahra.


perlahan Bima mulai membuka kamarnya tersebut, yang menampilkan wajah cantik Zahra yang masih terlelap di balik balutan selimut tebal berwarna putih.


Bima tersenyum melihat nya.


sebaiknya aku menemani nya tidur saja ucap Bima.


kemudian dirinya melangkah ke arah ranjang king size nya tersebut.


sesaat kemudian


Zahra perlahan membuka matanya dan melihat ke arah sang suami tiba-tiba...


huu...huhuekkkkkkk.....


huekkkkkk....


ya Zahra kembali memuntahkan isi perutnya dan dirinya langsung berlari menuju wastafel kamar mandi dengan keadaan yang masih polos tanpa sehelai benang, karena sesudah melakukan adegan panasnya bersama sang suami tadi Zahra langsung tertidur di atas ranjang empuk nya tersebut.


sedangkan Bima langsung menyusul sang istri ke dalam wastafel kamar mandi mewahnya itu.


baru saja Bima membantu Zahra memijat leher istrinya itu dan lagi lagi Zahra kembali memuntahkan isi perutnya.


beberapa saat kemudian.


Zahra mulai sedikit tenang, tetapi dirinya seperti kembali saat ini mulai merasa sedikit mual menghampirinya.


Dan Zahra mulai menutup hidung serta bibirnya dengan kedua tangannya tersebut.


" sayang keluarlah, aku mual jika kau berada di dekatku " ucap Zahra dengan nada pelan khawatir sang suami yang merasa tersakiti.


" sayang apa yang kau katakan " tanya Bima yang merasa kehadirannya itu tambah membuat sang istri mual yang seperti tidak masuk di akalnya.


" aku tidak mau kau di sini keluarlah, perutku terus mual jika kau mendekat " jelas Zahra lagi.


dan lagi lagi..


Hu.. huuuekkkkk....


huuuuuuuueeekkkkkkk........


" sayang tapi aku ingin membantumu Zahra " ucap Bima yang merasa tidak tega melihat sang istri yang terus muntah muntah saat ini.


" STOPPPP.... " ucap Zahra dengan tangan kirinya yang ia majukan ke depan serta kelima jarinya seperti orang melambaikan tangan.

__ADS_1


" aku mohon say.. hu..hueekkkkkk " mohon Zahra kepada Bima kemudian lagi dan lagi perutnya seperti ingin memuntahkan semua isi perutnya.


" iya, iya baiklah aku akan keluar sayang, dan aku akan mengambilkan baju ganti untukmu " jawab Bima, karena merasa tidak tega melihat istrinya yang seperti nya sangat tersiksa oleh rasa mual mual nya itu.


sedangkan Zahra sambil menganggukkan kepalanya di depan wastafel dengan kepalanya yang masih menunduk itu sebagai jawaban untuk sang suami.


Bima pun segera pergi dari kamar mandi tersebut menuju ruang ganti, untuk mengambilkan sang istri baju bersama ********** di sana.


sesaat kemudian


Bima membawakan baju ganti milik istrinya itu menuju ke arah kamar mandi sesampainya di depan pintu kamar mandi tersebut, Zahra langsung menghentikan langkah kaki suami tampannya itu kemudian melihat ke arah Bima.


" sayang stop di situ jangan masuk ''


" sayang aku hanya ingin memberikan baju ganti untukmu, dan aku akan membantumu "


" ah, tidak tidak,.. jangan, sayang ingin muntah jika kau mendekat ke arah ku terus, tolonglah mengerti aku, kau juga tidak tau kenapa seperti ini "


jelas Zahra kemudian Zahra untuk sekian kalinya kembali merasakan mual yang sangat amat...


huuu... huuu... ekkk


" ah iya, iya baiklah sayang aku akan menaruh baju gantimu di sini, aku akan menunggumu di sana, di ranjang kita "


Zahra menganggukkan kepalanya pelan, dengan raut wajahnya yang saat ini sudah pucat dan lemas.


beberapa saat kemudian.


Zahra telah keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian lengkap saat ini, tetapi raut wajahnya terlihat sangat lemas.


Di lihatnya sang suami sudah menunggunya di atas ranjang seperti orang yang sangat antusias.


kini Zahra mulai menangis tak tau apa yang terjadi pada dirinya saat ini, seperti anak kecil yang tak di kasih permen.


hikss... hikss... hikss.....


" sayang kau kenapa heh " ucap Bima saat ini yang mulai berdiri dan berniat mendekati istrinya tersebut.


" jangan mendekat, sayang pergilah, pergi... keluar lah sayang perutku mual hikss.. hikss... hikss.. " jawab Zahra yang membuat langkah Bima terhenti sejenak.


" Zahra kau kenapa hah, sayang aku hanya ingin memeluk mu saja tidak lebih " sahut Bima yang berniat menjelaskan keinginannya kepada sang istri itu.


" aku bilang keluar sayang, keluar.... hiksss, hikss.... perutku mual " jelas Zahra lagi dengan air matanya yang terus mengalir di kedua pipinya sambil satu tangannya memegangi perutnya.


" iya, iya baiklah... aku akan keluar sayang, kau istirahat ya, Zahra sayang diam lah, aku akan keluar dari sini " ucap Bima sambil mencoba menenangkan istrinya kemudian setelah itu dirinya menyerah dan berniat keluar dari dalam kamar mewahnya tersebut dan meninggalkan istrinya sendirian di sana.

__ADS_1


Zahra mengangguk dengan polosnya seperti anak kecil, membuat Bima gemas seperti tak ingin meninggalkan istrinya di kamar tersebut.


Tetapi bagaimana lagi kehadiran nya justru membuat sang istri menangis sampai sesenggukan bahkan sampai muntah muntah membuatnya tidak tega, padahal saat ini hatinya sangat berat meninggalkan gadis yang saat ini tengah mengandung anak nya tersebut.


Zahra mulai beristirahat di atas ranjangnya, dan mulai memejamkan kedua matanya perlahan, dengan dirinya yang saat ini masih sesenggukan itu.


Berbeda dengan Bima.


kini lelaki tampan itu sedang merasa gusar, di karenakan pikirannya terganggu karena istrinya saat ini sama sekali tak menginginkan kehadiran nya, entahlah harus bagaimana dirinya saat ini.


Bima mulai kebingungan sambil melangkah untuk menuju ruang kerjanya.


sesampainya di ruang kerja.


lelaki tampan bertubuh atletis itu, kembali mondar-mandir tak tau apa yang saat ini ada di pikiran nya.


apa yang harus aku lakukan saat ini, bima ayo berfikir, ayo berfikir.......aha.. ..aku tau, sebaiknya aku hubungi saja mama, pasti dia punya solusi untuk semua ini, ya sebaiknya aku coba sekarang langsung menghubunginya monolog Bima.


kemudian lelaki tampan itu mulai mengeluarkan ponsel pintarnya dari saku celana pendeknya tersebut.


Dan mulai mencari nama kontak ibu negaranya tersebut dan mulai memanggilnya.


sesaat kemudian.


panggilan pun terhubung.


" halo ma "ucap Bima ketika panggilan mulai terhubung.


" halo sayang, ada apa, baru tadi kau telfon mama " jawab mama Alisya di sebrang sana, kenapa tiba tiba anaknya yang dingin itu menelfon lagi, karena biasanya jarang sekali anaknya yang satu ini.


" iya Ma, bima mau bertanya harus bagaimana sekarang " ucap Bima yang sedikit bingung menjelaskannya kepada ibu negaranya tersebut.


" apanya yang bagaimana Bim " jawab mama Alisya yang sedikit tidak mengerti arah pembicaraan anaknya itu.


" begini Ma, sedari pagi Zahra menempel terus pada bima, dan sekarang dia tidak mau sama sekali sama Bima Ma, bahkan dia sampai menangis kalau Bima mendekat dan Zahra langsung mual mual dan muntah Ma, Bima harus bagaimana sekarang " jelas Bima


" huwahahaha.... sayang kau lucu sekali " jawab mama Alisya tak kuasa menahan tawanya di seberang sana.


" Mama kenapa tertawa hah, apa ada yang lucu" jawab Bima sedikit kesal.


" hehehe.... tidak sayang, dengarkan mama, istri kamu itu wajar seperti itu, itu adalah bawaan bayi di dalam kandungannya sayang " jelas mama Alisya kepada anak pertamanya itu.


" apa memang iya ma, memangnya sampai kapan Zahra aneh aneh terus tingkahnya dan ngidamnya itu " tanya Bima yang mulai penasaran.


" mungkin sampai empat bulanan, bisa juga lebih " jelas mama Alisya yang membuat Bima sedikit kaget.

__ADS_1


" APA,... memangnya harus selama itu Ma, terus bagaimana Ma sekarang Zahra dekat dengan ku saja tidak mau " jawab Bima seperti orang yang frustasi sendiri karena merasa dirinya akan lama berjauhan sang istri meskipun berada di dalam satu atap.


__ADS_2