
" kak lepaskan hidungku tadi panas kemasukan air gara gara dirimu, sekarang kau mencubit nya " ucap Dinda sedikit cemberut.
yang kini hidung nya masih di cubit oleh pria tampan di hadapan nya tersebut.
" ya.. ya.. ya.. baiklah aku lepaskan, sudah tak usah cemberut seperti itu, ayo aku gendong kau sudah lama sekali berendam di sana, nanti kau bisa masuk angin Dinda " ucap Revan penuh perhatian.
" Aku ganti baju di sini saja kak, mana baju ganti ku " tanya Dinda.
Tanpa babibubebo Revan dengan sigap langsung menggendong tubuh sang istri dari dalam bathub tanpa menjawab perkataan nya sama sekali, kemudian langsung membawanya ke ruang ganti.
sesampainya ke kamar ganti.
" kakak apa yang kau lakukan " ucap Dinda yang masih berada di dalam gendongan Revan.
sepertinya urat malu ku benar benar sudah putus, aku masih merasa sangat malu sekali apalagi dengan tubuhku yang masih polos seperti ini, astaga dia benar benar posesif sekali apa sangking dia terlalu cinta padaku hahahaha dasar kau Din......gumam nya.
" Dinda diam " jawab Revan tegas kemudian menurunkan tubuh Adinda yang masih polos di sebuah sofa mewah single di dekat lemari pakaian.
ya Tuhan aku benar benar malu saat ini aku harus bagaimana, meskipun aku menyilang kan kedua tangan ku di dada tetap saja rasa maluku seperti tak berkurang gumam Dinda lagi.
" aw... kak pelan pelan masih sedikit sakit " ucap Dinda yang kini mulai diturunkan sekertaris Revan di sofa single tersebut.
" diamlah sebentar, aku akan mengambil pakaian gantimu Din " ucap Revan kemudian segera bergegas pergi mengambil pakaian ganti diluar.
Sedang kan Dinda hanya diam sambil menyilang kan kedua tangan nya di dada, meskipun tubuh nya masih polos agar kedua bukit teletabis nya tak begitu mencolok pikir nya.
Sesaat kemudian.
sekertaris Revan telah kembali sambil membawa paperbag putih yang dalam nya berisi pakaian milik Adinda.
" mana aku akan segera memakai nya " ucap Dinda.
" sayang diam sebentar " sahut sekertaris Revan.
" apalagi sayang " ucap Dinda seperti terdengar manja di telinga Revan.
__ADS_1
pria tampan itu tersenyum.
dan perlahan mulai duduk di sofa single panjang tepat nya di samping Dinda.
" sayang buka sedikit kedua kakimu " ucap sekertaris Revan santai entah dia lupa atau bagaimana bahwa sang istri seorang gadis pemalu kalau sudah menyangkut masalah yanng sedikit intim.
" ap...ap...apa...kakak kau ingin melakukan nya lagi ya milikku masih sakit ka..... . . " ucap Dinda terhenti seketika karena sang suami membungkam bibir nya yang sangat bawel menurut Revan.
" shtttttt.... kau bisa diam kan Dinda " ucap Revan dengan tangan nya yang masih menempel di bagian mulut Adinda.
Dinda mengangguk pelan seperti seseorang yang tengah di bungkam oleh penculik menakutkan.
" bagus " jawab Revan.
Dinda pun kini terdiam akan apa yang akan di lakukan sang suami padanya.
Sekertaris Revan pun kini mulai membuka ************ milik Adinda.
Sedangkan Adinda harap harap cemas merasa akan takut sesuatu yang akan di lakukan tangan Revan kepada lipatan sempit miliknya yang masih sangat terasa perih itu.
" kak jangan hiks... hiks... hiks... sakit " ucap Adinda
yang akan ia rasakan di bagian bawah sana.
Dan memang benar tangan berotot serta sedikit berbulu itu mulai menyentuh bagian inti milik Adinda tetapi hanya sekedar mengoleskan salep pereda nyeri pemberian sang tuan pada Revan.
sesaat.
" sayang, hei... buka matamu aku tidak melukainya aku hanya mengoleskan salep pereda nyeri ini pada lipatan sempit mu ini, cup.. cup... jangan menangis Dinda " ucap Revan lembut seperti menenangkan seorang gadis kecil.
" memang iya " tanya Dinda tiba tiba dengan kedua matanya yang kini langsung terbuka lebar.
" ini salep nya.....tidak terasa kan saat aku mengoleskan nya, dan lipatan sempit mu akan saja baik baik saja sayang " ucap Revan lembut sambil menunjukkan wadah kecil berwarna putih pada sang istri.
" benarkah "
__ADS_1
" he.. em " jawab Revan sambil mengangguk kemudian mengembangkan senyum
" ayo hapus air matamu kah seperti anak TK saja " ucap nya lagi sedikit menggoda Adinda.
" itu juga salahmu kak, kenapa sedari tadi tak bilang saja kalau ingin mengoleskan salep itu "
" aku sengaja hehehe..... "
" kau nakal sekali "
" nakal bersama dirimu kan tidak apa apa " ucap Revan sambil menoel sedikit ujung kedelai di dada milik Dinda.
" ah..... apa yang kau lakukan sih kak " ucap Dinda karena merasa sedikit kaget dengan kelakuan sang suami yang sedikit menjahili dirinya saat ini.
" Dinda jangan memancingku " ucap Revan kemudian.
" kakak kan yang menoel noel nya kenapa menyalahkan aku, kakak cepat mana pakaian gantinya aku sudah mulai kedinginan " ucap Dinda sedikit cemberut kemudian segera mengalihkan pembicaraan karena pasti ujungnya akan panjang jika membahas hal intim dengan sang suami.
" iya... iya... maaf sayang, ini pakaian nya " ucap Revan sambil menyodorkan sebuah gaun pendek selutut warna moka serta cd dan bra berwarna merah yang ia ambil dari dalam paperbag putih tersebut.
Sedangkan Adinda yang menerima uluran beberapa keperluannya itu sedikit terlihat kaku, karena terlihat jelas di kedua matanya dua dalaman berwarna merah mencolok yang kini tengah berada di pergelangan tangan sang suami dan dengan santai nya mengulurkan kepada dirinya.
berbeda dengan Adinda yang kini lagi lagi menahan rasa malu nya karena kelakuan Revan.
urat maluku benar benar putus sekarang, warna nya mencolok lagi, tapi kenapa dia terlihat biasa saja ya, akhh... belum lagi aku menahan malu memakai baju ganti ku di hadapan nya gumam Adinda.
Adinda bergumam dengan segala pikiran nya yang tak karuan karena menahan malu nya tersebut di hadapan sang suami.
" ya sudah pakailah, apa kau butuh bantuan sayang " tanya Revan yang lagi lagi dengan gaya santai nya.
" tidak, tidak, tidak, aku bisa sendiri sayang " ucap nya langsung menolak bantuan sang suami, tetapi sebutan sayang yang keluar dari bibir Adinda justru terdengar manja di telinga pria tampan hadapan nya itu.
Sesaat senyuman tipis mengembang di bibir Revan.
'' ya sudah ganti baju lah aku mengambil wadah dulu untuk menyalin makanan kita yang sudah datang tadi " ucap Revan sambil mengacak acak gemas rambut basah milik Adinda, kemudian bergegas meninggalkan sangat istri di ruang ganti.
__ADS_1
Kini tinggal lah Adinda sendirian di dalam ruang ganti tersebut.
Ya kali ini gadis itu kembali senyum senyum tak jelas seperti waktu itu dengan pikirannya yang sudah travelling kemana mana.