
kini jam istirahat kantor telah tiba, sekertaris Revan mulai membereskan pekerjaan yang separuh di mejanya yang telah selesai,
Kemudian ia bergegas berdiri dan mulai melangkahkan kakinya untuk segera keluar dari ruangan miliknya tersebut,
menuju apartemen miliknya tak lupa sekertaris tampan tersebut membelikan Adinda makanan siang dan juga membelikan obat untuk Adinda di apotik terdekat yang searah dengan jalan menuju apartemen miliknya itu.
lima belas menit kemudian.
mobil sekertaris Revan telah sampai di area parkir apartemen elit miliknya tersebut, kemudian bergegas melangkahkan kaki nya kembali untuk segera sampai ke dalam apartemen miliknya itu, yang kini di huni dirinya dan Adinda.
sekertaris Revan melangkahkan kakinya, dengan semua pikiran yang kini mulai bingung, harus menjelaskan dari mana kepada Adinda.
ting
bunyi lift yang baru saja membawanya ke lantai atas menuju apartemen miliknya tersebut.
Dan sesaat kemudian sekertaris Revan kini telah sampai di depan pintu apartemen.
dirinya terdiam sejenak, dengan pikiran yang kembali menyerang nya.
Apa aku harus mengatakan semua perasaan ku kepada Adinda selama ini, tapi seandainya aku jujur apa dia juga menyukai ku, dan seandainya dia juga menyukai ku, apa dia bisa menungguku sedikit saja monolog Sekertaris Revan.
kemudian sekertaris Revan membuka kunci apartemen miliknya tersebut.
perlahan sekertaris tampan itu mulai masuk ke dalam nya, dan pandangannya tertuju kepada pintu kamar Adinda dengan keadaan tertutup kembali, tetapi saat ini tak di kunci oleh Adinda.
sekertaris Revan mulai membuka handel pintu kamar Adinda, dan menampilkan Adinda yang masih meringkuk di dalam selimut putih tebal yang tadi pagi di hempaskan sekertaris Revan ke lantai itu.
perlahan sekertaris Revan mendekat dan kemudian duduk di sisi ranjang,
sekilas sekertaris kepercayaan Sinaga. Group itu, memandangi wajah gadis yang satu minggu lebih ini mulai mengisi hatinya,
di pandangi nya wajah gadis cantik yang memiliki bibir tipis itu masih terlihat pucat sambil kedua matanya masih terpejam.
perlahan tangan sekertaris Revan menyentuh kening Adinda yang ternyata masih tetap panas.
" Din bangun sebentar " ucap sekertaris Revan kemudian setelah tadi menempelkan punggung tangan nya di kening gadis dua puluh tiga tahun itu.
" Dinda hei... bangun lah, aku membawakan mu makan siang dan obat untuk menurunkan panas di tubuhmu "
" emmm..... " lenguh Dinda yang mulai perlahan membuka kedua matanya.
perlahan Adinda mulai membenarkan posisi tubuh nya dengan sedikit duduk bersandar pada bantal yang ia taruh di belakang kepalanya, sambil menarik selimut untuk menutupi area dadanya karena Adinda masih mengenakan tengtop dan celana pendek sepaha nya itu saat ini.
" Din sebaiknya kau makan dulu agar maag mu tidak kumat lagi itu sangat bahaya Din, dan setelah itu minum obat penurun demam nya, agar tubuhmu cepat pulih " ucap sekertaris Revan yang memang khawatir dengan keadaan gadis yang mulai berada di dalam hatinya tersebut.
" apa minum obatnya, dan anda akan melakukannya seperti tadi " jawab Adinda dengan kedua matanya menatap wajah tampan di hadapan nya itu
" Din " ucap Sekertaris Revan kemudian.
__ADS_1
" sudahlah tuan jangan katakan apapun, saya bisa meminumnya sendiri meskipun sedikit susah " jawab Adinda yang tak ingin membahas lagi tentang hal tadi di lakukan atasannya.
" Din aku melakukan itu, karena aku peduli padamu, aku khawatir ketika dirimu sedari kemarin malam sore tak pulang pulang, sedangkan di luaran sana hujan sangat deras, aku berniat mencari mu setalah aku selesai mandi, dan setelah keluar dari dalam kamar aku sudah mendapati kamar mu yang sudah tertutup dan terkunci di sana, setelah itu aku mengurungkan niatku, karena aku merasa dirimu berminat istirahat di dalam " jelas sekertaris Revan panjang lebar.
" maaf kan aku tuan " jawab Adinda sesekali menundukkan kepalanya.
" lantas kenapa kau pulang telat waktu itu Din " tanya sekertaris Revan.
" aku mampir di sebuah warung untuk membelikan ayam geprek untukmu makan malam tuan, karena aku yakin kau pasti belum membeli persediaan dapur, dan juga waktu itu aku merasa tubuh ku sangat kedinginan jadi aku berinisiatif membelikan mu makanan saja, supaya aku tidak usah masak dan langsung istirahat " jelas Adinda.
" kenapa kau sampai kedinginan segala " tanya sekertaris Revan lagi yang seperti ingin tau.
" saya kehujanan setelah saya berjalan hampir separuh jalan menuju apartemen tuan " jawab Adinda
" maksud kamu, Kamu berjalan kaki sepulang kantor " ucap sekertaris Revan yang mulai faham penjelasan yang dinda berikan.
" iya tuan "
" Din, kenapa kamu tidak naik kendaraan umum"
" tabungan saya sudah menipis tuan, sedangkan gajian nya masih lama, saya kan baru kemarin bekerja, maka dari itu saya memilih berjalan kaki saja berangkat dan sepulang kantor, hitung hitung olahraga sih tuan "
" maafkan aku Din " ucap sekertaris Revan yang merasa bersalah, karena sejak kemarin dirinya berniat menghindari perasaan nya dari dinda, dan akhirnya malah seperti sekarang, membuat gadis yang ia taksir itu jatuh sakit.
" untuk apa tuan minta maaf " jawab Adinda.
" karena saya merasa bersalah tidak mengajak kamu berangkat bersama sama ke kantor " ucap sekertaris Revan yang memang benar-benar merasa bersalah saat ini.
" iya kau benar, tetapi aku perduli padamu Din "
" tuan tidak usah mengasihani saya dengan perkataan anda, bukan kah anda biasanya bersikap Dingin kepada saya "
sekejap ucapan Adinda membuat sekertaris Revan diam, mendengar penjelasan Adinda saat ini.
memang benar dirinya selalu bersikap dingin kepada Adinda, itu semua ia lakukan karena ia ingin menghindar dari perasaannya sendiri kepada gadis yang saat ini berada di hadapan nya itu.
kemudian sekertaris Revan berniat mengalihkan suasana yang mulai hening tersebut saat ini.
Dirinya mulai mengambil air putih yang masih tinggal separuh yang tadi pagi ia salurkan ke mulut Adinda itu, yang tepatnya masih berada di atas nakas.
" minum obat nya sekarang dan setelah itu makan ini agar perut mu terisi "
sebenarnya makan dulu baru minum obat bodoh kau Van, memang benar-benar jadi bodoh aku saat ini gumam sekertaris Revan dalam hati.
" sudah aku bilang aku susah menelannya tuan, sebaiknya anda tinggalkan saya sendirian agar saya bisa berusaha menelannya sendiri " ucap Adinda.
" kau terlalu lama bertele tele Din " ucap sekertaris Revan yang merasa Dinda terlalu lama dan membuatnya menjadi sedikit gemas.
" mem.... " jawab Adinda terhenti ketika bibir sekertaris Revan tiba-tiba menempel di bibirnya dan......
__ADS_1
GLEK..........
ya obat itu kembali tertelan untuk yang kedua kalinya atas bantuan sekertaris Revan.
setelah tadi sekertaris Revan yang merasa Adinda terlalu banyak bertele tele, kemudian dia dengan semangatnya agar Adinda cepat sembuh langsung memasukkan air putih tersebut kedalam mulutnya dan memasukkan butiran obat penurun panas pada mulut Adinda dengan gerakan cepat,
kemudian sekertaris Revan langsung menempelkan mulutnya yang sudah penuh itu ke mulut Adinda dan akhirnya pun terjadi lagi.
keduanya kembali terdiam sejenak.
dan kini pandangan keduanya bertemu dengan jarak yang begitu dekat.
" Ekh...hem.., maaf Din aku melakukan itu lagi karena aku peduli padamu " ucap sekertaris Revan yang baru tersadar.
" apa hanya itu tuan yang terucap dari bibir anda " jawab Adinda yang merasa ingin penjelasan hal lain nya sekertaris tampan tersebut.
" ya apa lagi memang " ucap Sekertaris Revan enteng.
" anda tau tuan, anda sama saja mencium saya, dan bahkan saya saja tidak pernah melakukan bersentuhan meskipun hanya bibir saja dengan laki laki " jelas Adinda yang merasa kesal.
" maaf jika aku salah, dan sebaiknya makanlah makananmu, aku akan kembali ke kantor waktu istirahat sudah hampir habis " ucap sekertaris Revan kemudian.
dan setelah itu sekertaris Revan melangkah pergi keluar dari apartemen nya menuju perusahaan karena memang di rasa waktu istirahat hampir habis.
sedangkan Adinda terdiam di tempat nya yaitu di atas ranjang.
dia seperti gadis bodoh yang berharap atasannya itu menyatakan cinta kepadanya.
hah... apa aku memang benar-benar terlalu berharap padanya, sampai aku seperti memaksakan dia untuk menyatakan cinta padaku, sebaiknya mulai sekarang aku menjaga jarak padanya, aku tidak ingin perasaan ku tambah sakit terlalu dalam monolog Adinda.
dan tiba tiba perutnya berbunyi
Krukkk...... krukkkk..... krukKkk.
cacingku memang benar-benar sudah lapar monolog Adinda.
sekilas kedua matanya melirik ke arah makanan di atas nakas yang tadi di bawa oleh sekertaris Revan untuknya.
aku sih kesal padanya, tapi apa mungkin aku tidak memakan makanan darinya kan sayang, ahh...aku makan sajalah sepertinya makanan itu melambai lambai kepadaku hehehe... monolog Adinda,
dan kemudian Adinda pun memakan makanan yang di bawa oleh sekertaris Revan.
**********
Sial... aku bahkan menempelkan bibirku pada bibir Dinda yang kedua kalinya, maaf Din mungkin untuk saat ini, aku tidak bisa mengatakan perasaan ku padamu, aku tidak ingin memberi harapan padamu Din dan akhirnya kau akan lelah menungguku, dan jika waktunya sudah tiba aku akan mengatakan semuanya padamu Din tunggu aku monolog sekertaris Revan.
sesekali sekertaris tampan itu tersenyum mengingat gadis yang cintai, dan juga sesekali sekarang tampan itu mengusap kasar rambutnya.
aku benar-benar di buat gila oleh wanita, apa ini yang di namakan cinta, hati dan pikiran ku menjadi tidak sinkron seperti ini monolog sekertaris Revan.
__ADS_1
kemudian dirinya berniat mengerjakan pekerjaan nya yang mulai menumpuk itu di meja kerjanya, dan sesekali melihat jarum jam di pergelangan tangan nya, kapan pulang batinnya padahal baru saja waktu istirahat selesai.