Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
ciuman di kantor


__ADS_3

masih di dalam perusahaan.


keduanya kini kembali ke meja kerja masing masing untuk melanjutkan pekerjaannya, setelah tadi keduanya telah selesai dengan ritual makan bekalnya.


keduanya kini kembali fokus pada pekerjaan masing masing, sesekali Adinda kembali memijit keningnya yang terasa berat.


Kenapa bertambah pusing seperti ini ya monolognya dengan nada pelan.


sedangkan sekertaris Revan sedikit mendengar perkataan Adinda.


" Din apa kepala mu masih pusing " tanya sekertaris Revan.


Fara mengangguk pelan terlihat sangat polos di tatap sekertaris Revan.


ais... lagi lagi dia terlihat menggemaskan seperti ini gumam nya.


kemudian sekertaris Revan mengeluarkan sebuh obat dari dalam laci meja kerjanya, setelah itu berniat untuk menuju ke arah meja kerja milik Adinda sambil membawa obat tersebut dan satu botol air mineral tadi.


" buka mulutmu " ucap sekertaris Revan kemudian yang kini sudah berada di depan meja kerjanya milik Adinda.


" untuk apa " tanya polos Adinda.


" minum obat " jawab sekertaris Revan santai.


" tidak, aku tidak mau " ucap Adinda sambil membungkam bibirnya.


" Dinda " ucap sekertaris Revan dengan sedikit penekanan.


" iya... jangan memelototiku seperti itu, aku tidak suka memangnya aku anak kecil apa, mana obat nya aku akan mencoba meminumnya sendiri " jawab Dinda sedikit merasa kesal pada kekasih barunya.


" Dinda bukan kah kau tidak bisa meminum obat kan " ucap sekertaris Revan kepada kekasih nya itu.


" ii.. iiya, tapi aku akan mencobanya sendiri, sudah mana sekarang obatnya, kau lanjutkan saja pekerjaan mu " ucapnya kepada pria tampan di hadapan nya.


" Dinda hei lihat aku.. aku tau kau pusing pasti karena kau memaksakan mengerjakan separuh pekerjaan ku bukan " jelas sekertaris Revan yang kini tiba tiba berada di dekat kursi kerja milik Adinda.


" tidak " jawab Adinda mengalihkan pandangan.


" tidak usah bohong, pekerjaan ku itu sangat banyak sekali dan kau mengambilnya separuh bukan, agar aku tidak terlalu lelah jika aku sudah selesai dengan urusan bersama tuan Bima " jelas Revan yang sudah mengerti akan perhatian pacar barunya tersebut kepada dirinya saat ini.


" iya.. aku takut kau kewalahan jadi aku mengambilnya separuh untuk aku kerjakan tadi" jawab Adinda yang sesekali menatap pria tampan yang kini menatap wajahnya.


Dengan posisi sekertaris Revan yang kini tengah berdiri dan bersandar di samping meja kerja milik Adinda jadi keduanya sedikit berhadapan.


" Dinda seharusnya kau jangan lakukan itu, jika kau merasa tidak kuat, dan tidak harus di paksakan " ucap sekertaris Revan yang khawatir dengan gadis yang kini telah berubah status menjadi pacarnya tersebut.


" bukan kah itu arti sebuah hubungan seseorang yang saling mencintai tuan, harus mengerti satu sama lain, menyayangi satu sama lain, menerima kekurangan masing-masing dan emm..... " jelas Adinda


yang kemudian perkataan nya terhenti ketika jari telunjuk sekertaris Revan menempel di bibirnya


" shttttttt.....apa kau sangat menyayangiku " tanya sekertaris Revan sambil menatap bola mata indah milik gadis dua puluh tiga tahun itu.


Adinda mengangguk pelan dengan kedua matanya yang kini fokus menatap kedua mata milik pacar barunya yaitu sekertaris Revan.


Keduanya saling pandang dan sekertaris tampan itu kini perlahan mulai mendekat kemudian menempelkan lagi bibirnya pada bibir tipis milik Adinda untuk yang kedua kalinya.


ya keduanya saat ini kembali berciuman di dalam ruangan berpendingin itu.


sesaat.

__ADS_1


Dengan tiba tiba Adinda mencubit bagian perut milik sekertaris Revan.


AWWw...........


pekik sekertaris Revan sambil sedikit meringis kesakitan, karena kelakuan Adinda yang mencubit nya sedikit keras.


ciuman pun terhenti, karena ulah Adinda itu.


" Din kenapa kau mencubit ku " tanya Revan pada sangat pacar.


" kau mencuri kesempatan dalam kesempitan " jawab Adinda sedikit memanyunkan bibirnya.


Padahal di dalam hatinya Adinda kini juga ikut senang seperti ingin kembali berguling guling di dalam kamarnya seperti waktu itu, pertama kali sekertaris Revan menyatakan cinta padanya dan mulai mencium bibir nya untuk yang pertama kalinya mengambil keperawanan bibirnya yang belum pernah tersentuh sama sekali oleh pria mana pun.


" hehehe.... maksudmu apa " ucap sekertaris Revan dengan sedikit tertawa.


" tuan emmm..... maksud ku kakak, apa kau tidak tau kalau ini perusahan " jawab Adinda sedikit keliru dengan panggilan barunya kepada pria tampan di hadapan nya itu.


" hehehe.... " sekertaris Revan sedikit tertawa mendengar panggilan Adinda pada dirinya saat ini.


" kau lucu sekali Din, ya sudah buka mulut mu cepat aku akan membantumu meminum obat "


" aku bisa sendiri " jawab Adinda yang masih kekeh.


" Dinda aku mohon menurut lah, apa susahnya sih aku ini pacar mu " jelas sekertaris Revan yang kini mulai merasa sedikit kesal pada Adinda.


" iya .. iya.. dasar bawel '' jawab Dinda yang lagi lagi memanyunkan bibirnya ke depan.


sekertaris Revan sedikit terkekeh geli mendengar jawaban gadis yang kini sudah menjadi kekasih hatinya tersebut.


" buka mulut mu " ucap nya


dan kemudian...


GLEK..........


obat penghilang rasa pusing pun kini telah masuk ke dalam tenggorokan milik Adinda dengan sempurna.


" terima kasih kak " jawab Adinda.


" iya sayang " sahut sekertaris Revan berniat menggoda pacar nya tersebut.


" aku bilang jangan memanggil ku itu " ucap Adinda yang merasa malu dengan panggilan sekertaris Revan kepadanya.


" apalagi yang kau permasalahkan sih Din, sudah diam dan sekarang beristirahatlah sebentar, bukan kah pekerjaan mu sudah selesai " ucap Revan.


" ada tinggal sedikit " jawab Adinda santai


" berikan padaku, biar aku saja yang mengerjakan " sahut sekertaris Revan.


" tidak usah "


" DINDA " panggil sekertaris Revan dengan nada suara penuh dengan penekanan.


" iya iya ini ambil lah berkas berkas milikku yang ingin kau kerjakan " jawab Adinda sambil mengulurkan beberapa berkas kepada pria tampan yang saat ini sedikit terlihat menakutkan itu.


Dan terpaksa Adinda harus mengiyakan karena seperti nya hawa panas dan menyeramkan seperti mulai menyeruak di dalam ruangan berpendingin tersebut.


" terima kasih pacar baruku " ucap Dinda mencairkan suasana yang sedikit menyeramkan tadi.

__ADS_1


kemudian gadis bermata bulat itu segera menyembunyikan wajahnya di atas meja yang berpangku dengan kedua tangan miliknya kerena sedikit malu mengucapkan nya kepada sekertaris Revan.


" hehehe..... Dasar " jawab sekertaris Revan yang tiba tiba dengan sedikit tawanya, setelah tadi mimik wajahnya terlihat sedikit menakutkan bagi Dinda.


Adinda pun kemudian berniat memejamkan kedua matanya dengan dirinya yang sedari tadi menyembunyikan wajahnya di atas meja kerja miliknya tersebut, untuk menghilangkan rasa pusing di kepalanya yang tak kunjung hilang sedari tadi.


Sedangkan sekertaris Revan hanya senyam senyum sendiri tak jelas, dengan dirinya yang kini mulai fokus pada pekerjaan miliknya yang berada di atas meja kerjanya.


setengah jam.....


satu jam lebih berlalu....


beberapa jam pun kini pun juga mulai berlalu.......


Dan kini jam sudah menunjukkan waktu 04.30 di mana waktu pulang para pekerja perusahaan telah tiba.


sedangkan sekertaris Revan dan Adinda mulai beres beres meja kerja milik keduanya.


sesaat keduanya telah selesai.


" Bagaimana kepalamu apa sudah hilang rasa pusing nya sayang "


" iii... iya sudah "


sayang, sayang,.. aku sudah bilang aku belum terbiasa dia tetap saja memanggilku seperti itu heh... gumam Adinda dalam hati.


" Dinda kau menggerutui ku ya di dalam hatimu" ucap sekertaris Revan seolah olah tau apa yang ada di dalam hati Adinda.


" ti.. ti.. tidak "


" bohong "


" ah...sudah lah ayo kita pulang sudah sore, aku belum memasak untuk makan malam kan "


kenapa dia bisa tau ya aku menggerutui nya di dalam hati gumam Adinda lagi.


pintar sekali dia mengalihkan pembicaraan gumam sekertaris Revan.


" hei kak... kau menggerutui ku juga dalam hatimu ya " ucap Adinda yang merasa pacar barunya itu juga menggerutui nya dalam hati.


entahlah kedua hati pasangan kekasih itu seolah olah tau apa isi hati dari masing masing, seperti saling tanya jawab.


" tii...ti...tidak , ya sudah ayo pulang katanya kau segera masak "


kenapa Dinda bisa tau ya gumam sekertaris Revan.


" ya baiklah ayo " jawab Adinda.


Keduanya pun kini segera melangkahkan kakinya untuk segera menuju lantai bawah, karena saat ini keadaan kantor juga mulai sepi.


Para pekerja sudah mulai berhamburan untuk segera sampai di kediaman nya masing masing.


JANGAN LUPA BACA NOVEL AKU LAINYA :


- PERBUDAKAN KU BERAKHIR DI PELAMINAN ( on going)


- DUNIAKU TAK SELEBAR DAUN KELOR ( karya masih baru banget, on going )


KAK JANGAN LUPA LIKE, VOTE, SAMA KOMENTAR NYA ☺☺😊😘😍😍, πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2