
kini jam kerja telah usai, seluruh karyawan mulai kantor mulai berhampur pulang.
sedangkan di dalam ruangan berpendingin milik sekertaris Revan, kini Adinda dengan semangat mulai membereskan meja kerjanya untuk segera pulang.
berbeda dengan sekertaris Revan yang sedari tadi seperti gelisah memikirkan gadis yang berada di samping nya tersebut, harap cemas jika Adinda gadis yang selama ini telah berhasil membuat hatinya dag dig dug itu,melanjutkan acara kencan nya tersebut dengan pria lain yang tadi di bilang oleh Adinda.
" tuan ayo cepat, kau lambat sekali jadi pria " ucap Dinda sambil membersihkan meja kerja miliknya.
" iya Din " jawab sekertaris Revan sedikit lesu.
" tuan alamat rumah sakit dan nomor kamar nona Zahra mana, biar saya dan teman saya nanti enak tidak kesasar jika ke sana " tanya Adinda.
" kau dengar Din, tidak gampang keluarga tuan Bima menerima tamu orang yang tak dikenal, bahkan ruangan nona saat ini sedikit di jaga ketat oleh para pelayan mansion tuan Bima, karena tuan Bima tak mau ambil resiko dengan orang yang baru saja di kenalnya, kau mengerti maksudnya " jelas sekertaris Revan.
" yah,..... padahal aku berniat ke sana dengan Joe, kalau seperti ini ya tidak jadi " jawab Adinda yang terlihat lesu saat ini.
" ya sudah bilang saja lain kali kan gampang " ucap sekertaris Revan yang saat ini di dalam hatinya merasa senang.
" lain kali bagaimana sih tuan,sepulang dari rumah sakit masih bisa " jawab Dinda yang mulai menawar seperti nya.
" ingat apartemen ku tidak akan terbuka sampai tengah malam " ucap sekertaris Revan seperti berniat memperingati gadis di sampingnya itu saat ini.
" heh.... kencan saja sampai susah seperti ini, ya sudah ayo pulang tuan " jawab Adinda dengan wajah seperti di Teluk karena sedikit kesal.
" ya... ya... ya " sahut sekertaris Revan santai seperti penuh kemenangan.
yes aku berhasil Dinda tidak akan jadi kencan bersama pria itu hahahaha..... kau pintar juga ternyata Revan gumam sekertaris Revan dalam hati.
kedua nya kini mulai meninggalkan ruangan tersebut setelah itu keduanya berjalan menuju lift untuk sampai di lantai bawah.
ting
bunyi pintu lift terbuka.
kedua nya mulai masuk ke dalam lift tersebut, keduanya hening tak ada percakapan, sedangkan Dinda mulai mengotak atik ponsel nya menghubungi teman pria barunya itu.
dan panggilan Dinda pun terhubung.
" halo " ucap pria di sebrang telepon sana.
" halo Joe, maaf ya sebelumnya nanti malam kencan kita batal bagaimana kalau besok saja bagaimana " ucap adinda sedikit lesu.
" ya baiklah tidak apa apa, bagaimana kalau besok aku menjemputmu di tempat kerja Din " jawab pria di sebrang sambungan telepon yang bernama Joe tersebut.
" apa tidak merepotkan " tanya Dinda
" tidak masalah bagiku " jawab Joe.
" baiklah kalau begitu " sahut Dinda
" Da..... da... Joe " ucap Dinda lagi sesekali tersenyum.
" Da..... da.... Din " jawab Joe kemudian.
__ADS_1
dan panggilan pun terputus.
Dinda senyum senyum sendiri tak jelas, setelah tadi mematikan sambungan telepon nya.
sedangkan sekertaris Revan saat ini tengah memutar mutar kedua matanya merasa malas, mendengar percakapan Dinda dengan pria teman barunya itu.
sesaat kemudian.
lift telah terbuka tepat nya di lantai bawah.
ting
bunyi lift yang baru saja terbuka.
keduanya mulai keluar dari dalam sana dan segera menuju ke arah parkir khusus petinggi perusahaan, sedangkan keadaan kantor sudah sepi saat ini.
*********
Di dalam mobil.
Sekertaris Revan kini mulai menancapkan pedal gasnya menuju rumah sakit terbesar sekaligus termewah milik keluarga Sinaga. group..
mobil yang kini tengah membawa sekertaris Revan dan Adinda kini mulai membela ramainya jalan perkotaan, keduanya tetap hening.
sedangkan Adinda memikirkan apa yang harus ia bawa untuk melihat istri dari atasannya tersebut.
" Tuan " panggil Dinda
" tuan saya ingin pinjam uang anda apa boleh, anda kan baik " tanya Dinda karena merasa kepepet dirinya juga sebenarnya malu tapi bagaimana lagi, gajian nya saja belum.
" kau pinjam berapa " ucap sekertaris Revan kemudian.
" saya juga tidak tau tuan " jawab Adinda sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" kau ini bagaimana tidak tau sih Din, lalu untuk apa pinjam kalau kau saja tidak tau mau pinjam berapa " jelas sekertaris Revan.
" sebenarnya saya bingung tuan " ucap Adinda setelah itu.
" bingung apalagi, kencan " jawab sekertaris Revan yang sedikit memancing.
" bukan itu tuan " sahut Dinda
" lalu "
" apa yang harus saya bawa untuk menjenguk nona Zahra di rumah sakit " ucap Adinda setelah itu.
" astaga.... jadi sedari tadi yang kau pikirkan hanya itu " jawab sekertaris Revan yang merasa bawahannya itu sedikit lucu.
" hehehe.... iya tuan " sahut Adinda sedikit tertawa.
" Din, keluarga tuan Bima tidak memerlukan itu semua mereka sudah terlalu kaya Din, kau datang ke sana saja mereka sudah senang " jelas sekertaris Revan.
" iya aku tau, tapi jika aku tidak membawa apa apa tambah malu tuan hanya membawa tangan kosong untuk nona Zahra " jawab Adinda yang memang dirinya merasa tidak enak sendiri itu.
__ADS_1
" ya sudah kalau begitu kita mampir ke toko buah bagaimana "
" ah ya kau benar tuan " jawab Adinda dengan aura wajahnya yang mulai bahagia ketika atasannya itu ingin membelikan dirinya sesuatu untuk di bawah ke rumah sakit, tepatnya untuk melihat keadaan isti dari pemilik gedung pencakar langit tersebut.
setelah itu tak ada obrolan.
sesaat kemudian
mobil mewah yang di kendarai sekertaris Revan mulai berhenti di sebuah toko buah,
sedangkan sekertaris Revan dan Adinda kini mulai turun untuk membelikan istri dari atasannya itu buah buahan untuk di bawahnya ke rumah sakit .
Dan setelah selesai keduanya bergegas masuk ke dalam mobil, melanjutkan perjalanan nya menuju rumah sakit milik Sinaga. group.
Lima belas menit kemudian.
keduanya telah sampai dan kini mulai memasuki rumah sakit besar itu.
" Tuan " panggil Dinda.
" hem ''
" apa rumah sakit ini juga milik tuan Bima " tanya Adinda.
" ya kau benar " jawab sekertaris Revan yang masih dengan nada dinginnya itu.
" wah, tuan Bima memang kaya raya ya tuan "
" ya, kau tau kekayaannya tidak akan habis meskipun sampai tujuh turunan " jelas sekertaris Revan tanpa menoleh tetapi kedua kakinya terus berjalan.
" APA... " jawab Adinda dengan nada suara yang sedikit tinggi dan kencang.
" Dinda kecilkan suaramu ini rumah sakit '' ucap sekertaris Revan.
" ii.. iya tuan maaf, tuan berarti nona Zahra sangat beruntung ya mendapatkan tuan Bima, sudah tampan kaya raya, dan penyayang sekali sampai posesif sekali kepada istri nya saking sayangnya, seperti di drama Korea saja, pria nya selalu peka, berbeda dengan dunia nyata " jawab Adinda panjang lebar.
" ya sudah kau jadi orang Korea sana " sahut sekertaris Revan asal.
" heh... selalu menyebalkan "
" jangan banyak bicara kita sudah sampai itu di depan adalah ruang nona "
" ii... iya tuan "
dasar menyebalkan, tapi sayang aku menyukai nya, tetapi kenapa susah sekali ya move on dari dia hah..... gumam Adinda dalam hati.
KAK JANGAN LUPA BACA NOVEL AKU LAINYA :
- PERBUDAKAN KU BERAKHIR DI PELAMINAN.
- DUNIAKU TAK SELEBAR DAUN KELOR.
KAK JANGAN LUPA LIKE, VOTE, SAMA KOMENTAR NYA βΊβΊππππ
__ADS_1