Jodohku Seorang CEO Dingin

Jodohku Seorang CEO Dingin
leukemia


__ADS_3

Diruang kerja.


Malam bertambah larut, Barra terus termangu sambil duduk diam di kursi putar ruang kerja nya, ia terus memikirkan hal itu kemudian kembali memandang surat perceraian di atas meja yang sudah Sheina tanda tangani tadi.


Ia sudah mantap dengan keputusan nya sesekali Barra mengacak acak kasar rambutnya.


Ia tak menduga selama ini dirinya menyayangi sang istri dengan sungguh sungguh malah mendapat penghiatan seperti ini di belakang nya.


" keputusan yang aku ambil sekarang sudah benar " ucap nya memantapkan diri.


Kemudian menyandarkan kepalanya di kursi dan mulai memejamkan kedua mata nya perlahan.


Di kamar.


Sheina masih tetap terdiam ia juga benar-benar memantapkan diri bahwa keputusan nya menandatangani surat perceraian itu sudah tepat.


" maafkan aku " ucapnya sambil menulis di buku deary kecil yang sudah menjadi teman setia nya beberapa hari yang lalu.


" Maaf jika aku tak bisa membahagiakan mu " tulis nya lagi, perlahan lelehan air mata itu kembali mengalir deras di kedua pelupuk mata nya.


Setelah itu menutup perlahan buku tersebut, dan menaruh kembali dalam laci.


dengan segera ia kemudian memejamkan kedua mata nya.


*


*


Pagi menjelang.


Barra baru saja keluar dari dalam kamar yang bersebelahan dengan kamar pribadinya yang biasa ia tiduri bersama Sheina, karena kedua nya tadi malam tak tidur sekamar akibat perdebatan itu.


Pagi ini ia berniat ingin pergi menuju pengadilan Agama untuk mengajukan perceraian bersama Sheina di sana.


Kedua matanya sedikit melirik ke arah pintu kamar yang masih tertutup rapat, ia tak ingin berharap lagi seandainya Sheina akan menghentikan langkah nya kali ini, sakit sungguh sakit yang ia rasakan.


Tak ada sedikitpun Sheina muncul di hadapan nya meskipun sekedar mengucapkan kata perpisahan untuk terakhir kali pada nya itulah pikir Barra.


" Aku tau sebenarnya ini yang kau harap kan kan, baiklah aku akan segera mengabulkan nya " ucap nya.


Kemudian dengan langkah lebar Barra segera menuruni anak tangga untuk menuju garasi.


*


Di Perjalanan.


Jalanan yang searah dengan perusahaan, rumah sakit dan juga kantor pengadilan agama,


Barra terus menyetir dengan kecepatan tinggi, serta pikiran nya yang kemana mana, ia terus mengendarai mobil sport merah yang kemarin juga di pakai oleh sang istri.


Pikiran nya serasa kacau, emosi yang meluap luap di kala mengingat perselingkuhan sang istri seperti video yang ia lihat itu.


Sesekali ia meng klakson mobil mobil yang di rasa menghalangi jalan nya seperti orang tak mau kalah.


Kemarahan terus terpancar dari raut wajah tampan nya yang kini terlihat tak bersahabat.


Seketika ada sebuah mobil hitam menyalip mobil sport yang ia kendarai juga dengan kecepatan tinggi, seperti mengisyaratkan sesuatu agar dirinya menepikan kendaraan nya .


Barra sedikit mengerutkan kening nya, kemudian ia perlahan menghentikan mobil nya pas di pinggir jalanan aspal.


Mobil yang baru saja menghentikan nya itu kini mulai membuka pintu, betapa terkejutnya Barra ketika mendapati seseorang pria yang baru saja turun dari mobil hitam tersebut menuju ke arah nya.

__ADS_1


" Earth " ucap nya lagi lagi kembali mengerutkan kening nya, masih berada di dalam mobil.


" Baguslah aku juga ingin sekali memberi dia pelajaran " imbuh nya.


Barra perlahan mulai keluar dan berdiri di depan mobil nya.


Membuat pria di hadapan nya juga sedikit terkejut, bahwa yang mengemudi kan mobil itu bukan lah Sheina melainkan Barra.


" kau "


" heh ... ya aku, Barra, apa maksud mu menghadang ku, oh kau kira aku kekasihmu Sheina "


" maksud mu "


" kau tidak usah berpura-pura, aku sudah tau semuanya kau lihat ini " sahut Barra, sambil mengeluarkan selembar surat perceraian dari dalam saku celananya.


" Surat perceraian "


" bagaimana, kau puaskan "


" Kau pria yang sungguh gila " sahut Earth dengan kekesalan nya.


BUGGHHH.......


Seketika satu tinjuan melesat sempurna di perut Barra dengan sangat kencang nya.


" AKHHH.... sialan " ucap Barra


kemudian membalas pukulan Earth juga di bagian perut nya.


BUGGHHH......


BUGGHHHH......


" AKhh..... " pekik Earth ketika tiga tinjuan juga melesat sempurna di perut nya.


Pria blasteran itu sedikit merosot di tanah.


" rasakan, ayo berdirilah apa kau sudah tak kuat untuk berdiri heh " Barra seolah menantang.


Earth masih berjongkok memegangi perutnya, sedangkan dari dalam mobil Earth keluar lah dokter Shasa kekasihnya mulai berlari kecil ke arah nya,


Ia ingin menolong calon suami nya sekaligus ingin melerai pertengkaran di antara keduanya.


Sebenarnya tadi Earth berniat mengantar sang kekasih untuk pergi bekerja.


Malahan bertemu seseorang pria yang tak ia duga.


" EARTH " teriaknya dokter Shasa.


Shasa perlahan memegang lengan Earth untuk menolong nya berdiri.


" aku tak apa apa " ucap Earth sambil menatap sang calon istri yang terlihat khawatir itu.


PROKKK....PROKKKK..... PROKKK...


Barra bertepuk tangan melihat pemandangan baru di hadapan nya saat ini.


" Bagus... bagus.... bagus... permainan apalagi ini " ucap Barra.


Keduanya menoleh menatap ke Barra bersamaan, Shasa sedikit melirik ke arah Earth seperti mengisyaratkan sesuatu.

__ADS_1


Tetapi Earth menggelengkan kepalanya pelan.


Sedangkan dokter Shasa kali ini tak ingin lagi berdiam, karena ia juga sudah mengetahui semuanya yang terjadi mengenai penyakit yang di derita Sheina selama ini, maupun hubungan masa lalu antara Earth, Barra dan Sheina pasien nya.


Meskipun Sheina mantan kekasih Earth, dokter Shasa tak mempermasalahkan itu semua.


ia tak bisa jika merahasiakan ini terus terusan apalagi menyangkut nyawa, lagi pula Sheina juga putri pemilik tempat nya bekerja, Serta Dokter Shasa juga tau bagaimana jika berada di posisi Sheina yang perempuan sama seperti dirinya.


" apakah anda tuan Barra, asal anda tau tuan istri anda nona Sheina tak sedikitpun ada hubungan dengan calon suami saya "


" siapa kau, apa maksud mu "


" Saya dokter Shasa yang bekerja di rumah sakit milik keluarga istri anda "


" lalu apa urusan mu, dan maksud mu heh "


" bukankah anda orang yang sangat kaya raya, lalu kenapa anda tak menyelidiki tentang istri anda sepenuhnya dan hanya menuduh Earth, anda tau apa yang anda lakukan ini sangat salah nona Sheina sedang sakit tuan "


Barra sedikit mengeryitkan kening nya, seolah tak begitu faham dengan apa yang di maksud dokter wanita di hadapan nya tersebut.


" maksud mu " nada bicara nya terdengar serius.


" nona Sheina mengidap leukemia "


" A P A, sakit " Barra terlihat sangat terkejut nada suara nya mulai terdengar pelan.


Dan seketika raut wajahnya berubah pucat pasih, detak jantung nya bertambah cepat.


Hatinya seolah terenyuh mendengar pernyataan itu.


" ya nona Sheina mengidap leukemia, dia adalah pasien saya selama ini yang tak pernah ingin di obati, anda tau alasan nona "


Barra menutup mulutnya dengan kedua tangan mengusap wajah nya kasar.


Pria tampan itu hanya mendengar apa yang di jelaskan dokter Shasa tak berniat menjawab sedikitpun.


" nona tak ingin menyusahkan anda dan keluarga tuan, karena ia tahu penyakit nya tak mungkin bisa di sembuhkan, meskipun mencoba alat medis tak akan sepenuhnya berhasil "


" Dan kau tau Bar, dua kali aku bertemu dengan nya secara kebetulan dia selalu menceritakan tentang dirimu dan dia mengalihkan pembicaraan jika aku menanyakan penyakit nya, dan satu hal lagi dia bilang dia akan mengajakmu di pesta pernikahan ku nanti, ia terlihat begitu bahagia meskipun dia bilang akhir akhir ini kau sangat sibuk dengan pekerjaan mu " jelas Earth panjang lebar.


Kali ini Barra hanya bisa diam mendengar penjelasan itu, hatinya benar-benar terenyuh dia begitu merasa sangat bersalah atas semua yang ia lakukan pada sang istri.


" jadi beberapa minggu ini dia, dia,...tidak, tidak mungkin " ucap nya seolah frustasi sendiri.


" Terima kasih dok, Earth, maaf atas kesalahpahaman sebelumnya aku permisi " ucap Barra .


Shasa dan Earth mengangguk pelan.


setelah itu Barra melenggang pergi meninggalkan kan keduanya.


" Bar tunggu " ucap Earth tiba tiba menghentikan langkah Barra.


Barra menghentikan langkah nya, kemudian membalikkan tubuhnya menatap pria berparas kebule bule an itu.


" Iya " singkat.


" Dukung dia, kesembuhan nya tergantung padamu hanya kau pria yang sangat ia sayangi " jelas Earth.


" iya tentu saja terima kasih " tersenyum sekilas kemudian segera masuk ke dalam mobil.


Menancapkan pedal gas kembali ke arah mansion.

__ADS_1


__ADS_2