Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
Zahra mulai sadar


__ADS_3

Rumah sakit.


Kini sudah satu minggu Zahra tak sadar kan diri sejak kejadian itu, Bima sebagai suaminya selalu setia menemani Zahra, sesekali melihat keadaan putri nya di dalam otak inkubator yang semakin hari tambah terlihat jelas wajah nya yang begitu sangat ayu tersebut yang memang sangat mirip dengan wajah Zahra.


kini jam tengah menunjukkan pukul 07.30 wib.


Dan di pagi ini Bima terpaksa meninggalkan Zahra sebentar bersama putri nya di rumah sakit karena urusan kantor yang sangat mendesak,


Bima menitipkan sang istri kepada mama Alisya dan bu Fatma yang juga mertuanya masih setia di sana, kedua wanita paruh baya itu selalu siaga menjaga seorang gadis yang kini sudah menjadi seorang ibu tersebut.


" Mama, ibu aku titip Zahra jik ada apa apa hubungi aku, ada urusan mendesak di kantor jadi aku harus ke sana "


" ya sayang pergilah mama dan bu Fatma akan menunggu Zahra di sini iya kan bu "


" benar... sekarang pergilah nak jika urusan nya sangat penting "


" iya bu terimakasih "


" mama kalau ada apa apa hubungi Bima "


" ya sayang pasti "


Bima tersenyum mendengar jawaban kedua wanita paruh baya tersebut.


sedangkan kini dirinya kembali menuju ke arah ranjang mendekat ke arah sang istri yang masih menutup kedua matanya rapat itu.


" sayang aku ada urusan sebentar, dan setelah selesai aku akan kembali, aku mencintaimu "


cup


satu kecupan mendarat di kening sang istri.


kemudian Bima bergegas keluar dari dalam ruangan bersama sekertaris Revan yang kini sudah menunggunya di luar ruangan.


" ayo sekertaris Revan " ucap Bima kepada sekertaris Revan, sambil membenarkan kancing jas hitamnya yang saat ini tengah ia pakainya itu.


" baik tuan " jawab sekertaris Revan


yang kemudian mengekori langkah atasannya tersebut dari belakang.


kedua pria itu mulai pergi menjahui ruangan tersebut, untuk segera menuju gedung pencakar langit milik Bima yaitu Sinaga group.


**********


Perusahaan Sinaga group.


Tepatnya di ruangan CEO yang seperti nya sudah lama tak ia duduk I itu.


" semuanya sudah kau siapkan sekertaris Revan "


" sudah tuan "


" bagus "


" kita segera berangkat, oh iya satu lagi suruh rekan barumu atau siapa namanya Adin..... "


" Adinda tuan "


" ya benar Adinda, suruh dia mengerjakan pekerjaan mu, dan kita harus segera berangkat sekarang bukan "


" iya tuan baik lah kalau begitu saya akan memerintahkan dia "


" bagus cepat pergilah "


" baik tuan "


sekertaris Revan pun segera pergi menuju ke arah ruangan nya, untuk memberi tahu Adinda tentang pekerjaan nya yang harus di ambil alih Dinda sementara waktu, karena dirinya akan mengikuti atasannya karena hal penting dengan client.


**********


Di ruangan sekertaris Revan.


sekertaris tampan itu mulai masuk ke dalam ruangan nya dan mendapati pacar barunya tersebut alias Dinda kini tengah fokus mengerjakan pekerjaan di atas meja kerjanya.


" Dinda " panggil sekertaris Revan.

__ADS_1


" iya " jawab Adinda sambil mendongakkan kepala nya pelan menatap yang punya suara tengah memanggil nya.


" Dinda " panggil sekertaris Revan lagi


" iya ada apa " jawab polos Adinda lagi


yang membuat sekertaris Revan gemas melihatnya.


kenapa tatapan mu seperti itu Din, seandainya ini bukan di kantor gumam sekertaris Revan.


" emmm.... pekerjaan ku kau ambil alih karena pagi ini aku harus menemani tuan Bima menemui clien penting " jelas sekertaris Revan.


" baiklah kalau begitu, hati hati " jawab Adinda dengan senyuman di bibirnya.


" aku mencintaimu Dinda " ucap sekertaris Revan yang mulai menjauh dari meja Adinda


" iya iya sudah sana " jawab Adinda.


sesekali sekertaris tampan tersebut menoleh ke arah Adinda setelah dirinya berada di luar ruangan nya menuju ruangan atasan.


Adinda pun juga melihat ketika sekertaris Revan yang juga melihat ke arah nya saat ini.


ting......


satu kedipan mata Dinda kepada sekertaris Revan sambil tersenyum.


membuat sekertaris Revan yang melihat nya seperti tertantang.


Din kau mulai berani menggodaku ya rupanya awas nanti gumam sekertaris Revan.


kemudian bergegas melanjutkan langkahnya menuju ruangan Bima.


**********


Rumah sakit.


keluarga kembali berkumpul terkecuali Bima yang masih sibuk dengan urusan kantornya, terkecuali Hendra yang masih belum datang dari luar negri yang karena perkiraan nya hari ini ia akan sampai untuk melihat keponakan barunya itu.


sedangkan gadis berparas ayu yang tak lain Zahra.


perlahan tangan mulus itu mulai bergerak, sedangkan semua keluarga tak menyadari tentang hal ini, karena sedikit sibuk bercengkrama sesekali membicarakan tentang cucu nya yang sampai kapan mereka bisa gendong nya kerena sedikit rentan jika bayi terlahir prematur,


" bu lihat bu tangan kakak bergerak "


" yang benar kamu Theo "


" ya bu, ayo mendekat ke arah kakak bu "


" benarkah ayo bu Fatma cepat kita lihat "


" iya nyonya "


ketiga nya mulai melihat mama Alisya, bu Fatma dan Theo adik laki-laki Zahra, sedangkan pak Anwar dan papa Brandon masih mengobrol di luar ruangan.


" Zahra benarkah kau sadar nak suamimu, anakmu , ibu ayah adik mertua semuanya menantikan dirimu sadar sayang "


" iya kak bangun Theo disini "


" bu tadi Theo lihat jari jari kakak bergerak tadi "


" ya kita lihat sebentar "


Dan memang benar perlahan jari jemari Zahra kembali bergerak, dan kedua matanya kini juga perlahan mulai terbuka.


Zahra memandangi langit langit ruangan di mana ia berada saat ini pikirnya.


tetapi tatapan nya masih terlihat begitu lemah.


" ibu " ucap Zahra kepada wanita paruh baya yang saat ini tengah berada di dekat ranjangnya tersebut bersama mama alisya dan adiknya Theo.


" Zahra kamu sadar nak " ucap bu Fatma yang terlihat begitu bahagia melihat anak nya yang baru sadar.


" kakak " ucap Theo yang sangat merindukan kakak kesayangan.


" Zahra kau bangun sayang ini mama " ucap mama Alisya kepada sang menantu.

__ADS_1


" berapa lama Zahra di sini " tanya Zahra yang masih dengan nada pelan nya.


" satu minggu Zahra kamu baru sadar nak "


" bu mana anak Zahra, dia tidak apa apa kan "


" tidak apa apa sayang anak kamu perempuan sangat cantik "


" iya sayang mirip sekali dengan kamu Zahra "


" apa boleh Zahra melihat nya, mana suami Zahra ma "


" suami kamu masih ada urusan penting sayang sangat mendesak, tadi dia bilang kalau ada apa apa suruh menghubungi dia "


" apa sedari Zahra masuk ke rumah sakit, suami Zahra selalu di sini menemani Zahra ma"


" iya sayang dia selalu menemani kamu, selalu memegang tangan kamu, dan selalu menanyakan kapan kamu akan sadar "


" iya benar Zahra kata ibu mertua kamu, nak Bima selalu di dekat kamu, dia sepertinya sangat mengkhawatirkan kamu nak, sebentar melihat keadaan putri nya sebentar lagi ke sini melihat keadaan kamu "


" apa benar bu, memang nya anak Zahra dimana, kenapa tidak dibawa kesini, Zahra ingin melihat nya bu "


" anak kamu prematur sayang karena kandungannya masih tujuh bukan, dia sedikit kecil jadi di taruh di kotak inkubator untuk sementara "


Dengan tiba tiba pintu ruangan terbuka


JEG GLEK.....


bunyi handel pintu yang baru saja di buka oleh seseorang yang tak lain Bima, dan di ikuti di belakangnya tiga pria berbeda umur yaitu, sekertaris Revan papa Branding dan pak Anwar.


" Ma ada apa dengan Zahra sedari tadi perasaan ku mengata......... "


" Zahra kau benar benar sudah sadar sayang hem "


cup... cup.... cup


kecupan berkali kali di wajah sang istri.


" astaga kakak, kalau mencium kakak ku jangan di sini aku masih di bawa umur "


Zahra sedikit tersenyum dengan kedua matanya yang masih terlihat sayu tak begitu terbuka atas perkataan adiknya itu.


" Diam anak kecil "


HUWAHAHAHAHA........ HAHAHA......


Semuanya ikut tertawa dengan perkataan yang di lontarkan Theo kepada suami tampan dari kakaknya tersebut.


sedangkan Theo langsung menutup bibirnya dengan kedua tangannya.


" aku sangat senang kau sudah sadar Zahra, berhari hari aku menunggumu " ucap Bima dengan lelehan air matanya yang mulai keluar dari ujung kedua matanya.


Zahra kembali sedikit tersenyum sambil menatap wajah tampan di hadapan nya, tetapi tak berniat menjawabnya.


sekilas Zahra juga ikut melelehkan air matanya dari kedua ujung mata indah miliknya yang mulai membasahi kedua pipi mulus miliknya tersebut.


" Zahra kau kenapa menangis "


" maafkan aku, yang sedikit terlambat, dan maafkan juga atas kesalahan ku "


" aku sudah memaafkan mu suamiku, hapus lah air matamu apa kau sudah menjadi seorang ayah tetapi kau masih saja menangis "


" iya aku sudah menghapusnya sayang "


" anak kita... "


" di ruang bayi khusus prematur sayang, aku akan menyuruh sekertaris Revan kepada dokter supaya memperbolehkan membawa bayi kita kesini untuk sementara, kau sangat menginginkan nya bukan "


Zahra mengangguk pelan.


Bima langsung tersenyum.


" sekertaris Revan cepat suruh dokter Rani membawa putriku kemari " perintah Bima kepada bawahannya tersebut.


" baik tuan " jawab sekertaris Revan.

__ADS_1


kemudian sekertaris tampan tersebut bergegas pergi meninggalkan ruangan untuk segera membicarakan semuanya kepada dokter khusus spesialis kandungan itu yang tak lain adalah dokter Rani.


sedangkan semua anggota keluar ikut tersenyum melihat dua sejoli itu yang baru saja menjadi orang tua baru tersebut.


__ADS_2