
dua minggu kemudian setelah kejadian itu.
Tepatnya di pagi hari setelah Zahra selesai mandi bersama suami posesif nya itu dan sekarang yang berada di ruang ganti.
" Sayang apakah aku boleh bertanya sesuatu"
Tanya Zahra dengan wajah polosnya, yang saat ini sedang memasang kancing kemeja milik suaminya yang berada pas di hadapannya itu.
" Apa yang ingin kau tanyakan sayang, tanyakanlah "
Jawab Bima yang sedang menatap wajah ayu milik istri kesayangan nya itu.
" Aku.. "
Ucap Zahra terhenti kemudian mendongakkan kepala nya menatap wajah tampan suaminya itu, dan setelah itu kembali memandang kemeja milik suaminya yang sedari tadi ia pasangkan kancingnya itu.
" Aku ingin kuliah sayang aku ingin seperti yang lain " Ucapnya sambil menundukkan kepala karena merasa takut suaminya marah.
" Hah.. " Bima membuang nafas.
" Sayang dengar aku, aku tidak memperbolehkan mu kuliah kau dengar itu, karena aku tidak mempermasalahkan tentang pendidikan mu Zahra, cukuplah kau menjadi ibu untuk anak anakku kelak, dan kekayaan ku tidak akan habis sampai tujuh turunan meskipun kau tidak kuliah dan mancari kerja, dan aku tidak ingin kau menjadi wanita karir Zahra cukuplah merawat anak anak kita kelak sayang sambil menungguku pulang kerja di mansion ini "
jelas Bima panjang lebar.
" Iya aku tidak akan kuliah " Ucapnya kemudian segera melenggang pergi dari hadapan suaminya itu sambil memanyunkan bibirnya.
" Sayang kau kesal kan padaku '' ucap Bima kemudian menarik tangan Zahra ketika melenggang pergi dari hadapannya itu.
" Sedikit "
Ucapnya singkat tapi tak menoleh ke arah suaminya membuat Bima sedikit ingin tertawa mendengar jawaban singkat istrinya itu.
" Iya baiklah kau boleh kuliah " jawab Bima dengan senyuman mengembang di bibir tipisnya itu.
" Benarkah " Jawab Zahra dengan wajah yang berbinar binar dan langsung menoleh ke arah suaminya itu.
" Iya sayang, tetapi pelajaran mata kuliahmu di mansion saja, aku akan mendatangkan langsung guru kuliah khusus untukmu, apakah kau mau " jelas Bima lagi
" Ah itu sama saja, sayang aku lelah di dalam mansion terus, aku ingin bebas di luaran sana seperti anak kuliahan lainnya "
" Apa kau bilang ingin bebas "
Zahra menganggukkan kepalanya dengan polos tetapi sangat terlihat menggemaskan di mata suaminya.
" Bukan seperti itu maksud ku sayang, aku hanya ingin menghirup udara di luaran sana, aku bosan di dalam mansion terus " ucapnya sedikit mengerucutkan bibir.
" Ya sudah kau tidak usah kuliah saja,
" baru saja kau menjujung ku tinggi sekarang kau menjatuhkan ku, hilanglah semua harapan ku "
__ADS_1
" tidak penting kuliah sayang, tetapi mulai sekarang kau ikut aku ke kantor bagaimana agar kau tidak bosan di mansion "
" Benarkah " jawab Zahra yang lagi lagi berbinar mendengar perkataan suaminya.
" Iya sayang, dan di sana ada kamar pribadiku untuk istirahat dan kau bisa beristirahat di sana jika kau mau "
" Itu sama saja, kau pasti akan sering mengajakku ke dalam sana untuk melakukan itu padaku, iyakan ayo jawab sayang "
" Tidak sayang, mana mungkin, pikiran mu saja yang seperti itu " jawab Bima seolah mengelak atas jawabannya dia sendiri.
" Ayo suamiku jujurlah " tanya Zahra lagi
" Iya iya, sedikit " jawab Bima akhirnya jujur kepada gadis yang ia cintai itu.
" Iya kan, dasar suami mesum " sahut Zahra lagi yang merasa itu adalah akal akalan suaminya saja.
" Ya sudah kalau tidak mau "
ucap Bima dengan mengalihkan pandangannya dengan sok cuek padahal di dalam hatinya ia ingin sekali memancing Zahra supaya ikut dengannya ke kantor.
sedangkan Zahra seperti memikirkan sesuatu.
" tetap di mansion atau ikut ke kantor bersamaku, itu sih terserah kau saja pilih yang mana sayang, kalau aku lebih pilih ikut ke kantor dari pada di mansion membosankan,tetapi itu terserah dirimu sih sayang aku tidak memaksa iya kan ''
" Iya iya aku ikut ke kantor bersamamu " Jawab Zahra seperti malas dan terpaksa mengiyakan ajakan suaminya itu
" apanya yang yes "
" sayang seperti nya telingamu harus di periksakan ke dokter karena aku sedari tadi tidak berbicara apa apa "
ucapnya kemudian beranjak pergi dari ruang ganti dengan menahan tawanya dan segera melangkahkan kakinya ke ruang kerja.
" memang iya ya, ah tidak mungkin "
ucap Zahra yang masih terdiam diruang ganti mencerna ucapan suaminya itu.
dan setelah itu Zahra melanjutkan menyisir rambutnya dan sedikit menambah polesan make up tipis di wajahnya.
dan setelah selesai merias wajahnya Zahra kini tengah bercermin takut sesuatu ada yang berantakan di wajahnya.
sedangkan Bima yang berada di ruang kerjanya saat ini tengah memeriksa sesuatu yang akan ia butuhkan untuk ke kantor.
tring
tring
tring
ponsel Bima kemudian berdering, dan setelah itu Bima mulai mengambil ponselnya yang berada di saku jasnya.
__ADS_1
di lihatnya di layar tipis itu sekertaris Revan sedang memanggil.
Kemudian Bima langsung menggeser bulatan hijau itu di layar ponselnya.
" halo "
" halo tuan, saya sekarang sedang berada di lantai bawah tuan karena ada berkas berkas yang harus anda lihat secepatnya dan harus anda tangani "
" baiklah kalau begitu "
dan panggilan pun terputus.
dan saat ini Bima langsung menuju lantai bawah untuk menemui sekertaris Revan di lantai bawah.
sedangkan masih di kamar lantai atas.
ah sepertinya sudah pas, sebaiknya aku segera keluar, dia dimana ya, apa mungkin ke ruang kerja, sebaiknya aku segera menyusul suamiku yang sangat posesif itu ucap Zahra.
kemudian melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar untuk segera menyusul suaminya yang berada di ruang kerja itu, Zahra terus berjalan menuju ke arah ruang kerjanya itu tetapi tak mendapati suaminya di sana.
kemana dia apa mungkin di lantai bawah ucapnya.
kemudian Zahra menuruni anak tangga perlahan untuk mencari keberadaan suaminya itu, dan sesampainya di lantai bawah memang benar Bima sedang bersama sekertaris Revan yang seperti sibuk membahas sesuatu di sana.
Zahra pun melangkahkan kakinya ke arah suami nya tersebut, dan mendapati sekertaris Revan yang sedari tadi memandanginya dari kejauhan.
sedangkan Bima yang sedari tadi membahas persoalan bersama sekertaris nya itu karena tak mendapat jawaban.
Bima langsung menoleh ke arah di mana sekertaris Revan tak mengedipkan kedua matanya sama sekali itu, dan ternyata pandanganya menuju ke arah Zahra istrinya yang terlihat sangat cantik itu.
sedangkan Bima mulai mengeraskan rahang nya, melihat kelakuan sekertaris nya itu.
" sekertaris Revan, apa yang kau lihat hah "
ucap Bima dengan nada tinggi yang membuat sekertaris Revan terlonjak kaget.
" ah iya tuan maaf, nona Zahra hari ini terlihat sangat cantik sekali tuan "
" apa kau bilang "
" ah... maksud saya sebaiknya nona Zahra jangan di perbolehkan memakai make up tuan, karena nona Zahra terlihat sangat cantik anda tidak mau kan kalau tambah banyak lelaki yang menyukai istri anda " jelas sekertaris Revan yang membuat tuan mudanya itu otaknya mendidih saat ini.
'' ya kau benar juga Van, termasuk kau juga kan, sekarang kau pergi, tunggu aku diluar enak saja kau melihat istriku dengan dandanan secantik itu " ucapnya dengan nada sangat kesal melihat sekertaris Revan.
" cepat pergi " usir Bima
" ba.. baik tuan " kemudian sekertaris Revan segera melangkahkan kakinya dengan langkah lebar menuju keluar mansion dan menunggu tuan mudanya di depan mobil.
sedangkan Zahra yang lupa kalau suaminya tak menyukai jika dirinya bermake up itu, kini dirinya tersenyum seolah tak mengerti apa apa yang baru saja terjadi.
__ADS_1