
Karena tak mendapat sahutan, kini sekertaris Revan berniat menjahili Adinda dengan menoel noel pipi sang istri.
baru saja Revan menyentuh kulit putih pipi Adinda.
" Sayang kenapa kulitmu panas sekali, Dinda buka matamu jangan menakuti ku Dinda " ucap Revan dengan sedikit menepuk pelan kedua pipi Adinda.
" Dinda bangun " ucap nya lagi.
Sedangkan Adinda sedikit terganggu sedari tadi karena sang suami terus menepuk pelan pipi nya.
Perlahan Adinda mulai mengeluarkan suaranya dengan kedua mata yang masih tetap terpejam, bibirnya terlihat memucat.
" Kak " panggil Dinda dengan suara pelan dengan kedua matanya mulai terbuka perlahan.
" katakan sesuatu Din " ucap Revan begitu sedikit lega karena Adinda mulai membuka kedua matanya.
" tubuhku demam " ucap Adinda dengan suara tak begitu terdengar.
" iya Din aku tau sayang "
" itu karena ulah mu, aku kan sudah bilang padamu kecilkan AC nya tapi kau tetap tak mendengarkan ku " jelas Dinda.
" jadi gara gara itu ya, maaf Dinda aku lupa "
" sudah lupakan, aku sekarang ingin istirahat kak dan juga tubuh ku terasa sangat remuk itu juga karena dirimu "
" ya iya aku yang salah, aku akan segera mengompres tubuh mu agar demam mu cepat turun " ucap Revan penuh perhatian kepada Adinda.
" tidak kak, beri aku obat demam saja " kawan Dinda.
" ya sudah tunggu sebentar " ucap Revan kemudian segera mengambil satu kapsul obat penurun panas untuk Adinda di dekat ruang ganti.
Sesaat
sekertaris Revan kembali dengan membawa obat tersebut.
Berbeda dengan Adinda yang kini posisi nya sedikit terduduk bersandar di sandaran ranjang belakang kepalanya, dengan kaki yang berselonjor tetapi tubuh nya masih berbalut selimut.
" Ayo buka mulut mu sayang aku akan membantu nya " ucap Revan.
" aku ingin mencoba nya sendiri kak " tolak Dinda, karena ingin mencobanya sendiri pikir nya.
" Dinda " ucap sekertaris Revan penuh dengan penekanan membuat Adinda menciut nyalinya.
" iya iya bawel " jawab Dinda kemudian segera membuka mulutnya.
Sedangkan sekertaris Revan sedikit tersenyum karena Adinda langsung menurut dengan satu panggilan nya dengan penuh penekanan itu.
Seperti biasa Adinda yang tak bisa meminum obat kini hanya menunggu bantuan dari Revan yaitu dengan menaruh obat di mulutnya dan menerima saluran air dai bibir Revan agar obat tersebut tertelan sempurna di tenggorokan nya.
tiba tiba, suara ponsel mengagetkan keduanya.
tring....
tring....
tring....
__ADS_1
'' kak ponsel mu bunyi "
" bukan ponsel milikku sayang tapi ponselmu "
" emm, benar kah " jawab Dinda kemudian sedikit melirik ke arah nakas dan memang benar ponsel miliknya yang tengah berbunyi.
" iya benar ponselku, apa karena tubuhku yang tak stabil ya bunyi ponsel sendiri sampai lupa "
" hehehe... iya mungkin "
Perlahan Adinda pun meraih ponsel yang berada di atas nakas tepatnya berada di samping ranjang.
Di lihatnya di layar ponsel tertulis nama Joe tengah memanggil.
Adinda terdiam sesaat sambil menatap layar ponsel miliknya.
JOE, untuk apa dia menelpon ku, aku belum menghapus nomor nya lagi pasti pria di depan ku ini akan marah gumam Adinda.
" Siapa sayang kenapa tak di angkat "
" emm... bukan siapa-siapa kak tidak penting "
" oh begitu ya "
" ya "
kemudian Dinda langsung mematikan sambungan telepon Joe.
Sesaat ponsel nya kembali berbunyi.
tring.....
tring.....
Joe untuk apa lagi dia menelpon ku sih, astaga seperti nya aku akan dalam masalah kalau suami ku tahu aku belum menghapus nomor nya, kau juga Dinda menghapus saja sampai lupa gumam nya lagi.
" Dinda angkat ponsel mu, kau lihat terus berbunyi bukan "
" aaa... iya... emm.... aku.. em "
" siapa yang menelpon sini aku lihat "
" ah.. tidak usah kak, hanya teman "
" aku kan hanya ingin melihat nya kenapa tak boleh, sini berikan padaku Dinda "
" tidak usah kak biar aku saja "
tanpa babibu bebo sekertaris Revan yang merasa ada yang di sembunyikan oleh Adinda langsung menyahut ponsel tersebut dari tangan sang istri.
sesaat pandangan nya tertuju pada layar ponsel milik Adinda yang kini berada di tangan nya.
Joe, heh... jadi ini yang dia sembunyikan dariku untuk apa batin Revan.
" jadi ini yang kau sembunyikan Dinda " ucap sekertaris Revan dengan keadaan yang sangat marah.
" maksud ku bukan seperti itu tadi " jawab dinda yang mulai menciut nyali nya.
__ADS_1
" apa hah.. "
" tadi ak... ak... aku " jawab Adinda terbata bata.
" kau tidak bisa menjelaskan nya kan " ucap Revan kemudian yang sesekali melihat Adinda menundukkan kepala.
" dengarkan aku du.. du.. dulu kak " ucap Dinda yang lagi lagi ingin menjelaskan.
" apalagi yang ingin kau jelaskan, apa kau jangan jangan memiliki hubungan dengannya " ucap Revan yang membuat hati Adinda langsung terasa sangat sakit.
" kau pikir aku gadis apa " jawab Adinda yang tak Terima dengan tuduhan suaminya tersebut.
" pikir saja sendiri " sahut Revan ketus.
" kak dengar kan aku " ucap Dinda lagi.
" bukan kah aku sudah pernah bilang padamu untuk menghapus nomor ponsel nya,kenapa masih kau simpan " jelas Revan yang sudah di penuhi emosi.
" maka dari itu tunggu penjelasan ku " ucap Dinda yang mulai memegang tangan Revan.
" DIAM " Sentak Revan sambil menghempaskan tangan Adinda dari pergelangan tangan nya membuat Adinda sedikit terlonjak kaget.
" kak...kau... " ucap Adinda terhenti ketika matanya kini mulai berkaca kaca.
Dinda bergegas turun dari atas ranjang dengan sisa sisa tenaganya yang lemah itu.
Dengan tubuh polos yang masih berbalut selimut gadis itu segera berlari ke menuju kamar pribadinya, karena sedari malam kemarin kedua pasang suami istri itu berada di dalam kamar sebelah.
" Dinda kau mau kemana lagi " teriak nya kepada Adinda yang mulai menjauh dari dirinya yang masih setia duduk di sisi ranjang.
Sedangkan Adinda sudah tak berniat menjawab nya.
Gadis itu terus berlari menuju kamar dan menguncinya dari dalam.
Berbeda dengan sekertaris Revan yang kini baru sadar akan apa yang ia lakukan tadi kepada Adinda karena saking cemburu dan ketakutan nya kehilangan gadis yang begitu ia cintai tersebut.
Dinda, apa yang aku lakukan tadi padanya, akkhh.... sial, apa aku terlalu posesif dan cemburuan padanya, tadi aku tak menunggu nya untuk menjelaskan, apa memang cinta benar benar membuat orang gila, ya memang benar benar gila pantas saja tuan dulu seperti yang kurasa saat ini monolog Revan.
Dengan segera sekertaris tampan itu langsung menyusul Adinda.
Dinda.... Dinda... teriak nya yang kini sudah berada di depan pintu kamar pribadinya bersama sang istri.
tok...
tok...
tok...
" Sayang maaf aku tak bisa mengontrol emosiku, Dinda buka pintu nya aku minta maaf Din " teriak Revan di luar pintu kamar.
Berbeda dengan Adinda yang berada di dalam kamar, yang sama sekali tak berniat menjawab teriakan sang suami dari luar.
Kau pikir aku gadis apa hah.... dasar pria menyebalkan, hiks....hiks....hiks....sudah membuat tubuhku remuk, demam, dan sekarang membuat ku menangis dengan hatiku yang terasa sangat sakit karena ucapannya,
teriak saja terus aku akan membiarkan nya, siapa suruh menyebalkan dan sekarang bingung sendiri bukan, sebaiknya aku istirahat saja agar demam di tubuh ku segera turun,
sedangkan dia nanti juga akan berhenti sendiri jika sudah lelah berteriak, maaf....kau sih menyebalkan sekertaris Revan, bingung sendiri saja terus memang nya enak hahaha.... monolog Adinda panjang lebar kemudian segera menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
__ADS_1