
16.00 wib
" sayang ini sudah sore ayo kita mandi " ucap Bima kepada sang istri.
" iya sayang ayo " jawab Zahra
" pelan pelan jalanya " ucap Bima sambil memandangi istrinya yang baru saja akan menuruni ranjang king size nya itu.
" iya " jawab Zahra santai.
setelah itu keduanya berjalan menuju kamar mandi mewahnya tersebut, dan seperti biasanya keduanya mandi dengan berlama-lama berendam di sana, entah apa saja yang mereka lakukan saat ini.
" ah... sayang jangan menggigit ujungnya seperti itu, sakit " ucap Zahra yang saat ini sedang beradegan bersama sang suami di dalam bathub.
" iya maaf sayang aku terlalu gemas, sebentar lagi aku juga tidak akan ******* dan mengigit nya seperti ini lagi, kau pelit sekali " jawab Bima sedikit kesal.
" bagaimana pelit, kau kan setiap saat malam seperti ini padaku sayang, seperti bayi menyusu pada ibunya " ucap Zahra sambil sedikit cemberut.
" hahaha... anggap saja aku sebagai percobaan nya sayang, nanti jika anak kita sudah lahir kau tidak akan kaku jika menyusuinya " sahut Bima yang membuat istrinya sedikit tersenyum.
" dasar kau ini ya, bilang saja itu keinginanmu kan " ucap Zahra sambil menunjuk ke arah sang suami sambil tersenyum.
" hahaha... sayang kenapa kau sejak hamil seperti bisa membaca pikiranku Zahra, hah " jawab Bima.
" bukan bisa membaca pikiran sayang, tetapi aku sudah faham dengan pikiranmu yang selalu menginginkan hal yang berbau bau blablabla itu " ucap Zahra.
" blablabla segala, bilang saja hubungan suami istri sayang susah sekali " jawab Bima
" iya itu maksud ku sayang, ah kau ini " sahut Zahra.
" istri ku memang benar benar......" ucap Bima kemudian.
" apanya yang benar benar hah " tanya Zahra
" benar benar sangat polos, sampai mengatakan itu saja malu padahal kau sudah tau rasanya " jawab Bima sambil meledek istrinya tersebut.
" ahh, sayang apa yang katakan, kan semua nya dirimu yang mengajakku duluan " sahut Zahra yang memang benar kenyataannya seperti itu.
" terus kenapa kau mau sayang " tanya Bima yang semakin membuat berniat menggoda istri nya saat ini.
" bagaimana tidak mau kau selalu mendesak ku dari dulu " jelas Zahra yang tak mau kalah sepertinya.
" hahaha... kau ini ternyata sedikit menyebalkan ya Zahra " ucap Bima yang melihat istrinya saat ini tambah menggemaskan itu.
" kau juga sama dari dulu sangat menyebalkan sayang hahaha.... " jawab Zahra
" hahaha... berarti kita sama kan " sahut Bima
HUWAHAHAHAHA.....
dan keduanya pun kini tertawa terbahak bahak begitu lepasnya tawa itu.
sedangkan Bima saat ini tengah bergumam.
Zahra aku suka melihat tawamu seperti saat ini, aku sangat beruntung memiliki istri seperti mu Zahra gumam Bima dalam hati.
__ADS_1
Bima bergumam sambil memandangi istrinya sesekali lelaki tampan itu tersenyum.
" sayang kenapa kau tersenyum seperti itu " tanya Zahra yang sedari tadi melihat suaminya senyum senyum sendiri sambil memandanginya di dalam bathub.
" karena aku bahagia, melihatmu tertawa lepas seperti ini sayang " jelas Bima sbil tersenyum
" sayang.... kau ini selalu membuat pipiku bersemu merah karena perkataan mu itu " jawab Zahra membuat Bima sedikit tertawa.
" hehehe... ya sudah ayo sayang kita segera keluar dari bathub ini, kita sudah lama berendam " ucap Bima kemudian.
" iya baiklah, sayang nanti aku makan malam di bawah ya, aku bosan di kamar terus "
" iya baiklah mulai sekarang kau makan di meja makan lagi di lantai bawah, tapi ingat kau harus behati hati jika menaiki dan turun dari tangga ya " jelas Bima membuat istrinya senang meskipun hanya masalah makan saja.
" iya sayang, terimakasih, akhirnya aku sudah tidak seperti tawanan lagi " ucap Zahra.
" hahaha... maksud mu tawanan CEO tampan seperti ku " jelas Bima.
" ya CEO tampan yang dingin hehehe... " jawab Zahra sambil sedikit tertawa.
" hahaha... sekarang kan sudah tidak sayang " sahut Bima santai
" iya, asal jangan sampai ada yang salah saja " ucap Zahra asal yang membuat sang suami sedikit menekankan ucapannya saat ini
" Zahra " ucap Bima penuh penekanan
" iya iya maaf aku hanya bercanda " jawab Zahra yang sudah tau kalau suaminya sedikit merasa kesal padanya.
kemudian keduanya pun bergegas menuju ruang ganti, dengan handuk putih yang melilit kedua tubuh pasangan suami istri tersebut.
Ya Bima memang suka sekali menaruh bokong istrinya di situ, supaya istrinya diam dia atas sana.
" sayang kenapa kau suka sekali menaruh ku di atas sini " tanya Zahra.
" aku hanya ingin kau diam di sana sayang supaya kau tidak merasa lelah " jawab Bima santai
" ya terserah kau saja lah, aku menurut saja " jawab Zahra.
" istri pintar " ucap Bima sambil mengelus pucuk kepala istrinya.
beberapa saat kemudian
Bima dan Zahra kini telah selesai dengan ritual ganti bajunya, sedangkan Bima setelah selesai berganti baju kemudian segera menuju ruang kerjanya.
berbeda dengan gadis cantik itu setelah berganti baju perlahan dia menuju ke meja rias yang berada tak jauh dari ranjang king size nya tersebut.
Zahra sebentar lagi kau akan menjadi ibu, apa kau sudah siap hah, monolog Zahra
kemudian Zahra tersenyum melihat pantulan wajahnya di cermin.
apa aku bisa, iya aku pasti bisa monolog nya lagi sambil mengelus perutnya yang masih rata tersebut.
kemudian setelah itu meneteskan air matanya perlahan.
aku takut, apa aku bisa di umurku yang masih sangat belia ini, apa suatu hari nanti aku akan menjadi ibu yang baik untuk anak anak ku monolog Zahra sambil sesekali kembali memandangi pantulan dirinya di depan cermin meja hias.
__ADS_1
cek klek
bunyi handel pintu yang di buka oleh Bima.
Dan pandangan lelaki tampan bertubuh atletis itu kini tertuju pada istrinya yang berada di depan cermin meja hiasnya tersebut yang membelakangi dirinya.
di lihatnya dari kejauhan sang istri seperti mengusap wajahnya dengan kasar.
Perlahan Bima melangkah mendekati sang istri, untuk melihat raut wajah istrinya yang seperti menyembunyikan sesuatu itu.
" sayang " ucap Bima yang baru saja melangkah setelah tadi kembali menutup pintu kamarnya tersebut.
" hem " jawab Zahra singkat sambil kembali mengusap bagian wajahnya kasar.
sedangkan Bima seperti penasaran dengan istrinya yang masih membelakanginya itu, dan menatap kaca meja riasnya.
" kau sedang apa, apa kau ingin menyisir rambutmu " tanya Bima memancing sang istri, dan dengarnya semakin dekat suara istrinya sedikit berbeda, terdengar jika memang istrinya itu habis menangis tadi.
" ti.. ti... tidak " ucap Zahra sedikit gelagapan dengan kepala sedikit menunduk seperti menyembunyikan sesuatu.
perlahan Bima membalikkan tubuh istrinya, di lihatnya Zahra kembali menundukkan kepalanya tak berani menatap sang suami.
" sayang tatap mataku " ucap Bima sambil menyentuh kedua pundak sang istri.
" untuk apa memangnya " jawab Zahra dengan suara yang sedikit sesenggukan.
" sayang hey... lihat aku " ucap Bima perlahan kemudian mengangkat dagu Zahra agar bisa menatapnya.
" kau kenapa hem " tanya Bima lagi dengan ke-dua tangannya yang tetap memegang kedua
lengan Zahra saat ini.
" aku tidak apa apa " jawab Zahra dengan kedua matanya yang sedikit sembab.
" sayang kenapa kau menutupinya dariku, bicaralah padaku, aku adalah tempat curhatmu Zahra " ucap Bima sunguh-sungguh.
" aa.. aku.. aku " ucap Zahra sedikit terbata bata.
" aku apa, bicaralah pelan pelan sayang, aku akan setia mendengarnya " jawab Bima
" aku takut, apa bisa aku melahirkan seperti wanita lainnya, apa mungkin nanti aku bisa menjadi sosok ibu yang baik setelah melahirkan bayiku ke dunia ini " jelas Zahra yang mengeluarkan sedikit unek uneknya.
" sayang kau pasti bisa, dan aku akan selalu menemanimu sampai kapanpun, bahkan sampai kita menua bersama " ucap Bima yang mulai menarik tubuh istri nya perlahan ke dalam pelukannya tersebut.
" sayang apa benar yang semua kau katakan " tanya Zahra yang saat ini tengah menempel di dada bidang milik suaminya itu.
" iya aku berjanji padamu Zahra " jawab Bima yang kini tambah mempererat pelukan nya terhadap Zahra.
" terimakasih, sayang seandainya nanti sewaktu aku melahirkan kemudian aku meninggal bagaimana, apa kau akan selalu menyayangi anak kita " jelas Zahra kepada Bima.
" sshhhhhttttttttt........ apa yang kau katakan Zahra, itu tidak mungkin dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi " jawab Bima yang sedikit tidak menduga atas perkataan yang istrinya bicarakan saat ini.
" sayang aku kan hanya bilang seandainya " jelas Zahra
" iya aku tau, tetapi itu bukan hal yang perlu untuk di tanyakan Zahra, aku tidak suka kau bicara itu lagi, dan jangan ulangi lagi kau mengerti "
__ADS_1
" iya maaf,aku tidak akan lagi mengulanginya sayang " jawab Zahra yang kemudian membalas pelukan dari sang suami