Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
Luar negri


__ADS_3

Kedua keluarga masih dengan keadaan tegang.


Sheina yang langsung di terbangkan keluar negri karena kondisinya, sedangkan Barra kini tetap berada di indonesia tepatnya di kediaman kedua orang tua nya.


Ya, ini pertama kalinya ia di pisahkan dengan Sheina sang istri.


Entahlah bagaimana ke depan nya hubungan mereka ataukah Bima menyatukan lagi keduanya atau justru sebaliknya.


*


Di kamar.


Barra tengah duduk termenung,


duduk di lantai kamar bersandarkan pinggiran ranjang.


Ia terdiam,


sesekali ia kembali mengacak acak kasar rambutnya yang sudah terlihat awut awutan itu.


Dirinya seolah frustasi memikirkan Sheina yang kini tengah memperjuangkan hidupnya sendiri di sana.


Ia sedikit menghela nafas.


" hah.. "


Bibirnya mulai mengeluarkan sepata kata.


" aku harus bagaimana sekarang, Sheina telah jauh dariku bagaimana keadaannya " ucap nya sambil menggigit kecil ujung jari jempolnya.


Sungguh Barra kali ini terlihat seperti bukan lah Barra yang biasanya, seorang CEO yang mempunyai wibawa, serta berkharisma tinggi.


Sesaat pikiran nya teringat akan buku deary kecil beserta sebuah kaset kecil yang masih berada di dalam saku celana kerja nya.


Ia mulai mengambilnya kemudian menatap sesuatu yang sudah berada di pergelangan tangan nya itu.

__ADS_1


Jarinya mulai membuka pelan sampul deary sang istri.


Hari pertama tulisnya di sana,


kedua matanya beralih pada barisan selanjutnya nya, Barra perlahan mulai membacanya dalam diam.


Sungguh hati nya serasa sangat sesak membaca buku kecil itu, suatu hari dimana sang istri di diagnosa mengidap penyakit leukemia, serta sebuah pertengkaran kecil yang sempat mereka berdua perdebatkan.


Kemudian perlahan ia membalikkan halaman berikutnya.


Ia kembali membaca dalam diam.


Hatinya kembali sesak dimana di sana di tulis bahwa keadaan sang istri yang mulai melemah,tubuhnya yang mulai mengurus.


Bahkan Sheina akan terus merahasiakan penyakitnya agar ia tak menyusahkan sang suami begitu juga keluarga.


Lelehan air mata Barra kini sudah tak bisa terbendung lagi, kedua pipi nya serta rahang tegas nya kini sudah di basahi air mata yang terus saja mengalir deras.


Ia terus membacanya dalam diam


Pria tampan itu kini sudah sangatlah frustasi, Sesekali ia meneriakkan nama Sheina dengan sangat kencang nya.


" S H E I N A " teriaknya.


Sedangkan lelehan airnya mata nya kembali menganak sungai.


Tangan berotot nya perlahan menggenggam erat buku kecil itu kemudian menempelkan nya di dada.


Sungguh Barra benar-benar merasa sangat bersalah selama ini tak mengetahui tentang penyakit istrinya.


Seseorang wanita yang begitu sangat ia cintai menahan sakit sendirian demi tak ingin sedikitpun menyusahkan dirinya.


" Maafkan aku Shei, sungguh maafkan aku " ucap nya dengan penuh isak tangis.


AKKKKHHHHH......

__ADS_1


teriaknya lagi lagi dengan nada yang sampai menggema di seluruh ruang kamar luas yang kedap suara itu.


Pandangannya beralih ke arah kaset kecil di tangan sebelah kirinya.


Ia masih di buat penasaran oleh kaset kecil itu, tetapi saat ini ia tak ingin berdiam diri seperti pria bodoh.


Barra segera berdiri, berniat membersihkan tubuhnya kemudian ia berencana untuk menyusul Sheina keluar negri bagaimana pun caranya.


Meskipun ia tau mencari keberadaan Sheina saat ini bukan lah yang gampang , tentu saja semua dengan pengawasan ketat Bima yang sudah memprivasi semua hal mengenai sang putri kesayangannya itu demi berlangsung nya kesembuhan Sheina.


Karena menurut Bima ini adalah hal yang sangat mudah.


Menginginkan sesuatu sama saja semudah membalikkan tangan menurutnya .


*


*


Di sebuah rumah sakit luar negri.


Di sebuah ruangan VVIP, Sheina tengah terbaring lemah tak berdaya.


Zahra dan Bima sebagai orang tua hanya bisa menatap sang putri berharap semoga putri satu satunya itu cepat sembuh seperti sedia kala.


Bima sebagai Papa yang over posesif nya terhadap keluarga tak lupa memberi empat penjaga bertubuh gempal sekaligus di depan kamar sebagai pengamanan ketat.


Agar tak ada orang asing yang gampang untuk masuk, apalagi Bima masih di kenal luas sebagai raja bisnis di kalangan nya tentu saja pasti ada orang yang tak suka dengan kejayaannya.


" Pa Sheina pasti sembuh kan " ucap Zahra yang tengah duduk di kursi kecil di samping ranjang, sambil mengelus lembut tangan sang putri yang kini masih memejamkan kedua mata nya rapat.


Dengan bantuan beberapa alat medis yang menempel di tubuh nya.


" Sayang apa yang kau katakan, putri kita pasti sembuh percayalah padaku " Sahut Bima yang tengah berdiri tegap tepat di belakang sang istri sambil mengelus pelan pundak Zahra lembut.


Zahra sedikit tersenyum, hatinya terasa sedikit tenang akan jawaban sang suami.

__ADS_1


__ADS_2