
Barra terus mondar mandir di depan pintu ruangan serba putih itu, penampilan nya kini tak seperti biasa sungguh sangat terlihat awut awutan.
Kemeja putih yang sudah kusut dengan sedikit noda darah di bajunya serta rambutnya yang biasa rapi kini terlihat amburadul.
Sesekali ia mengacak pinggang sambil mengacak acak rambutnya sebal, menggigit kecil jari telunjuknya seperti mengalihkan ke khawatiran nya.
Sesaat langkah kaki nya terhenti tatkala ia mendengar derap langkah yang mulai mendekat ke arahnya.
" Kalian, Ma, Pa " ucap nya terhenti kemudian sedikit menundukkan pandangan ketika mendapati seluruh keluarga baru saja sampai di hadapan nya.
Sedangkan Bima segera menyerobot langkah istri nya dan mendahului langkah sang besan alias mantan sekertaris nya yaitu Revan dan Adinda.
Dengan langkah gesit nya dan amarah yang sudah berada di ubun ubun Bima langsung menonjok perut sang menantu kesayangannya itu selama ini.
BUGHHH.....
AKKHHH.....
pekik Barra.
" Pa apa yang kau lakukan, kita dengarkan dulu penjelasan Barra " ucap Zahra sambil meraih tangan sang suami agar menghentikan aksi nya tersebut.
" iya tuan kita dengar dulu penjelasan Barra " Timpal Revan, yang juga sebenarnya merasa tak enak sendiri pada sang besan begitu juga dirinya yang saat ini sebenarnya juga sangat amat marah pada sang putra tapi masih ia tahan.
Singkat cerita.
Waktu itu Bima dan Zahra merasa rindu sudah lama ia tak berkunjung ke mansion sang putri tunggalnya, ia merencanakan untuk pergi bersama sang istri dan kedua besan nya untuk memberi kejutan kepada putra putri nya di sana.
Setelah sesampainya mereka di sana penuh dengan senyuman, justru mereka sendiri yang mendapat kejutan dari beberapa pelayan mansion.
Bi Ana kepala pelan begitu juga Pak Anto mereka berdua terpaksa menceritakan semua hal yang terjadi dalam mansion hari ini.
Membuat kedua keluarga itu sungguh sangat terkejut, Zahra sebagai ibu tak ingin tinggal diam ia berjalan menuju lantai atas kamar pribadi anak nya pasti ada petunjuk di sana pikir nya.
__ADS_1
Di benak nya saat ini terus bertanya tanya pasti ada sesuatu.
JEG... GLEK...
Pintu kamar itu baru saja ia buka, ia melangkah perlahan pandangan nya tertuju ke arah ranjang,dimana semuanya ia saksikan dengan kedua matanya sendiri.
Beberapa tablet obat, selembar diagnosa penyakit dari dokter begitu juga selembar kertas perceraian yang masih tergeletak sempurna di atas ranjang.
Zahra langsung menutup mulutnya akan keterkejutan nya itu begitu juga Adinda sebagai besan yang baru saja menyusul Zahra ke kamar.
Keduanya sungguh sungguh di buat terkejut, apalagi dua pria tampan yang masih awet muda di lantai bawah itu, entahlah bagaimana jadi nya semua nya ini ke depan nya.
*
Kembali ke rumah sakit.
Perlahan Barra mendongakkan kepala dan mulai menjelaskan.
" Papa dengar kan itu bukan sepenuhnya salah Barra Pa, dan yang terpenting saat ini adalah kesembuhan Sheina " sahut Zahra menenangkan.
Bima masih terdiam, merasa kekesalan nya masih berada di ubun ubun.
" Ya tuan percayalah pada Barra, sekarang yang terpenting kesembuhan Sheina " tambah Adinda
" Benar tuan percayalah pada putra saya " imbuh Revan meyakinkan.
" T I D A K, untuk keputusan begitu saja kali ini " ucap Bima lantang
Membuat semua orang yang berada di sana langsung terkejut.
" Pa apa yang kau katakan " ucap Zahra tak percaya akan apa yang di katakan oleh sang suami.
" Diam " menghentikan pembicaraan sang istri agar tak ikut campur dalam keputusan nya.
__ADS_1
" Pa jangan pisahkan aku dengan Sheina, aku akan berjanji padamu kali ini saja beri aku kesempatan "
" Kau tak bisa menjaga putriku "
" pergi kalian sekarang " Usir Bima.
JEG.... GLEK...
Tiba tiba pintu ruangan yang sedari tadi tertutup itu kini mulai terbuka.
Semuanya langsung terdiam.
Keadaan hening sesaat.
Sedangkan Barra harap harap cemas dengan apa yang akan di katakan dokter kini.
" Cepat katakan " Ucap Bima dengan wajah serius nya.
Perlahan dokter yang sedari tadi gemetaran kini mulai menjelaskan.
" Ke.. ke.. keadaan nona memburuk tu.. tuan " jelas dokter wanita itu yang tak lain adalah dokter Shasa.
" Apa kau bilang " Kedua mata Bima terlihat melotot.
" Dokter apa yang kau katakan " sahut Barra yang mulai ketakutan.
" nona harus berobat keluar negri tuan ini jalan satu satu nya " jelas dokter Shasa lagi.
" baiklah " sahut Bima.
kemudian langsung menghubungi seseorang bawahan agar menyiapkan penerbangan saat ini juga untuk kesembuhan sang putri.
Sedangkan Barra yang ingin kembali berucap di cegah nya oleh sang Papa agar diam untuk sementara agar tak memperkeruh suasana.
__ADS_1