
Beberapa hari telah Sheina lewati tanpa keberadaan Barra di samping nya, dirinya mulai di serang kebosanan tatkala hanya Barra lah seseorang yang biasanya mampu membuat hari hari Sheina bahagia di kala keduanya kini sudah saling jatuh cinta dan saling memiliki satu sama lain.
Dan di siang ini Sheina berniat pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan dirinya yang beberapa hari ini tubuh nya di rasa ada yang berbeda, mudah kelelahan, pusing dan juga sering mimisan.
Gadis cantik itu mulai bersiap menuruni anak tangga untuk sampai di lantai bawah dan keberangkatannya ke rumah sakit akan di antar oleh supir pribadi di mansion nya.
" Sudah siap nona " tanya sang supir bertubuh tinggi yang sudah berumur namanya pak Anto.
Pada Sheina yang sudah berdiri di depan pintu besar mansion.
" iya siap ayo pak " sahut Sheina.
Sang supir segera membukakan pintu mobil bagian belakang untuk sang atasan cantik nya itu agar segera masuk ke dalam kursi penumpang.
Setelah nya pak Anto pun mulai menancapkan pedal gas nya menuju rumah sakit.
*
*
Rumah sakit.
Sheina tengah duduk di sebuah kursi sambil mendengarkan penjelasan sang dokter yang baru saja selesai memeriksa keadaan nya.
Ia terduduk dengan raut wajah lesu, tubuhnya berkeringat dingin serta gemetaran tiada henti tatkala dirinya di nyatakan oleh sang dokter mengidap penyakit serius.
" Leukimia " ucapnya sambil tangan sebelah kanan nya menutup mulut seolah menahan keterkejutan nya saat ini, sedangkan kedua bola mata nya kini sudah terlihat berkaca kaca.
" iya leukimia nona, anda mengidap penyakit itu " sahut sang dokter perempuan sambil mengangguk anggukkan kepala nya dengan raut wajah ikut bersedih ketika menyampaikan nya.
Ya Sheina mengidap suatu penyakit di mana seorang pengidap tersebut tidak bisa di nyatakan sembuh hingga seratus persen karena semua itu jarang, mungkin meskipun ada itu hanya sebuah keajaiban.
__ADS_1
Gadis yang selalu terlihat ceria itu kini seolah redup dirinya tak pernah menduga jika semua ini akan ia alami ketika dirinya mulai bahagia bersama seseorang yang ia sayangi yaitu Barra.
Entah bagaimana kehidupan kebelakang nya.
" dokter Shasa saya mohon rahasiakan semua ini " ucap Sheina dengan wajah memohon.
" tapi nona, apa sebaiknya anda terus terang saja pada tuan Barra " sahut dokter Shasa
" tidak dok rahasia kan semua ini apalagi Papa dan Mama kalau kau tidak mematuhi ku aku bisa mengeluarkan mu dari rumah sakit ini sekarang juga " ancam Sheina.
Dokter Shasa sedikit menelan ludah nya kasar mendengar ancaman dari putri pemilik rumah sakit dimana tempat ia bekerja.
" ii.. ii.. iya baiklah non, tapi nona harus meminum resep obat yang akan saya berikan untuk mengurangi rasa sakit gejala yang sering nona keluhkan "
" baiklah tulis resep nya, saya hanya tidak ingin membuat mereka semua bersedih melihat keadaan saya dokter toh pada akhirnya nyawa saya tidak akan tertolong iya kan dok "
" tapi nona "
" i.. i... iya baiklah "
Dokter Shasa pun segera menulis sebuah resep untuk Sheina.
*
Sepanjang perjalanan pulang Sheina hanya terdiam di dalam mobil sambil menatap ramai nya jalanan perkotaan.
Sesekali pak Anto yang di tugaskan sebagai supir sekaligus pemantau keseharian istri sang majikan, kali ini ia seolah tak ingin diam melihat sesuatu yang berbeda dari nona nya itu, setelah sepulang dari rumah sakit tadi.
" nona baik baik saja, bagaimana pemeriksaan nya tadi non "
" semuanya baik baik saja pak saya hanya kelelahan saja "
__ADS_1
" oh begitu ya non, pasti nona kelelahan karena belajar membuat kue terus bersama para pelayanan di mansion "
" iya mungkin pak hehehe..... pak Anto bisa saja "
" tapi seperti nya ada sesuatu yang membuat nona lesu, maaf non saya lancang " tanya pak Anto.
Sheina tersenyum mendengarkan perkataan yang pak Anto lontarkan pada nya.
" tidak ada Pak Anto hanya saja saat ini saya merindukan suami saya "
" oh begitu ya non ternyata nona memikirkan tuan, bersabarlah non tuan sebentar lagi akan pulang "
" iya Pak " sahut Sheina kemudian kembali menatap ke arah jalanan luar.
*
Di tempat lain.
Pria tampan yang kini tengah sibuk dengan pekerjaan nya itu sedikit melirik ke arah ponsel miliknya yang tengah bergetar di atas sebuah meja.
Ya pria itu adalah Barra,
Perlahan tangan nya mulai meraih ponsel dan melihat sebuah pesan dari pak Anto supir sekaligus pemantau keseharian sang istri kesayangan di mansion.
Barra mulai membuka dan membacanya.
Seutas kekhawatiran terlihat jelas di wajah tampan nya, dan beberapa detik kemudian berubah menjadi senyuman indah.
Untung saja keadaan mu baik baik saja Shei, aku akan segera pulang, aku juga merindukan mu kau tau itu ucap nya.
Kemudian menggenggam ponsel tersebut dan memasukkan nya dalam saku celana.
__ADS_1