
Ke esokan pagi nya.
Di rasa tubuh nya terasa mendingan Sheina berniat ingin membuat sarapan untuk Barra, pagi ini ia ingin memulai hubungan nya yang lebih baik lagi untuk kedepannya bersama Barra pria yang kini sudah berstatus suaminya itu.
Ia mulai membuka lemari pendingin mencari sesuatu di sana, Sheina mengambil beberapa potongan daging dan sayur yang kemarin sore di beli oleh Barra karena persediaan habis sepulang keduanya dari Bali.
Pagi ini Sheina bersungguh-sungguh untuk memulainya membuka hati untuk Barra.
Tangannya mulai mengambil beberapa peralatan masak yang ia butuhkan untuk mengolah makanan.
Setengah jam berlalu, tak terasa Sheina masih saja sibuk di dapur mewah nya.
Sesekali bibir tipis nya mengembangkan senyum, entah apa yang ada di pikiran nya pagi ini yang pasti semuanya tentang Barra suaminya.
Sheina yang terlalu sibuk dengan wajan panas di hadapan nya tak menyadari jika ada seseorang pria tampan dengan setelan jas lengkap kantor nya yang mulai mendekat ke arah nya dengan penuh senyuman.
Gadis itu sibuk mencicipi sesuatu di sana, dirinya baru tersadar ketika sebuah tangan berotot mulai melingkar di perut rata miliknya.
" Ah....Barra apa yang kau lakukan " ucap Sheina dengan dirinya yang sedikit terkejut.
" keadaan mu sudah baikan "
" Barra jangan mengalihkan pertanyaan "
" aku tidak mengalihkan, hanya saja aku ingin memeluk istriku dari belakang seperti ini apa salah "
" ti... ti... tidak tap... tap.. tapi aku tidak biasa Barra "
" maka dari itu biasakan mulai sekarang sayang "
dia panggil apa tadi sayang astaga kenapa aku jadi malu sendiri seperti ini, semoga saja pipi ku tak semerah seperti tomat pasti dia akan menertawai ku gumam Sheina.
" Sayang kenapa kau diam heh " ucap Barra yang membuyarkan lamunan Sheina seketika.
" ah iya maaf, sekarang kau duduk di kursi meja makan sana ini hampir matang Barra "
" panggil sayang mengerti "
" ii.. ii.. iya ...iya sayang sudah sana duduklah "
iya kan sifat menyebalkan nya kumat lagi gumam Sheina.
Barra tersenyum mendengar panggilan itu dari bibir Sheina, dengan segera ia langsung elepaskan pelukan nya dari perut Sheina tak lupa ia mencium singkat pipi sang istri dari samping setelah itu segera menuju kursi meja makan.
CUP...
kecupan singkat mendarat dengan sempurna.
Kemudian melenggang pergi meninggalkan Sheina dengan keadaan kedua pipinya yang sudah bersemu merah seperti tomat.
Astaga ada apa dengan diriku kenapa aku seperti nya ingin sekali senyum senyum sendiri begini, dia mencium ku seenak nya sendiri lagi membuatku dadaku serasa tak karuan gumam Sheina.
__ADS_1
*
*
Di meja makan.
Barra duduk di kursi meja makan sambil terus menatap ke arah punggung Sheina yang masih sibuk menyiapkan masakan untuk nya di dapur sana.
Ia terus tersenyum menatap punggung itu seolah pagi ini ia tengah menemukan harta karun yang begitu sangat berharga.
Kini Sheina mulai membawa beberapa olahan masakan ke arah meja makan dimana sedari tadi Barra tak berkedip menatap nya dari kejauhan.
" ayo makan " ucap Sheina.
tapi tak di sahuti oleh Barra.
" hei kenapa kau diam suamiku " ucap Sheina lagi dengan spontan.
Sontak membuat Barra tersadar.
" ah iya sayang maaf, ayo kita makan "
Dia menyebutku suami nya tadi hehehe...... menggemaskan gumam Barra
yang begitu merasa sangat bahagia akan panggilan itu padanya.
Keduanya kini mulai makan bersama sesekali Sheina dan Barra saling pandang kemudian senyum senyum tak jelas.
Sheina tersenyum kemudian menganggukkan kepala nya seolah mengiyakan.
" hari ini kau tidak usah ke kantor, istirahat lah di kamar keadaan mu belum pulih sepenuhnya "
" tapi kau pasti kewalahan di kantor "
" tidak apa, semua ini kan demi kesehatan mu "
Lagi lagi Sheina tersenyum mendengar penuturan Barra.
Sesaat
Acara sarapan pagi keduanya telah selesai, Barra segera berangkat kantor sambil membawa tas kerja hitam milik nya.
" hati hati " ucap Sheina ketika Barra sudah di ambang pintu apartemen.
" pasti " jawab nya dengan senyuman
" aku mencintaimu " ucap Barra kemudian.
" Sudah sana pergilah "
" Tidak bisakah kau mencegahku agar aku tetap di apartemen bersama Shei " ucap Barra seolah dirinya tak rela untuk berangkat ke kantor meninggalkan Sheina.
__ADS_1
" astaga, Sayang pekerjaan mu sangat banyak di kantor sudah sana berangkat lah "
" iya... iya... aku berangkat " jawab Barra dengan nada suara serta raut wajah yang terlihat lesu.
Kemudian ia segera melenggang pergi menuju kantor.
*
Di dalam kamar.
Sheina baru saja menghempaskan tubuh nya setelah tadi mengantarkan sang suami di depan pintu.
Kedua matanya menatap langit langit kamar sesekali gadis berparas ayu itu tersenyum mengingat tingkah sang suami pada dirinya.
Kenapa aku jadi memikirkan dia terus ya hehehe.... dasar kau ini Shei, ah sudah lah aku mau mandi monolog nya.
Beberapa saat.
Ponsel di atas nakas mulai berdering.
Sheina segera bangun untuk mengambil ponsel nya di sana, ia menatap layar tipis di ponsel nya.
" Barra, astaga dia kan baru saja berangkat kenapa sudah menelpon apa ada sesuatu yang tertinggal " ucap nya.
Kemudian menggeser bulatan hijau di layar ponsel miliknya.
" iya halo "
" kau sedang apa " tanya Barra di sebrang telepon.
" mau mandi, kenapa menelfon apa ada sesuatu yang ketinggalan " tanya Sheina balik.
" hehehe.... tidak ada hanya saja aku merindukan mu Shei "
" kau menggodaku ya hem " tanya Sheina.
" tidak mana mungkin, aku benar-benar merindukanmu sayang " jawab Barra dari sebrang sana terdengar serius.
Sheina hanya tepuk jidat mendengar perkataan Barra karena menurut nya sang suami terlalu berlebihan.
" ya ya ya aku percaya ... sudah sana kerja yang benar, aku menunggu mu " jawab Sheina kemudian langsung mengakhiri sambungan telepon sepihak karena merasa malu sendiri atas perkataan nya pada Barra.
Kini lagi dan lagi gadis itu kembali tersenyum tak jelas sesekali menggeleng geleng kan pelan kepala nya.
Di sisi lain, tepatnya di perusahaan.
Di ruangan berpendingin seorang pria tampan juga tengah tersenyum senyum tak jelas setelah sambungan telepon nya terputus.
Ia seperti pria gila mengingat perkataan sang istri di akhir telepon nya tadi, senyuman nya itu seolah tak bisa hilang dari kedua sudut bibir nya.
Sheina bilang tadi menungguku, akkhh... aku jadi tak sabar ingin segera pulang jika seperti ini monolog nya sambil memainkan sebuah pulpen di tangan kanan nya.
__ADS_1