Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
episode 128


__ADS_3

sedangkan di gedung pencakar langit milik Bima.


Kini sekertaris Revan sedang kewalahan dengan pekerjaan nya di perusahan milik atasannya tersebut.


memang benar kata tuan muda, aku memang harus segera membuka lowongan kerja online saja untuk wanita yang berpengalaman dan mempunyai keahlian dan kepintaran yang sama rata dengan ku, baiklah aku mulai membuat lowongan itu dari sekarang monolog sekertaris Revan yang saat ini tengah berada di ruangan mewah berpendingin tersebut.


beberapa saat kemudian dirinya telah selesai membuat lowongan tersebut lewat media online,


dan saat ini dirinya telah kembali mengerjakan semua urusan kantor yang mulai menumpuk itu.


sepuluh menit kemudian.


CENG KLUNG.....


CENG KLUNG.....


CENG KLUNG.....


CENG KLUNG.....


bunyi benda layar tipis yang saat ini berada di hadapan sekertaris Revan, yang menandakan banyak pemberitahuan masuk di dalam sana.


sekertaris Revan pun kini mulai melihat banyaknya pemberitahuan tersebut.


Di lihatnya di sana banyak ribuan yang melamar pekerjaan yang di tawarkan oleh sekertaris Revan itu.


dan di lihat nya kebanyakan dari lulusan luar negri.


Hanya ada satu dari sekian ribuan pelamar wanita yang lulusan dari universitas dalam negaranya sendiri.


Bagaimana pelamar nya tidak banyak hanya dalam waktu sepuluh menit, sedangkan di dalam perusahaan SINAGA. GROUP milik keluarga Bima yang bergerak di dalam segala bidang itu menjanjikan bayaran yang sangat fantastis untuk semua para pekerjanya, bagaimana orang tidak bahagia dengan bayaran yang seperti itu, berbeda lagi dengan bonus bonus lainnya.


sungguh perusahaan idaman setiap orang bukan.


sebaiknya aku lihat yang ini saja dulu ucap sekertaris Revan kemudian.


Setelah itu pria tampan yang memiliki ketampanan sebelas dua belas belas dengan atasannya tersebut kini mulai mengamati semua informasi tentang salah satu wanita yang melamar di lowongan pekerjaan tepat nya di perusahaan milik keluarga SINAGA.GROUP itu.


Namanya Adinda Wirawa, umurnya 23tahun, wajahnya boleh juga sih, ahh... kenapa aku jadi fokus ke wajahnya, emmm... sebaiknya aku coba dia saja dulu, seperti nya dia sedikit berbeda aku lihat, tidak seperti lainya yang lulusan luar negri semua, ya memang sih otak nomor satu monolog sekertaris Revan.


kemudian sekertaris kepercayaan Bima itu pun mulai membalas pesan wanita tersebut untuk segera interview, dan jika bisa di andalkan sekertaris Revan akan langsung mempekerjakannya langsung, karena saat ini memang pekerjaan kantor memang benar benar menumpuk.


dan tak lupa sekertaris Revan memberitahukan untuk memakai setelan rok hitam putih untuk acara interviewnya besok.


ahh... selesai, semoga saja wanita yang bernama Dina Wirawa itu becus, dan aku tidak susah susah lagi mencari rekan untuk menyelesaikannya pekerjaan kantor selama berbulan bulan ke depan.


Berbeda di tempat lain.


tepatnya di mansion besar milik Bima.


" sayang aku ingin jalan jalan aku lelah di kamar terus " ucap Zahra yang kini merasa bosan di dalam kamar.


" iya baiklah kau ingin kemana hah " tanya Bima sambil menyelipkan anak rambut yang sedikit menutupi wajah cantik istrinya tersebut.


" aku ingin jalan jalan yang penting berbau alam, aku lelah jika harus ke mall mall dan mall" jelas Zahra kemudian


" hem......memangnya kau ingin ke mana hah, bagaimana kalau kita ke pantai seperti dulu sebelum kau hamil itu bagaimana sayang " ajak Bima kepada sang istri yang kini tengah mengandung.

__ADS_1


" bagaimana kalau kita bersama sama saja ke sananya sayang " jawab Zahra sambil mengembangkan senyumnya.


" maksudnya " tanya Bima dengan kening mengerut.


" ya kita bersama sama, bersama mama dan papa bagaimana pasti ramai iya kan " jelas Zahra kemudian.


" ah... tidak " jawab Bima singkat.


" memangnya kenapa kan pasti seru sayang " rengek Zahra.


" kalau bersama mereka aku tidak akan bisa berlama lama bermesraan dengan mu Zahra "


" ah, kau ini.... sayang kenapa kau selalu menginginkan hal yang sangat intim sih, padahal setiap hari kau selalu ada di dekatku dan memintanya dariku tanpa pernah melihat waktu pagi siang malam seperti sarapan " jelas Zahra panjang lebar.


" hahaha.... kau ini, Zahra aku memang selalu menginginkan dirimu dirimu dan dirimu, aku selalu ketagihan " ucap Bima dengan ucapan yang tanpa di filter itu, yang sangat terang terangan kepada sang istri.


" sayang diam shhtttt....hentikan ucapan mu, aku sangat geli, apa yang kau katakan sih ketagihan ketagihan segala " sahut Zahra saat ini yang merasa sedikit kesal kepada Bima.


" ya memang ak..... " ucap Bima yang kemudian dibungkam oleh sang istri.


" shttttt... sudah ya kau bisa diam kan " ucap Zahra sambil memandang kedua mata milik bima.


Bima menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum saat istrinya tetap membungkam bibirnya tersebut.


" ya sudah kita mandi dulu ayo, dan setelah itu kita segera berangkat sayang " ajak Bima kepada sang istri.


" tapi kita bersama mama dan papa kan ke pantainya " tanya Zahra kemudian


" tidak... kita hanya berdua saja " jelas Bima santai


" mau... atau tidak sama sekali " ucap Bima kemudian yang seperti mengancam sang istri.


" heh.... iya iya baiklah dasar, gendong "


" hehehe.... dasar manja nya bumilku ini, ya sudah ayo aku akan menggendong mu sekarang " jawab Bima


kemudian perlahan lelaki tampan itu turun dari ranjangnya dan perlahan menggendong tubuh sang istri menuju kamar mandi mewahnya.


**********


ke esokan harinya.


kembali ke perusahaan pencakar langit milik Bima.


08.30 wib.


wanita itu belum datang juga ucap sekertaris Revan.


kemudian kembali melanjutkan pekerjaan tersebut, yang kembali menumpuk seperti hari kemarin.


tok


tok


tok


" masuk " ucap sekertaris Revan.

__ADS_1


datang juga wanita ini gumamnya dalam hati.


sekertaris Revan berucap tanpa menoleh sambil kedua matanya yang masih sibuk mengamati dokumen dokumen di atas mejanya tersebut.


" hah.. hah... hah.. maaf tuan terlambat, aduh kakiku rasanya bengkak " ucap Adinda adalah wanita satu satunya yang akan di interview oleh sekertaris Revan,


yang saat ini tengah berjongkok dengan kepalanya menunduk seperti mengatur nafasnya yang masih ngos ngosan tersebut tepat di depan meja sekertaris Revan saat ini tanpa memandang ke arah laki-laki di hadapannya itu.


sedangkan sekertaris Revan mulai mengangkat kepalanya menghadap gadis yang masih berjongkok di hadapan nya itu.


" hey.... apa kau punya sopan santun hah " ucap sekertaris Revan tiba tiba.


" ah... maaf tu.... " ucap Adinda terhenti


Dan keduanya kini saling pandang.


kenapa dia tampan sekali dengan kaca mata bulatnya, jadi selama ini tangan kanan SINAGA. Group adalah dia, astaga astaga tampan memang benar benar tampan gumam Adinda dalam hati.


Apa dia yang aku lihat fotonya kemarin, kenapa sangat berbeda, dia lebih terlihat cantik aslinya, ke-dua matanya bulat bibirnya tipis dan akkhhh....tidak tidak tidak.... gumam sekertaris Revan.


beberapa saat kemudian.


" ekhhhem.. " deheman sekertaris Revan tiba tiba.


seketika pandangan keduanya buyar.


" silahkan duduk " ucap sekertaris Revan kemudian.


" ii.. iiya tuan " jawab Adinda dengan terbata bata.


kemudian keduanya saling diam.


Revan ayo bicara, kenapa kau jadi bisu, ayo bicara, ayo bicara. Kau tidak bisu gumam sekertaris Revan.


sekertaris Revan bergumam dengan dirinya yang saat ini seperti merasa bibirnya terkunci sangat rapat.


" baiklah sekarang akan mulai sesi tanya jawab" ucap sekertaris Revan kemudian.


" ya tuan silahkan " jawab Adinda yang sesekali menundukkan kepalanya tersebut karena takut dirinya kembali tak kuasa melihat lelaki tampan di hadapan nya saat ini.


" apa kau sebelum nya pernah kerja di sebuah perusahaan " tanya sekertaris Revan sambil menatap wanita di hadapannya itu.


" pernah tuan, tetapi saya sudah di pecat " jawab Adinda sedikit lesu.


" apa sebabnya kau bisa di pecat " tanya sekertaris Revan yang tetap dengan gaya angkuhnya itu.


" karena saya katanya menggurui atasan saya tuan, padahal kan saya hanya membenarkan yang benar yang menyalahkan dengan yang salah " jelas Adinda dengan serius.


" maksudnya dalam hal apa " tanya sekertaris Revan lagi yang tetap memandang wanita di hadapannya itu tanpa berkedip sama sekali.


" begini tuan, atasan saya seperti nya menyabotase suatu anggaran dana perusahaan, dan saya memberi tahu kalau data data tentang dana perusahaan itu semuanya ada kekeliruan, dan akhirnya dia memarahi saya, dan setelah itu dia mengajukan kepada atasannya lagi kalau saya kerjanya tidak becus, dan akhirnya saya yang di pecat, begitulah tuan cerita nya " jelas Adinda panjang lebar.


" tuan... hey tuan kenapa anda tidak berkedip, anda terpesona ya dengan wajah saya " ucap Adinda tiba tiba dengan santainya.


" Enak saja kau bicara, kau bisa diam " ucap sekertaris Revan yang sedikit merasa malu karena ketahuan oleh wanita yang saat ini tengah ia tanyai tersebut.


KAK JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMENTAR YA PLISSS☺☺☺🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2