
Beberapa saat.
JEG.... GLEK....
Pintu kamar mandi mulai terbuka Sheina segera berdiri di hadapan pintu tersebut sambil menahan malu akibat pakaian tembus pandang yang ia pakai saat ini.
Sedangkan pintu kamar mandi di hadapan nya tambah terbuka lebar, memperlihatkan jelas wajah Barra yang sangat terkejut akan pemandangan indah yang tak biasa ia lihat nya.
" Sheina... sayang kau " ucap Barra sambil menelan ludah nya kasar.
" emm... aku " Sheina yang berusaha menjelaskan.
" sudah tidak usah di jelaskan aku mengerti maksud mu sayang " sahut Barra dengan segera ia langsung meraih tubuh ramping itu ke dalam dekapan nya kemudian mencium bibir sang istri begitu lembut.
dengan dirinya yang hanya memakai handuk sepinggang nya.
Keduanya seolah terhanyut oleh ciuman, dan perlahan tangan Barra mulai menyusup ke dalam cela cela pakaian bagian bawah tembus pandang yang Sheina kenakan.
Seketika Sheina menghentikan ciuman itu dan beralih memegang tangan Barra di dalam sana, pandangannya menatap lekat wajah tampan milik sang suami.
" sayang aku ingin... " jelas Sheina terhenti.
" Shei apalagi heh.. aku akan melakukan nya pelan percayalah padaku sayang " jawab Barra kemudian melanjutkan lagi aktivitas nya yang sempat terhenti.
Sedangkan Sheina kembali menghentikan tangan berotot itu untuk tak berulah.
" ada apalagi Sheina kenapa kau menghentikan ku terus " ucap Barra dengan raut wajah sedikit masam.
" dengar kan aku sebentar saja " mohon Sheina.
" aku sudah mengerti jadi kau tidak usah menjelaskan sayang, aku tau kau takut kan "
Barra tak ingin mendengar penjelasan itu, ia ingin segera melakukan nya karena samurai milik nya di bawah sana sudah menegang tak karuan menahan gairah nya sedari tadi.
" sedikit sih,.. tapi bukan itu yang ku maksud " kekeh Sheina
" lalu apa " sahut Barra kemudian melepaskan perlahan pelukan nya terhadap tubuh gadis yang berbalut lingerie pink tersebut.
Sheina kembali menyilang kan kedua tangan nya di depan dada, menutupi bagian tubuh nya yang menyembul keluar.
" sebenarnya aku ingin menjelaskan pada mu kalau aku sedang.... em... sedang " lagi lagi ia tergugup.
" Sedang apa Shei, jangan membuatku penasaran "
" sedang... sedang... da.. da... datang bulan " jawab Sheina tergagap.
" Oh astaga Sheina... kenapa kau tak bilang sedari heh " sambil Barra mengusap kasar separuh kepalanya akan kekecewaan nya itu.
" tadi aku berusaha menjelaskan padamu tapi kau tak berniat mendengarkan aku kan " sesekali ia menundukkan kepala.
" heh... kau ini mengecewakan aku saja, lalu kenapa kau memakai pakaian tembus pandang ini " tanya Barra.
" hehehe... sebenarnya aku malu tapi kata mama Dinda pakaian ini bisa membuat pria luluh ya sudah aku memakai nya agar kau tak marah padaku " Sheina sedikit tersenyum garing.
__ADS_1
'' astaga Mama, ya sudah singkirkan kedua tangan mu dari dada mu itu mataku sakit melihat nya " perintah Barra.
" AAA.... tidak tidak, kau ingin melihat nya kan" Sheina tambah mempererat kedua tangan nya.
" tentu saja, kau istri ku Shei jadi sama saja itu milikku bukan " jelas Barra yang memang benar kenyataan nya.
" bagaimana bisa seperti itu " Sheina seolah menyangkal nya.
" bisa saja,...kau tidak mencintai ku ya hem " tanya Barra dengan raut wajah terlihat serius.
" siapa bilang, aku mencintai mu " sahut Sheina seolah tak terima dengan tuduhan yang Barra lontarkan.
" ya sudah biarkan saja terlihat oleh ku apa susah nya sih " Barra mulai kesal.
" AA... tidak " kekeh Sheina.
" Akhh terserah lah " sahut Barra kemudian melenggang pergi meninggalkan Sheina sendirian menuju ruang ganti dengan wajah kesal nya.
Sheina segera berlari menghentikan langkah itu, lagi lagi ia kembali merasa bersalah pada sang suami.
" sayang berhenti " ucap Sheina
yang terus mengikuti langkah Barra dari belakang hingga sampai lah ke dalam ruang ganti.
Barra pura pura tak menghiraukan nya ia terus sibuk membuka lemari pakaian memilah milah baju yang akan ia kenakan.
" Barra hei lihat ini aku sudah tak menutup nya lihatlah kebelakang "
Barra terus mendiamkan Sheina yang berusaha agar dirinya tak marah lagi pada nya itu,
Barra masih terus terdiam.
Berbeda dengan Sheina yang merasa tak di hiraukan keberadaan sedari tadi.
Gadis itu kemudian segera pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Barra.
Barra sedikit menoleh ke arah belakang melihat Sheina yang mulai menjauhi dirinya.
Seutas senyuman terbit dari kedua ujung bibir nya.
Ia segera berbalik kemudian mencoba menarik tangan Sheina agar masuk ke dalam dekapan nya.
GREBBB.......
Tubuh ramping berbalut lingerie tipis itu kini berada di dalam dekapan nya.
Sheina mulai mencoba memberontak dalam diam, ia terus mencoba keluar dari dekapan itu dengan isak tangis yang mulai terdengar di kedua telinga Barra.
" lepaskan hiks...hiks...hiks...." ucap nya sambil terisak tangis sambil terus mencoba lepas dari pelukan erat Barra.
" maaf " sahut Barra tambah mengeratkan pelukan nya pada tubuh gadis yang kini terlihat bergetar menahan tangis nya saat ini.
Sesekali Barra mencium pucuk rambut Sheina dalam.
__ADS_1
" sayang maaf, shhhttt.... diam lah " Barra mencoba menenangkan.
Sheina mulai sedikit tenang.
" tadi kenapa kau mendiam kan aku heh " tanya nya masih di selingi tangis tapi terdengar lucu di dengar Barra.
" Hehehe....tadi aku hanya mengetas mu saja" sahut Barra sedikit tertawa kecil.
" AW sakit, kenapa kau mencubit ku sayang " ucap Barra sambil memegangi bagian perut nya yang sedikit ngilu itu.
" biarkan saja siapa suruh menyebalkan "
" dasar kau ini ya " sambil Barra mengacak acak kasar rambut milik sang istri dengan gemas nya.
*
*
Di lantai bawah tepat nya di meja makan
Sheina dan Barra tengah menyantap makan malam nya dengan penuh keheningan setelah tadi adegan drama antara keduanya di dalam kamar.
Sesekali Barra melirik ke arah sang istri yang tengah sibuk menyantap makanan di piring nya itu.
" Sayang " panggil Barra.
" iya " jawab Sheina polos.
" besok pagi aku akan pergi keluar kota mungkin satu minggu aku disana " jelas nya.
" kenapa mendadak "
" Sayang sekarang aku CEO di perusahaan papa jadi aku harus siap kapan pun "
" ya aku tahu " jawab Sheina terdengar lesu.
Barra langsung menyadari raut wajah sang istri.
Sesaat Barra kembali memulai obrolan.
" Sayang " panggil Barra.
" hem " Sheina seolah benar-benar lesu karena mulai besok ia hanya bersama para pelayan pikir nya.
" hei jangan lesu seperti itu aku akan segera kembali sayang, apa setelah aku kembali nanti kau akan memberikan sebuah malam panjang untuk ku " ucap Barra terdengar serius.
Sheina tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.
" iya, cepatlah pulang " jawab Sheina.
Barra langsung tersenyum bahagia mendengar nya.
Dengan segera pria tampan itu melahap makanan di piring nya dengan begitu cepat seolah mendapat semangat.
__ADS_1
Sedangkan Sheina yang melihat nya hanya geleng geleng kepala, merasa lucu sendiri melihat tingkah suami nya.