Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
Sheina sakit


__ADS_3

Dengan segera Sheina langsung meninggalkan ketiga nya masuk ke dalam kamar tanpa menghiraukan lagi keberadaan kedua orang tua nya serta Barra.


Kali ini gadis itu benar benar sangat lah marah karena merasa tak adil oleh perbuatan sang papa kepada dirinya malam ini.


BRAKKK....


Suara hempasan pintu kamar Sheina.


Sejenak Bima memejamkan kedua mata nya, merasakan sedikit ke egoisan nya selama ini, ia merasa bersalah atas kehidupan sang putri yang harus mengikuti ego nya.


" Pa maafkan Sheina, ini juga salah Barra sebenarnya " jelas Barra yang merasa tak enak sendiri akan Papa mertua nya.


" Sudah lah lupakan, Papa dan Mama mau pulang ayo Ma " sahut Bima.


" tapi Sheina Pa " ucap Zahra yang sedikit berat meninggalkan apartemen sang anak.


" Sudah ayo kita pulang sekarang sudah malam " ajak Bima kemudian sambil menarik tangan sang istri.


Keduanya antara Bima dan Zahra segera berlalu pergi meninggalkan apartemen.


*


*


Pagi menjelang.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah tujuh.


Sedangkan Barra baru saja keluar dari dalam kamar dengan setelan jas hitam nya, ia sudah bersiap akan pergi menuju perusahaan.


Pandangan nya langsung tertuju pada pintu kamar Sheina yang masih tertutup rapat, perlahan ia mulai melangkah berniat mengetuk pintu kamar nya.


Tetapi ia urungkan ketika mendapati sebuah lembaran kertas yang tergeletak di depan pintu kamar Sheina.


Barra mulai mengambil dan membaca nya.


Hari ini aku tidak ke kantor , makan lah sarapan pagi di atas meja makan aku sudah siap kan dengan segelas susu di sana.


tulis Sheina.


Sekilas Barra menoleh ke arah meja makan, dan memang benar di sana sudah tersaji beberapa macam masakan dan segelas susu untuk dirinya.


Barra mengerti mungkin Sheina tak berniat masuk ke perusahaan karena masalah semalam pikir nya,


Tak lupa juga Barra membalas secarik kertas untuk Sheina.

__ADS_1


Terimakasih sarapan pagi nya, dan aku minta maaf atas tadi malam sungguh aku benar benar tak melaporkan apapun pada Papa.


tulis Barra.


kemudian ia masukkan kembali lewat kolong bawah pintu kamar Sheina.


Dengan segera Barra menuju meja makan, kali ini dia sarapan sendirian tanpa seorang gadis yang biasa menemani nya.


Selesai makan ia bergegas pergi tak lupa Barra mengetuk sebentar pintu kamar Sheina mengingatkan supaya tak lupa sarapan selama ia tak berada di apartemen.


Tok.... tok... tok....


" Shei aku berangkat, jangan lupa sarapan jaga kesehatan " ucap nya tanpa sadar penuh perhatian pada Sheina.


Tetapi dari dalam kamar tetap tak ada sedikitpun sahutan.


Barra segera melenggang pergi karena di rasa waktu sudah siang.


*


*


Di kantor.


Pikiran nya mulai kemana mana, ia mulai mengambil ponsel di saku dan mulai mencari nomor ponsel Sheina di sana.


Beberapa saat ia baru tersadar bahwa nomor ponsel nya saja ia tak punya, bagaimana ia menghubungi nya.


Sebenarnya Barra ingin sekali menghubungi Sheina dan mendengar langsung keadaan nya saat ini, karena di rasa begitu khawatir dengannya.


Barra merasa bahwa keadaan Sheina sedang tak baik baik saja sejak kejadian tadi malam.


*


*


Beda di Mansion.


Bima tengah duduk santai bersama sang istri, ia merenungi atas apa yang telah ia lakukan pada sang putri,


Ya Bima menyesal karena sampai menampar Sheina hal yang tak pernah ia lakukan selama ini pada putri yang selalu ia manjakan dengan seluruh kasih sayang nya itu.


" Ma apa kita sangat egois " ucap Bima sambil meneguk sedikit teh hangat nya di atas meja kemudian menatap ke arah sang istri.


" ya memang kita sedikit egois Pa, tapi Papa kenapa sampai menampar Sheina, bukan nya semua bisa di bicarakan baik baik " jelas Zahra yang merasa sedikit kecewa akan tindakan Bima.

__ADS_1


" Papa sangat emosi Ma, maaf " ucap nya penuh penyesalan.


" iya mama tau, tapi mereka masih dalam proses pengenalan seharusnya Papa pelan pelan dalam mendidik mereka berdua "


" ya Papa akan bicarakan ini semua dengan Revan "


Zahra mengangguk mengiyakan perkataan suami.


*


Kembali ke apartemen.


Sheina yang sedari pagi sudah merasa tak enak badan, ia ingin terus berada di dalam kamar, kali ini dia bukan berniat ingin mogok makan melainkan rasa demam di tubuh nya yang terus meningkat.


Bahkan Sheina untuk turun dari ranjang saja seperti nya sudah tak kuat.


Tetapi gadis itu seperti nya bertekat ingin keluar dari kamar untuk memasak makan malam buat Barra.


Karena di rasa waktu sudah sore, dan sebentar lagi Barra akan pulang pikir nya.


Dengan segera Sheina bergegas, ia ingin memasak dengan menu yang simpel setelah selesai ia berniat ingin kembali ke kamar untuk mengistirahatkan tubuh nya.


Seperempat jam ia berkutat di dapur, kini masakan Sheina telah tersaji sempurna di atas meja makan serta segelas kopi yang ia taruh di meja tamu.


Dengan segera Sheina kembali masuk kedalam kamar dengan keadaan keringat yang terus bercucuran di kening nya, ia terus melangkah sambil berpegangan di sisi tembok.


BRAKKK....


suara hempasan pintu kamar Sheina.


sesampainya di dalam Sheina langsung menghempaskan tubuh nya di atas ranjang dengan keadaan yang sangat pucat.


Kali ini aku benar-benar sakit ucapnya


sambil mengelap keringat di dahinya, dengan kesadaran yang perlahan mulai hilang kedua mata nya tertutup rapat.


Sedangkan pintu apartemen baru saja terbuka.


Menampilkan Barra yang baru saja pulang dari kantor.


Pria berparas tampan itu kini langsung mengedar kan seluruh pandangan nya ke seluruh ruangan apartemen nya.


Mencari keberadaan Sheina, tetapi nihil ia sama sekali tak menemui sosok yang ia cari, tetapi pandangan Barra tertuju ke arah meja makan dan segelas kopi di meja ruang tamu.


Ada apa dengan nya, apa dia masih merasa kesal padaku atas kejadian tadi malam ucap nya dengan nada pelan.

__ADS_1


__ADS_2