Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
episode 86


__ADS_3

setelah itu Bima tak tanggung tanggung dirinya mulai memilih semua foto baru dirinya bersama Zahra kira kira du puluh foto, dan mulai memposting nya di sana dengan caption yang berbeda beda.


dan Bima terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu.


" sayang kau kenapa "


" sayang kita kasih caption apa di foto ini "


" terserah kau saja sayang saja "


" baiklah kalau begitu aku akan memberi caption "


kemudian Bima mulai menulis di benda tipis milik istrinya itu.


my husband - posting


❤❤❤ - posting


sekarang dan selamanya - posting


😘😘🥰 - posting


kau lah yang pertama dan juga yang terakhir untukku - posting


itu lah kira kira caption yang ditulis Bima di setiap slide foto dirinya, dan setelah postingan nya telah selesai, kemudian Bima langsung tersenyum.


" sayang kau menulis caption apa, kenapa sampai senyum senyum sendiri seperti itu "


tanya Zahra yang seperti melihat suaminya sangat bahagia dengan ponsel miliknya yang telah di otak atik nya tadi.


" ini lihatlah sendiri " ucap Bima yang kemudian mengembalikan ponsel milik Zahra.


kemudian Zahra langsung mengambil ponsel miliknya yang di berikan oleh Bima,


dan Zahra pun kini mulai melihat layar ponsel miliknya.


perlahan Zahra membaca caption satu persatu di dalam satu album berisi lima slide foto itu.


Zahra terdiam sejenak membaca caption tersebut dalam hati.


kini dirinya tersenyum sambil geleng-geleng kepalannya pelan, dan juga dirinya sebenarnya ingin tertawa karena suaminya memberi caption yang sedikit berlebihan.


" sayang kenapa kau memberi caption seperti ini di bagian posting an foto album terakhir, sepertinya sedikit berlebihan hahaha... "


" kenapa kau tertawa hah, apa aku salah memberi caption seperti itu, apa kau tidak suka aku menulis caption itu "

__ADS_1


" bukan seperti itu, sepertinya sangat berlebihan sayang " ucap Zahra yang seperti ingin di mengerti maksudnya.


" biarkan saja, apa kau tidak ingin menunjukkan pada semua orang kalau aku adalah suamimu hah " jawab Bima yang mulai dengan nada sedikit emosi.


" sayang kenapa kau selalu seperti itu sih, aku hanya bicara begitu saja, dan aku juga tidak berniat menghapusnya kan " jelas Zahra yang sedikit mulai kesal pada suaminya.


" sayang maaf, kau kesal ya padaku karena aku sedikit emosi yang tak mengerti maksud mu itu "


" habisnya kau selalu begitu aku tidak berniat apa apa padamu, aku hanya bertanya saja sayang "


" iya aku tau, maksudku aku tidak ingin membuat lelaki di luaran sana berharap padamu, aku hanya ingin membuat semua orang di luaran sana tau kalau aku adalah suamimu sayang "


" kenapa tidak bilang seperti itu saja dari tadi, dasar suami menyebalkan "


ucapnya kemudian mengalihkan pandangannya ke depan dan berjalan lurus meninggalkan Bima seperti tidak ada apa-apa.


sedangkan Bima yang mendengarkan perkataan istrinya itu sedikit tergoda.


" apa kau bilang, awas kau ya aku akan mengejar mu Zahra " ucapnya


sedang Zahra yang mendengar nya pun langsung berlari menjauhi suaminya, dengan tawa di sana.


Bima pun tersenyum, kemudian berlari mengejar istrinya itu yang mulai menjauh darinya, yang berada di pinggir pantai dengan kedua kakinya yang sudah basah sedari tadi di sapu air laut.


sesaat kemudian


" sayang kau cepat sekali mengejar ku " tanya Zahra dengan nada ngos ngosan.


" tentu saja, karena kau telah mengatai suamimu ini menyebalkan, maka kau akan aku hukum " jelasnya kepada Zahra.


" yang benar saja, kenapa di hukum segala hah" jawab Zahra yang merasa suaminya itu menang sendiri.


" iya itu harus, kau harus mencium ku sekarang" jelas Bima lagi kepada istrinya saat ini.


" apa, yang benar saja, di sini banyak orang sayang " sahut Zahra dengan nada sedikit syok dengan permintaan suaminya ini.


" itu bukan urusanku Zahra, ini hukuman mu " jelas Bima dengan enteng.


" sayang, kau tidak malu apa hah, di sini banyak sekali yang melihat ke arah kita, apalagi kita ciuman "


jawab Zahra yang memang masuk di akal.


" aku tidak mau tau Zahra, atau begini saja, nanti malam aku meminta jatahku tetapi kau yang berada di atas dengan memakai lingerie yang mama berikan untukmu titik " jelas Bima yang merasa sudah menang itu.


" sayang kecilkan suaramu, kau tidak lihat banyak orang lalu lalang di dekat kita "

__ADS_1


sahut Zahra yang merasa suaminya itu tidak merasa sekali pun malu kepada orang-orang berada di dekatnya saat ini.


" mereka tidak akan mendengar sayang, bagaimana apa kau setuju " ucap Bima


" tapi.. " jawab Zahra dengan pikiran nya yang saat ini memikirkan ke arah sana.


" ah,.. tidak ada tapi tapian, aku menganggapnya kau setuju " sahut Bima yang mau menang sendiri itu.


" bagaimana bisa sayang, aku kan belum mengatakan apapun " rengek Zahra.


" tidak mengatakan apa apa bagaimana, aku kan sudah bertanya dan kau menjawabnya tapi, seharusnya kau menjawabnya tidak bisa kalau memang tidak bisa, tetapi kau menjawabnya seperti itu ya sudah aku menganggapnya iya berarti " jelas Bima yang memang benar-benar membuat istrinya itu sangat sebal.


" hah... terserah kau saja " jawab Zahra yang memang sudah lelah berdebat dengan suaminya iyu.


" benar sayang, hah... Zahra kau memang benar benar istri ku yang sangat baik, aku sudah tidak sabar menantikan nanti malam "


memang benar benar sangat mesum gumam Zahra yang sedikit cemberut itu.


" ya sudah ayo sayang kita berteduh, matahari nya semakin naik nanti kulit mu bertambah hitam bagaimana "


" ya.. ya..ya.. semuanya terserah padamu sayang ayo kita berteduh "


jawab Zahra yang sudah lesu, karena pikirannya saat ini memikirkan dirinya untuk persiapan nanti malam, bagaimana dirinya membayangkan saja sudah begitu malau apalagi nanti malam dia harus melakukan apa yang di katakan suami mesumnya itu, dan Zahra harus menurutinya.


kini matahari sudah tepat berada di atas kepala dan begitu sangat cerahnya siang ini, yang sudah menunjukkan pukul 01.00 wib siang.


kini kedua pasangan suami istri itu sedang menikmati makan siangnya di restoran mewah di dekat pantai, dan keduanya sambil meminum es kelapa muda dengan menghadap ke arah pantai yang begitu indah, dengan anginnya yang begitu kencang.


" sayang sebaiknya kau paket jaket milikku ini, anginnya sangat kencang kau bisa masuk angin Zahra "


" tidak, jika kau melepas jaket mu makan lehermu yang masih membekas karena ulahku itu bisa di lihat banyak orang sayang, dan aku sangat malu "


" sayang kau jangan mementingkan hal seperti itu, ini demi kesehatan mu, lagi pula kita suami istri biarkan saja semua orang melihatnya, lagian tanda merah di leherku ini bagus aku suka, bahkan sangat suka sekali "


" sayang kau berniat mengejekku ya "


" mana mungkin aku mengejek istri ku yang sekarang sudah mulai nakal kepada suami nya sendiri "


" sayang jangan katakan itu lagi, aku malu mendengar nya "


" ya baiklah, yang penting nanti malam aku ingin melihat seperti apa nakalnya istri ku yang polos ini jika melayani suaminya dia atas ran... "


jelas Bima kepada Zahra, tetapi kata katanya berhenti ketika Zahra membungkam mulutnya itu.


" sayang cukup,... kau bisa diam kan, iya aku janji padamu, dan sekarang tolong diam lah, karena sekarang aku sangat merasa malu, dan sangat sangat malu kau tidak tau orang orang di sekitar tempat duduk kita, sedang memandang ke arah kita semua, karena mendengar kan perkataan mu itu "

__ADS_1


jelas Zahra yang saat ini bingung dengan menoleh kanan kiri dengan keadaan sekitar orang orang yang masih fokus melihat ke arah dirinya dan Bima.


__ADS_2