
Tangan keduanya masih saling bertautan.
sedangkan kan tangan Adinda satunya lagi memegang koper hitam miliknya.
" lepaskan, dan carilah yang lebih segalanya " ucap Adinda tanpa menoleh ke belakang.
" segampang itu kau membuang perasaanmu pada ku Dinda " ucap Revan dengan keduanya yang saling memunggungi.
" apa secepat itu juga kau memikirkan perasaan ku yang sering tak kau hargai dan kau sakiti selama ini karena kelakuan mu " ucap Dinda seolah membalikkan perkataan sang suami.
" maksud ku bukan seperti itu Din " ucap Revan yang kini perlahan melepas pergelangan tangan Adinda tetapi posisi keduanya masih tak ingin saling melihat.
" sudahlah jangan lanjutkan lagi, aku pamit " ucap Dinda kemudian perlahan melangkahkan kakinya untuk keluar kamar.
" Din....Dinda " panggil Revan tetapi sudah tak di gubris oleh Adinda.
Gadis itu pergi tanpa menghiraukan lagi sang suami entah kemana ia akan pergi.
Berbeda dengan Revan yang merasa tak di hiraukan itu, dirinya kini mulai duduk di lantai bersandar pada bagian samping ranjang.
Revan mulai merutuki kebodohan nya sendiri, di kala ia sering di kalah kan rasa posesif nya kepada sang istri karena terlalu bucin pada Adinda.
Sesekali Revan mengacak kasar rambutnya, melonggarkan sedikit dasi yang masih melingkar di lehernya.
Kenapa semua nya bisa begini, cinta benar benar membuatku jadi pria gila.. gila... gila... aku tak mau kehilangan mu Dinda monolog Revan.
Dengan segera Revan kembali berdiri kemudian menyusul Adinda dengan langkah cepat nya, setelah pikiran nya kembali teringat sang istri yang telah berniat pergi dari rumah tadi.
Dinda....Dinda.... teriaknya dari dalam kamar.
*
Berbeda dengan Adinda yang kini hampir sampai di dekat gerbang besar menjulang tinggi rumah mewah milik Revan.
Perlahan kini Dinda mulai melewati gerbang tersebut.
Di rasanya ada seseorang yang menarik tas selempang miliknya yang sedari tadi ia gantungkan di bahu sebelah kirinya itu.
Adinda sedikit terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dan mulai bergumam.
HAHAHA.....ternyata benar dia mencegahku bukan, dugaan ku benar dasar....... mangkanya jangan sok sok an marah marah marah tak jelas padaku rasakan sekarang kau yang mengemis padaku, sekarang aku yang akan jual mahal padamu gumam adinda dalam hati.
kemudian ia mulai berucap.
__ADS_1
" Untuk apa mencegahku lepaskan tas ku " ucap Dinda sambil mencoba menarik narik tasnya tanpa menoleh ke belakang.
tak ada respon.
Dinda kembali menarik narik tas nya.
" lepaskan aku bilang, aku benci padamu... aku ingin pergi dari sini lepaskan " ucap Dinda lagi sambil mencoba kembali menarik tali tas nya dari depan.
kenapa tak menjawab sih, padahal aku berharap dia memohon mohon kepadaku, tarik kan nya juga kenapa seperti tak goyah sedari tadi, makan apa sih dia gumam Dinda.
Perlahan Dinda menoleh ke arah belakang dan di lihat nya tali tas milik nya ternyata hanya menyangkut di gagang gerbang 😂😂😂.
seketika Adinda menghentak hentak kan kedua kakinya ke bawah karena merasa kesal sendiri, sedari tadi yang menarik tali tas nya itu bukan pria yang ia maksud.
kenapa ia tak menghentikan aku sih, ARGGHH.....Revan, Revan, Revan dasar pria menyebalkan, baiklah aku sekarang benar benar akan pergi, pergi dan pergi selamat tinggal ucap nya.
Dengan segera Adinda melangkahkan kakinya dengan cepat, untuk segera pergi dari arah gerbang menjulang tinggi tersebut.
Berbeda dengan Revan yang kini baru sampai sampai di lantai bawah.
Dengan segera Revan berlari menuju ke arah luar rumah di lihat nya Adinda sang istri sudah tak ada di pekarangan rumah mewahnya.
Din... Dinda ucap nya dengan suara yang sangat lantang karena tak mendapati sang istri.
Revan sedikit menoleh ke arah kanan dan kiri pinggiran gerbang bagian luar, di lihat nya ada seorang perempuan yang tengah menyeret sebuah koper hitam sendirian di pinggir trotoar jalan, yang jaraknya mulai menjauh dari arah rumah mewah nya tersebut.
Di lihatnya dari belakang seperti sosok sang istri.
" Dinda " teriaknya tapi tak terdengar oleh sosok perempuan itu.
dengan segera Revan berlari mengejar perempuan yang menurutnya itu sang istri.
Kini posisi Revan tak begitu jauh dari arah Adinda.
" Dinda " teriaknya lagi.
sontak wanita itu sedikit menoleh ke arah belakang,
dan memang benar wanita itu adalah Adinda.
Revan tersenyum.
Setelah itu Revan kembali berlari meneruskan langkah nya menuju Adinda yang kembali melanjutkan langkah nya yang tak menghiraukan dirinya itu..
__ADS_1
" Dinda tunggu Din, kita selesai kan di rumah jangan seperti ini aku mohon " ucap Revan yang terus berlari kemudian langsung menggapai tangan Adinda.
" lepaskan tanganku " ucap Adinda yang terlihat serius.
" tidak, aku tidak mau " jawab Revan sambil menatap wajah wanita di hadapan nya saat ini.
" mau mu apa sebenarnya bukan kah semuanya sudah jelas "
" aku ingin kau kembali Dinda " ucap Revan dengan nafas sedikit ngos ngos an.
" untuk apa aku kembali, jika keberadaan ku sudah tak di inginkan apa kau pikir aku anak kecil yang terus kau marahi , menganggap ku sebagai mainan mu atau hanya sekedar pemuas di ranjang mu hah jawab aku Revan "
ucap Dinda dengan lelehan air mata yang kini kembali merembes membasahi pipi mulus nya, ketika hatinya serasa sesak mengucapkan semua unek unek di dalam hati nya itu.
" Dinda " ucap Revan yang kemudian langsung menarik tubuh Adinda ke dalam pelukan nya begitu erat, sambil memejamkan kedua matanya ketika tubuh gadis yang ia cintai itu kini berada di dekapan nya.
" Dinda maafkan aku, maaf atas semua keposesifan ku selama ini padamu, aku begitu takut akan kehilangan mu selama ini " ucap nya dengan dirinya yang masih setia memeluk tubuh ramping mulik Dinda.
Perlahan Revan melepaskan pelukan nya itu, karena di rasa orang sekeliling mulai memandangi nya dan Adinda yang tengah berpelukan di pinggir jalan trotoar.
" maaf kan aku " ucap nya lagi sambil meraih kedua tangan Adinda.
" lepaskan tangan ku, aku malu di lihat orang "
" hehehe...kau baru sadar ya "
" jadi kau sedari tadi sudah sadar ya jika kita di lihatin banyak orang "
Revan sedikit mengangguk pelan kemudian tersenyum.
" kau memaafkan aku kan Din " tanya Revan dengan raut serius.
" iya aku memaafkan mu " jawab Dinda dengan raut wajah biasa saja.
" terimakasih, aku berjanji untuk terakhir kalinya aku tak akan mengulangi nya Dinda "
" aku tak butuh janjimu, yang aku butuhkan hanya pembuktian "
" ya akan ku buktikan semuanya lewat perlakuan ku padamu, ya sudah ayo kita pulang"
Dinda mengangguk pelan kemudian keduanya pun berjalan beriringan di atas trotoar,
sesekali keduanya saling pandang sekertaris Revan tersenyum bahagia menatap wajah Adinda,
__ADS_1
karena dirinya merasa berhasil membawa gadis yang ia cintai itu kembali ke dalam hatinya begitu juga kembali ke kediaman nya sambil tangan kirinya menyeret koper milik Adinda.